Liam, adalah anak terbuang. dari kecil hingga dewasa, dia tidak pernah merasakan memiliki keluarga. bahkan di masa tua nya, dia belum pernah merasakan cinta.
Walaupun memiliki harta yang berlimpah, namun kekayaan itu terasa tidak berguna. hingga akhirnya dia meninggal, dan terlahir kembali.
dia terlahir kembali ke umur dua puluh tahun. namun yang aneh adalah, dia terlahir kembali, dan langsung di nikahi oleh seorang gadis cantik dan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Parhusib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memulai rencana
Satu jam telah berlalu sejak Liam dan Yuna tiba di villa keluarga Mahendra. Perbincangan yang semakin akrab, berbagai topik telah bermunculan.
Perbincangan ke arah pesta perayaan pernikahan juga muncul, tapi Liam memilih untuk menunggu beberapa bulan lagi.
Sebelum semua yang dia kerjakan matang sepenuhnya, perayaan pernikahan harus di tunda dulu, karna Liam memiliki rencana dalam perayaan pernikahan ini.
Untuk keterusan perbincangan, Liam menyarankan untuk pertemuan kedua besan, atau keluarga kedua belah pihak, harus segera bertemu.
Saat mengetahui Liam hanya memiliki ibu, dan akan menyuruh seseorang untuk menjemputnya. Semua orang di keluarga ini menolaknya, mereka malah menyarankan untuk mengunjungi villa Liam sendiri.
Jadi, dengan beberapa mobil, semua anggota keluarga Mahendra pergi, menuju villa Zenith residence nomor satu milik Liam.
Di posisi terdepan, ada koenigsegg gemera milik Liam, yang membawa Yuna beserta kedua orangtuanya.
Empat mobil Mercedes berjalan mengikuti dari belakang.
Tak butuh waktu lama, mereka semua tiba di gerbang villa Zenith residence nomor satu.
Rasa kagum mengguncah hati setiap orang, yang pertama kali menginjakkan kaki di dalam villa ini.
Melihat banyak tamu yang datang, Mulan selalu tuan rumah datang menyambut.
"Perkenalkan, ini ibuku mu," sebelum perkenalkan Liam selesai, sebuah teriakan mengganggu perkataan nya.
"Mulan?!!," teriakan itu mengejutkan semua orang, yang ternyata orang yang berteriak itu adalah Alisia Mahendra, ibu dari Yuna Mahendra.
"Alisia?," ucap Mulan juga dengan terkejut. Lalu mereka berdua berpelukan sembari meneteskan air mata, beserta rindu yang telah lama terpupuk.
Melihat adegan itu, semua anak muda yang ada di ruangan ini bingung.
Tapi yang jelas, itu hanya anak muda saja. Bagi orang dewasa yang seumuran Mulan, mereka semua tahu apa yang terjadi.
Terutama Arman dan kedua putra, mereka tidak menyangka akan melihat seseorang yang mereka kenal.
Setelah mendengar semua ceritanya, akhirnya Liam dan Yuna paham. Ternyata, ketika keluarga Anggara masih dalam masa jayanya, Alisia dan Mulan adalah sahabat yang sangat akrab.
Mereka telah bersahabat dari kecil, bahkan keluarga Mahendra dan keluarga Anggara, juga memiliki beberapa hubungan sosial.
Namun karna keluarga Anggara hancur, dan Mulan dicampakkan oleh suaminya. Dia merasa malu untuk bertemu sahabanya ini, sehingga dia pergi tanpa memberikan kabar apapun.
Tapi dari cerita Alisia, Liam tahu bahwa ibu mertuanya ini, sudah sangat lama mencari ibunya.
Dia berkata bahwa, persahabatan mereka bukan hanya sekedar hubungan setara. Persahabatan mereka sudah sedalam dalamnya, hingga mereka sudah paham sifat, sikap, dan karakter masing-masing.
Sehingga ketika kejadian itu terjadi, Alisia sudah tahu apa yang akan Mulan lakukan.
Dengan keras kepala Mulan dimasa itu, dia tidak akan datang untuk meminta bantuan siapapun. Dan harga diri nya yang tinggi, tidak mengijinkan dia untuk terlihat hancur di depan sahabat. Hal itu membuat dia memutuskan semua kontak dan hubungannya, lalu pergi entah kemana.
Perpisahan yang penuh duka, kini bertemu lagi dengan janji yang dulu mereka sepakati. Janji mereka adalah, jika anak dari mereka masing-masing, memiliki jenis kelamin yang berbeda. Maka mereka harus menjadi besan di masa depan.
Tapi siapa yang menyangka, janji itu bukan mereka yang menepati, tapi malah kedua anak mereka sendiri.
Karna semuanya sudah saling kenal, dan akrab satu sama lain, perbincangan juga semakin humoris dan harmonis.
Arman Mahendra juga semakin kagum pada Liam Anggara. Dia tidak menyangka bahwa Liam akan membeli villa ini, hanya dengan usahanya tanpa bantuan keluarga. Karna keluarga Anggara telah hancur, sementara ayahnya tidak pernah tahu bahwa Liam ada, yang menunjukan semua ini adalah usaha Liam.
Arma awalnya berfikir bahwa anak ini adalah anak dari seorang keluarga bangsawan, karna sikapnya yang begitu mendominasi, tapi dia tidak menyangka akan semua ini.
Sikap Liam juga sudah semakin berubah, terutama kepada kedua mertuanya.
Karna hal ini, dia mungkin akan memberikan beberapa bisnis yang sangat berpotensi kepada ayah mertua nya, supaya ayah mertuanya ini dapat meningkatkan rasa percaya dirinya dalam keluarga.
Karna dia tahu, status ayah mertuanya ini sudah sangat rendah di keluarga.
Mungkin status akan meningkat pesat, karna telah berhasil memiliki menantu yang luar biasa. Tapi orang mana yang tidak mau memiliki karya dan pekerjaan sendiri yang dapat di banggakan.
Setelah berbincang beberapa lama, kedua keluarga akhirnya berpisah. Arman beserta keluarga lainnya, kembali ke villa mereka. Tapi Alisia beserta suaminya Arya Wiguna, memutuskan untuk tinggal disini sementara, untuk menghilangkan semua rindunya dengan sahabatnya ini.
Liam juga menyarankan hal itu, karna dia membutuhkan beberapa diskusi dengan ayah mertuanya mengenai beberapa hal.
Satu hari pun berlalu, kini pagi telah tiba.
Di taman villa yang luas, di bawah pohon yang rindang. Liam dan Arya duduk berhadapan sembari berjemur hangatnya matahari pagi.
Mereka berdua dengan wajah serius, menatap kerumitan jalan catur di depannya.
"Ahh, kamu sungguh tidak memberi ampun pada ayah mu ini," ucap Arya mendesah, karna sudah kalah dalam permainan.
Mendengar itu, Liam hanya tersenyum. "Bagaimana, apakah ayah mertua, sudah memutuskan jalan apa yang mau di lalui?," tanyanya menunggu jawaban.
Sembari bermain catur, Liam dan Arya sudah berbincang panjang lebar. Karna begitu banyaknya bisnis berpotensi yang Liam tahu, Liam bingung mau memberikan yang mana pada ayah mertuanya ini, sehingga dia bertanya terlebih dahulu, bidang mana yang paling dikuasai ayah mertuanya ini.
"Sebenarnya, saya dulu sudah memiliki perusahaan konstruksi kecil, tapi karna sulitnya persaingan, perusahaan itu tutup," ucapnya dengan nada penuh kerinduan.
Mendengar itu, Liam juga tahu akan besarnya keinginan ayah mertuanya ini untuk kembali memulai perusahaan konstruksi itu.
Setelah berfikir berapa saat, akhirnya Liam mengetahui apa yang harus dia lakukan.
"Ayah, dalam tiga bulan kedepan, pemerintah akan membangun sekolah dengan sistem pelajaran baru di desa terbit mentari. Desa itu sudah sangat tertinggal, sementara perkotaan semakin padat. Pembangunan sekolah itu sudah hampir pasti, karna informan ku sangat dapat di andalkan. Setiap sejengkal tanah didesa itu akan sangat berharga dalam tiga bulan kedepan," terang Liam panjang lebar.
Semakin Arya mendengar, semakin serius wajahnya, "apakah yang kamu katakan itu benar?," tanya nya serius.
"Yahh, ayah tahu, sekolah yang memiliki sistem yang sama, yang ada di kota Neo Tech City ini, sudah sangat terkenal. Jadi jika ada sekolah seperti itu yang dibangun di sana, maka semua orang akan berbondong-bondong untuk menyekolahkan anaknya disana," ucap Liam kembali.
Tentu saja Arya tahu, dia bahkan sangat tahu. Jika hal itu memang terjadi dan dia memiliki sebidang tanah. Jika dia menjual tanah itu, dia akan memiliki untung yang sangat besar, apalagi jika dia membangun beberapa apartemen atau rumah, maka harganya akan meningkat beberapa kali lipat.
Apalagi jika suatu perusahaan konstruksi, berhasil membangun sesuatu yang biasa tapi menjadi berharga karna tempat yang strategis dan berharga, maka status perusahaan itu, akan semakin terkenal di perusahaan lain.