Seribu tahun setelah Era Kegelapan yang hampir menghancurkan tatanan alam semesta, Yun Tianxing—kultivator tertinggi dan penjaga keseimbangan antara Dunia Bawah dan Dunia Dewa—menemukan dua artefak legendaris: Darah Phoenix Abadi dan Jantung Naga Suci. Dalam upaya untuk memperkuat diri agar bisa mengantisipasi ancaman tersembunyi, ia memakan jantung naga dan meminum darah phoenix. Namun, kombinasi kekuatan kedua makhluk mistik tersebut terlalu besar untuk tubuhnya, menyebabkan guncangan hebat yang mengancam nyawanya. Sebelum meninggal, ia menciptakan sebuah benih ajaib, memasukkan seluruh energi Qi dan pengetahuan kultivasinya ke dalamnya.
Benih itu jatuh ke Dunia Fana dan memasuki tubuh Haouyu, putra mahkota Kekaisaran Lian yang baru lahir. Tak lama kemudian, kekaisaran keluarga Lian runtuh akibat peperangan besar dengan klan musuh. Untuk menyelamatkannya, ibunya menyerahkan dia kepada seseorang untuk membawanya meninggalkan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 MENJADI MURID ATAS XUANWU
Dahi Haouyu berkeringat. Napasnya sedikit berat.
“Jangan memaksa,” kata Master Huo segera. “Kamu bukan memerintah elemen. Kamu mengundang mereka.”
Haouyu menarik napas panjang. Ia teringat pelajarannya di Lembah Iblis—tentang Yin dan Yang, tentang menerima, bukan menekan. Ia menenangkan pikirannya, membiarkan empat elemen itu mengalir dari pusat Qi, bukan dari kehendak ego.
Perlahan… sangat perlahan…
Api menjadi hangat, bukan membakar.
Air menjadi sejuk, bukan membekukan.
Cahaya menjadi terang, bukan menyilaukan.
Kegelapan menjadi dalam, bukan menelan.
Keempatnya berputar.
Sebuah bola energi kecil terbentuk di antara telapak tangannya—berwarna merah, biru, putih keemasan, dan hitam pekat, berputar dalam harmoni sempurna.
Angin di sekitar mereka berhenti sesaat.
Master Huo menatap pemandangan itu dengan mata yang sedikit membesar—ekspresi yang hampir tidak pernah diperlihatkannya.
“Bagus,” katanya akhirnya, suaranya mengandung kepuasan yang tulus. “Ingat ini, Haouyu. Kekuatanmu bukan karena kamu memiliki banyak elemen… tetapi karena kamu tidak diperbudak oleh satupun dari mereka.”
Hari itu berakhir dengan senja yang tenang. Namun bagi Haouyu, sebuah pintu baru telah terbuka.
Perpustakaan Rahasia dan Bayangan Masa Lalu
Keesokan paginya, Haouyu melangkah memasuki perpustakaan terdalam Sekolah Xuanwu bersama Master Wei Qingyang. Tempat itu sunyi, jauh dari keramaian murid biasa. Rak-rak tinggi menjulang, dipenuhi buku-buku kuno yang bahkan sebagian besar guru muda tidak pernah sentuh.
Master Wei berhenti di depan sebuah rak yang disegel dengan formasi kuno. Ia menggerakkan tangannya, membuka segel itu dengan gerakan yang anggun.
“Saya ingin kamu membaca ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah buku tebal bersampul kulit hitam yang sudah aus dimakan waktu.
Judulnya sederhana, namun berat:
“Sejarah Kekaisaran Lian dan Jalan Raja Kultivator.”
Begitu Haouyu membuka halaman pertama, dadanya bergetar pelan.
Tulisan-tulisan itu menceritakan bagaimana Kekaisaran Lian kuno bukan hanya kekuatan politik, tetapi pusat kultivasi tertinggi di wilayah tersebut. Para kaisarnya bukan sekadar penguasa, melainkan penjaga keseimbangan antara langit, bumi, dan manusia.
“Raja-raja Lian,” ujar Master Wei pelan, “tidak memerintah dengan ketakutan. Mereka memerintah dengan kekuatan yang dilandasi tanggung jawab.”
Haouyu membaca dengan seksama. Ia melihat pola yang sama—keseimbangan, pengendalian diri, dan pengorbanan. Tidak ada satu pun catatan tentang kaisar Lian yang naik tingkat demi ambisi pribadi.
Master Wei kemudian menyerahkan buku kedua, lebih tipis namun auranya terasa padat.
“Teknik bertarung tingkat menengah,” jelasnya. “Bukan untuk menghancurkan, tapi melindungi dan menguasai medan. Seorang pemimpin sejati berdiri paling depan saat bahaya datang, dan paling belakang saat kemenangan dirayakan.”
Haouyu membungkuk hormat.
“Saya akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.”
Hari-Hari Penempaan
Minggu-minggu berikutnya berlalu seperti aliran sungai deras.
Pagi hari, Haouyu berada di ruang alkimia, di bawah pengawasan Master Bai Caotian. Tangannya semakin terampil mengatur panas tungku, pikirannya semakin tajam menimbang proporsi bahan. Pil-pil yang ia hasilkan menjadi lebih stabil, lebih murni.
Siang hari, ia mendaki ke Tempat Meditasi Bintang, menempa esensi spiritual dan Qi murni bersama Master Huo. Tubuhnya dilatih untuk menahan tekanan energi yang semakin besar.
Sore hari, ia tenggelam dalam buku-buku kuno bersama Master Wei, menyerap sejarah, strategi, dan filosofi kepemimpinan.
Dan malam hari—saat dunia terlelap—Haouyu melatih tubuhnya sendiri, memadukan latihan fisik keras dengan sirkulasi Qi yang sempurna.
Tubuhnya ditempa.
Jiwanya dipertajam.
Pikirannya diperluas.
Undangan yang Mengubah Arah
Suatu hari, Haouyu dipanggil ke ruang kerja Kepala Sekolah.
“Lian Haouyu,” ujar sang Kepala Sekolah setelah mengamatinya lama, “kamu akan menjadi salah satu perwakilan Sekolah Xuanwu dalam Turnamen Beladiri Antar Sekolah dua bulan lagi.”
Haouyu terdiam sesaat, lalu membungkuk hormat. “Saya akan menjalankan amanah ini sebaik mungkin.”
“Kemenangan bukan segalanya,” lanjut Kepala Sekolah lembut. “Namun dunia luar sudah mulai memperhatikanmu. Mereka tahu… kamu adalah putra mahkota Kekaisaran Lian yang hilang.”
Kata-kata itu bergema lama di benak Haouyu.
Tekad di Bawah Langit
Malam itu, Haouyu berdiri di dekat jendela kamarnya. Tangannya menyentuh Cincin Penyimpanan Alam Semesta di lehernya—tempat Tombak Heilong, Boneka Spiritual Besi, dan Kitab Beladiri Mistis menunggu.
Ia menatap langit.
“Aku belum siap membangun kekaisaran,” bisiknya. “Namun aku sedang membangun diriku.”
Angin malam berhembus lembut, membawa janji akan badai yang akan datang.
Dan jauh di dalam takdir, roda sejarah Kekaisaran Lian…
perlahan mulai berputar kembali.
...****************...
Esensi yang Bangkit dari Dalam, Jalan Raja yang Ditempa**
Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti lereng Gunung Xuanwu ketika Lian Haouyu tiba di lapangan latihan terpencil. Tempat itu berada di sisi timur gunung, jauh dari hiruk-pikuk murid biasa. Di sanalah para murid atas dan guru tingkat tinggi menempa dasar sejati kultivasi—bukan sekadar kekuatan, melainkan kendali atas diri sendiri.
Master Huo Yanmei telah menunggunya.
Ia berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung, menatap ke kejauhan seolah sedang membaca aliran langit dan bumi. Ketika Haouyu mendekat dan memberi salam hormat, Master Huo mengangguk pelan.
“Kita akan mulai dengan dasar yang sering diabaikan oleh banyak kultivator muda,” katanya. “Dasar serangan menggunakan esensi spiritual murni.”
Haouyu memasang sikap serius. Ia sudah menguasai elemen, Yin-Yang, bahkan mampu memadukan empat unsur dengan stabil. Namun ia tahu—justru karena itulah ia harus kembali ke akar.
“Serangan elemen,” lanjut Master Huo, “meminjam kekuatan alam luar. Api, air, cahaya, kegelapan—semuanya adalah manifestasi hukum dunia. Namun serangan esensi spiritual… berasal dari jiwa dan kehendakmu sendiri.”
Ia melangkah maju.
Tanpa aura mencolok, tanpa tekanan besar.
Master Huo mengangkat tangan kanannya perlahan, telapak menghadap ke depan. Gerakannya sederhana, bahkan tampak biasa. Namun saat ia mendorong tangannya ke depan—
Humm—
Udara bergetar.
Sebuah bentuk energi transparan, menyerupai telapak tangan raksasa yang samar, melesat ke depan dan menghantam target kayu keras yang berdiri beberapa meter jauhnya. Tidak ada ledakan. Tidak ada suara keras. Namun ketika Haouyu menatap target itu, bekas tembusan sedalam satu lengan terlihat jelas di bagian tengah kayu.
Kayu itu tidak hancur.
Namun bagian dalamnya… rusak total.
“Inilah Tangan Spiritual,” ujar Master Huo. “Kekuatan sejatinya bukan pada kehancuran luar, tetapi pada penetrasi esensi.”
Haouyu menelan ludah perlahan. Ia bisa merasakan betapa padat dan terfokusnya energi tadi.
“Cobalah,” kata Master Huo.
Menanggalkan Ketergantungan
Haouyu berdiri di depan target berikutnya. Ia mengangkat tangan, memusatkan Qi seperti biasanya. Namun tanpa sadar, elemen api dan cahaya bergetar di dalam tubuhnya, siap muncul.
“Berhenti,” suara Master Huo tegas.
“Jika kamu memanggil elemen, itu berarti kamu belum percaya pada dirimu sendiri.”
Haouyu menarik napas panjang.
Ia menenangkan inti Qi-nya. Ia membayangkan aliran energi yang tidak berwarna, tidak berbentuk, mengalir dari pusat dadanya ke lengan dan telapak tangan. Tidak ada api. Tidak ada cahaya. Hanya kehendak.
Percobaan pertama gagal.
Energi buyar sebelum terbentuk.
Percobaan kedua—energi keluar, namun terlalu lemah.
Percobaan ketiga—energi terlalu menyebar.
Keringat membasahi pelipisnya.
“Jangan melawan dirimu sendiri,” ujar Master Huo dengan nada lebih lembut. “Kamu telah memikul terlalu banyak kekuatan. Sekarang… belajarlah melepaskan.”
Haouyu menutup mata.
Ia teringat masa kecilnya—saat bersembunyi di desa terpencil, tanpa kekuatan, tanpa nama. Saat itu, ia hanya memiliki keinginan untuk bertahan dan melindungi.
Ketika matanya terbuka kembali, tatapannya jernih.
Ia mengangkat tangan.
Humm—
Sebuah tangan energi transparan muncul dan menghantam target kayu.
Tidak besar.
Tidak menggelegar.
Namun bekas tembusan jelas terlihat.
Master Huo tersenyum tipis—senyum yang jarang muncul.
“Bagus. Sekarang kamu menyerang dengan dirimu sendiri, bukan dengan kekuatan pinjaman.”
Qi Murni dan Tubuh sebagai Senjata
Hari berikutnya, Haouyu melanjutkan latihan di lapangan beladiri lereng gunung bersama Master Zhang, guru beladiri yang dikenal karena penguasaannya atas Qi murni dan teknik tubuh.
“Banyak kultivator,” ujar Master Zhang sambil berjalan mengitari Haouyu, “mengira bahwa semakin banyak teknik, semakin kuat mereka. Padahal, tubuhmu sendiri adalah artefak pertama yang kamu miliki.”
Latihan dimulai dengan Pose Pohon Besar.
Haouyu berdiri tegak, kaki terbuka selebar bahu, lutut sedikit ditekuk. Kedua tangannya terentang, seolah memeluk batang pohon raksasa yang tak terlihat. Awalnya, posisi ini terasa sederhana. Namun seiring waktu—
Kaki mulai bergetar.
Punggung terasa berat.
Qi di dalam tubuh mulai mengalir tidak stabil.
“Jangan melawan rasa lelah,” kata Master Zhang. “Biarkan Qi-mu mengisi ruang kosong di dalam tubuh.”