NovelToon NovelToon
One Night Stand With Mafia Boss

One Night Stand With Mafia Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / One Night Stand / Psikopat itu cintaku / Mafia / Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ririnamaku

Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------

Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.

Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.

Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4

Suara langkah kaki Sean terdengar semakin menjauh, meninggalkan Brad dan Megan dalam keheningan toilet yang menyesakkan.

Begitu suara pintu luar tertutup, Bradley melepaskan bekapan tangan Megan, namun tetap mengurung tubuh Megan di antara lengannya.

“Kau tampak seperti kelinci manis yang sedang ketakutan, Meg,” bisik Brad dingin.

“Aku harus pergi, Brad. Berhentilah mengikuti ku atau aku bersumpah akan menembak barang paling berharga milikmu itu,” ancam Megan dengan napas memburu.

Brad tertawa. Baginya, setiap ancaman yang keluar dari mulut Megan adalah nyanyian yang akan selalu ia rindukan. “Pergilah, Meg. Berlarilah sejauh yang kau bisa, karena pada akhirnya kau akan jatuh kembali ke dalam pelukanku.”

“Aku tak sudi!”

“Biar kuberi tahu satu hal, Sayang. Pria yang kau banggakan di luar sana... dia tidak lebih baik dariku,” Brad menatap Megan dengan kilat mata yang sulit diartikan.

“Setidaknya dia bukan buronan sindikat gelap sepertimu.”

“Cobalah berbicara lebih lembut, Meg. Karena suatu hari, pria ini yang akan kau sebut dalam doamu,” Brad mendekat, menarik paksa syal Megan lalu hidungnya menyusuri garis leher Megan yang jenjang. Megan hanya bisa memejamkan mata saat tubuh Brad menguncinya, menolak membiarkannya bernapas dengan bebas.

“Brad, lepaskan aku...”

“Memohon lah,” tuntut Brad sambil menghirup aroma rambut Megan.

“Brad, tidak cukupkah kau menghancurkanku? Mengambil milikku dan kini kau masih ingin menyiksaku di sini?” suara Megan mulai bergetar.

Bradley masih memainkan ujung rambut Megan dengan jemarinya. “Jadilah kelinci manis yang penurut, Meg. Diam dan jangan lagi mengusikku, karena itu hanya akan membuang energimu. Kau tidak akan menemukan bukti apa pun dariku.”

“Untuk sekarang, Brad. Tapi suatu hari, saat aku menemukan bukti dan siapa orang yang melindungi mu, aku sendiri yang akan memastikan kau membusuk di penjara. Atau aku akan mengirim mu ke neraka dengan tanganku sendiri.”

“Terdengar sangat menakutkan, Meg. Akan kutunggu hari itu. Tapi untuk sekarang... jika kau bersuara sedikit saja, video itu akan sampai di meja atasanmu di Langley di hari itu juga.”

Bradley meraih dagu Megan dengan kasar, lalu kembali melakukan serangan mendadak. Ia mencium bibir Megan dengan brutal seolah ingin menandai wilayahnya sekali lagi sebelum akhirnya melepaskannya.

Megan segera keluar begitu ia bisa lepas dari cengkeraman Bradley. Di wastafel, ia mencuci tangannya berkali-kali seolah ingin melunturkan jejak pria itu dari kulitnya, lalu merapikan kembali syal nya.

Sean, kita pulang sekarang. Kepalaku pusing sekali,” ajak Megan begitu sampai di meja.

Sean mengangguk cemas. “Kita ke dokter?”

“Tidak usah. Aku hanya butuh istirahat,” jawab Megan singkat.

--------

Mobil Sean melaju membelah jalanan London yang bersalju tipis. Lampu-lampu kota berkilauan di balik kaca jendela, bertolak belakang dengan perasaan Megan yang kalut.

“Meg, sepertinya ada yang mengikuti kita,” ucap Sean tiba-tiba, matanya melirik spion tengah.

“Hah... apa?” Megan tersentak dari lamunannya.

“Di belakang ada mobil SUV hitam yang mengikuti kita sejak dari restoran.”

Megan menoleh, dan benar saja. Jantungnya berdegup kencang. Ia yakin itu adalah Bradley yang sedang melakukan power play untuk menakut-nakutinya, namun saat sampai di depan apartemen Megan, mobil itu menghilang.

“Sean, mobil tadi sepertinya bukan mengikuti kita. Sudah tidak ada,” ucap Megan, berusaha menenangkan Sean sekaligus dirinya sendiri.

“Benar juga. Ya sudah, kau istirahatlah. Ingat, jangan terlambat besok, ada meeting pagi dengan pimpinan gabungan.”

Megan hanya mengangguk lemas. Ia berdiri di lobi apartemen sampai mobil Sean hilang dari pandangan. Namun, tepat setelah Sean pergi, SUV hitam tadi muncul dan berhenti tepat di hadapannya. Kaca jendela terbuka perlahan, menampilkan wajah Bradley di balik kemudi.

“Kau mengikutiku?”

“Hanya memastikan mainanku selamat sampai di rumah. Masuklah, Meg. Salju ini tidak baik untukmu.”

“Bukan urusanmu!” Megan berbalik dan masuk ke apartemen tanpa menoleh lagi.

*****

Keesokan harinya di London Station CIA-MI6

Ruang rapat itu terasa lebih dingin dari biasanya. Megan duduk di ujung meja, berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya tetap kaku dan profesional.

Di depan ruangan, Sean berdiri memimpin presentasi dengan wajah yang terlihat frustrasi.

"Sudah dua belas kali operasi penggeledahan dilakukan, namun hasilnya selalu nihil," Sean membanting berkas ke atas meja. "Bradley Brown selalu selangkah lebih maju. Seolah-olah dia tahu kapan kita akan datang dan di mana kita akan bergerak."

Sean menatap satu per satu agen di ruangan itu. Pandangannya sempat berhenti cukup lama pada Megan, membuat napas Megan tercekat.

"Hanya ada satu penjelasan yang masuk akal," Sean melanjutkan, suaranya kini lebih berat. "Ada orang dalam yang sengaja melindungi Bradley. Seorang pengkhianat di antara kita yang memberikan informasi pada The Obsidian Syndicate."

Bisik-bisik mulai memenuhi ruangan. Megan merasakan keringat dingin membasahi punggungnya.

"Mulai hari ini," Sean mengetuk meja dengan keras. "Semua pergerakan agen akan diawasi secara ketat. Tidak ada komunikasi luar tanpa seizinku. Aku akan mencari siapa 'tikus' yang sudah lancang menjual informasi pada Brown, dan saat aku menemukannya... aku sendiri yang akan menghancurkannya."

Megan menunduk, pura-pura mencatat di tabletnya. Ia bisa merasakan tatapan tajam Sean seolah menembus pertahanannya. Di saat yang sama, ponsel di saku celananya bergetar.

Sebuah pesan masuk. Dari nomor yang tidak dikenal.

“Selamat pagi, Agen Ford. Bagaimana rasanya berada di ruang sidangmu sendiri? Aku harap kekasihmu tidak terlalu kasar padamu”

Megan membeku membaca pesan singkat yang jelas ia tahu siapa pengirimnya.

***

Siang itu, di tengah kesibukan Megan yang berkutat dengan pekerjaannya, ponselnya berdering. Nomor itu tidak bernama, tapi Megan sudah menghafalnya di luar kepala. Nomor terkutuk milik Bradley Brown. Megan mengangkat telepon itu dengan tangan bergetar.

“Agen Ford,” suara bariton itu terdengar dingin dan mendominasi. “Aku tunggu kau untuk makan siang di The Ivy Sepuluh menit dari sekarang. Jika terlambat, maka foto-foto itu akan segera tersebar.”

“Damn it!” Megan membanting ponselnya ke atas meja, lalu menyambar tasnya.

Namun, belum sempat Megan berjalan keluar Sean menghampirinya. “Sayang, kita jadi makan siang di luar?”

Megan menoleh, berusaha menyembunyikan kepanikannya. “Maaf, Sean, aku harus keluar sebentar. Aku akan mencari apotek untuk membeli obat pusing. Aku benar-benar merasa kurang enak badan.”

“Biar kuantar, Meg.”

“Tidak usah! Aku hanya sebentar!” Megan segera meninggalkan Sean yang masih mematung.

Sean menatap punggung Megan dengan alis bertaut, merasakan kerenggangan yang aneh. Megan tak pernah begini sebelumnya, bahkan saat hubungan jarak jauh melanda, Megan tidak pernah sedingin ini. Namun, Sean mencoba berpikir positif, mungkin memang Megan sedang butuh sendiri.

Megan berjalan menyusuri jalanan London tanpa mantel, mengabaikan salju tipis yang menerpa rambutnya. Yang ada di pikirannya hanyalah menghindari bencana yang akan menimpa kariernya dalam sepuluh menit ke depan.

------

Cokelat hangat sudah tersaji begitu Megan sampai di meja pojok The Ivy, tempat Bradley duduk.

“Apa maumu?” tanya Megan dingin, menolak untuk duduk.

“Duduk, Meg.”

Namun Megan tak bergeming, memaksa Bradley berdiri. Dengan gerakan cepat, Brad mengambil sesuatu dari paper bag di sampingnya, lalu memasangkan mantel wol tebal itu di tubuh Megan.

“Aku tak butuh pemberian darimu.”

“Tapi tubuhmu membutuhkannya. Aku tak ingin mengambil risiko, barangkali benihku akan tumbuh di rahimmu.”

Kata-kata Bradley bagai petir yang menyambar Megan tanpa aba-aba. Ia bahkan tak pernah memikirkan sejauh itu. “Aku tak sudi kau titipi benihmu. Akan ku pastikan dia tidak hadir.”

Bradley hanya mengedikkan bahu tak acuh, menghadapi Megan baginya tak perlu membuang energi. Cukup dengan mematahkan semangat hidupnya saja.

“Sekarang duduk dan makanlah. Aku sudah memesankan makanan untukmu.”

Megan tertegun saat pelayan datang membawakan sup hangat ke hadapannya. Aroma kaldu yang kaya langsung memenuhi indra penciumannya. Perlahan, ia menyendok sup itu.

“Kau menyukainya?”

Megan tidak menjawab, namun ia menghabiskan sup itu hingga tandas. Rasa sup itu terlalu familiar, mengingatkannya pada masa lalu yang damai.

“Aku ingat, pernah dibuatkan sup ini oleh sahabat papaku saat aku kecil.”

Bradley mengangkat sebelah alisnya. Ia mulai menyimak cerita Megan.

“Sejak ibuku meninggal, Bibi Sarah selalu datang ke rumah dan menyiapkan makanan ini untukku. Bibi Sarah yang kesepian karena anaknya menempuh pendidikan di New York sudah menganggapku seperti putrinya sendiri. Tak banyak yang bisa kuingat tentangnya, tapi sup ini mampu membawaku ke masa lalu. Aku ingin menemui Bibi Sarah, tapi beliau sudah meninggal dalam kecelakaan saat perjalanan ke New York untuk menghadiri wisuda putranya.”

Di bawah meja, tangan Bradley mengepal begitu erat. Rahangnya mengeras. Tubuhnya menegang. Wajahnya yang tenang seketika berubah menjadi topan amarah yang siap meledak.

1
Senja
eh kali ini bener kata Bradley
Senja
sekarang aja udah stress mala jadi ibu dari anak2, katanya 😔 bener kata Matthew& Clara, emang gila Bradley 😭
Senja
Aduh😭😭😭😭
Bintang Kejora
wah gila sih Arthur Ford... beneran megan menyelamatkam kehormatan ayahnya dengan memgorbankan dirinya
😔
Bintang Kejora
kayak nonton film action hollywood 🤭
Bintang Kejora
Tuh kan bener jadi begini kan? Bradley ga tau megan mempertaruhkan nyawanya demi mencari jawaban tapi bradley tetap ga mau kasih tahu. teka teki banget sih thor
Bintang Kejora
Nekat amat Megan. memilih nyelamitin bradley dari pada Bayinya 😪
Senja
Astaga... Megan benar2 benci sama Bradley sampe2 dia ga mikirin nyawanya sendiri. lebih baik mati 😭
Senja
Apalah Bradley selalu punya cara buat ngikat Megan...😔
Senja
ya ampun ini dari drama ngidam mangga muda sampe ngidam rawon... rawon go international 🤭😄 Anaknya Brad emang agak lain..
Senja
😄😄😄 Hantu London takluk sama mangga muda...
Senja
Ayo kesempatan kabur Megan 😄
Senja
Jadi gadis yang ada di bayangan Bradley itu, Alice kah? Tadi Alice nangis juga di rumah Arthur... benangnya kusut banget. Aku beneran ga bisa nebak. 🤭
Mawar Berduri
kamu itu sebenarnya siapa nya Megan sih Brad? kadang kalem kadang garang🤔🤔
Mawar Berduri
Megan mati❎
Megan hamil ✅
🤭🤭
Bintang Kejora
Ihh Bradley ini siapa sih? misterius banget. kamu kenal megan?
SarSari_
baca juga ceritaku ya kak, suamiku ternyata janji masa kecilku.🙏
Mawar Berduri
Wah ada apa dengan Bradley? kenapa mendadak berubah setelah mendengar cerita Megan?
Senja
Alpha Male si Bradley, bagus aku suka novel dengan genre mafia psikopat. Semoga ke depan lebih menantang.
Mawar Berduri
Bagus untuk openingnya, melibatkan Agen dan Mafia. Lanjut author untuk aksi menegangkan di next chapter. Semangat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!