NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Di Antara petikan dan diam

Waktu itu, Gina seharusnya pergi ke perpustakaan.

Namun suara gitar menghentikan langkahnya.Nada demi nada mengalun dari sebuah ruangan.

Dari luar, beberapa siswi terlihat berkerumun di balik jendela, wajah mereka penuh antusias.

“Eh… itu Azmi yang main gitar, kan?” bisik salah satu dari mereka.

“Iya, iya! Itu Azmi!”

“Gila, petikannya enak banget.”

“Eh, dia mau nyanyi!” seru yang lain panik.

“Cepet, cepet, rekam! Momen langka ini!”

Tawa kecil dan bisikan excited saling tumpang tindih. Ada yang sudah mengangkat ponsel, ada yang saling sikut sambil menahan teriakan.

Gina yang berdiri agak jauh hanya tersenyum kecil.

Tingkah mereka terasa… lucu.

Namun saat itu, suara Azmi terdengar lebih jelas.

Bukan hanya petikan gitar—

tapi suaranya.

Gina berhenti melangkah.

Suaranya... bagus juga,pikirnya tanpa sadar.

Bukan suara yang berusaha mencuri perhatian.

Tenang. Dalam. Seolah dinyanyikan bukan untuk siapa pun, tapi untuk dirinya sendiri.

Lirik demi lirik mengalir.

Dan tanpa Gina sadari, ia ikut tenggelam di dalamnya.

Saat lagu hampir usai, Gina melangkah mendekat.

Beberapa siswi yang menyadari kehadirannya langsung menoleh.

“Eh… itu Gina, ya?”

“Ngapain dia ke sini?”

“Tunggu, jangan-jangan—”

“Arah dia ke ruangan gitar, kan?”

“Eh, serius? Ada apa ini?”

“Jangan-jangan mereka ada hubungan?”

Bisikan-bisikan itu terdengar jelas, tapi Gina tidak menoleh.

Ia mendorong pintu ruangan dan masuk.

Petikan gitar terhenti.

Azmi mendongak, jelas terkejut saat mendapati Gina sudah berdiri di hadapannya.

Gina ikut terdiam sesaat, lalu mengangkat tangannya setengah dada dengan senyum kecil.

“Hai.”

Azmi buru-buru menegakkan tubuhnya.

Nada suaranya kembali rapi, terlalu sopan.

“Ehm… Nona Gina sedang apa di sini?”

Ia berhenti sejenak, sadar betul siapa Gina—nama yang tidak asing bagi keluarganya.

Gina mengernyit tipis.

“Jangan pakai ‘nona’,” katanya ringan.

“Ini sekolah, bukan acara formal. Panggil Gina aja.”

Azmi terlihat ragu sepersekian detik, lalu tersenyum kecil.

“Baik… kalau begitu,” katanya hati-hati.

“Gina.”

Satu kata itu membuat Gina sedikit kaku.

Tatapan Azmi terlalu tenang, terlalu lurus. Gina refleks mengalihkan pandangan, lalu bicara cepat—seolah ingin menutup rasa canggungnya sendiri.

“Eh… suara kamu sama petikan gitarnya bagus.”

Ia menunjuk gitar di pangkuan Azmi.

“Aku dengar dari luar.”

Azmi tampak terkejut, lalu tertawa kecil.

“Terima kasih,” ucapnya tulus.

Gina menarik napas pelan.

“Boleh?,” katanya ragu-ragu,

“Aku ikut duduk dan dengerin satu lagu lagi.”

Azmi menoleh ke samping, lalu sedikit menggeser posisi duduknya.

“Boleh,” katanya sambil menunjuk tempat di sebelahnya.

“Duduk sini.”

Gina melangkah pelan dan duduk di samping Azmi.

Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat Gina sadar akan keberadaan orang di sebelahnya—suara napas, gerakan kecil, dan aroma kayu gitar yang samar.

Azmi kembali memetik senar.

Nada pertama kembali mengalun, disusul suaranya yang tenang.

Gina tersenyum kecil.

Kali ini, ia benar-benar mendengarkan.

Bukan sebagai siswi, bukan sebagai anak konglomerat—

hanya sebagai seseorang yang ingin menikmati lagu.

Petikan gitar itu mengalun lebih pelan dari sebelumnya.

Azmi tidak bernyanyi keras. Suaranya ditahan, seolah hanya ingin didengar oleh orang yang duduk di sampingnya.

Gina menyandarkan punggung ke kursi, tangannya bertumpu di pangkuan. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mendengarkan.

Di tengah lagu, salah satu senar gitar terdengar sedikit fals.

Azmi berhenti sejenak.

“Maaf,” katanya refleks, sambil memutar kunci senar.

“Enggak apa-apa,” jawab Gina cepat.

“Justru… aku suka kalau nggak sempurna.”

Azmi menoleh, sedikit heran.

Gina tersenyum kecil, lalu menunduk.

“Kadang,” lanjutnya pelan,

“kalau semuanya terlalu rapi, rasanya capek.”

Azmi tidak langsung menjawab. Ia hanya kembali memetik senar, kali ini lebih pelan, lebih hati-hati.

“Kalau gitu,” katanya akhirnya,

“lagu ini emang pas buat kamu.”

Gina mengangkat wajahnya.

“Kenapa?”

Azmi tidak menoleh. Tatapannya tetap ke gitar.

“Karena lagu ini bukan soal nada yang benar,” ucapnya tenang,

“tapi soal tetap bertahan, bahkan saat rasanya ingin berhenti.”

Gina terdiam.

Entah kenapa, kata-kata itu terasa seperti ditujukan padanya—

bukan sebagai pujian, bukan pula nasihat.

Tanpa sadar, jemarinya bergerak pelan, mengusap sela-sela jari yang tadi terluka.

Bekas perihnya masih ada, tapi salep yang Azmi oleskan membuatnya terasa sedikit lebih ringan.

Seperti lukanya…

perasaannya pun sedang perlahan membaik, tanpa ia benar-benar mengerti kenapa.

...----------------...

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Gina merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan.

Tidak dituntut.

Tidak dinilai.

Tidak diminta menjadi apa pun.

Hanya… didengarkan.

Tanpa sadar, bahunya mengendur.

Saat lagu berakhir, Gina tersenyum—kali ini tidak dibuat-buat.

“Makasih,” ucapnya pelan.

“Udah mainin lagu itu.”

Azmi tersenyum balik, singkat.

“Kapan-kapan,” katanya,

“kalau kamu mau datang lagi, aku mainin lagu lain.”

Gina berdiri.

“Iya,” jawabnya ringan.

“Mungkin.”

Ia melangkah menuju pintu.

Namun sebelum keluar, Gina berhenti sejenak.

“Azmi,” panggilnya.

Azmi mendongak.

“Suaramu… bagus,” ucap Gina pelan.

“Tenang. Nggak bikin capek dengarnya.”

Azmi mengangguk kecil, senyumnya samar.

Dan saat pintu itu tertutup kembali, Azmi menunduk menatap gitar di pangkuannya—

jarinya masih diam di atas senar, seolah lagu tadi belum benar-benar selesai.

Di luar ruangan, Gina melangkah pelan.

Beberapa siswi yang sejak tadi mengintip dari balik jendela langsung menoleh ke arahnya.

Tatapan mereka penuh rasa ingin tahu—terlalu terang untuk disembunyikan.

Gina menyadarinya.

Ia berhenti sejenak, lalu menatap balik tanpa ekspresi berlebihan.

Satu per satu, para siswi itu justru memalingkan wajah, pura-pura sibuk dengan urusan masing-masing.

Gina tersenyum kecil.

Bukan senyum menang.

Hanya senyum tipis—seolah menganggap semuanya lucu.

Ia lalu melangkah pergi, meninggalkan ruang gitar itu, kembali menuju perpustakaan.

Gina tiba tanpa berlama-lama. Ia langsung menyusuri rak, mengambil satu buku secara asal, lalu duduk di barisan tengah—di dekat Siva dan Rahmalia.

Begitu duduk, pandangannya Terangkat ke depan.

Ke arah Dio.

Gina menahan senyum.

“Bener katamu Siva,” ucapnya pelan sambil tersenyum kecil.

“Dia nggak belajar.”

Siva melirik ke arah yang sama, lalu mendengus singkat.

“Iya, kan.”

Rahmalia yang sejak tadi fokus membaca akhirnya menyadari arah pandang mereka. Ia menoleh, melihat Dio yang duduk tidak jauh dari sana.

Seketika, senyum kecil muncul di wajahnya.

“Kenapa sih kalian ketawa?” tanya Dio, curiga.

Siva bangkit sedikit dari kursinya, lalu mendekat dan meraih buku yang ada di tangan Dio. Ia membaliknya tanpa ragu.

“Baru tau aku,” katanya datar tapi menusuk,

“kamu bisa baca buku terbalik.”

Dio terdiam sepersekian detik.

Lalu terkekeh cengengesan.

“Ya kali gue segoblok itu.”

Tawa pecah pelan di antara mereka—cukup lirih untuk ukuran perpustakaan, tapi hangat.

Untuk sesaat, semuanya terasa biasa. Ringan. Normal.

Namun bagi Gina, hari itu terasa sedikit berbeda.

Karena di dadanya, ada satu perasaan baru yang ikut duduk bersamanya—

perasaan yang belum berani ia beri nama.

1
Choco Syam
good girl... kmu punya sahabat yg tepat ginaaa..😊
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
Choco Syam
maaf bang, tpi aku klo di posisi gina jg bkal mikir sperti itu sihh hehe... kliatan dangkal namun, menyakitkann.. proud of you gina..
maaf yaa nangis sedikittt
Choco Syam: yahh.. berusaha tegarr itu kita harus benar" kuatt..
total 2 replies
Choco Syam
Aku adalah gina di cerita ini. entah kapan kbruntungan itu datang. bukan anak sukung namun, anak harapan yg bahkan kerja kerasnya tidak pernah di lirik sma sekali. bhkan ketika jatuh hanya cemoohan yg di dpat. Gin prgi tenangin diri lo. semakin kamu bersandiwara semakin sakit. dan kamu bisa menghancurkan dirimu sendiri.
Hunk: Karakter Gina mungkin merasa sendirian disini, tapi percayalah… anak harapan yang tak pernah dilirik bukan berarti tak berharga. Kadang semesta memang menunda keberuntungan, bukan menolaknya. Jangan berhenti ya, karena kerja keras yang hari ini tak terlihat, suatu saat akan jadi alasan orang lain menoleh. Tetap kuat, kak. Kamu lebih hebat dari yang kamu kira 🤍✨
total 1 replies
APRILAH
"Tunggu bentar, ca." kata Dio, membuat Gina pun menghentikan langkah kakinya, "res sleting mu terbuka, aku bantu benerin, ya." sambung Dio, menawarkan bantuan.

keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
APRILAH: tapi gak tau sih, aku biasa gitu kalo dialog aksi.
tapi gak tau kalo di genre lain
total 2 replies
Panda
cuma mau bilang deskripsi sama percakapan bisa lebih padet

di sini alur belum maju lagi 🤔
Panda
dari kalimat ini sampai beberapa paragraf ke bawah sebelum percakapan itu bisa dipadatkan sebenarnya

jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn

perhatikan dinamis Pace
Hunk: Makasih banget masukannya, Kak panda. Aku paham maksudnya, bagian awal memang masih agak kepanjangan. Ke depannya bakal aku evaluasi biar pacing-nya lebih enak.

Maaf kan diriku yang masih banyak ke kurangan🙏/Cry/
total 1 replies
Serena Khanza
payungnya kek punya ponakan aku 😂😂😂
baby shark doo dooo doo
Kaka's
telat mulu.. 🤣🤣
Kaka's
jadi tukang servis nih 🤭
Kaka's
enak gak.. 🤭
Sean Sensei
/CoolGuy/ : ada yang punya nomor teleponnya?
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Gina sama Azmi pagi" udah bikin sekolah heboh aja /Facepalm/
Panda
bagian akhirnya rada mellow ye e

chapter ini cukup menarik

slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
Hunk: Makasih banyak kak🤭 Aku harap bisa bawain chapter yang lebih mellow nanti.
total 1 replies
APRILAH
songong emang kalo banyak duit mah
Hunk: Hahaha kapan ya aku bisa sombong kaya gitu pamer uang🤣. Makasih kak sudah membaca🙏
total 1 replies
Kaka's
coba baca dengan gaya.. menirukan adegan film film, 🤭🤭
Serena Khanza
apa ini apa ini🤔
azmi sama siapa sih mau mu.. gina apa rahmalian 😏
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Apa sebenarnya rencana kedua orang tua mereka ya 🤔
kayak mau deketin Azmi sama gina
Val07
busyet tangannya ringan bener, main tarik rambut anak orang 🤣
Hunk: gpp dio emang pingin botak katanya.
makasih kak sudah membaca🤭🤭/Heart/🙏
total 1 replies
Serena Khanza
duuh kata kata nya jleb banget lagi 🥹
Serena Khanza: sama sama kak 🤭
total 2 replies
Panda
serius ini Dio nempel banget sama cewek cewek

kek nyaman bener

ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok

aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏

ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)

main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..

ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita

penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???
Panda: nahhh kannn beneran ini harusnya Uda ada di lebih awal chapterrr biar Dio gak jadi sus 😏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!