Elvan begitu mencintai istrinya. Begitu juga istrinya yang sangat mencintainya. Namun, setelah menikah tiga tahun lamanya, Clara yang merupakan istri Elvan mulai berubah sikap. Di sela-sela rumah tangganya yang tak baik-baik saja, Elvan terjebak satu malam bersama Rania yang merupakan office girl yang bekerja di kantornya.
Akankah Elvan mempertanggung jawabkan perbuatannya? Ataukah dia tetap pada pendiriannya untuk tetap setia dengan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.9
Sudah beberapa kali Elvan menawarkan bantuan kepada Rania, termasuk mau memberikan toko kue untuk di kelolanya. Namun Rania menolak bantuan itu. Dia ingin berusaha sendiri membuat usaha dari jerit payahnya sendiri, bukan dari bantuan orang lain.
Hingga satu bulan berlalu, Rania masih setia dengan berjualan kue keliling.
Hampir menjelang siang, Bu Rosma menunggu Rania, namun belum datang juga. Kebetulan Rania sudah berjanji akan mengantar kue pesanannya pagi tadi.
Bu Rosma menelepon anaknya dan bertanya alamat rumah Rania. Mungkin saja Elvan tahu alamat rumahnya, karena Rania itu mantan karyawan di kantornya.
Setelah mendapat alamat Rania, Bu Rosma segera pergi menuju ke alamat itu di antar oleh sopirnya.
Hanya perjalanan selama tiga puluh menit saja Bu Rosma sampai di tempat tujuan. Namun Bu Rosma harus berjalan kaki melewati gang kecil menuju ke kontrakan tempat Rania tinggal.
Sesampainya di depan kontrakan, Bu Rosma melihat kontrakan Rania sangat ramai.
''Bu, itu kontrakan Rania kan? Kenapa banyak orang ya?'' Bu Rosma bertanya kepada ibu-ibu yang berpapasan dengannya.
''Neneknya meninggal, jadi banyak warga sekitar yang melayat,'' ucapnya.
Mendengar keluarga satu-satunya yang di miliki oleh Rania meninggal, tentu Bu Rosma ikut sedih. Bu Rosma masuk ke dalam kontrakan, lalu menghampiri Rania yang sedang menangis di depan jenazah neneknya yang di tutupi menggunakan kain batik.
''Rania, kamu yang sabar ya,'' Bu Rosma berjongkok lalu mengusap punggung Rania, mencoba untuk menenangkannya.
''Hiks ... hiks ... Nenek ... '' Rania yang terisak, tak mampu lagi untuk melanjutkan perkataannya.
''Masih ada Tante disini. Kamu bisa anggap Tante ini sebagai keluargamu, Nak.'' Bu Rosma memeluk Rania. Di dalam pelukannya, Bu Rosma merasakan tubuh Rania bergetar. Namun lama-kelamaan Bu Rosma tak mendengar lagi isak tangis Rania. Saat Bu Rosma hendak melepaskan pelukannya, ternyata Rania sudah tak sadarkan diri.
''Ran, kamu kenapa?'' Bu Rosma menepuk-nepuk pipi Rania, namun Rania tidak sadar juga.
Bu Rosma memanggil Pak RT dan memintanya untuk mengurus semuanya, karena Rania sepertinya sangat syok sampai dia pingsan seperti itu.
''Pak RT, saya mau membawa Rania ke klinik terdekat. Tolong handle semuanya,'' ucap Bu Rosma.
''Baik, Bu. Semoga Neng Rania tidak apa-apa.''
''Semoga saja, Pak. Ayo bantu saya membawa Rania!'' pinta Bu Rosma.
Pak RT dan dua orang warga lainnya membantu memapah Rania hingga sampai ke mobil Bu Rosma.
Bu Rosma langsung menyuruh sopirnya untuk mengantarkan mereka ke klinik terdekat.
Setelah di periksa oleh Dokter, ternyata Rania sedang hamil. Tentu Bu Rosma sangat terkejut mendengar kabar itu. Karena setahunya Rania itu belum menikah.
''Emm ... '' terlihat Rania yang baru mengerjapkan keduanya matanya. Dia menatap sekeliling yang tampak asing.
''Ran, kamu sudah sadar, Nak?'' Bu Rosma mendekati Rania, lalu duduk di kursi yang ada di dekat ranjang pasien.
''Tante, saya kenapa ya? Kenapa saya berada disini? Saya ingin melihat nenek,'' Rania hendak turun dari atas ranjang pasien, namun Bu Rosma mencegahnya.
''Sebentar dulu, Nak. Jangan pergi dulu! Dokter belum memberikanmu obat.''
''Tapi saya ingin melihat nenek.''
''Tenang saja, tadi Tante sudah menyuruh Pak RT untuk mengurus semuanya. Sebentar ya, Tante panggilkan dokter dulu,'' Bu Rosma keluar dari ruangan itu, lalu pergi menemui dokter yang tadi memeriksa Rania.
Kini Bu Rosma sudah kembali bersama Dokter.
''Dok, apa saya sudah boleh pulang?'' tanya Rania.
''Boleh, tapi jangan lupa minum vitamin yang sudah saya resepkan. Ini nanti di tebus ya di depan,'' Dokter memberikan resep obat yang harus di tebus, kepada Rania. ''Jangan lupa jaga kandungannya,'' ucapnya lagi.
''Kandungan?'' tentu Rania terkejut saat dokter mengatakan kandungan.
''Benar, saat ini Ibu Rania sedang hamil, dan usia kandungannya sudah memasuki minggu ke lima.''
Rania tidak tahu dengan permainan takdir yang harus dia jalani. Tepat hari ini neneknya meninggal, dan hari ini juga dia mengetahui fakta bahwa dirinya sedang hamil.
Bu Rosma mengusap punggung Rania.
''Nak, jangan sedih. Tante siap kok membantu kamu.''
''Iya, Tan.''
Kini Rania dan Bu Rosma pergi keluar dari klinik. Kebetulan mereka juga sudah menebus obat dari dokter.
Hanya sepuluh menit perjalanan menggunakan mobil, kini mereka sampai di depan gang menuju ke kontrakan Rania. Bu Rosma menggandeng tangan Rania, mereka melangkah menuju ke kontrakan.
Ternyata di depan kontrakan sudah ada Elvan. Kebetulan tadi dia di telepon oleh ibunya, dan mengatakan bahwa neneknya Rania meninggal. Hanya saja Elvan tidak di beritahu jika saat ini Rania sedang hamil.
''Mamah, Rai, kalian baru pulang? Bagaimana keadaan Rania?''
''Rania baik-baik saja kok,'' ucap Bu Rosma.
''Syukurlah,'' Elvan merasa lega saat tahu bahwa Rania baik-baik saja.
Entah mengapa setiap melihat Rania, dia merasa kasihan. Mungkin itu rasa bersalahnya karena sudah menodainya.
Mereka masuk ke dalam kontrakan. Ternyata jenazah Nek Sukma hendak di kebumikan. Elvan dan Bu Rosma ikut mengantar Rania menuju ke makam, bersama warga yang lainnya juga.
......
Kini mereka sudah kembali dari makam. Bu Rosma berniat untuk menginap di kontrakan Rania untuk beberapa hari ke depan. Karena kasihan Rania tidak punya sanak saudara yang menemaninya disana.
Bu Rosma mengantar anaknya yang hendak pulang. Saat ini mereka berdiri di depan mobil Elvan yang terparkir di depan mini market depan.
''Mah, kenapa Mamah pakai menginap segala sih?''
''Mamah kasihan sama Rania. Lagian mamah hanya tinggal beberapa hari saja kok. Oh iya, bolehkah mamah minta tolong sama kamu?''
''Minta tolong apa, Mah?''
''Tolong carikan lelaki yang sudah menghamili Rania. Tadi mamah sudah bertanya kepadanya, namun dia tidak mau menjawabnya.''
''Hamil? Aku tidak salah dengar?''
''Iya, Nak. Saat ini dia sedang hamil.''
''Kalau boleh tahu, berapa usia kandungannya, Mah?''
''Lima minggu,'' ucapnya.
Apa yang di takutkan oleh Elvan kini terjadi juga. Benihnya tumbuh di rahim wanita yang sudah dia nodai. Jika saja ibunya tahu kalau dia yang menghamilinya, mungkin dia akan di marahi habis-habisan.
''Kenapa melamun? Kamu sedang memikirkan apa?'' Bu Rosma mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah anaknya.
''Eh aku tidak apa-apa kok, Mah.''
''Mamah mau kembali ke dalam. Kamu hati-hati ya bawa mobilnya.''
''Iya, Mah.''
Bu Rosma segera kembali menuju ke kontrakan Rania. Sedangkan Elvan masuk ke mobilnya, lalu segera pulang.
Sepanjang perjalanan pikiran Elvan merasa tak tenang. Dia terus memikirkan Rania yang kemungkinan besar sedang mengandung anaknya. Pasti sangat sulit untuk membesarkan anak seorang diri. Jika dia mengambil anaknya setelah Rania melahirkan nanti, pasti Rania tidak akan memberikannya. Dan dia tidak sejahat itu untuk memisahkan anak dari ibunya.
'Apa aku harus menikahinya? Lalu, apa Clara setuju jika di madu?' Elvan tampak bergelut dengan pikirannya.
Setelah cukup lama di perjalanan, kini Elvan sampai juga di rumahnya.
Elvan memasuki rumah tanpa permisi. Bahkan saat dia melewati istrinya yang sedang duduk di ruang tengah, dia terus saja melangkah tanpa menyapanya.
Clara menatap suaminya yang terlihat aneh, tidak seperti biasanya.
"Mas Elvan ... " Clara mencoba memanggil suaminya, namun suaminya terus saja melangkah menuju ke kamarnya, tanpa menghiraukan istrinya yang memanggilnya.
Mungkin karena masih memikirkan Rania, jadi Elvan sedikit tak fokus.
Tokoh2nya kuat karakternya...
Tokoh2nya kuat karakternya...