Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiket Palsu
“Eumm Kak Noel,” ucap Mirea tiba-tiba dengan suara lembut, terlalu lembut. “Aku baru ingat… sarung tanganku ketinggalan di dalam mobil.”
Ia menatap kakaknya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, bahunya mengecil seolah benar-benar kedinginan.
“Aku kedinginan. Kakak bisa ambilkan?”
Noel tertegun. Ketegangan di wajahnya semakin kentara.
“Ah—aa… i-iya,” jawabnya gugup. Lidahnya sedikit kelu. “A-akan aku ambilkan dulu sarung tanganmu.”
Ia melirik ke arah wanita penjaga di depan mereka, lalu kembali ke Mirea. Dengan tangan agak gemetar, Noel menyerahkan dua tiket yang sejak tadi ia genggam erat.
“Kamu… kamu pegang sebentar, ya,” katanya terbata. “Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana.”
“Iya, Kak,” jawab Mirea patuh sambil menerima tiket itu dengan kedua tangan.
Noel langsung berbalik dan berlari kecil menjauh, langkahnya tergesa, napasnya terlihat mulai memburu. Jelas sekali, ia ingin cepat menjauh dari tempat yang membuat jantungnya serasa akan meloncat keluar.
Begitu punggung Noel menghilang di balik bayangan mobil, ekspresi Mirea berubah.
Tidak drastis. Tidak mencolok.
Namun cukup bagi orang yang benar-benar peka untuk menyadari bahaya dari ketenangan lembut.
Mirea berbalik perlahan dan menatap wanita penjaga di depannya.
Wanita itu masih berdiri santai, tangan terlipat, senyum tipis tersungging di bibirnya—senyum khas orang yang terbiasa berada di posisi berkuasa. Rambut hitamnya yang diberi garis merah terikat rapi, auranya jelas bukan penjaga biasa.
“Bantu aku tukar jadi dua tiket yang asli,” kata Mirea datar, suaranya rendah, nyaris tak beremosi.
Wanita itu terdiam sesaat, lalu tertawa kecil.
“Ha?” Ia memiringkan kepala, menatap Mirea dari ujung rambut sampai kaki. “Nona dari mana yang nyasar ke sini?”
Ia menunjuk sembarang arah dengan satu jarinya. “Oh, Dik kecil. Taman bermain itu dari sini, lurus sedikit terus belok kanan.”
Nada suaranya mengejek. Sengaja merendahkan.
“Ini bukan tempat yang bisa kamu kunjungi,” lanjutnya, suaranya menekan. “Apalagi dengan wajah polos begitu.”
Mirea tidak membalas. Tidak juga tersenyum.
Ia hanya berdiri diam, memegang dua tiket palsu itu dengan ringan, seolah benda itu tidak berarti apa-apa.
Lalu—
Bzzzt.
Ponsel wanita penjaga yang tergeletak di meja kecil di sampingnya bergetar. Getarannya pendek, tapi cukup memecah suasana.
Wanita itu melirik sekilas layar ponselnya. Ekspresinya berubah ragu.
Mirea menatapnya tanpa berkedip.
“Kenapa diam saja?” ucap Mirea pelan, tapi suaranya terdengar jelas dan tegas. “Angkat teleponnya.”
Wanita penjaga menelan ludah. Tangannya terulur mengambil ponsel, lalu mengangkatnya dengan sikap yang jauh lebih hati-hati dari sebelumnya.
“H-halo?” katanya.
Beberapa detik pertama, ia masih mencoba bersikap biasa. Namun perlahan, wajahnya berubah pucat. Senyumnya menghilang. Tubuhnya menegang.
“I-iya…” katanya, suaranya mulai bergetar. “Aku… aku mengerti.”
Ia mengangguk berkali-kali meski lawan bicaranya tak terlihat. “Iya. Aku mengerti.”
Telepon itu ditutup.
Detik berikutnya, wanita itu langsung menunduk dalam-dalam di hadapan Mirea, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat.
“Maafkan saya,” ucapnya cepat dan penuh tekanan. “Saya yang salah. Saya tidak mengenali Bos Ruby Woolf.”
Kedua telapak tangannya ia sodorkan ke depan, gesturnya penuh kepatuhan. “Mohon maafkan kelancangan saya.”
Mirea tidak bereaksi berlebihan. Wajahnya tetap tenang, nyaris dingin.
Tanpa berkata apa pun, ia meletakkan dua tiket palsu itu di atas telapak tangan wanita tersebut.
“Cepat,” katanya singkat. “Bawakan dua tiket yang asli ke sini.”
Nada suaranya datar, tapi tidak ada ruang untuk penolakan.
Penjaga lain yang berdiri di dekat pintu langsung bergerak cepat. Tak sampai satu menit, ia kembali dengan dua tiket berwarna hitam pekat, berlogo emas. Tiket asli Stone At Black.
Ia menyerahkannya sambil menunduk. “Mohon Bos memaafkan kami.”
Mirea mengambil tiket itu dan menatapnya sekilas. Asli.
“Baiklah,” katanya. “Tapi jangan ungkap identitasku.”
Wanita penjaga mengangguk cepat. “Tentu, Bos.”
“Dan satu lagi,” lanjut Mirea. “Selidiki dari mana asal dua tiket palsu ini.”
“Baik,” jawab mereka serempak.
Tak lama kemudian, suara langkah tergesa terdengar dari kejauhan.
“Dik Mire…!”
Noel kembali dengan napas tersengal, wajahnya sedikit pucat. Ia mengulurkan sepasang sarung tangan hangat.
“Ini… ini sarung tanganmu.”
“Terima kasih, Kak,” jawab Mirea lembut, kembali ke perannya semula.
Ia mengenakan sarung tangan itu perlahan, lalu mengembalikan tiket ke tangan Noel.
Wanita penjaga dan anak buahnya saling melirik, jelas terkejut melihat perubahan sikap Mirea yang kembali terlihat polos dan jinak.
“K-kami… kami sudah boleh masuk?” tanya Noel gugup, suaranya nyaris bergetar.
“Ah, tentu saja,” jawab wanita penjaga dengan senyum ramah yang kini terlihat dipaksakan.
Noel menghela napas lega dan menepuk dadanya sendiri. “Syukurlah…”
“Ayo, ayo kita masuk,” katanya cepat, seolah ingin segera meninggalkan pintu itu.
Mirea mengangguk kecil dan mengikuti kakaknya.
Namun sebelum mereka benar-benar melangkah masuk, suara serempak terdengar dari belakang.
“Selamat jalan, Bos.”
Noel membeku.
Langkahnya terhenti.
Ia menoleh perlahan, wajahnya kosong, otaknya jelas berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar.
Sementara itu, Mirea menutup mata sesaat. Kesal.
Ia berbalik sedikit, lalu mengangkat dua jarinya. Ia menunjuk ke matanya sendiri, kemudian ke arah mereka, lalu menggeser jarinya perlahan ke arah leher.
Isyaratnya jelas.
Jangan Macam-macam