⚠️Ini hanya karya fiksi semata⚠️
“Kalau kau tak suka dengan sikap ku, kau boleh pergi, Dianna Chana.” Adipati Leon pemilik warisan yang takkan habis sampai 7 turunan dengan mudah mengganti Chana, bila wanita sebatang kara itu meminta pisah dengannya.
“Maafkan aku, aku yang salah! Aku janji enggak akan mencampuri urusan pribadi mu lagi, Leon.”
Tes!
Chana yang miskin tak bisa berkata apapun pada Leon yang selalu menduakannya berulang kali karena ia masih butuh pria tampan itu untuk membiayai sekolahnya yang mahal.
Namun semua berubah saat Leon melakukan kesalahan yang sangat bagi Chana.
“Pada hal kau sudah mengambil segalanya dari ku, tapi kenapa! Kau lakukan juga dengannya?! bangsat!” pekik Chana.
Plak!
Chana yang naik pitam menampar wajah tampan Leon.
“Cih! Bukannya kita langganan pelac*r?! Lagi pula kau bertahan karena uang, bukan cinta kan, Chana!” pekik Leon.
Kata-kata Leon yang begitu menyakitkan membuat Chana mengambil keputusan besar, yaitu meningga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reski Muchu Kissky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangga
Leon yang masih menunggu di luar melihat ada mobil sedan masuk ke dalam rumah kekasihnya.
Lelaki tampan itu pun menatap dengan seksama siapa yang akan keluar dari dalam mobil itu.
Setelah mobil mewah itu parkir di depan teras pintu utama, Leon pun melihat seorang pria keluar dari mobil tersebut.
Perawakan pria dewasa itu seperti berusia 40 tahun, dan wajahnya mirip dengan Chana.
“Ini pasti om yang di ceritakan Chana, aku tunggu sebentar lagi deh.” Leon yang ingin beranjak mengurungkan niatnya.
Hariman yang masuk ke dalam rumah mendengar percekcokan antara istrinya dan keponakannya.
“Ada apa ini?” suara Hariman yang begitu menakutkan membuat Chana diam, sebab ia masih ingat dan merasakan saat omnya mencambuknya dengan ikat pinggang hingga punggungnya lebam.
“Ini pa, keponakan mu baru pulang pacaran! Pada hal dia masih anak-anak, tapi gayanya sudah sepeti perempuan panggilan, pulang malam-malam dengan baju murahan!” Pekik Laras.
Hariman pun melihat keponakannya yang mengenakan gaun hitam dengan tangan you can see.
“Jangan beritahu dunia kalau mendiang orang tua mu gagal mendidik mu Chana!” Hariman lagi-lagi membawa kedua orang tua Chana yang tidak bersalah.
“Sudahlah pa, mama bosan melihat anak ini, enggak bisa di atur, susah di bilang lebih baik usir dia, lagi pula wajahnya kan cantik, pasti dia bisa menghidupi dirinya, biarkan saja dia menjual dirinya!” kata-kata kasar Laras membuat Chana marah besar.
Gadis kecil itu pun nekat melempar pas bunga yang terbuat dari keramik ke arah Laras.
Puk!
Prang!
“Akh!! Tolong pa!!” Laras berteriak kesakitan.
Chana yang ahli dalam lempar dekat dengan mudah mengenai kepala besar Laras hingga mengeluarkan darah.
“Apa yang kau lakukan Chana! Apa kau mau membunuh tante mu?! Hah!” Hariman yang naik pitam mendatangi Chana yang berdiri tak jauh dari pintu masuk.
Chana yang takut kena pukul berlari menuju air mancur yang ada di ruang tengah rumahnya.
Ia yang ingin mengurung diri di kamar mengurungkan niatnya karena ia tahu amarah keluarga ayahnya takkan pernah surut.
Aku harus keluar dari rumah ini, batin Chana.
“Chana, kemari kau sialan!” pekik Hariman.
“Enggak! om pasti memukul ku!” Chana menolak tunduk pada perintah pamannya.
Ia dan omnya pun berputar-putar dalam bundaran air mancur indah tersebut.
“Chana, kalau kau enggak mau menyerah dengan cara baik-baik, om akan menghajar mu! Kau akan om sate!” Hariman yang emosi berambisi untuk menghabisi anak abangnya Julian Khan.
“Enggak akan!” Chana yang masih ingin hidup tentu tak mau menyerahkan dirinya.
Saat Hariman mengejarnya, Chana pun melarikan diri menuju pintu depan.
Chana yang masih kesal pada mulut pedas tantenya menyempatkan diri untuk meraih pas bunga kaca berukuran mini yang ada di atas bufet.
Ucapan dengan wajah mu harus sama jeleknya! batin Chana.
Puk!
Ia pun memukul pas bunga kaca itu ke bibir tantenya yang masih di lapis lipstick.
“Huahhh Chana binatangg! Awas kau ya! Papa tangkap pelacurr itu!” pekik Laras seraya memegang bibirnya yang kini pecah dan berlumuran darah.
“Kalau dapat mati kau Chana!” Hariman yang dendam mempercepat larinya.
Leon yang masih siaga di mobilnya melihat Chana berlari kencang.
Angin malam yang bertiup membuat gaun yang di kenalan Chana menari-nari indah.
“Cantik banget sih pacar ku.” Leon mengagumi sang kekasih yang nyawanya di ujung tanduk.
🏵️
Namun senyumnya hilang saat melihat Hariman mengejar Chana dengan parang di tangannya.
Leon yang ingin menyelamatkan kekasihnya mengambil handphonenya seraya keluar dari dalam mobil.
“Leon! Cepat masuk! Nanti om membunuh kita!” teriak Chana.
Namun Leon yang sedang mereka aktivitas om dan keponakan itu malah bersikap santai.
“Leon! Kau dengar aku enggak?!” Chana yang takut di sembelih bersembunyi di belakang tubuh besar malaikat penyelamatnya.
“Sini kau anak nakal!” Hariman mengangkat tinggi parang 45 senti meternya.
Chana yang masih ingin hidup ingin melarikan diri, namun Leon menahan tangannya.
“Leon! Nanti orang gila itu membunuh ku?!” Chana berteriak histeris.
“Apa? Kau bilang aku gila?” mata Hariman membuat sempurna seolah ingin keluar dari tempatnya.
“Awas anak muda! Jangan ikut campur dengan urusan keluarga kami!” pekik Hariman.
“Um um um... ini sedang ku rekam loh om, jangan macam-macam!” Leon memperingatkan Hariman.
“Jangan buat aku marah!” Hariman yang naik pitam ingin memenggal leher Leon juga.
“Marah saja om, enggak ada yang melarang, kalau sampai om melukai ku, om akan rugi besar, kakek ku jendral bintang empat, adik ayah ku juga jendral TNI, dan ayah ku adalah pemilik perusahaan Langit Corp yang cabangnya ada dimana-mana.” Leon membanggakan kekayaan keluarganya pada Hariman yang baru saja merasakan hidup bergelimang harta.
“Kau pikir aku percaya?!” Hariman berpikir kalau Leon bercanda.
“Terserah, tapi kalau aku terluka, kau akan di penjara seumur hidup, dan aku akan mempermasalahkan soal kalian yang telah merebut harta warisan orang tua Chana!” tatapan mematikan Leon membuat Hariman menurunkan senjata tajamnya.
“Sebaiknya kau banyak-banyak baca berita biar enggak sembarangan main tangan!” setelah berhasil membungkam Hariman Leon merangkul Chana.
“Ayo sayang, kita pergi.” Leon menunggu Chana masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
Setelah itu Leon masuk ke dalam mobil, kemudian ia menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan rumah masa kecil Chana.
“Terimaksih banyak kau sudah menolong ku, aku enggak menyangka kalau kau masih belum pulang.” Chana tersenyum seraya menahan tangis.
Gadis malang itu merasa sedih atas peristiwa malang yang ia hadapi setelah kepergian kedua orang tuanya.
“Hiks...” Chana menghapus air matanya yang bercucuran deras.
“Kenapa kau menangis?” tanya Leon, karena ia pikir semuanya telah berakhir.
“Aku enggak punya apa-apa lagi sekarang, rumah sampai bahkan seragam sekolah, aku harus bagaimana?” Chana menangis tersedu-sedu, ia merasa kasihan pada dirinya sendiri.
“Ya ampun, ku pikir karena apa, tenang saja Chana, aku akan membeli mu rumah.” ucap Leon dengan mudahnya.
“Aku takut kalau harus tinggal sendiri.” Chana yang biasa di manja tak bisa melakukan apa-apa sendiri.
“Jangan khawatir, nanti aku kasih art sebanyak yang kau mau,” ucap Leon.
“ Aku enggak akan bisa membayar gaji mereka, Leon.” Chana yang miskin takkan mampu memberi upah pada art yang bekerja di rumahnya nanti.
“Aku yang bayar, kau lupa ya kalau aku orang kaya?” Leon mencubit pipi Chana agar gadis cantik itu terhibur.
“Memang rumahnya ada dimana?” tanya Chana dengan penasaran penuh sebab ia takut jika posisinya jauh dari sekolahnya.
“1 jam dari sini,” jawab Leon.
“Kalau ke sekolah berapa lama?” tanya Chana lebih lanjut.
“30 menit, tenang saja nanti ku kasih mobil dan supir pribadi untuk mu.” Leon yang terlanjur kaya berpikir yang ia lakukan pada Chana adalah hal yang wajar.
...Bersambung......
sukses trs tuk karya2nya 💕💕💕💕
makin kesini kenapa malah terlihat murahan. lagi² dgn alasan cita² mau jd duri rumah tangga wanita lain. 6 thn jadi istri simpanan ky biasa saja.. masa ga ada sedikitpun percikan cinta utk stefan(terlepas stefan sikopet/dia kan ga tau). malah berharap balikan lagi dgn aa leon...
helooooo..... kamu kapan suksesnya dan kapan balas dendamnya ke om dan tantemu....?????
maaf ya thor ini cm kesan pribadiku trhdp chana, bukan karyamu...kalau karyamu mah ky mengandung magis. begitu baca ga bisa berhenti sblm habis bab.
karyamu keren thor...
lagian itu sdh kewajiban seorang ibu merawat dan membesarkan