Area (***), Novel ini menceritakan seorang wanita bernama Riani yang selama pernikahannya selalu di khianati suaminya, hingga akhirnya dia bertemu dengan mantan pacarnya Teddy, yang masih sangat perhatian, mencintainya, namun tanpa di sangka cinta pertamanya yang dia kira sudah meninggal ternyata masih hidup dan mengejar cintanya kembali, dan dia mengidap sakit kepribadian ganda.
Akankah Riani tetap setia pada suaminya Radja, atau kembali dengan mantan pacarnya Teddy, atau bahkan dia bersimpati pada cinta pertamanya Ethan, meski dia pernah menorehkan luka yang teramat dalam
Perasaan Riani dalam dilema...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Srikandi Hayaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Tak Selebar Daun Kelor
Keesokan paginya, karena hari minggu dan libur kerja Riani dan Roro berencana untuk jalan- jalan dan shoping, tapi sebelumnya mereka ke hotel terlebih dahulu untuk memboyong semua baju dan koper Riani dari hotel tersebut ke rumah Roro.
"Kamu pergi dari rumah apa boyongan sih?" ledek Roro saat masuk dalam kamar hotel Riani dan melihat ada beberapa koper dan barang-barang lainnya.
"Awalnya sih cuma niat tinggal sebentar tapi...Karena aku ada rencana liburan ke Bali saat ambil cuti nanti jadi ya sekalian bikin persiapan sekarang..." Jawab Riani tersenyum malu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Jadi kamu akan berlibur ke Bali, dengan siapa kamu perginya?"
"Ya sendirian lah Mi Ro, emangnya sama siapa?"
"Aku kira sama suamimu atau Teddy"
"Tidak dua-duanya"
"Sini duduklah sebentar akan aku ceritakan sepuluh tahunku hingga pertemuanku dengan Teddy, bukankah kamu ingin mendengarnya?"
Riani hanya mengangguk dan segera mengikuti kata Roro, kemudian duduk di samping Roro.
Roro memulai kisah sepuluh tahunnya itu.
.............
"Setelah aku menikah dengan Heri suamiku, aku langsung di boyong ke Aceh karena dia di pindah tugaskan di Puskesmas salah satu desa di Aceh, kamu pasti sudah tahu itu"
"Iya, saat aku mudik lebaran, aku mampir dan menemui nenekmu, dan dia memberitahu semuanya"
"Jika aku ingat nenek, hatiku hingga sekarang sangat sakit An an, perasaan menyesalku karena di saat-saat terakhirnya aku tidak bisa ada di sampingnya hingga beliau sudah tidak adapun aku tidak bisa datang..." Kata Roro dengan mata yang berkaca-kaca dan wajah yang penuh dengan penyesalan.
Riani langsung memeluk Roro dan menepuk penuh sayang punggungnya.
"Aku yakin Mi Ro, saat itu kamu pasti ada alasannya kenapa tidak bisa datang pada saat- saat terakhir nenek, dan dia pasti akan mengerti kok..." Ucap Riani menghibur Roro, diapun mengangguk.
Roro kembali melanjutkan kisahnya.
"Hingga di tahun kedua pernikahan, kami di karuniai seorang anak perempuan yg lucu, kami beri nama dia Wyne Fatiah Heri Sudibyo..."
"Wah...Nama yang sangat cantik, aku yakin dia pasti secantik nama dan mamahnya"
"Dia anak yang lincah dan aktif, dialah yang mengisi hari-hari kami penuh dengan keceriaan hingga..."
Roro terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya, terlihat matanya yang sudah mulai berkaca-kaca.
Melihat ekspresi wajah Roro, Rianipun mengerti, ada kesedihan yang sangat dalam yang telah menorehkan luka di hatinya.
"Kalau kamu tidak ingin melanjutkan ceritanya, sebaiknya jangan dan tidak perlu memaksakannya Mi Ro..." Kata Riani sambil mengelus lembut punggung tangan Roro, dia menggelengkan kepala.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya butuh waktu sebentar untuk menata hatiku sebelum aku melanjutkan ceritaku..."
"Kamu yakin Mi Mro akan tetap melanjutkan ceritamu?" tanya Riani lagi untuk meyakinkannya, karena dia tidak tega juga melihat wajah Roro yang sangat bersedih seperti itu.
Namun Roro menjawabnya dengan anggukan penuh keyakinan.
"Lagi pula aku ingin curhat juga sama kamu, anggap saja aku berbagi beban hidupku selama sepuluh tahun yang lalu denganmu..." Jawab Roro lagi dengan tersenyum menggodaku.
"Iya aku siap berbagi bebanmu itu Mi Ro ku sayang..."
.............
"Hingga terjadi musibah itu...Saat kami akan menyebrangi laut dengan kapal feri tiba-tiba kapal yang kami tunggani mengalami kerusakan dan dengan hanya hitungan menit kapal tenggelam, aku selamat, tapi Wyne anakku...Dia tidak selamat dan tubuh Heri tidak di temukan..."
"Masya Allah Mi Ro...Aku turut berbela sungkawa dan sangat sedih dengan kejadian yang menimpamu, sudahlah jangan lanjutkan lagi ceritamu jika hanya akan membuka luka hatimu lagi..."
"Tidak apa-apa An an, ini belum seberapa, akan aku lanjutkan hingga selesai..."
"Belum seberapa? maksud kamu?"
"Aku lanjutkan ceritaku dulu setelah itu nanti kamu baru tahu..."
"Kalau kamu tidak keberatan dan mau melanjutkan ceritanya...Baiklah, lanjutkan..."
"Hingga satu tahun kemudian aku jalani kehidupan penuh kesedihan karena kehilangan putri kesayanganku serta jasad suamiku yang belum di temukan, hingga suatu hari saat aku pindah kota karena pekerjaanku, saat itulah aku bertemu dengan sosok yang mirip dengan Heri dan saat ku pastikan, benar dia adalah Heri, Tapi..."
"Tapi apa Mi Ro?"
"Heri sudah menikah lagi dan istrinya sedang mengandung anaknya, saat itu sakit sekali hatiku, di dalam hatiku bertanya tanya...
"Kenapa saat dia selamat dari tenggelamnya perahu dia tidak langsung mencari keberadaan kami, justru malah menikah dan memiliki keluarga lain...?"
"Tapi sang istri mengatakan kalau itu karena kesalahnnya, karena saat dia menemukan Heri dalam keadaan hilang ingatan, dan setelah Heri sadar dari ingatannya dan untuk membalas budi karena telah menyelamatkan nyawa Heri maka dia menikahinya..."
"Ya Tuhan Mi Ro, pasti hatimu saat itu sakit sekali...?"
"Tidak hanya sakit, namun hancur berkeping keping, dan untuk menghindari salah paham dan hatiku yang akan bertambah hancur jika aku masih satu kota dengannya maka akupun memilih untuk pergi dari kota tersebut, namun nasib baik masih belum berpihak padaku..."
"Apa yang terjadi lagi padamu Mi Ro?"
"Saat aku dalam perjalanan menuju kota lain aku di rampok dan di culik untuk di pekerjakan sebagai pekerja **** komersial"
"Astaghfirullah Hal Adzim...Lalu apa yang terjadi selanjutnya...?"
"Saat dalam perjalanan untuk melayani klien pertamaku aku berhasil kabur dan saat itulah aku bertemu dengan Teddy dan menolongku, aku dan dia langsung melaporkan ke kepolisian dan instansi bagian HAM"
"Berkat bantuan Teddy lah Sindikat Portitusi dapat di tangkap hingga ke akar-akarnya, dan yang paling penting berkat Teddy pula lah banyak wanita yang terselamatkan hidup dan kehormatannya termasuk aku"
"Alkhamdulillah Ya Allah...Aku juga harus berterima kasih pada Teddy, karena telah menyelamatkanmu"
"Kamu tahu An an, saat aku bertemu dengannya di dekat Hotel dan Resort, dia sedang duduk di tepi pantai dengan tatapan mata yang kosong, wajah penuh dengan kesedihan dan dia menangis..."
"Waktu itu, saat melihat dia menangis, hati dan pikiranku bertanya-tanya, kenapa ada seorang pria bisa menangis seperti itu? dan luka hati yang seperti apakah yang membuatnyaa seperti itu?"
"Namun setelah aku bersahabat dengannya selama hampir tiga tahun ini, aku baru tahu, kamulah yang membuatnya seperti itu, cintanya yang terlalu dalam padamulah yang membuatnya hingga kini tidak mau dekat dengan wanita lain manapun" lanjut Roro lagi yang membuat Riani terkejut dengan fakta yang baru dia ketahui dari Roro mengenai Teddy.
"Aku menceritakan semua mengenai Teddy bukan untuk mempengaruhimu dalam membuat keputusan, aku tahu kamu sedang ada masalah dengan Radja, tapi aku juga tidak mau kamu membuat keputusan yang salah setelah mendengar kebenaran dan fakta tentang Teddy"
"Tidak akan Mi Ro, aku tidak akan membuat keputusan yang salah, dan terima kasih kamu sudah memberitahukan semuanya mengenai Teddy dan kamu benar masalahku tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan masalahmu, mungkin jika aku jadi kamu aku tidak akan sekuat itu..."
"Itu aku lakukan semata-mata karena aku ingin membalas budiku padanya, karena sebenarnya dia sudah melarangku untuk menceritakan hal ini"
"Jangan-jangan kamu pernah jatuh cinta sama dia?" ledek Riani sekaligus penasaran dengan status hubungan antara Roro dan Teddy.
"Ngawur! aku menganggap dia seperti adik laki-lakiku sendiri, jika ini jawaban yang ingin kamu dengar" jawab Roro tersenyum sambil mencubit hidung Riani, seolah dia tahu apa yang sedang ada dalam pikiran Riani.
"Yee...Yang ngawur tuh kamu, justru aku sangat berterima kasih sekali jika kamu bisa menjaga Teddy untukku, bagaimanapun dia orang yang pernah ada dalam hatiku dulu"
"Dan satu lagi terima kasih sekali, berkat cerita sepuluh tahunmu akupun sadar kalau masalah yang sedang aku hadapi belum seberapa, dan baru sebagian kecil di banding masalahmu dan aku yakin aku pasti bisa bangkit, menghadapi dan menyelesaikan maslah ini..."
"Nah...Begitu dong An an seperti yang aku kenal, ibarat pribahasa "Dunia Tak Selebar Daun Kelor" yang artinya masalah apapun jangan berpikiran sempit dan harus bisa menghadapinya karena pasti ada jalan keluarnya..."
Mendengar ucapan Roro Riani merasa terbuka hati dan pikirannya.
"Ya Mi Ro kamu benar sekali, terima kasih ya Mi Ro telah membuka hati dan pikiranku..."
Riani memeluk erat tubuh sahabatnya itu.
"Iya An an ku sayang...Sama- sama, sudahlah berpelukannya, nanti nggak kelar-kelar mberesin barang-barangmu nih..." Jawab Roro sambil melepas pelukannya, mereka berdua akhirnya tertawa setelah menyadari masih banyak barang yang harus di bereskan.
.............
Menjelang tengah hari merekapun sudah selesai dan segera meninggalkan hotel dimana pernah menjadi saksi bisu tangis dan keluhan hati Riani yang terluka.
...☆☆☆...
Novel omah yg baru berjudul EPIPHANY, sudah up loh..
Bunda wow hebat bunda ku udah sampai epesode 100 lebih ,kirito bangga punya bunda yang jago