Sinopsis:
Choi Daehyun—penyanyi muda terkenal Seoul yang muncul kembali setelah 5 tahun menghindari dunia hiburan.
“Aku hanya ingin memintamu berfoto denganku sebagai kekasihku,” kata Choi Daehyun pada diriku yang di depannya.
Namaku Sheryn alias Lee Hae-jin—gadis blasteran Indonesia-Korea yang sudah mengenali Choi Daehyun sejak awal, namun sedikit pun aku tidak terkesan.
Aku mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki itu, lalu berkata, “Baiklah, asalkan wajahku tidak terlihat.”
Awalnya Choi Daehyun tidak curiga kenapa aku langsung menerima tawarannya. Sementara aku hanya bisa berharap aku tidak akan menyesali keputusanku terlibat dengan Choi Daehyun.
Hari-hari musim panas sebagai “kekasih” Choi Daehyun dimulai. Perubahan rasa itu pun ada. Namun aku ataupun Choi Daehyun tidak menyadari kebenaran kisah lima tahun lalu sedang mengejar kami.
🌸𝐃𝐈𝐋𝐀𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐊𝐄𝐑𝐀𝐒 𝐂𝐎𝐏𝐘
🌸𝐊𝐀𝐑𝐘𝐀 𝐀𝐒𝐋𝐈 𝐀𝐔𝐓𝐇𝐎𝐑/𝐁𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐏𝐋𝐀𝐆𝐈𝐀𝐓
🌸𝐇𝐀𝐏𝐏𝐘 𝐑𝐄𝐀𝐃𝐈𝐍𝐆
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Olivia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Sherly memungut sumpit yang jatuh dan mengulurkannya kepada Park Hyun-Shik.
“Maaf, sepertinya aku makan terlalu buru-buru,” katanya sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya yang basah karena keringat dingin ke celana jins.
“Tidak perlu rakus seperti itu,” kataku.
Sama sekali tidak membantu. Sherly tidak mengacuhkannya dan bertanya pada Park Hyun-Shik, “Jumpa penggemar? Seperti yang dulu?”
Aku tertegun menatap daging panggangnya. Ia kaget Sheryn tahu soal jumpa penggemar terakhir yang dilakukannya sebelum mengambil jeda dari dunia selebriti.
“Tidak, tidak seperti dulu,” Park Hyun-Shik cepat-cepat menyela sebelum suasana hatiku berubah menjadi buruk.
“Kali ini tidak seramai dulu. Kami akan membatasi jumlah penonton. Bagaimana? Kau mau datang?”
“Oh, begitu? Hmmm…” Sheruny menerima sumpit baru yang diulurkan Park Hyun Shik.
“Aku boleh datang?”
Aku mendengus dan meneguk soju-nya, rupanya Park Hyun-Shik terlambat menyelamatkan situasi.
“Untuk apa kau datang? Memangnya kau termasuk penggemarku?”
“Memang bukan,” jawab Sheryn terus terang, lalu menjepit daging panggang dan memasukkannya ke mulut. Ia melihatku yang menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya, seolah menantinya memberi alasan.
Sheryn hanya berdecak. “Ya sudah, aku tidak akan datang. Lagi pula aku juga sudah bosan melihatmu. Aneh juga, kenapa teman-temanku begitu menyukaimu ya?”
Aku sudah membuka mulut untuk membalas komentar Sandy, tapi Park Hyun-Shik buru-buru menengahi, “Jangan begitu. Aku akan memberikan dua lembar tiket untukmu. Datanglah bersama temanmu hari Sabtu nanti. Kau belum pernah mendengar Tae-Woo menyanyi, kan?”
Sheryn meringis dan menatapku yang melahap daging panggang dengan kesal. “Sebenarnya pernah. Di televisi…,” katanya.
Setelah beberapa saat Sheryn memutuskan untuk melunak, “Bagaimana? Aku boleh datang, tidak? Siapa tahu setelah pergi ke acara itu, aku jadi bisa melihat apa yang tidak kulihat selama ini. Siapa tahu nantinya aku jadi bisa mengerti kenapa banyak orang menyukaimu.”
Aku menatapnya dan mendesah. “Datang saja kalau kau mau. Tapi jangan macam-macam.”
Sheryn tersenyum jail, tiba-tiba saja aku merasa firasat yang cukup buruk. Ia berkata, “Baiklah, kau mau aku berpura-pura menjadi penggemarmu yang paling fanatik? Aku bisa berlari ke arahmu dan memelukmu kuat-kuat. Lalu menjerit-jerit memanggil namamu. Daehyun Oppa! Aku cinta padamu! Itu yang biasanya dilakukan para penggemarmu, kan?”
“Mungkin sebaiknya kau tidak usah datang,” kataku sambil meletakkan sumpitnya dengan keras.
“Benar. Jangan datang!”
Sheryn menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. “Kau tadi sudah setuju. Tidak boleh ditarik kembali. Lagi pula temanku Na Minjie penggemar beratmu. Aku sudah merasa tidak enak karena harus menyembunyikan masalah ini darinya. Dia sangat ingin mendapatkan tanda tanganmu. Jadi, aku pasti akan mengajaknya ke acara jumpa penggemarmu Sabtu nanti.”
Aku hanya bisa menarik napas panjang. “Ya, ya, terserah kau sajalah.”
.
.
.
.
.
“Hyung, hari ini tidak ada jadwal kerja, kan? … Aku sedang di luar. Ada sedikit urusan… Oke, sampai jumpa.”
Aku melempaskan earphone dari telinga dan kembali memusatkan perhatian pada jalanan di depannya.
“Sepertinya di sini kampusnya,” gumamku pada diri sendiri sambil menghentikan mobil di tepi jalan. Aku membuka flap ponselnya dan baru akan menekan angka sembilan ketika gerakannya terhenti.
Aku melihat Sheryn melalui kaca jendela mobilnya. Gadis itu sedang berjalan keluar dari gerbang kampus bersama laki-laki tinggi besar. Aku terus mengamati mereka ketika laki-laki itu membukakan pintu mobilnya untuk Sheryn dan gadis itu masuk.
Aku menutup ponsel, melemparkannya ke kursi penumpang di sampingnya, lalu memutar mobilnya untuk mengikuti mobil putih itu.
Ternyata mereka tidak pergi jauh. Mobil putih itu berhenti di depan kafe dan kedua orang itu turun. Aku menghentikan mobil di seberang jalan dan tetap diam di dalam mobil. Aku melihat Sheryn dan laki-laki itu masuk ke kafe dan, untungnya, menempati meja di dekat jendela.
Dari mobilnya, aku bisa melihat mereka berdua dengan jelas. Si laki-laki tidak henti-hentinya tersenyum dan berbicara, Sandy juga sering tersenyum dan sesekali menanggapi kata-kata pria itu. Aku meraih ponselku dan menekan angka sembilan.
(POV Sheryn)
Begitu mendengar suara operator telepon, aku langsung menutup flapponselnya dengan keras.
“Kenapa ponselnya dimatikan?” tanya Han Eunho.
Aku saat ini sedang tersenyum kepada pelayan yang mengantarkan minuman. Aku memalingkan wajah lalu bertanya padanya dengan nada heran, “Kenapa kau harus peduli?”
“Kau mau pulang? Bagaimana kalau kuantar?”
Aku menggeleng dan tersenyum. “Tidak usah, Han Eunho ssi. Aku belum mau pulang.”
Han Eunho berdiri di samping mobil putihnya dan bertanya lagi, “Kalau begitu kau mau ke mana? Aku bisa mengantarmu.”
Aku menggeleng lagi. “Tidak usah. Kau pasti sibuk. Pergi saja dulu.”
Karena tidak bisa membujukku, Han Eunho akhirnya melambaikan tangan dan masuk ke mobil. Aku memerhatikan mobil putih itu membelok di sudut jalan dan mengembuskan napas.
Aku berbalik dan mulai berjalan pelan. Karena teringat ponselnya yang tadi ia matikan, Aku merogoh tas dan menyalakan alat komunikasi itu segera setelah menemukannya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
“Halo?” kataku, menempelkan ponsel ke telinga.
“Ini aku,” ujar suara di seberang sana.
“Choi Daehyun ssi?”
Aku agak heran mendengar suara Choi Daehyun.
“Kau di mana sekarang?” tanya Choi Daehyun cepat.
“Aku… oh…” Aku melihat sekelilingnya dan menyebutkan tempatnya.
“Tunggu di sana.” Lalu tanpa menunggu jawaban, Choi Daehyun langsung memutuskan hubungan.
Aku menatap ponselnya dengan bingung. Orang aneh. Tunggu di sini? Kenapa? Dia mau datang? Aku sedang mempertimbangkan apakah ia harus menunggu sambil berdiri di tepi jalan atau masuk lagi ke kafe ketika mobil merah berhenti tepat di depannya.
Jendela mobil itu diturunkan dan Aku membungkukkan badan untuk melihat ke dalam. Ia melihat Choi Daehyun yang berkacamata gelap seperti biasa duduk di balik kemudi.
“Masuk,” kata laki-laki itu singkat.
Aku mendengus pelan mendengar nada memerintah dalam suara Choi Daehyun, tapi ia masuk juga ke mobil.
“Kenapa cepat sekali datangnya? Tadi kau sedang ada di sekitar sini?” tanyaku ringan ketika mereka sudah melaju di jalan. Choi Daehyun tidak menjawab, hanya bergumam tidak jelas.
“Kenapa mencariku? Kita harus berfoto?” tanyaku lagi sambil menatap teman seperjalanannya yang entah kenapa agak aneh hari ini.
Sepertinya Choi Daehyun tidak bisa menahan emosi lagi karena ia mulai menggerutu. “Aku mencoba menghubungimu dari tadi. Kenapa ponselmu dimatikan? Bukankah Hyung sudah bilang padamu kau harus siap setiap saat kalau-kalau kami menghubungimu?”
Aku menatap Choi Daehyun dengan jengkel. Entah kenapa moodku agak berantakan hari ini. Tidak seperti hari-hari biasanya. Mungkin karena bertemu Han Eunho, ditambah kedatangan Choi Daehyun yang tiba-tiba itu.
“Baiklah, aku minta maaf. Aku memang baru mengaktifkan kembali ponselku. Tapi bukankah sekarang kau sudah berhasil menghubungiku?”
“Kau tadi sedang apa sampai tidak bisa menjawab telepon?” tanya Choi Daehyun sambil tetap menatap lurus ke jalan.
“Sedang bersama teman,” jawabku , lalu mengalihkan pembicaraan.
“Kenapa kau mencariku? Kita mau ke mana?”
Aku melihat Choi Daehyun agak ragu sesaat, lalu laki-laki itu berkata, “Aku sampai lupa apa yang ingin kukatakan saking terlalu lamanya menunggumu. Tapi sebaiknya kau menemaniku membeli sesuatu.”
“Beli apa?”
“Hadiah untuk penggemarku,” sahut Choi Daehyun sambil memandangku sebentar, lalu kembali menatap ke depan.
“Untuk dibagikan dalam acara jumpa penggemar Sabtu nanti.”
“Untuk semua orang?”
“Tidak, hanya untuk beberapa orang yang terpilih.”
“Ooh.” Aku mengangguk-angguk.
“Kenapa kau baik sekali? Kukira artis tidak membeli sendiri hadiah untuk penggemarnya. Kupikir hal-hal semacam itu diurus orang lain.”
“Aku lebih suka membelinya sendiri. Karena kebetulan kau tidak sibuk, kau bisa membantuku.”
Aku menoleh cepat. “Hei, siapa bilang aku tidak sibuk? Dua jam lagi aku harus menemui Mister Kim. Lagi pula menurut perjanjian, kita hanya akan berfoto bersama. Tidak pernah disebut-sebut soal aku harus menemani atau membantumu mengerjakan apa pun.”
“Bukankah sejak awal sudah kukatakan, kita anggap saja kesepakatan ini sama dengan aku menawarkan pekerjaan untukmu. Kau tidak menolak. Jadi intinya, kau sekarang bekerja untukku. Bukankah begitu?” kata Choi Daehyun sambil tersenyum.
“Soal Mister Kim-mu itu, tidak usah cemas. Kau akan bisa menemuinya tepat waktu. Sudah kubilang aku tidak akan mengganggu pekerjaanmu di sana.”
Aku merasa tidak perlu memberitahu Choi Daehyun bahwa ia tadi bersama Han Eunho. Bagaimanapun, masalahnya dengan Han Eunho adalah masalah pribadi yang tidak ada hubungannya dengan Choi Daehyun maupun Park Hyun-Shik.
Ditambah lagi kenyataan bahwa pertemuan dengan Han Eunho tadi hanyalah perbincangan singkat tanpa arti khusus. Dan harunya aku tidak usah bertemu dengannya.
Jung Tae-Woo menghentikan mobil di depan toko pakaian yang kelihatan mewah di Apgujeong-dong, salah satu kawasan paling trending di Seoul, dipenuhi restoran kelas atas dan toko pakaian dari para desainer terkenal. Aku tahu toko itu karena ia sering melewatinya. Kadang-kadang ia berhenti dan mengagumi pakaian yang dipajang di etalasenya, tapi tidak pernah sekali pun ia menapakkan kakinya di dalam toko itu.
Aku tidak perlu masuk ke toko itu untuk tahu bahwa harga barang yang dijual di toko itu pasti mahal, sama seperti butik Mister Kim. Aku lebih suka berbelanja di Meyong-dong yang sering disebut Ginza-nya Seoul, salah satu kawasan perbelanjaan yang populer.
Harga barang-barang di Myeong-dong memang tidak jauh berbeda dengan harga barang di Apgujeong-dong, tetapi Aku merasa lebih nyaman karena sudah terbiasa berbelanja di sana.
Aku mencondongkan badan dan mengamati bangunan itu. “Hei, kau mau masuk ke sana? Memangnya tidak apa-apa kalau kau dikenali orang? Lalu aku bagaimana? Aku tidak ingin terlihat bersamamu.”
Choi Daehyun melepaskan sabuk pengamannya dan mendesah. Ia menatapku dengan kening berkerut, lalu berkata, “Aku ini bukan narapidana yang tidak boleh ke mana-mana. Lagi pula apa gunanya jadi artis kalau tidak ingin dikenal orang?”
Aku masih tidak berniat melepas sabuk pengamannya. “Oh, begitu? Kau merasa senang kalau orang-orang mengenalimu, jadi histeris, lalu jatuh pingsan di hadapanmu?”
“Orang-orang tidak akan pingsan begitu melihatku,” kata Choi Daehyun dengan santainya.
“Kau tenang saja. Aku kenal pemilik toko ini. Dia tidak akan banyak bertanya. Aku sering ke sini dengan staf manajemenku. Soal dirimu… anggap saja kau salah satu anggota stafku.”
Choi Daehyun membuka pintu, lalu mulai beranjak dari kursi ketika ia berhenti dan menoleh ke arahku lagi.
“Tunggu dulu. Kau kan memang anggota stafku. Kau bekerja untukku, bukan? Ayo, turun.”
Aku mengangkat bahu, melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil.
“Sebenarnya kau ingin beli apa?” tanyaku pada Choi Daehyun. Aku melihat-lihat barang-barang yang dijual di toko itu dan ia benar, harganya sama sekali tidak murah.