Lana, seorang gadis yang tumbuh dalam pengabaian orangtua dan terluka oleh cinta, harus berjuang bangkit dari kepedihan, belajar memaafkan dan menemukan kembali kepercayaan pada cinta sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Riani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 10 KELUARGA LANA
Pagi buta, jarum jam baru menunjukkan pukul empat, namun Lana sudah terjaga. Mentari bahkan belum berani menampakkan diri, tapi semangat Lana sudah membara. Hari ini, ia akan mengunjungi rumah ayahnya, tempat kenangan pahit dan manis berpadu. Sebenarnya, jarak rumah ayahnya tak begitu jauh, hanya satu jam perjalanan dengan kereta lokal.
Namun, hampir lima tahun lamanya Lana memilih untuk menyendiri, menghuni rumah peninggalan kakeknya. Kerinduan pada sang ayah selalu membawanya kembali, terutama di hari libur sekolah, saat hatinya terasa sepi.
Lana, gadis malang dengan orang tua lengkap, namun terpisahkan oleh perceraian saat usianya baru lima tahun.
Pernikahan kedua orang tuanya, sebuah ikatan yang dipaksakan, tanpa cinta. Ayah Lana, Putra, mencintai Sofia, istrinya, dengan segenap hati. Namun, Sofia menikahinya tanpa cinta, bahkan menelantarkan Lana sejak lahir.
Lana tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, namun ia sangat dekat dengan ayahnya. Putra selalu memanjakan Lana, berusaha menutupi luka yang diakibatkan oleh ibunya. Namun, luka itu tak pernah benar-benar sembuh.
Sofia sering membentak dan bersikap kasar pada Lana, membuatnya tumbuh menjadi gadis penakut. Kebisingan dan pertengkaran adalah hal menakutkan baginya. Setiap kali orang tuanya bertengkar, Lana akan meringkuk di kamarnya, bersembunyi di balik selimut, berharap dunia luar menghilang.
Lana juga sering diabaikan oleh ibunya. Ibu mana yang tak menyuapi anaknya makan, mengantar jemput sekolah, mencium kening dengan penuh kasih, atau membacakan dongeng sebelum tidur? Sofia lebih memilih menghabiskan waktu dengan teman-temannya, seolah Lana adalah beban yang tak diinginkan. Baginya, Lana adalah anak yang kehadirannya tak pernah diharapkan.
Ketika Sofia menemukan cinta pertamanya kembali, tanpa ragu ia menceraikan Putra, meninggalkan suami dan putri kandungnya. Lana, yang masih polos, hanya tahu bahwa ibunya telah pergi. Baginya, tak ada bedanya, ia tetap sendirian.
Meskipun kehilangan sosok ibu, Lana memiliki ayah yang luar biasa. Putra selalu ada untuknya, meskipun lelah bekerja. Ia selalu meluangkan waktu untuk Lana kecil. Setelah kepergian Sofia, Lana merasa lebih bahagia, tak ada lagi pertengkaran yang menghantui. Kasih sayang ayahnya utuh untuknya.
Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Dua tahun kemudian, Putra jatuh cinta pada Citra, salah satu rekan kerjanya. Lana menyambut kehadiran Citra dengan baik, merasa bahwa wanita itu menyayanginya.
Enam bulan kemudian, Putra menikahi Citra. Mereka tinggal di rumah besar. Dan Lana merasa bahagia dengan keluarga barunya.
Sayangnya, kebahagiaan itu hanya ilusi. Setelah menikah, sikap Citra berubah drastis. Ia sering membentak Lana dan menyuruhnya melakukan pekerjaan rumah yang berat, padahal usianya baru tujuh tahun.
Lana yang tak berdaya hanya bisa menurut. Ia mengerjakan semua pekerjaan rumah, seperti mencuci, menyetrika, menyapu, mengepel, bahkan memasak. Ia menyadari bahwa dongeng tentang ibu tiri yang jahat itu adalah nyata.
Tak lama kemudian, Citra melahirkan seorang putra, Alvaro. Putra sangat menyayangi putranya, melimpahkan semua cinta dan kasih sayangnya. Ia merasa telah memiliki penerus keluarga.
Sikap Putra yang begitu mencintai Alvaro dan Citra membuatnya mengabaikan Lana.
Lana merasa tak berharga, ia kembali tersisihkan.
Citra semakin semena-mena. Pembantu hanya melayani dirinya dan Alvaro, sementara Lana mengerjakan semua pekerjaan rumah.
Lana bukanlah anak yang bodoh, ia tahu kalau dirinya telah dimanfaatkan.
Suatu hari, Lana mencoba mengadu pada ayahnya, berharap ia akan dibela. Namun, Putra justru membela Citra.
"Tante Citra bermaksud baik, Nak. Ia ingin kamu mandiri. Ayah yakin dia sayang padamu."
Lana terdiam, tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa pasrah, menuruti kemauan Citra. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk pergi, mencari kebahagiaannya sendiri.
...----------...
Lana berdiri terpaku di depan gerbang rumah megah milik ayahnya. Rumah mewah bergaya Eropa, tiga lantai menjulang tinggi, pilar-pilar besar kokoh berdiri, tembok tebal dan jendela-jendela lebar memancarkan kesan angkuh. Selera Tante Citra memang tak pernah main-main, setiap sudut rumah ini adalah cerminan kemewahan yang dipaksakan.
Jari-jari Lana ragu-ragu menekan bel, namun tak ada sahutan. Rumah itu sunyi, seperti tak berpenghuni. Saat Lana mulai dilanda kecemasan, Pak Jarwo, tukang kebun mereka, datang tergopoh-gopoh. Wajahnya yang keriput tampak terkejut melihat Lana berdiri di sana.
"Neng Lana?" serunya sambil membuka gembok pagar, matanya memancarkan kebingungan. "Tidak ikut liburan dengan Bapak, Neng?" tanyanya, suaranya penuh tanda tanya.
Lana terdiam sejenak, pikirannya berkecamuk. "Liburan? Ayah sedang berlibur, Pak?" Alisnya bertaut, bibirnya digigit gugup.
"Lho, Neng Lana tidak diberitahu memangnya? Nyonya, Tuan, dan Mas Varo, sejak dua hari lalu berlibur ke Bali. Bapak kira sama Neng Lana juga," jelas Pak Jarwo, matanya menatap Lana dengan rasa iba.
Lana menggelengkan kepala, wajahnya langsung muram. Hatinya terasa diremas, sesak.
Pak Jarwo merasa tak enak, ia menggaruk kepalanya canggung. "Neng Lana masuk saja dulu ya, istirahat di dalam. Di luar panas sekali," ajaknya, suaranya lembut.
Lana kembali menggeleng, senyumnya dipaksakan.
"Enggak usah, Pak. Lana pulang saja. Terima kasih ya, Pak Jarwo," ucapnya, lalu berbalik pergi, langkahnya gontai.
Sepanjang perjalanan kembali ke Jakarta, pikiran buruk menghantui Lana.
"Kenapa Ayah tidak memberitahuku? Apakah aku benar-benar sudah dilupakan?"
Lana menarik napas dalam-dalam, dadanya terasa sesak. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Dengan sekuat tenaga, ia menahan diri, berusaha agar air mata itu tidak tumpah.
"Tidak, aku tidak boleh menangis," bisiknya pada diri sendiri, suaranya bergetar. "Bukankah ini hal biasa? Diabaikan, dianggap tidak ada... Kamu baik-baik saja, Lana, dengan atau tanpa siapa pun! Jangan menangis!"
tak bapak tak ibu sama aja dua duanya jahat sama anak sendiri