Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Greta Oto Wright
Sore menjelang malam, matahari perlahan terbenam. Kurang lebih dua jam persalinan sudah selesai. Kupu-kupu mulai hilang berterbangan dari castle.
Chelyne masih menggendong bayinya dan memberikannya asi. Bayi itu tenang dan kalau menangis pun tidak seberisik seperti bayi pada umumnya.
Setelah persalinan yang tidak terlalu menegangkan, castle kembali tenang. Kabar putri Castle Castavia sudah lahir. Sampai ke castle penjuru sebelah.
"Yang Mulia, kami izin pamit. Jika Yang Mulia memerlukan bantuan, kami akan segera datang kesini lagi." Ujar salah satu bidan lalu menunduk hormat
"Terima kasih banyak. Kalian memang perempuan yang hebat. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi tanpa kalian." ujar Chelyne
"Baik, Yang Mulia. Kami bersyukur karena Yang Mulia masih memberikan kepercayaan untuk kami"
"Terima kasih, Yang Mulia." Ujar bidan itu lagi sambil menunduk memberi hormat
"Kalian boleh pulang. Orang tua kalian pasti sudah menunggu dirumah. Jangan lupa untuk tidak memberitahu siapapun tentang genetik putri kami. Katakan saja bahwa dia perempuan."
Tegas Raja Arion yang tak ingin ada orang yang tahu.
"Baik, Tuan Wright. Kami permisi, Tuan, Yang Mulia."
Para bidan mulai meninggalkan istana satu per satu. Langkah mereka terdengar pelan di lorong batu yang panjang, kepala menunduk, wajah lelah. Tidak ada percakapan berlebihan dan tidak ada tawa lega seperti biasanya. Mereka hanya saling bertukar pandang singkat, lalu pergi membawa rahasia yang tidak akan mereka ceritakan, setidaknya tidak malam ini.
Raja Arion membantu Chelyne berjalan menuju kamar merka. Dengan hati-hati, Arion mendudukkan istrinya dengan perlahan diatas ranjang mereka.
"Aku ingin menggendongnya," ujar Arion yang melihat bayi mereka masih diberi asi oleh Chelyne
"Sebentar." Ujar Chelyne
...****************...
Chelyne mengangkat bayi itu perlahan pada lengan Arion. Bayi itu membuka matanya dan melihat sang ayah. Seperti tak ada noda pada bayi itu.
"Putriku tak layak disamakan dengan cerita lama kerajaan." Ujar Arian
Kamar itu diterangi cahaya lilin yang lembut, memantul pada ukiran kayu dan dinding batu yang tebal. Udara di dalamnya hangat, bercampur aroma kain bersih dan kayu kering.
Chelyne berbaring di ranjang dengan tubuh yang masih terasa lemah. Rasa nyeri telah berkurang, digantikan kelelahan yang membuat kelopak matanya terasa berat. Namun di sampingnya, terbaring seorang bayi perempuan yang tidur begitu tenang, seolah dunia tidak pernah berisik.
Di dekat ranjang, sebuah tempat tidur bayi telah disiapkan dengan rapi.
"Yang Mulia, sudah saya siapkan tempat tidur untuk bayi itu." Ujar pelayan Grace.
Grace Claw berdiri di sana, memastikan semuanya berada di tempat yang seharusnya. Ia merapikan selimut kecil, membenarkan lipatan kain, dan mengatur posisi ranjang bayi agar cukup dekat dengan ratu. Gerakannya pelan, penuh perhatian, seperti seseorang yang telah melakukan hal yang sama berkali-kali sepanjang hidupnya.
"Jika Yang Mulia membutuhkan apa pun malam ini, saya ada di luar," ujar Grace dengan suara lembut.
Chelyne mengangguk. "Terima kasih, Grace."
"Baik, Yang Mulia. Saya izin keluar."
Grace menunduk hormat. Pandangannya sempat tertahan pada bayi itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Wajah bayi itu begitu tenang, rambut cokelatnya halus, kulitnya sedikit memerah dan bersih. Untuk sesaat, ada sesuatu yang melintas di mata Grace, sesuatu yang cepat menghilang sebelum sempat terbaca.
Ia lalu berbalik dan meninggalkan kamar. Pintu tertutup perlahan.
Raja Arion menaruh putri mereka ditempat tidur bayi yang sudah disiapkan Grace lalu Ia duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Chelyne.
"Kau harus beristirahat," katanya pelan.
"Aku tahu," jawab Chelyne lirih.
"Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja."
Arion tersenyum kecil.
"Dia baik. Sangat baik."
Ia melirik bayi itu, lalu kembali menatap istrinya.
"Kita tidak perlu memikirkan hal-hal lain malam ini."
Chelyne tidak menjawab, tetapi ia mengangguk. Ia ingin percaya pada kata-kata itu.
Ketukan kecil terdengar di pintu.
"Ayah...?" suara anak kecil terdengar ragu.
"Masuk," ujar Arion.
Pintu terbuka, dan Thaddeus melangkah masuk. Ia mengenakan pakaian tidur, rambutnya sedikit berantakan. Matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
Ia berhenti di dekat ranjang, menatap bayi kecil yang tertidur.
“Itu adikku?” tanyanya.
"Iya," jawab Chelyne lembut.
"Adik perempuanmu."
Thaddeus mendekat pelan. Ia tidak menyentuh bayi itu, hanya memandanginya dengan penuh perhatian, seolah takut membuatnya terbangun.
"Dia kecil sekali," katanya.
Arion terkekeh pelan.
"Kau juga dulu sekecil itu."
Thaddeus tersenyum.
"Rambutnya mirip Ayah."
Seketika bayi itu langsung membuka matanya, seolah-olah tahu bahwa yang datang adalah kakak laki-lakinya.
"Ibu, mata adik mirip dengan ayah." Ujar Thaddeus
Chelyne terdiam sebentar lalu menghela nafas pelan. Tidak mungkin anak sekecil Thaddeus mengetahui tentang cerita lama kerajaan yang tak masuk akal itu. Lebih baik Chelyne dan Arian merahasiakan itu supaya tak terjadi perselisihan antara kedua saudara ini.
Chelyne perlahan tersenyum.
"Dia cantik," lanjut Thaddeus polos. "Aku akan menjaganya."
Arion menepuk pundak anaknya. "Ayah tahu."
"Ibu, boleh aku pegang dia?" tanya Thaddeus lagi
"Boleh, sayang."
Thaddeus perlahan menyentuh pipi adik perempuannya itu. Ia merasa adiknya sangat kecil dibandingkan dengan dia. Padahal Thaddeus masih termasuk anak-anak juga.
Beberapa saat kemudian, Thaddeus kembali ke kamarnya. Malam semakin larut. Lilin-lilin dibiarkan menyala redup.
"Selamat malam, adik." Thaddeus mengelus pipinya lagi
"Ibu, aku ke kembali ke kamar, ya."
"Iya, sayang." Balas Chelyne
Thaddues membuka pintu dan kebetulan ada pelayan perempuan yang mengantarkannya ke kamarnya.
Chelyne memecah keheningan.
"Kita belum memberinya nama."
Arion menoleh.
"Kau sudah memikirkannya?"
"Iya," jawab Chelyne.
"Aku ingin menamainya Greta."
Arion mengulanginya pelan.
"Greta."
"Entah kenapa," lanjut Chelyne,
"Nama itu terasa... tepat."
Arion tersenyum. "Kalau begitu, Greta."
Ia terdiam sejenak, lalu berkata, "Bagaimana dengan Greta Oto Wright?"
Chelyne menoleh. "Oto?"
"Kupu-kupu kaca," jawab Arion.
"Nama ilmiah kupu-kupu kaca ialah Greta oto. Aku pernah membacanya di buku. Serangga itu yang selalu datang di castle kita." Ujar Arian
"Kenapa kau tiba-tiba ingin menamainya selengkap itu dengan nama ilmiah?" tanya Chelyne
"Aku merasa nama itu sangat cocok, entah kenapa firasatku harus memberikan nama itu pada putri kita." Tegas Arion
Chelyne menatap bayi itu lama, lalu mengangguk pelan.
"Greta Oto Wright."
Seolah mendengar namanya, bayi itu bergerak sedikit, lalu kembali tertidur.
...****************...
Di luar, malam telah sepenuhnya menguasai langit. Kupu-kupu kaca yang sejak pagi berterbangan kini telah menghilang. Mereka adalah makhluk diurnal (serangga yang aktif siang hari), dan malam bukan milik mereka.
Di lorong istana yang sunyi, Grace Claw berhenti sejenak. Cahaya obor memantul di wajahnya. Ia mengingat sebuah jurang, sebuah teriakan, dan sebuah tangan yang dilepaskan demi menyelamatkan anak orang lain.
Ia mengingat bagaimana tidak ada yang benar-benar datang setelah itu.
Grace menarik napas panjang. Bayi itu bukan penyebab segalanya. Namun nasib bayi itu kelak akan menjadi jalan.
Kira-kira, apa yang dimaksud oleh Grace?