"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.
BLAMM!!
Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.
"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.
Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.
Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.
Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?
Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita
Rama masih diam. Ia membelokkan stir ke arah restoran yang sejalur dengan arah pulang.
Aya tertegun saat mobil terlihat masuk ke parkiran sebuah restoran.
"Makan dulu, aku lapar dengar ocehanmu, " ujar Rama seolah tahu apa yang ada di kepala Aya.
Aya terkekeh, dia tahu Rama kesal karena dia memuji Bayu di hadapannya.
"ish.. kenapa malah sewot? "
Mereka turun dari mobil. Rama tiba-tiba menggenggam tangan Aya dan menggandengnya ke dalam seakan ingin mengumumkan pada siapapun yang melihat mereka bahwa wanita itu adalah istrinya.
Selain itu, genggaman Rama juga peringatan darinya supaya Aya tidak bersikap berlebihan saat berada di sana. Terutama menjaga pandangannya dari menatap pria lain disana.
Rama menarik sebuah kursi untuk Aya, sampai-sampai Aya merasa aneh dengan sikap romantisnya itu.
"Tumben, biasanya nggak begini, " gumam Aya lirih. Matanya tak lepas dari menatap Rama.
Rama yang ditatap terlihat santai dan bersikap normal seperti biasa. Pelayan datang menghampiri mereka memberikan buku menu pada mereka. Setelah pesanan selesai, pelayan pergi meninggalkan mereka.
Aya mencodongkan tubuhnya ke depan.
"Jadi, ceritakan soal adik abang."
Rama terlihat kesal lagi.
"Nanti juga ketemu, kenalan aja langsung. Nggak perlu se penasaran begitu."
Aya melengos sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi dan melipat tangannya ke dada.
"Kalau ada foto keluarga di rumah, aku juga nggak akan sekepo ini, bang. Kok bisa sih rumah sebesar itu nggak ada foto keluarga sama sekali? "
Alis Aya sampai naik sebelah saking tak percaya melihat keadaan di rumah Rama yang mewah itu.
Rama menarik nafas panjang, seolah ingin menghempas beban yang ia rasakan saat ini.
"Dulu ada, tapi sejak kejadian adik bungsuku meninggal kami sepakat tak pernah memajang foto keluarga lagi, " jawab Rama akhirnya.
Matanya terlihat menerawang, kembali mengingat kejadian memilukan di dalam keluarganya.
Aya menurunkan tangannya dan menatap Rama dalam.
"Ada kejadian apa bang? "
"Umi nggak pernah cerita bagaimana Aba meninggal? " tanya Rama.
Aya menggeleng.
Rama menunduk, ada rasa berat menceritakan kembali luka lama yang ia rasakan.
"Aku punya adik bungsu, perempuan namanya Sarah. Usianya lebih muda lima tahun darimu. Saat aku SMA, aku diminta Papa mengantarnya ke lokasi perkebunan sawit, karena dia terus merengek di telpon mau ikut Papa. "
"Aku minta adik kedua ku membawanya jalan-jalan ke taman, tapi dia memilih bermain ke rumah temannya karena sudah janji akan mampir. Aku sendiri saat itu sebenarnya sedang menyelesaikan tugas kelompok. Jadi.. saat akhirnya aku terpaksa mengantarnya ke lokasi, aku kehilangannya di kebun sawit."
"Papa marah besar padaku, aku panik ikut mencari di hutan dengan beberapa karyawan yang terbiasa disana. Tapi, sampai jelang senja adik perempuanku tak di temukan."
"Hampir tengah malam, baru kami dapat kabar kalau Aba menyelamatkannya dari serangan harimau hutan."
Rama melihat reaksi Aya yang terdiam dengan mata memerah.
"Sebaiknya tak perlu ku lanjutkan."
Aya menggeleng, "Lanjutkan, " mintanya.
Rama menghela nafas.
"Aba terluka parah, adikku juga luka tapi tak separah Aba. Malam itu juga Aba meninggal di rumah sakit karena kehabisan darah. Adikku, sempat di rawat hampir sebulan karena lukanya. Sampai akhirnya meninggal juga menyusul Aba. Adikku sempat sadar, bangun dan meminta maaf pada kami semua. Kami tak menyangka permintaan maafnya itu tanda kalau dia benar-benar akan pulang."
"Makanya sejak itu, kami menyimpan fotonya di gudang dan tak pernah memasangnya lagi. Mama syok berhari-hari karena kehilangan, tapi setelah melihat mu berkunjung ke rumah kami bersama umi Haura. Mama seperti bertekad untuk sembuh dan ingin melihat kita menikah. Itu juga untuk memenuhi amanah Aba yang menitipkan keluarganya pada Papa."
"Maaf sudah membuatmu sedih, makanya aku ragu cerita soal adikku. Karena sampai sekarang aku masih tak akur dengannya."
Aya mengangguk mengerti. Ia sudah tak sedih lagi. Ia justru bangga, abanya sudah menyelamatkan nyawa seseorang.
Tak lama, makanan mereka datang. Aya dan Rama menikmati makanan itu dengan tenang.
"Maaf ya, Bang. Pertanyaan ku membuka luka lama."
Rama tersenyum dan mengangguk.
"Adik kedua ku namanya Raka. Raka Abdi Pramana. Dia seusia dengan mu."
Aya ternganga, lalu menelan makanan di mulutnya dengan kasar.
UHUKUHUK
Rama terkejut melihat Aya tersedak. Buru-buru ia mengambilkan tisu untuknya, setelah Aya menenangkan diri dengan air.
"Kenapa? kamu kenal dia? " tanya Rama.
"Raka teman sekelasku di SMA, Bang."
Aya tersenyum geli, dunia ternyata sebesar daun kelor.
"Hanya teman sekelas kan? nggak dekat? "
Aya tertegun mendengar pertanyaan itu.
"Nggak. Cuma tau gitu aja. Raka itu terkenal di sekolah, beda sama aku yang biasa aja."
Rama tersenyum, ada perasaan lega di hatinya.
Setelah tiga pulih menit mereka di resto, Rama mengajak Aya langsung pulang.
"Besok mau ke dealer jam berapa? " tanya Rama sambil menatap jalan di depan.
"Beneran mau belikan motor? "
"Iyaa, biar nggak ngrepotin Bayu terus. Aku juga mau keluar kota kan nanti. Jadi kamu bisa leluasa berangkat dan pulang kerjanya. Tapi tetap hati-hati ya."
"Terima kasih ya, Bang. Aku pasti hati-hati."
"Jadi, jam 10 aja gimana? "
"Boleh, ahad aja mungkin tempat umi ya. Dari dealer biar Aya ke rumah sakit dulu."
Rama mengangguk setuju.
Malam itu suasana hati mereka jadi lebih baik. Banyak hal yang baru terungkap. Cerita adik bungsu yang meninggal membawa duka mendalam bagi keluarga Rama. Cerita bagaimana abanya menyelamatkan putri pak Jaka, hingga harus kehilangan nyawa. Cerita yang disimpan rapat oleh uminya.
Perjalanan terasa lebih panjang. Hawa dingin malam, langit yang sepi tanpa bintang. Hanya gelap dan suara desir angin dan nyanyian jangkrik.
Sepuluh menit kemudian mereka sampai di rumah. Seperti biasa, Aya menunggu Rama membukakan pintu.
Saat mereka masuk, sosok Raka sudah menyambut mereka di ruang tengah.
"Bang Rama, " panggil Raka.
"Hei, belum tidur? " sahut Rama memeluk adiknya sekenanya.
"Mau sapa abang dulu sama kakak ipar sebelum tidur."
Aya berjalan mendekat, "Halo dik, " panggil Aya terkekeh.
"Aya? " sahut Raka menatap Rama dan Aya bergantian.
"Dia.... istri abang? "
Rama mengangguk, "Kenalin istri abang, Cahaya Insaniah."
"Astaga.. kenapa dia kakak iparku? " tanya Raka tak percaya.
"Kenapa? Salah? " tanya Rama heran dengan pertanyaan itu. Emosinya mulai tersulut.
"Ya nggak, cuma... aku nggak nyangka aja."
"Aku juga baru tahu kamu adik iparku, senang ketemu kamu lagi."
Raka hanya mengangguk tersenyum. Dia tahu, Aya tak mungkin bersalaman dengannya.
"Ya sudah, besok aja lanjut ngobrolnya. Sudah malam, kami istirahat dulu."
Rama langsung menarik tangan Aya, dan mengajaknya ke kamar di lantai dua.
Raka menatap mereka masih dengan ekspresi terkejut. Ada sedikit kecewa melihat kemesraan mereka, tapi Raka buru-buru membuang pikiran itu.
"Raka, Lagi-lagi kamu tak seberuntung bang Rama, " gumamnya lirih lalu masuk ke kamarnya.
***
Setelah sholat isya berjamaah, mereka bersiap untuk tidur. Aya masih duduk di sisi ranjang memeriksa pesan di ponselnya. Sedang Rama sudah duduk disisi ranjang yang lain menatap punggung Aya dan tertarik menggodanya.
"Ya, malam ini kita tidur seranjang ya. Nggak mungkin kan aku tidur di kamar Papa, " rengek Rama.
"Oke, tapi abang usahakan tidurnya yang tenang. Nggak boleh melewati guling di tengah. "
"Seharusnya sih nggak apa-apa. Kan cuma tidur biasa. Lagian, kamu juga istriku, " gerutu Rama.
"Nggak, aku yakin abang nanti sengaja mepetin aku pas tidur. Abang mau cari kesempatan? "
"Kalau akhirnya mepetin kan karena memang nggak sadar, namanya juga lagi tidur. "
"Halah.. alasan. Ingat nanti ada yang marah kalau kamu begitu. "
"Dia nggak tahu juga, " jawab Rama.
"Ish..ternyata memang dia yang nggak setia, " gumam Aya lirih.
"Kamu nggak kepanasan? Buka aja ni jilbabnya. "
Rama memukul-mukul ujung jilbab Aya ke atas, membuatnya tersingkap.
"Ck..abang, jangan macam-macam."
"Kamu istriku loh, harusnya aku boleh lihat semua."
"Ih ya Allah, dia aja masih dua hati gitu enak bener mau lihat semua, " omel Aya sambil masih membalas pesan.
Melihat reaksi Aya itu, Rama makin merasa gemas dan penasaran. Tiba-tiba dia menarik tubuh Aya hingga terbaring di atas bantal.
"Aaah.. abang, " teriak Aya kesal.
Rama menekan tubuh Aya dan mendekatkan wajahnya, sangat dekat hingga ujung hidung mereka bertemu. Rama menatapnya dalam sambil tersenyum menggoda.
"Mau apa? " hardik Aya, matanya sedikit melotot.
"Hmmpph.. "
Tak menggubris hardikan Aya, Rama menahan kedua tangan Aya ke samping dan membungkamnya dengan ciuman bersemangat.