“Apa ... jangan-jangan, Mas Aldrick selingkuh?!”
Melodi, seorang istri yang selalu merasa kesepian, menerka-nerka kenapa sang suami kini berubah.
Meskipun di dalam kepalanya di kelilingi bermacam-macam tuduhan, tetapi, Melodi berharap, Tuhan sudi mengabulkan doa-doanya. Ia berharap suaminya akan kembali memperlakukan dirinya seperti dulu, penuh cinta dan penuh akan kehangatan.
Namun, siapa sangka? Ombak tinggi kini menerjang biduk rumah tangganya. Malang tak dapat di tolak dan mujur tak dapat di raih. Untuk pertama kalinya Melodi membuka mata di rumah sakit, dan disuguhkan dengan kenyataan pahit.
Meskipun dirundung kesedihan, tetapi, setitik cahaya dititipkan untuknya. Dan Melodi berjuang agar cahaya itu tak redup.
Melewati semua derai air mata, dapatkah Melodi meraih kebahagiaan? Atau justru ... sayap indah milik Melodi harus patah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPMM9
Aldrick duduk di kursi di sebelah tempat tidur rumah sakit, matanya tidak lepas menatap Melodi yang masih terbaring lemah. Wajah istrinya tampak pucat, tetapi, ada sedikit semburat warna merah muda di pipinya yang mulai kembali. Itu memberinya harapan, meskipun kecil. Tangannya menggenggam erat tangan Melodi, seolah takut jika ia melepaskannya, perempuan itu akan lenyap begitu saja.
Melodi perlahan membuka matanya. Pandangannya buram pada awalnya, tetapi begitu ia melihat Aldrick di sisinya, ia berusaha untuk tersenyum.
"Mas ...," panggilnya pelan, suara itu hampir seperti bisikan.
"Aku di sini, Dek." Jawab Aldrick cepat, mendekatkan wajahnya ke arah Melodi. "Kamu nggak apa-apa? Kamu butuh apa? Air? Kamu laper? Mau beli camilan? Atau aku panggil dokter aja?"
Melodi tertawa kecil, meskipun suaranya terdengar lemah. "Santai, Mas. Aku nggak se-fragile itu. Lagian, kamu panik banget sih? Biasanya juga cuek."
Aldrick terdiam, wajahnya sedikit memerah karena ucapan Melodi. "Aku nggak cuek," gumamnya pelan.
Melodi tersenyum samar. "Cuma nggak kelihatan aja, ya?" Balasnya, mencoba membuat suasana lebih ringan.
Namun, Aldrick tidak tertawa. Matanya serius, bahkan sedikit berkaca-kaca. "Aku beneran takut kehilangan kamu tadi, Dek," katanya jujur. "Aku nggak tau apa yang bakal terjadi kalau kamu … kalau kamu nggak ada."
Melodi menatap Aldrick, terkejut dengan nada suaminya. Biasanya, Aldrick tidak pernah—atau lebih tepatnya, jarang sekali—mengungkapkan perasaannya secara langsung. Hatinya sedikit hangat mendengar kalimat itu, meskipun ia tidak menunjukkan reaksi berlebihan. "Aku kan masih di sini, Mas," jawabnya lembut. "Jadi, nggak perlu lebay. Aku nggak akan ke mana-mana."
Aldrick mengangguk pelan, meskipun di dalam hatinya ia tahu ada sesuatu yang salah. Ia bisa merasakannya. Dan ia tahu, penjelasan itu hanya ada di tangan dokter.
---
Pagi itu, Dr. Andra masuk ke dalam kamar inap Melodi. Aldrick yang sedang mengganti posisi selimut Melodi langsung berdiri, menghampiri dokter itu dengan wajah penuh harap dan cemas.
"Dok, gimana kondisi istri saya?" tanyanya tanpa basa-basi.
Dr. Andra mengangguk sopan kepada Aldrick dan Melodi sebelum mengambil clipboard dari tangannya. Wajahnya tenang, tetapi ada sesuatu dalam pandangannya yang membuat Aldrick merasa tidak nyaman.
"Kami sudah melakukan beberapa pemeriksaan awal," kata Dr. Andra, suaranya tenang namun berat. "Dan dari hasil sementara, kami menemukan ada masalah serius pada kesehatan Bu Melodi."
Aldrick merasa jantungnya seperti berhenti berdetak. Ia melirik Melodi yang juga terlihat bingung, tetapi, tetap tenang. Ia berusaha menenangkan dirinya sebelum bertanya lagi. "Masalah serius? Maksud Anda apa, Dok?"
Dr. Andra menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Dari gejala yang muncul dan hasil tes awal, kami menemukan adanya indikasi penyebaran sel kanker pada Bu Melodi."
"Tu-nggu dulu, Dok. —Sebentar ...." Aldrick masih tak percaya, ia berusaha mencerna. "Kanker? —Kanker?!"
"Benar, Pak Aldrick." Dokter Andra mengangguk.
Melodi menatap Dokter Andra dengan mata melebar. "Kanker, Dok?" tanyanya dengan suara bergetar. "Maksudnya … apa ini parah?"
"Kami belum bisa memberikan diagnosis pasti sebelum semua hasil tes keluar," jawab Dr. Andra sabar. "Tapi, dari gejalanya, ini memang bukan kondisi yang bisa dianggap ringan. Kami perlu melakukan tes lanjutan untuk memastikan seberapa banyak sel kanker ini menyebar dan bagaimana pengobatannya."
Aldrick merasa lututnya melemas. Ia terdiam beberapa detik, mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. "Kenapa … kenapa ini bisa terjadi, Dok?" tanyanya akhirnya. "Apa penyebabnya? —Sebelumnya, istri saya sehat wal'afiat."
Dr. Andra menatap Aldrick dengan pandangan penuh pengertian. "Penyebab kanker otak belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker otak. Bisa karena riwayat keluarga dengan tumor otak, paparan radiasi, paparan bahan kimia, kelainan genetik, obesitas, memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, pola makan dan gaya hidup yang buruk, stres berlebih. Semua itu bisa jadi penyebab."
Aldrick menoleh ke arah Melodi, yang tampak menunduk, menatap selimut putih di pangkuannya. Ia tahu apa yang ada di pikiran istrinya, dan itu membuat dadanya terasa sesak.
"Stres?" ulang Aldrick pelan. "Karena aku?"
Melodi tidak menjawab. Ia hanya mengangkat bahu sedikit, mencoba menghindari tatapan Aldrick.
"Dok, saya janji saya akan melakukan apa pun buat bantu istri saya," kata Aldrick dengan nada penuh tekad. "Apa pun yang harus saya lakukan, saya bakal lakuin. Tolong sembuhkan dia."
Mendengar perkataan Aldrick, jantung Melodi seakan di remas. Tak terasa, kedua pipinya sudah basah.
Dr. Andra tersenyum tipis. "Kami akan melakukan yang terbaik, Pak Aldrick. Tapi, seperti yang saya katakan, kami butuh hasil pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan langkah pengobatan yang tepat."
Setelah memberikan beberapa arahan medis tambahan, Dr. Andra keluar dari kamar, meninggalkan Aldrick dan Melodi dalam keheningan yang berat.
Aldrick kembali duduk di sisi tempat tidur Melodi. Ia mencoba membuka percakapan, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Melodi, di sisi lain, masih terdiam, menatap jendela kamar rumah sakit dengan pandangan kosong.
"Adek," panggil Aldrick akhirnya. "Kamu nggak apa-apa?"
Melodi menoleh perlahan. Wajahnya masih tampak pucat, tetapi matanya memancarkan kelelahan yang lebih dalam. "Aku baik-baik aja, Mas," jawabnya pelan.
"Kamu nggak harus pura-pura kuat di depan aku," kata Aldrick dengan nada lembut. "Kalau kamu takut, kamu bisa bilang. Aku di sini buat kamu."
Melodi tersenyum kecil, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Mas?"
"Iya?" Aldrick menatap lembut.
"Seberapa jauh hubungan kamu sama Karin?" tanya Melodi tanpa menatap.
"Astagfirullah ...," ucap Aldrick. "Demi Allah Mas nggak selingkuh, Dek."
"Bohong!" bentak Melodi pelan. "Aku udah nemuin bukti-bukti itu ...," suaranya lirih dan sedih.
"Apa? Rambut? Noda lipstik? Parfum? Anting?" Aldrick menarik napas dalam-dalam. "Mas udah jelasin kan, Dek? Sebenarnya Mas juga bingung."
Melodi menatap nanar suaminya yang banyak bicara hari ini, tidak seperti biasanya. Mungkinkah Aldrick berpikir waktu mereka tidak akan lama? Memikirkan itu, dada Melodi terasa sesak.
"Dek ... aku cinta kamu, adek nggak percaya? —Mana mungkin aku selingkuh." Aldrick menatap lembut sang istri.
"Selagi tongkat sakti mu masih melekat di dalam celana, nggak ada yang nggak mungkin," ketus Melodi.
"Kok jadi ngomong mesum begitu, Dek," Aldrick salah tingkah.
Melodi tak menjawab. Ia tampak tengah memikirkan sesuatu. Tak lama, ia menatap Aldrick dalam-dalam. "Mas?"
"Iya, Dek? Kamu butuh sesuatu?" tanya Aldrick cepat.
"Bagaimana kalau kita cerai aja? —Kamu selingkuh, aku penyakitan, time yang pas kan?" tanya Melodi. Pertanyaan itu, membuat Aldrick terdiam cukup lama. Dan hal itu membuat Melodi hilang kesabaran.
"Mas?! Kok malah diem?" kening Melodi berkerut.
"Mulutku diem, Dek. Tapi, hatiku takbiran." jawab Aldrick akhirnya. Jawaban Aldrick membuat Melodi tersenyum tipis.
Aldrick merasa hatinya kembali remuk. Ia ingin mengatakan sesuatu yang bisa menghibur istrinya, tetapi ia tidak tahu kata-kata apa yang cukup kuat untuk mengurangi rasa sakit itu.
"Kalau aku sadar lebih cepat, mungkin semua ini nggak akan terjadi," gumam Aldrick, lebih kepada dirinya sendiri. "Aku terlalu sibuk sama diriku sendiri. Aku terlalu bodoh buat lihat kamu butuh aku."
Melodi menggeleng pelan. "Ini salah aku juga, Mas, karena terlalu sering nyimpen semuanya sendiri."
"Tapi, aku suami kamu," balas Aldrick cepat. "Aku harusnya jadi orang pertama yang kamu andalkan. Aku terlalu sibuk jadi orang yang dingin, sampai aku lupa kalau aku perlu tunjukin ke kamu kalau aku sayang."
Melodi menatap Aldrick, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tahu kamu sayang, Mas," katanya pelan. "Aku cuma pengen kamu tunjukin itu. Karena kadang … aku juga butuh diyakinkan. Butuh diakui."
Aldrick mengangguk, menelan emosinya yang hampir meledak. "Aku janji, Dek. Mulai sekarang, aku bakal berubah. Aku bakal jadi suami yang kamu butuhin."
Melodi tersenyum, meskipun air matanya mengalir. "Janji aja nggak cukup, Mas. Kamu harus buktiin."
Aldrick mengangguk lagi, menggenggam erat tangan istrinya. "Aku bakal buktiin. Aku nggak akan biarin kamu ngerasa sendirian lagi."
"Semoga ya," balas Melodi. "Oh, ya, kamu nggak berangkat kerja, Mas?"
"Dua jam lagi lah, nunggu Nadia datang," jawab Aldrick.
"Telat dong ngantor nya, Mas?" kening Melodi berkerut.
"Ya, nggak apa-apa lah. —Atau ... aku ambil libur aja ya, Dek?" Aldrick mengusap-usap dagunya sendiri.
"Eitss, nggak bisa. Terutama hari ini, nggak bisa. Nggak boleh!" Kedua tangan Melodi menyilang di depan dada.
"Kenapa begitu, Dek?"
"Hari ini kan kamu gajian, Mas."
Aldrick tersenyum kecil, hatinya seakan digelitik. "Iya—iya, aku bakal kerja."
Tepat setelah berkata demikian, pintu kamar di dorong pelan. Mungkinkah Dokter Andra datang memberi informasi hasil pemeriksaan? Degup jantung Melodi dan Aldrick jadi tak menentu.
Namun, bukan Dr. Andra yang muncul dari balik pintu, melainkan Nadia. Wanita bertubuh gempal itu masuk dengan tampilan yang cukup ... membuat detak jantung keduanya semakin tak menentu.
"Nad? Mata lo kenapa?!" Seru Melodi dan Aldrick bersamaan ketika melihat kedua mata Nadia lebam biru.
*
*
*
,, penyesalan,, membuat sesak di
di dada, dalam penyesalan hanya
dua kata sering di ucapkan,
,, andaikan dan misalkan,, dua
kata ini tambah penyesalan.
thanks mbak 💪 💪