Arkan itu nama ku,harus rela mengikhlaskan masa muda.
Ketika orang tuaku terlilit hutang terhadap seorang rentenir akibat gagal panen.
Tante Maura seorang rentenir tersebut meminta kedua orang tua ku agar segera melunasi nya. Jangan kan untuk melunasi hutang untuk kehidupan sehari-hari pun pada saat ini kami sedang kesusahan.
Tante Maura mengajukan syarat yaitu hutang lunas asalkan aku mau menikah dengan nya.
Mau nolak kasihan terhadap kedua orang tua ku, mau terima juga sungguh nggak mungkin.
Sebab dia lebih pantas menjadi ibu ku.
Akan kah Arkan menikahi tante Maura?
Atau ada cara lain untuk membebaskan kedua orang tuanya dari lilitan hutang?
Yuk ikuti kisah nya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gentra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9
Arkan sudah berada di kampus, dia sudah ditunggu Jaka di kantin.
Mereka berdua sambil ngopi di kantin, dan berbincang-bincang bahwa mereka sebentar lagi akan memasuki semester akhir.Dan akan melaksanakan kuliah kerja nyata yaitu di kota lain sesuai dengan keputusan yang ditetapkan oleh kampus.
Saat mereka sedang mengobrol, datanglah seorang wanita duduk di samping Arkan.
"Hai apa kabar, ke mana kemarin nggak masuk kampus? "tanya Sisil terhadap Arkan, Sisil adalah teman sekampus Arkan sudah bukan rahasia umum lagi bahwa dia naksir Arkan.
"Baik" jawab Arkan dengan singkat.
"yuk masuk ke kelas! "Arkan mengajak Jaka untuk segera masuk ke dalam kelas, soalnya Arkan tidak menyukai sikap Sisil agresif seperti itu.
Akhirnya Arkan dan Jaka pergi meninggalkan kantin, tinggallah Sisil yang duduk di kursi sendirian.Setelah beberapa saat Sisil dihampiri oleh teman-temannya.
"Bagaimana rasanya ditolak oleh seorang Arkan,padahal dia hanyalah seorang anak petani tetapi kenapa dia tidak tertarik dengan perempuan cantik dan kaya seperti mu. Bahkan di luar sana banyak cowok yang ngantri ingin menjadi pacar kamu, tetapi ada apa dengan pemuda itu.Bahkan tidak melirik sedikitpun terhadap kamu "ledek teman-teman Sisil sambil tertawa terbahak-bahak.
"Jangan panggil aku Sisil jika tidak berhasil membuat Arkan bertekuk lutut di hadapanku "kata Sisil sambil ngepal kan kedua tangannya.
"Jika Arkan tidak berhasil bertekuk lutut di hadapan kamu, maka kamu harus membawa kami pergi berlibur ke Bali selama satu minggu "kata salah satu sahabat Sisil yang duduk di samping Sisil, dia berkata sambil tersenyum tipis ke arah Sisil. yang sudah terlihat sangat kesal dengan penolakan Arkan.
"Jika akan berhasil menjadi pacarku, maka kalian akan membawaku liburan ke Paris selama 1 bulan "kata Sisil sambil menatap tajam ke arah sahabatnya itu.
" Baiklah, siapa takut "jawab salah seorang sahabat sisir sambil mengajak Sisil berjabat tangan.Pertanda mereka setuju dengan perjanjian tersebut.
Sisil adalah seorang perempuan yang nekat, dia bisa melakukan segala macam cara agar semua keinginannya terpenuhi.Posisinya tidak beda jauh dari Maura, 2 perempuan dengan karakter yang sama.Hanya saja Maura lebih beruntung dibandingkan dengan Sisil bahwa Arkan sudah berada di pelukannya, meskipun itu hanya sebuah status.
Setelah beberapa saat mereka berbincang di kantin, akhirnya Sisil beserta kawan-kawannya segera masuk ke dalam kelas.Sebab mata kuliah pertama akan segera dimulai, dengan langkah angkuhnya Sisil pergi meninggalkan kantin untuk segera menuju kelas.
Setelah berada di dalam kelas Sisil duduk di bangku paling depan, dia tidak mau duduk di belakang bahkan bangku tersebut sudah diduduki oleh seseorang.Tetapi dia menyuruh orang tersebut untuk meninggalkan bangku tersebut, karena Sisil di sini disebutnya adalah penguasa kelas.Semua orang harus mengikuti semua keinginannya, beda lagi dengan Arkan yang tidak mau peduli terhadap Sisil bahkan untuk melihat tidak mau.
Entah tipe perempuan seperti apa yang diinginkan Arkan, sebab selama ini Arkan tidak pernah tertarik terhadap seorang perempuan.Entah itu tidak tertarik atau dia sudah memiliki wanita lain yang ada di hatinya ,tetapi dia enggan untuk mengungkapkannya perasaan tersebut. sehingga Jaka pun tidak pernah tahu bahwa Arkan itu menyukai seorang perempuan atau tidak, sebab selama ini setiap ada perempuan yang mendekatinya Arkan selalu ilfil terhadap perempuan-perempuan itu.
Setelah beberapa saat dosen pun sudah masuk ke dalam kelas, materi pagi ini akan segera dimulai.Arkan menyimak semua materi yang disampaikan oleh dosen, sebab dia tidak ingin melewatkan sedikitpun materi yang disampaikan.Dia masih ingat dengan ancaman Maura bahwa dia akan dipindahkan ke perkebunan terpencil jika mendapatkan nilai jelek.
Padahal Arkan bisa kuliah di sini juga atas dasar beasiswa ,bahwa dia adalah siswa terbaik pada saat yang masih SMA.
Arkan juga tidak mau jika beasiswanya dicabut gara-gara dia mendapatkan nilai jelek.
Satu jam telah berlalu,materi yang disampaikan oleh dosen pun sudah selesai. Sudah saatnya bagi mereka untuk mengakhiri pertemuan di hari ini,dan akan dilanjutkan esok hari.Semua para mahasiswa dan mahasiswi dipersilahkan untuk keluar dari ruangan, begitu juga dengan Arkan dan Jaka dia langsung bergegas keluar dari ruangan untuk segera pulang ke rumah.
Arkan dan jaga keluar dari kelas berjalan beriringan, selama di perjalanan tidak ada yang bicara sedikitpun hingga pada akhirnya mereka sudah berada di tempat parkir.
siapa pertanyaan terhadap Arkan" kamu mau langsung pulang atau mau ke rumahku dulu?"tanya Jaka terhadap Arkan.
"Jika aku pergi ke rumah kamu terlebih dahulu, nanti pas pulang pasti banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Nenek sihir itu" kata Arkan
"Jangan berkata seperti itu, walau bagaimanapun dia itu sekarang sudah menjadi istri kamu" kata Jaka menasehati Arkan.
"lah memang dia sudah jadi nenek-nenek "jawab Arkan.
"Ya sudah aku langsung ngantar kamu pulang ke rumah Maura saja "kata Jaka sambil membuka pintu kendaraannya, lalu mempersilahkan agar untuk masuk ke dalam kendaraan yang akan mengantarkan mereka pulang.
Setelah beberapa saat mereka sudah berada di dalam kendaraan, Jaka menyalakan mesin kendaraannya lalu menginjak gas dengan perlahan.Setelah beberapa saat kendaraan sudah berada di jalan raya dan membelah keramaian kota.
Jaka mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, perjalanan yang mereka tempuh dari kampus untuk sampai di rumah Maura membutuhkan waktu sangat lama.Jalanan yang mereka tempuh juga harus melewati kemacetan kota, sebab kampus mereka berada di pusat kota sedangkan rumah Maura itu di perkampungan di pinggir kota.
Perjalanan yang dilalui telah cukup lama akhirnya kendaraan yang ditumpangi sudah sampai di depan rumah Maura, jaga mempersilahkan Arkan untuk turun dari dalam kendaraannya.
Setelah Arkan turun, Jaka langsung pamit untuk segera pulang ke rumahnya. sebab dia tidak ingin bertemu dengan Tante Maura.
Arkan melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam rumah ,setelah berada di dalam rumah Arkan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruang keluarga.
"Apa bapak membutuhkan sesuatu? "tanya seorang pelayan terhadap Arkan.
" Tidak perlu, saya bisa mencarinya sendiri jika membutuhkan sesuatu "jawab Arkan terhadap pelayan tersebut.
"Kami di sini dibayar untuk bekerja, Pak, jika tidak bekerja berarti kami akan siap kehilangan pekerjaan yang sangat kami butuhkan "kata pelayan tersebut sambil menundukkan pandangannya.
"Tapi saya tidak terbiasa dilayani, itu semua menjadikan saya tidak nyaman berada di tempat ini.Akibat dari kalian semua, yang memperlakukan saya seperti majikan kalian. Padahal saya di sini sama dengan kalian adalah seorang babu tidak lebih daripada itu. "kata akan Arkan.
Akhirnya pelayan tersebut pun pergi meninggalkan Arkan yang masih berada di ruang tengah, pelayan itu tidak mau berbicara panjang lebar sebab dia takut akan akan marah terhadapnya.
Setelah pelayanan itu pergi, Arkan pun memberikan tubuhnya kembali di atas sofa. Lalu dia tatap langit-langit ruangan tersebut sambil berpikir menerawang ke masa depan, dia membayangkan jika harus berumah tangga selamanya bersama Maura.Apakah dia akan mendapatkan kebahagiaan atau tidak.