Terperangkap pernikahan dadakan membuat Ustad Syamir harus menerima Syahira sebagai istrinya. Padahal dia hendak menikahi Zulaikha, wanita sholeha yang diidamkannya. Semua itu pupus karena kesalahan satu malam. Niat hati Ustad Syamir menolong Syakira justru berbuntut pengerebekan warga dan nikah paksa. Tak hanya batal nikah dengan Zulaikha, Ustad Syamir harus menikah dengan Syahira, wanita gaul dari Jakarta yang jelas-jelas tidak dikenalnya.
Ustad Syamir harus menelan pil pahit karena gunjingan orang ditambah lagi dia harus membatalkan pernikahannya. Selain itu dia harus mengantarkan Syakira ke Jakarta tanpa memiliki bekal yang cukup.
Apakah Syamir dan Syahira akan tetap bersama atau memilih bercerai mengejar mimpi mereka masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andropist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rejeki Untuk Yang Tulus
Mereka berdua lalu pergi ke rumah makan Mbok Ijah. Ternyata tempat itu cukup ramai dan bisa dibilang berdesakan. Syamir dan Syahira lalu masuk ke tempat itu dengan susah payah. Mereka lalu mencari Mbok Ijah. Mbok Ijah ternyata adalah seorang wanita berusia empat puluhan yang saat ini tengah duduk di meja kasir sambil mencatat tiap pesanan dari tiap pembeli. Mbok Ijah lalu menolehkan wajahnya ke arah mereka berdua.
“Ono Opo to?” Tanya Mbok Ijah pada mereka berdua.
“Anu Mbok, Saya Syamir dan ini istri saya Syahira. Katanya kami disuruh kesini.” Jawab Syamir.
‘Oh, iya. Masnya yang menangkap maling itu ya?”
“Enjeh Mbok.”
“Iya, ini to saya mau mengucapkan terima kasih pada Mas karena telah menolong saya untuk menangkap maling itu. Maling itu membawa uang hasil dagang saya hari ini, tapi untungnya bisa kembali berkat bantuan Mas.”
“Ndak to Mbok saya hanya menolong sedikit. Berkat pertolongan dari Allah maling itu akhirnya bisa ditangkap.”
“Alah si Masnya ini suka merendah. Eh, ini tolong diterima ya Mas.” Mbok Ijah menyodorkan amplop berisi uang pada Syamir.
“Eh, ini opo to Mbok?” Syamir tampak heran bercampur kaget.
“Itu balas budi saya karena Masnya sudah menolong saya.”
“Ndak Mbok, ndak usah. Saya ikhlas menolong Mboknya. Lagi pula saya hanya perantara saja, Allah lah yang telah menolong. Atas izinnya saya bisa menangkap maling itu.”
Syahira tiba-tiba mencubit Syamir, ia lalu membisikkan sesuatu ke telinga Syamir.
“Syam, kamu itu bego atau gimana sih? Terima aja. Lagian kamu juga kan udah nolong dia, bener apa kata ibu itu, terima uang itu sebagai balas budi atas jasamu. Kita juga butuh uang itu, dengan uang itu kita bisa melanjutkan perjalanan kita ke Jakarta dengan mudah.”
“Nggak Sya, Syam tidak bisa menerima uang itu. Syam tulus menolong Mbok Ijah, Syam ingin kebaikan Syam cukup diganti dengan pahala di sisi Allah. Itu sudah lebih dari cukup.”
“Masih sempet-sempetnya bersikap sok naif di situasi kayak gini, Syam seklai lagi aku jelaskan. Kita butuh uang itu, dan gak dosa juga kalo kamu nerima uang itu. Kalau kita tidak menerima uang itu maka dengan apa kita akan ke Jakarta Syam?”
“Kita memang sedang dalam kekurangan, tapi kita masih punya Allah Sya. Walau tanpa uang itu Syam yakin kita bisa sampai ke Jakarta dengan selamat. Sya harus yakin akan pertolongan dari Allah.”
“What? Syam!” Syahira benar-benar tak habis pikir.
“Jadi Masnya mau menerimanya?” tanya Mbok Ijah dengan menyodorkan kembali amplop uang itu.
“Ndak Mbok, rausah. Mbok simpan saja uang itu, saya benar-benar ikhlas menolong Mbok.”
“Aduh, malah ditolak. Ya sudah, kalau begitu Masnya sama Mbaknya makan di sini ya, yang ini jangan ditolak ya Mas. Anggap saja ini sedekah saya kepada Mba dan Mas.”
“Emmm, gimana ya Mbok....”
Syahira kembali mencubit Syamir. ia kembali membisiki Syamir.
“Kali ini terima saja Syam, lagi pula kita belum makan. Kamu juga belum membatalkan puasamu. Kita bisa kelaparan Syam, perjalanan kita masih jauh dan kita sudah tidak memiliki uang sepeserpun. Tak baik juga menolak rezeki yang tersedia, benarkan Ustadz Syam?”
“Em, ya sudah. Matur suwun ya Mbok untuk makanannya, kami akan menerimanya.” Syamir akhirnya terbujuk oleh bisikan Syahira.
Mbok Ijah lalu ke belakang, ia nampaknya tengah menyuruh orang dapur untuk menyiapkan makanan untuk Syamir dan Syahira. Mbok Ijah lalu kembali ke meja kasirnya untuk mencatat pesanan yang kini antriannya semakin panjang. Rumah makan ini sepertinya yang paling laris diantara semua warung makan yang ada di daerah ini. buktinya dari Saymir dan Syahira datang hingga sekarang rumah makan ini tak pernah sepi pembeli. Mungkin karena rasanya yang enak yang membuat rumah makan ini begitu ramai oleh pembeli. Tak lama seorang pelayan pun datang menghampiri meja Syamir dan Syahira sambil membawa beberapa piring makanan. Syahira begitu girang saat melihat makanan yang tersaji di hadapannya.
“Matur suwun ya Mas.” Ucap Syamir pada pelayan itu.
“Enjeh sami-sami Mas. Silahkan dimakan ya Mas.” Ucap pelayan itu. Pelayan itu lalu kembali ke belakang.
Syamir dan Syahira lalu hendak memakan makanan itu, Syahira bahkan sudah hampir menyuapka makanan itu ke mulutnya tetapi Syamir menghentikannya.
“Baca doa dulu Sya.” Ucap Syamir.
“Arrrggghh, ribet banget sih.”
“Sya hafal kan doanya?”
“Mana aku tahu.”
“Astagfirullah, ya sudah ikuti Syam ya.”
Syamir lalu menengadahkan kedua tangannya lalu Syahira pun mengikutinya. Dengan bacaan yang dikerasan oleh Syamir, Syahira mengikuti tiap bacaan itu. Selesai berdoa barulah mereka bisa memakan makanan itu. Mereka menyantap makanan itu dengan lahap. Setelah beberapa hari mereka merasakan keurangan makan, kini terbayarkan dengan hidangan yang mereka nikmati.
“Sya suka ayam ya? ini, ayam punya Syam untuk Sya saja.” Syamir lalu memberikan potongan ayamnya pada Syahira.
“Beneran? Oke aku ambil. Thanks a lot.” Syahira lalu menyantap ayam itu dengan lahap. Ia begitu sibuk menyuapi semua makanan ke mulutnuya hingga bibirnya belepotan.
Syamir tertawa kecil, ia merasa lucu saat melihat cara makan Syahira yang seperti anak kecil. Ia menarik selembar tisu dan mengelapkannya ke bibir Syahira yang tengah belepotan itu.
“Syam izin mengusap noda di bibirnya Sya ya.” Syamir mengusapkan tisu itu perlahan ke bibirnya Syahira. Syamir menelan ludah saat melakukannya, ia begitu terpesona saat memandangi wajah Syahira dari dekat. Bola mata yang kecoklatan, hidung yang mancung dan pipi yang cabi serta bibirnya yang merah merona berhasil menyihir pandangan Syamir dalam sekejap.
“Parasmu begitu cantik Sya, andai saja pribadimu juga secantik itu. Astagfirullah, lagi-lagi aku berpikir yang tidak-tidak.” Tutur batin Syamir.
Begitupun dengan Syahira saat ini, ia begitu terpaut dengan sorot mata Syamir dan parasnya yang tampan. Syahira tak bisa menampik kebaikan budi, ketulusan hati dan keelokan paras dari seorang pria bernama Syamir yang kini ada di hadapannya itu. Pria itu terkadang membuat Syahira jengkel tetapi juga berhasil membuat Syahira luluh ribuan kali oleh sikapnya dan tutur katanya. Adakah pria lain di luar sana yang sama persis dengan pria yang ada di hadapannya saat ini? tanya Syahira dalam hatinya.
Syamir selesai mengusap noda yang belepotan di bibir Syahira, segera ia memalingkan wajahnya dari Syahira. Syamir terus beristighfar dan menenangkan perasaannya. Apa yang terjadi padanya kini? Perasaan macam apa ini? jantung Syamir berdegup dengan kencang, dan hatinya begitu gelisah. Belum pernah Syamir mengalami hal ini sebelumnya.
Selepas makan mereka berdua lalu berpamitan pada Mbok Ijah untuk melanjutkan perjalanan mereka. Mbok Ijah bersikeras menyuruh mereka berdua agar mau menginap dulu di tempat ini tetapi Syamir menolaknya. Mbok Ijah lalu memberikan uang saku untuk bekal mereka di perjalanan.
“Tolong terima yang ini ya Mas, untuk uang saku Mas dan Mbak nya selama di perjalanan nanti.” Mbok Ijah menempelkan sebuah amplop berisi uang ke lengan Syamir.
“Ndak usah Mbok. Tadi juga sudah lebih dari cukup. Matur suwun karena telah memberi kami makan secara cuma-cuma. Semoga kebaikan Mbok dibalas oleh Allah.”
“Aamiin. Tapi Mbok khawatir sama Mas dan Mbak nya. Perjalanan kalian masih jauh, dengan perbekalan yang kurang apa kalian bisa sampai ke sana dengan selamat? Mbok ingin membantu kalian, itung-itung sebagai sedekah. Biar perjalanan kalian juga lancar, jadi tolong diterima yo.”
“InsyaAllah kami pasti akan sampai dengan selamat Mbok. Dengan pertolongan dari Allah pasti kami bisa melalui semuanya. Mohon doanya saja ya dari Mbok supaya kami bisa sampai dengan selamat dan selalu dalam lindungan Allah.”
“Yo wes, Mbok ndak bisa maksa. Mbok doakan semoga perjalanan kalian lancar ya Mas, Mbak.”
“Enjeh Mbok, matur suwun. Kami pamit ya Mbok, Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Mereka berdua lalu meninggalkan rumah makan itu. Syahira nampaknya tak senang dengan keputusan Syamir yang menolak bantuan dari Mbok Ijah. Padahal jika Syamir menerimanya maka mereka tidak perlu bersusah payah lagi. Syahira lalu menghentkan langkahnya, dengan muka yang masam ia membiarkan Syamir berjalan seorang diri. Syamir yang menyadari ketiadaan Syahira di sampingnya langsung berbelok memutar ke belakang. Untungnya Syahira masih ada di belakangnya, wanita itu tengah terdiam. Syamir lalu mendekatinya.
“Ada apa Sya? Sya capek? Ya sudah, kita istrirahat dulu ya.”
“No, i’m not tired. Aku cuma kesel aja sama sikap kamu barusan. Kamu itu selalu mempertahankan harga dirimu. Padahal niat orang itu baik Syam, dan gak ada salahnya juga kalau kita menerima uang itu. Kalo kamu terus mempertahankan gengsi kamu maka akan sampai kapan kita berjalan tanpa arah seperti ini hah?”
“Ini bukan soal harga diri Sya. Ini soal kemuliaan. Bukankah Allah telah bilang bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah? Dan kita juga masih bisa melanjutkan perjalanan kita walau tanpa uang itu Sya. Sya, dengarkan Syam, di luar sana masih ada yang kondisinya lebih membutuhkan dari pada kita. Jadi biarlah uang itu jatuh ke tangan orang yang lebih membutuhkan.”
“Tapi kita juga membutuhkannya Syam. Let’s get back to reality, kita gak punya apa-apa sekarang dan perjalanan kita masih jauh. Pikirkan itu Syam.”
“Syam sudah bilang berkali-kali kepada Sya bahwa kita masih punya Allah yang Maha Penolong. Kita harus yakin itu Sya.”
“Why do you alwyas think like that? Arrrgghh!” Syahira kini tampak putus asa. Ia lalu menitikan air mata. Syamir langsung medekap Syahira, ia mencoba menenangkan Syahira ang tengah gelisah.
“Tenang Sya, Syam masih punya sesuatu.” Ucap Syam.
Syahira berhenti menangis, ia lalu heran bercampur tak yakin akan ucapan Syamir barusan.
“Hah, sesuatu?”
“Iya, ini Sya lihatlah.” Syam menunjukkan sebuah jam tangan yang masih melingkar di tangannya.
“Kamu dapat dari mana itu? Kamu nggak nyuri kan?”
Syahira curiga kepada Syamir karena selama perjalanan mereka sejauh ini Syahira belum pernah melihat jam itu. Dari mana Syamir mendapatkan jam itu? Apakah Syamir mencurinya dari seseorang?