Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Di Antara petikan dan diam
Waktu itu, Gina seharusnya pergi ke perpustakaan.
Namun suara gitar menghentikan langkahnya.Nada demi nada mengalun dari sebuah ruangan.
Dari luar, beberapa siswi terlihat berkerumun di balik jendela, wajah mereka penuh antusias.
“Eh… itu Azmi yang main gitar, kan?” bisik salah satu dari mereka.
“Iya, iya! Itu Azmi!”
“Gila, petikannya enak banget.”
“Eh, dia mau nyanyi!” seru yang lain panik.
“Cepet, cepet, rekam! Momen langka ini!”
Tawa kecil dan bisikan excited saling tumpang tindih. Ada yang sudah mengangkat ponsel, ada yang saling sikut sambil menahan teriakan.
Gina yang berdiri agak jauh hanya tersenyum kecil.
Tingkah mereka terasa… lucu.
Namun saat itu, suara Azmi terdengar lebih jelas.
Bukan hanya petikan gitar—
tapi suaranya.
Gina berhenti melangkah.
Suaranya... bagus juga,pikirnya tanpa sadar.
Bukan suara yang berusaha mencuri perhatian.
Tenang. Dalam. Seolah dinyanyikan bukan untuk siapa pun, tapi untuk dirinya sendiri.
Lirik demi lirik mengalir.
Dan tanpa Gina sadari, ia ikut tenggelam di dalamnya.
Saat lagu hampir usai, Gina melangkah mendekat.
Beberapa siswi yang menyadari kehadirannya langsung menoleh.
“Eh… itu Gina, ya?”
“Ngapain dia ke sini?”
“Tunggu, jangan-jangan—”
“Arah dia ke ruangan gitar, kan?”
“Eh, serius? Ada apa ini?”
“Jangan-jangan mereka ada hubungan?”
Bisikan-bisikan itu terdengar jelas, tapi Gina tidak menoleh.
Ia mendorong pintu ruangan dan masuk.
Petikan gitar terhenti.
Azmi mendongak, jelas terkejut saat mendapati Gina sudah berdiri di hadapannya.
Gina ikut terdiam sesaat, lalu mengangkat tangannya setengah dada dengan senyum kecil.
“Hai.”
Azmi buru-buru menegakkan tubuhnya.
Nada suaranya kembali rapi, terlalu sopan.
“Ehm… Nona Gina sedang apa di sini?”
Ia berhenti sejenak, sadar betul siapa Gina—nama yang tidak asing bagi keluarganya.
Gina mengernyit tipis.
“Jangan pakai ‘nona’,” katanya ringan.
“Ini sekolah, bukan acara formal. Panggil Gina aja.”
Azmi terlihat ragu sepersekian detik, lalu tersenyum kecil.
“Baik… kalau begitu,” katanya hati-hati.
“Gina.”
Satu kata itu membuat Gina sedikit kaku.
Tatapan Azmi terlalu tenang, terlalu lurus. Gina refleks mengalihkan pandangan, lalu bicara cepat—seolah ingin menutup rasa canggungnya sendiri.
“Eh… suara kamu sama petikan gitarnya bagus.”
Ia menunjuk gitar di pangkuan Azmi.
“Aku dengar dari luar.”
Azmi tampak terkejut, lalu tertawa kecil.
“Terima kasih,” ucapnya tulus.
Gina menarik napas pelan.
“Boleh?,” katanya ragu-ragu,
“Aku ikut duduk dan dengerin satu lagu lagi.”
Azmi menoleh ke samping, lalu sedikit menggeser posisi duduknya.
“Boleh,” katanya sambil menunjuk tempat di sebelahnya.
“Duduk sini.”
Gina melangkah pelan dan duduk di samping Azmi.
Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat Gina sadar akan keberadaan orang di sebelahnya—suara napas, gerakan kecil, dan aroma kayu gitar yang samar.
Azmi kembali memetik senar.
Nada pertama kembali mengalun, disusul suaranya yang tenang.
Gina tersenyum kecil.
Kali ini, ia benar-benar mendengarkan.
Bukan sebagai siswi, bukan sebagai anak konglomerat—
hanya sebagai seseorang yang ingin menikmati lagu.
Petikan gitar itu mengalun lebih pelan dari sebelumnya.
Azmi tidak bernyanyi keras. Suaranya ditahan, seolah hanya ingin didengar oleh orang yang duduk di sampingnya.
Gina menyandarkan punggung ke kursi, tangannya bertumpu di pangkuan. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mendengarkan.
Di tengah lagu, salah satu senar gitar terdengar sedikit fals.
Azmi berhenti sejenak.
“Maaf,” katanya refleks, sambil memutar kunci senar.
“Enggak apa-apa,” jawab Gina cepat.
“Justru… aku suka kalau nggak sempurna.”
Azmi menoleh, sedikit heran.
Gina tersenyum kecil, lalu menunduk.
“Kadang,” lanjutnya pelan,
“kalau semuanya terlalu rapi, rasanya capek.”
Azmi tidak langsung menjawab. Ia hanya kembali memetik senar, kali ini lebih pelan, lebih hati-hati.
“Kalau gitu,” katanya akhirnya,
“lagu ini emang pas buat kamu.”
Gina mengangkat wajahnya.
“Kenapa?”
Azmi tidak menoleh. Tatapannya tetap ke gitar.
“Karena lagu ini bukan soal nada yang benar,” ucapnya tenang,
“tapi soal tetap bertahan, bahkan saat rasanya ingin berhenti.”
Gina terdiam.
Entah kenapa, kata-kata itu terasa seperti ditujukan padanya—
bukan sebagai pujian, bukan pula nasihat.
Tanpa sadar, jemarinya bergerak pelan, mengusap sela-sela jari yang tadi terluka.
Bekas perihnya masih ada, tapi salep yang Azmi oleskan membuatnya terasa sedikit lebih ringan.
Seperti lukanya…
perasaannya pun sedang perlahan membaik, tanpa ia benar-benar mengerti kenapa.
...----------------...
Beberapa detik berlalu dalam diam.
Gina merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan.
Tidak dituntut.
Tidak dinilai.
Tidak diminta menjadi apa pun.
Hanya… didengarkan.
Tanpa sadar, bahunya mengendur.
Saat lagu berakhir, Gina tersenyum—kali ini tidak dibuat-buat.
“Makasih,” ucapnya pelan.
“Udah mainin lagu itu.”
Azmi tersenyum balik, singkat.
“Kapan-kapan,” katanya,
“kalau kamu mau datang lagi, aku mainin lagu lain.”
Gina berdiri.
“Iya,” jawabnya ringan.
“Mungkin.”
Ia melangkah menuju pintu.
Namun sebelum keluar, Gina berhenti sejenak.
“Azmi,” panggilnya.
Azmi mendongak.
“Suaramu… bagus,” ucap Gina pelan.
“Tenang. Nggak bikin capek dengarnya.”
Azmi mengangguk kecil, senyumnya samar.
Dan saat pintu itu tertutup kembali, Azmi menunduk menatap gitar di pangkuannya—
jarinya masih diam di atas senar, seolah lagu tadi belum benar-benar selesai.
Di luar ruangan, Gina melangkah pelan.
Beberapa siswi yang sejak tadi mengintip dari balik jendela langsung menoleh ke arahnya.
Tatapan mereka penuh rasa ingin tahu—terlalu terang untuk disembunyikan.
Gina menyadarinya.
Ia berhenti sejenak, lalu menatap balik tanpa ekspresi berlebihan.
Satu per satu, para siswi itu justru memalingkan wajah, pura-pura sibuk dengan urusan masing-masing.
Gina tersenyum kecil.
Bukan senyum menang.
Hanya senyum tipis—seolah menganggap semuanya lucu.
Ia lalu melangkah pergi, meninggalkan ruang gitar itu, kembali menuju perpustakaan.
Gina tiba tanpa berlama-lama. Ia langsung menyusuri rak, mengambil satu buku secara asal, lalu duduk di barisan tengah—di dekat Siva dan Rahmalia.
Begitu duduk, pandangannya Terangkat ke depan.
Ke arah Dio.
Gina menahan senyum.
“Bener katamu Siva,” ucapnya pelan sambil tersenyum kecil.
“Dia nggak belajar.”
Siva melirik ke arah yang sama, lalu mendengus singkat.
“Iya, kan.”
Rahmalia yang sejak tadi fokus membaca akhirnya menyadari arah pandang mereka. Ia menoleh, melihat Dio yang duduk tidak jauh dari sana.
Seketika, senyum kecil muncul di wajahnya.
“Kenapa sih kalian ketawa?” tanya Dio, curiga.
Siva bangkit sedikit dari kursinya, lalu mendekat dan meraih buku yang ada di tangan Dio. Ia membaliknya tanpa ragu.
“Baru tau aku,” katanya datar tapi menusuk,
“kamu bisa baca buku terbalik.”
Dio terdiam sepersekian detik.
Lalu terkekeh cengengesan.
“Ya kali gue segoblok itu.”
Tawa pecah pelan di antara mereka—cukup lirih untuk ukuran perpustakaan, tapi hangat.
Untuk sesaat, semuanya terasa biasa. Ringan. Normal.
Namun bagi Gina, hari itu terasa sedikit berbeda.
Karena di dadanya, ada satu perasaan baru yang ikut duduk bersamanya—
perasaan yang belum berani ia beri nama.
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat
cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔