NovelToon NovelToon
Istri Yang Tak Dicintai

Istri Yang Tak Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat
Popularitas:707
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.

Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.

Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.

Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hancur Berkeping

Nayara berdiri di parkiran hotel dengan tubuh gemetar hebat. Gilang masih di depannya dengan wajah merah padam penuh amarah. Aldi nangis kenceng di gendongan, tangisannya nyayat hati.

"LO MAU APA SEBENARNYA, NAYARA?" Gilang berteriak tepat di muka Nayara. Ludahnya nyiprat.

"Aku, aku cuma mau tau kenapa Mas bohong! Kenapa Mas bilang dinas kerja tapi ternyata sama Sandra?" Nayara mencoba bicara walau suaranya bergetar parah.

"GUA EMANG KERJA! SANDRA ITU SEKRETARIS GUA! WAJAR DONG DIA IKUT KALAU GUA DINAS!" Gilang masih berteriak, tidak peduli orang-orang yang lalu lalang di parkiran natap mereka.

"Tapi, tapi kenapa harus nginep di hotel yang sama? Kenapa harus check-in bareng? Kenapa, kenapa kalian ketawa-ketawa mesra kayak gitu?" Nayara menangis makin keras.

Gilang mendekat. Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Nayara. "LO CEMBURU? BAGUS! SEKARANG LO TAU RASANYA DIABAIKAN!"

"Aku tidak pernah abai sama Mas! Aku selalu ada buat Mas! Yang abai itu Mas sama aku! Sama Aldi!" Nayara berteriak balik.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Nayara. Kepalanya miring ke samping. Telinga berdengung. Pandangan berkunang.

Aldi tersentak di gendongan. Nangisnya berhenti sebentar karena kaget, terus nangis lagi lebih kenceng.

Nayara memegangi pipi yang panas menyengat. Natap Gilang dengan mata penuh air mata. "Mas, nampar aku lagi?"

"ITU BUAT LO BELAJAR JAGA SIKAP! JANGAN DATANG-DATANG KE TEMPAT GUA KERJA! BIKIN MALU!" Gilang masih berteriak tanpa penyesalan sedikitpun.

"Tempat kerja? Ini hotel, Mas! Hotel! Bukan kantor!" Nayara berteriak putus asa.

"MEETING BISA DI MANA AJA! LO YANG PIKIRAN KOTOR!" Gilang balik menyerang.

"PIKIRAN KOTOR? MAS YANG SELINGKUH! MAS YANG BOHONG! MAS YANG NINGGALIN AKU SAMA ALDI TIAP HARI!" Nayara sudah tidak peduli lagi sama orang-orang yang natap. Dia teriak sekencang-kencengnya.

"SELINGKUH? BUKTI DIMANA? LO CUMA NGAYAL DOANG!" Gilang menunjuk wajah Nayara dengan jari gemetaran karena marah.

"AKU UDAH LIHAT CHAT KALIAN! FOTO KALIAN! SEMUA BUKTI ADA DI HP AKU!" Nayara mengambil ponselnya dari saku dengan tangan gemetar. Mau buka screenshot chat Gilang sama Sandra.

Tapi Gilang merebut ponsel itu cepat. Lempar ke tanah aspal parkiran.

PRANG!

Layar ponsel pecah. Retak kayak sarang laba-laba.

"MAS! ITU HP AKU!" Nayara jongkok, ambil ponselnya yang udah rusak. Layar pecah total. Tidak bisa nyala lagi.

"BAGUS! SEKALIAN HAPUS SEMUA BUKTI PALSU LO!" Gilang masih berteriak dari atas.

Nayara menatap ponselnya yang rusak. Semua bukti ada di situ. Screenshot chat. Foto-foto. Semua bukti perselingkuhan Gilang. Dan sekarang hilang. Hancur.

Nayara berdiri dengan lutut gemetar. Peluk Aldi lebih erat. Bayinya nangis sampai sesak napas. Mukanya merah banget.

"Mas, kumohon. Aku mohon sama Mas. Putus sama Sandra. Balik sama aku. Kita mulai lagi dari awal. Buat Aldi. Kumohon." Nayara memohon dengan suara serak, air mata mengalir tanpa henti.

Gilang tertawa. Tertawa keras dengan nada mengejek. "Mulai dari awal? Buat apa? Gua tidak cinta sama lo! Tidak pernah!"

Kata-kata itu menghujam jantung Nayara. Sakit. Sakit banget.

"Mas, jangan bilang begitu. Kita pernah bahagia. Waktu bulan madu di Bali, Mas kan bilang aku takdir terbaik. Mas kan bilang akan membahagiakan aku selamanya." Nayara mencoba mengingatkan.

"ITU BOHONG! SEMUA BOHONG! GUA BILANG BEGITU CUMA BUAT NIPU LO! BIAR LO MAU NIKAH SAMA GUA!" Gilang membuka semua kebohongannya tanpa rasa bersalah.

Nayara menatap Gilang dengan mata kosong. Dunianya runtuh total detik itu juga.

Semua janji manis Gilang bohong.

Semua kata cinta Gilang palsu.

Semua kebahagiaan mereka ilusi belaka.

"Terus, terus aku apa buat Mas?" Nayara bertanya dengan suara hampir tidak terdengar.

"LO CUMA ALAT! ALAT BUAT NUTUP MULUT ORANG TUA GUA YANG MAKSA GUA NIKAH! UDAH ITU AJA!" Gilang menjawab dengan kejam.

Alat.

Nayara cuma alat.

Bukan istri yang dicintai.

Bukan ibu dari anaknya yang dihargai.

Cuma alat yang dipake lalu dibuang.

Nayara tidak kuat lagi. Kakinya lemas. Tubuhnya goyah.

"Aku, aku mau pulang." Nayara bisik pelan.

"YA PULANG SONO! JANGAN GANGGU GUA LAGI!" Gilang berteriak terakhir kali sebelum berbalik, jalan kembali ke hotel.

Nayara berdiri sendirian di parkiran. Menatap punggung Gilang yang menjauh. Masuk lagi ke lobby hotel. Pasti balik ke Sandra yang masih nunggu di sana.

Nayara jalan gontai ke pinggir jalan. Buka aplikasi taksi online pakai ponsel yang layarnya pecah. Susah banget karena layar sentuhnya rusak. Tapi akhirnya berhasil.

Taksi datang lima belas menit kemudian. Nayara masuk dengan susah payah. Aldi masih nangis, tangisannya udah lemah karena kelelahan.

"Kemana, Bu?" Supir taksi nanya sambil noleh ke belakang.

"Jakarta. Komplek Menteng Garden." Nayara ngasih alamat rumahnya dengan suara serak.

"Jauh, Bu. Biayanya sekitar satu setengah juta."

"Tidak apa-apa. Jalan saja." Nayara tidak peduli sama uang lagi.

Taksi meluncur keluar dari parkiran hotel. Nayara natap jendela dengan tatapan kosong. Aldi mulai diam di gendongannya, mungkin kecapekan nangis.

Sepuluh menit perjalanan, tiba-tiba dada Nayara sesak. Sesak banget. Kayak dicekik. Napasnya pendek-pendek. Tidak bisa tarik napas dalam.

Jantungnya berdegup sangat kencang. Tidak teratur. Kayak mau copot dari dada.

Tangan gemetar hebat. Keringat dingin keluar banyak sekali. Pandangan mulai gelap di pinggiran.

"Bu, Bu tidak apa-apa?" Supir taksi noleh lewat kaca spion, wajahnya khawatir.

Nayara tidak bisa jawab. Mulutnya terbuka mencoba tarik napas tapi tidak bisa. Kayak ada yang nutup tenggorokannya.

Ini apa? Kenapa napasnya sesak banget? Kenapa jantungnya kayak mau meledak?

"Bu, saya berhenti dulu ya! Ibu kelihatan pucat banget!" Supir taksi minggir ke rest area terdekat.

Begitu mobil berhenti, Nayara buka pintu, keluar dengan susah payah sambil gendong Aldi. Dia jongkok di pinggir mobil, mencoba tarik napas.

Tapi tidak bisa. Napasnya makin sesak. Dada makin sakit.

"Bu, ini serangan panik kayaknya. Ibu harus tenang. Tarik napas pelan-pelan." Supir taksi turun, bantu Nayara.

Serangan panik.

Nayara pernah baca tentang ini. Tapi baru kali ini ngalamin langsung.

Napasnya pendek-pendek cepat. Jantung berdebar tidak teratur. Tangan gemetar tidak terkendali. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh. Kayak mau mati rasanya.

Aldi mulai nangis lagi. Mungkin ngerasa ibunya lagi tidak baik-baik aja.

"Iya sayang, Mama tidak apa-apa. Mama cuma, cuma..." Nayara mencoba bicara tapi suaranya putus-putus.

Lima menit kemudian, serangan panik perlahan reda. Napas Nayara mulai teratur walau masih sesak sedikit. Jantung masih berdebar tapi tidak sekencang tadi.

"Sudah agak mendingan, Bu?" Supir taksi bertanya dengan nada khawatir.

"Iya, sudah. Terima kasih. Kita lanjut saja." Nayara masuk lagi ke taksi dengan tubuh lemas.

Perjalanan dilanjutkan. Sepanjang jalan, Nayara peluk Aldi erat. Nangis pelan tanpa suara. Air matanya tidak berhenti mengalir.

Aldi udah tidak nangis lagi. Tidur kelelahan di gendongan ibunya. Napasnya teratur. Tidak tau ibunya lagi hancur total.

"Kenapa hidup Mama kayak gini, Nak?" Nayara bisik pelan sambil mengelus rambut Aldi yang tipis. "Kenapa Mama harus ngalamin semua ini?"

Tidak ada jawaban. Hanya suara mesin mobil yang berdengung pelan.

Jam sepuluh malam, taksi sampai di depan rumah. Nayara bayar pakai kartu kredit. Turun dengan susah payah.

Rumah gelap. Sepi. Dingin kayak biasa.

Nayara masuk dengan langkah gontai. Kunci pintu. Naik ke kamar dengan susah payah. Setiap anak tangga terasa berat banget.

Di kamar, Nayara taro Aldi di box dengan hati-hati. Bayinya tidur pulas, tidak terbangun.

Nayara duduk di tepi ranjang. Menatap kosong ke dinding.

Gilang bilang dia tidak pernah cinta sama Nayara.

Semua janji-janjinya bohong.

Nayara cuma alat.

Pernikahan ini bohong dari awal.

Nayara berdiri. Jalan ke lemari. Buka pintu lemari kayu besar itu.

Menatap baju-bajunya yang tergantung rapi.

Terus Nayara ambil tas ransel besar dari atas lemari. Taruh di kasur.

Mulai masukin baju-baju. Celana. Hijab. Pakaian dalam. Semua perlengkapan pribadi.

Terus ambil tas lain. Masukin baju-baju Aldi. Popok. Susu formula. Botol susu. Selimut. Semua perlengkapan bayi.

Nayara bergerak otomatis. Pikirannya kosong. Hatinya mati rasa.

Dia harus pergi.

Harus ninggalin rumah ini.

Harus ninggalin Gilang.

Tidak bisa bertahan lagi di pernikahan yang udah mati ini.

Nayara selesai packing dua tas besar. Satu buat dia, satu buat Aldi.

Dia duduk lagi di tepi ranjang. Menatap tas-tas itu.

Gilang belum pulang. Mungkin masih di Bandung. Masih sama Sandra. Tidur bareng di kamar hotel mewah.

Sementara Nayara di sini. Sendirian. Ngemas barang buat kabur dari rumah sendiri.

Ironis banget.

Nayara menatap Aldi yang tidur pulas di box. Wajah mungil bayinya terlihat damai.

"Maafin Mama ya, Nak. Mama harus bawa kamu pergi dari sini. Tempat ini tidak baik buat kita. Papa tidak sayang sama kita. Kita harus cari tempat yang lebih baik." Nayara bisik sambil mengelus pipi Aldi pelan.

Nayara berbaring di kasur. Menatap langit-langit dengan mata kosong.

Besok pagi dia akan pergi.

Akan bawa Aldi pergi jauh dari Gilang.

Mulai hidup baru.

Sendirian.

Tanpa suami yang tidak pernah mencintainya.

Tanpa rumah mewah yang dingin ini.

Cuma dia dan Aldi.

Berdua melawan dunia.

Air mata Nayara mengalir pelan ke bantal.

"Ya Allah, beri Mama kekuatan. Mama tidak kuat lagi. Tapi Mama harus kuat buat Aldi. Tolong kuatkan Mama." Nayara berdoa dengan suara bergetar.

Dan Nayara tertidur dengan air mata masih mengalir.

Tidur dengan mimpi buruk tentang masa depan yang gelap dan tidak pasti.

Tapi satu hal yang pasti.

Besok, hidupnya akan berubah total.

Entah jadi lebih baik atau lebih buruk.

Nayara tidak tau.

Yang dia tau, dia harus pergi.

Sebelum dia benar-benar mati di pernikahan yang sudah lama mati ini.

1
checangel_
Pindah ke luar negeri aja gimana Nay 🤧, suasana di sana sepertinya tak sepenuhnya mendung (mendukung)/Facepalm/
checangel_
Astaghfirullah Pak Hasan, ucapanmu loh terlalu menusuk 🤧/Facepalm/
checangel_
Sudah dimaafkan kok, tapi mohon maaf pintu hatinya Nayara sudah terlalu terkunci rapat, karena terlalu banyak luka di sana, tunggu saja sampai masa iddahnya selesai, gimana ke putusannya (Authornya)/Facepalm/
checangel_: Plongnya sampai ke ubun² ya 😇, be happy Kak🤝/Smile/
total 2 replies
Suanti
naraya jgn mau rujuk sm gilang
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭
Leoruna: betul sekali kak, selingkuh itu gk ada obatnya, dan gk akan sembuh. kecuali bner2 dapet hidayah🤭🤣
total 1 replies
checangel_
Tak ada lagi kata terucap, Author pertahankan alurmu 🤧👍🙏
Leoruna: mkasih kak🙏
total 1 replies
checangel_
Penyesalan memang seperti itu, Ibu. Jika di awal sudah bukan penyesalan lagi tetapi penerimaan yang belum sepenuhnya tertera jelas, maka dari itu ada istilah bibit, bebet, bobot dalam Jawa🤧
checangel_
Tidak semudah itu kau rangkai lagi kertas yang sudah kau robek² Mas Gilang, ingat masa Iddah sedang berlangsung 🤝
checangel_
Pernikahan toxic memang sampai segitunya, jaga diri baik-baik teruntuk yang sedang berada di ruang itu 🤗, kamu hebat, kamu kuat, dan kamu pantas mendapatkan yang lebih bermartabat 🤝
checangel_: Peluk jauh untuk yang sedang berada di sana 🤧
total 2 replies
checangel_
Rain ... go away, rain ... on the way 🎶
checangel_
Apalagi ni? Ibu Mertua datang tanpa aba 🤧 Mohon maaf Ibu, sidang sedang berlangsung .... sebaiknya masalah pribadi dibicarakan dalam tempat privasi ... Ibu Ratna! Jelek atau tidaknya istri itu alamiyah, karena bawaan dari kandungan itu sendiri selama mengandung, jikalau ingin menantumu itu tetap cantik, jangan jadikan dia menantu, tetapi pajangan 🤧 Bisa-bisanya bicara seperti itu, Ibu Ratna /Sob/, itu semua kan karena faktor alam, walaupun perawatan solusinya ... tapi kan .... tahulah perawatan itu gimana? dan habis berapa biaya?🤧
checangel_
Dua pilihan terbuka lebar, .... bertahan untuk Allah atau pergi mengikuti emosi 🤝 dan dua konsekuensi ... jika bertahan tetap menerima luka dan menyaksikan luka, jika pergi luka itu berlalu dan larut ... tapi semua keputusan ada pada genggamanmu, Nay .... pasrahkan saja pada Langit, jika Langit sudah berbicara tak ada yang bisa mengelak🤧
checangel_
Ternyata sejak tadi, baru pemanasan konflik 🤣, dan hanyalah pertengkaran biasa, padahal Readernya sudah meluap-luap 🤭
checangel_: Yup, hanya dia (reader terpilih) yang bisa menemukan berlian itu dalam kotak tulisan tak bersuara /Smile/
total 8 replies
checangel_
Jangan sampai menuju ke istilah 'baby blues' ini, yuk Nay kendalikan emosimu 🤝🤧
checangel_
Iya, di dunia ini hanya segelintir orang yang peduli akan kata Adil itu🤧
checangel_
Jika dirimu mengatakan 'istri yang menyebalkan', lantas kenapa Reynaldi hadir?🤧, itukan bukti cintamu pada Nayara, Mas Gilang!!!!!!!!!/Grimace/
checangel_
Seberharganya waktu, seorang anak juga butuh waktu dari Ayahnya /Drowsy/
checangel_
Uang tak bisa menggantikan kasih sayang seorang Ayah kepada buah hatinya, ingat itu Mas Gilang!/Smile/
checangel_
No no!! Mengurus anak itu kewajiban kedua belah pihak, baik istri maupun suami, tidak ada salah satunya /Grimace/🤝
checangel_
Yuk, maaf-maafan, sudah tiga hari itu loh kalian berdua bertengkar ... ingat 'tak baik berselisih, bahkan berdebat hingga lebih dari tiga hari' /Chuckle/
checangel_
Hello Mas Gilang!!! Sepertinya dirimu harus mengikuti bimbingan kelas online tentang bagaimana menjadi suami yang baik dan bagaimana perjuangan seorang istri saat mengandung, agar pintu nuranimu terbuka lebar, selebar-lebarnya dan SADAR 🤝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!