NovelToon NovelToon
TIRAKAT 2

TIRAKAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Berdasarkan kisah nyata.

Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.

Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?

SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!

Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEKHAWATIRAN

Suara petir dan cahaya kilatannya mengagetkanku dan Farhan yang sedang kubonceng.

Sesampainya di sebuah tikungan, Farhan memintaku untuk berhenti.

"Bu, Bu, berhenti di sini aja!" katanya sambil menepuk cepat punggungku. Dan aku pun berhenti.

"Loh, kenapa di sini Han? Itu masih agak jauh loh kita buat sampe di rumahmu."

"Udah Bu, di sini aja..." jawabnya sambil bergegas turun dari sepedaku.

"Kenapa? Udah ayok Ibu anter sampe rumah."

"Udah Bu, aku jalan kaki aja, Ibu langsung pulang. Aku takut Ibu yang kehujanan."

"Udah, gak apa-apa Han, ayok naik lagi."

"Gak ah Bu, aku jalan sendiri aja..."

"Beneran gak apa-apa?" tanyaku dengan khawatir.

"Iya Bu, gak apa-apa kok. Aku berani." jawabnya dengan tatapan yakin.

"Udah, Ibu langsung aja. Ini udah mulai gerimis loh."

Dan memang sudah mulai terasa sedikit gerimis. Dan langit pun semakin gelap.

"Ya udah, buruan kamu jalan, lari kalo perlu. Ibu liatin dari sini dulu." kataku.

"Iya Bu. Assalamu'alaikum." ucapnya sambil mencium tangan kananku.

Aku menjawab salamnya, dan aku lihat ia langsung berlari meninggalkanku. Dan beberapa detik kemudian, suara petir kembali terdengar cukup keras.

"Blarrrr!!!"

Aku masih berdiri diam melihat Farhan berlari sampai diujung jalan sana, tepat di tikungan satu lagi yang hampir sampai ke gang rumahnya, menembus gerimis yang mulai turun, merasa kasihan dan khawatir.

Namun aku pun langsung naik sepedaku lagi. Dan segera menggowes sekuat tenaga. Menembus gerimis yang terasa semakin deras.

Dan benar saja, masih jauh dari rumahku, hujan turun dengan derasnya.

"Bbbrrruuussshhh!!!"

Air hujan deras turun mengguyur tubuhku. Hawa dingin segera menusuk tulang. Membuat kedua tangaku gemetar kedinginan. Dan akhirnya membuat kedua kaki ini tak terlalu cepat menggowes sepedaku. Tapi aku terus berusaha sekuat tenaga untuk segera sampai di rumah.

Tapi, apalah dayaku melawan hawa dingin dan derasnya air hujan yang turun. Aku tak kuat. Dan ketika sampai di depan area pemakan lagi, aku memutuskan untuk berhenti sejenak. Tepat di seberang jalan pemakaman itu.

"Masa harus neduh dulu di sana sih?" ucapku sambil melihat ke arah sebuah pos area makam.

Pos itu memang baru dibangun sekitar dua bulan yang lalu. Hasil dari swadaya dan gotong royong warga dua desa.

"Hemm... Hemm..." suaraku menahan hawa dingin yang semakin menusuk tulang.

Sekujur tubuhku sudah basah kuyup. Dalam hati ingin rasanya nekat saja menerjang hujan, tapi ada juga dorongan untuk berteduh dahulu.

Dan akhirnya, beberapa saat aku berpikir, aku putuskan untuk berteduh sebentar.

Kutuntun sepedaku, kusandarkan ke tembok pos pemakaman itu. Aku langsung masuk ke terasnya dan duduk di satu kursi. Tampak lampunya sudah menyala. Mungkin ada warga yang sudah menyalakannya sebelum aku sampai di sini.

"Blarrr!!! Blarrr!!!"

Suara petir menyambar di langit. Membuat siluet-siluet bayangan di atas tanah. Aku terus saja melipat kedua tangan di dadaku. Mencoba menahan rasa dingin. Tubuhku sampai gemetar kedinginan.

Mungkin sudah sekitar 15 menit lebih aku berteduh, dan hujan belum menampakkan tanda akan reda. Masih sangat deras.

Suasana semakin gelap di sekitarku. Di tambah juga area pemakaman yang semakin gelap.

"Aduuuh... Sampai jam berapa aku harus neduh di sini?" gumamku dalam hati.

"Yaa Alloh, tolong berhentiin dulu dong hujannya. Aku mau pulaaang..." suaraku pelan, kalah dengan suara guyuran air hujan.

Selang beberapa saat, petir kembali menyambar dengan cahayanya yang cukup terang.

Tapi... Ada sebuah siluet di seberang jalan sana...

Bukan siluet bayangan pohon....

Aku mencoba menajamkan pandanganku sambil menahan hawa dingin ditubuhku. Beberapa detik kemudian, cahaya kilatan petir kembali memperjelas siluet itu.

Dan... Seketika itu juga aku kaget bercampur heran. Siluet bayangan itu adalah...

"Loh?! Fa-Farhan?!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!