Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Ketika Topeng Benar-Benar Terbuka
Adrian berdiri sendirian di basement yang sepi, napasnya masih memburu. Tangannya gemetar saat ia mengeluarkan ponselnya dari saku jaket.
Di layar ponsel itu… rekaman audio masih berjalan. Sejak Arkan turun dari mobil, Adrian sudah menekan tombol rekam tanpa diketahui siapapun. Setiap kata. Setiap ancaman. Setiap nada berbahaya dalam suara Arkan.
Semuanya terekam. Adrian mematikan rekaman, lalu mendengarkannya sebentar untuk memastikan.
Suara Arkan terdengar jelas: "Jauhi Yura, Inspektur. Kalau kau peduli padanya… kalau kau benar-benar ingin dia aman… jauhi dia. Karena selama kau ada di dekatnya… aku tidak bisa mengendalikan diriku."
Adrian menutup matanya sejenak, menarik napas dalam. Ini bukan lagi dugaan. Ini bukti.
Ia langsung membuka kontak Yura, lalu menekan tombol panggil dengan tangan yang masih gemetar.
Ring… ring…
Di Parkiran Toko...
Yura baru saja mengunci toko dan berjalan menuju mobil kecilnya yang diparkir di samping toko.
Malam sudah larut. Jalanan sepi. Hanya lampu jalan yang menyala redup. Hari ini ia membawa mobil kecilnya, biasanya ia pulang naik bus. Tapi Ntah kenapa hari ini ia ingin membawa mobil kecilnya itu. Yang biasanya Yura Berangkat dan pulang naik Bus.
Ia membuka pintu mobil, melempar tas kerjanya ke kursi samping Tapi tiba-tiba, ponselnya bergetar keras.
Adrian menelpon.
Yura mengerutkan dahi, lalu mengangkat sambil masih berdiri di samping mobil.
"Halo, Adi?" sapanya.
Tapi yang ia dengar bukan suara tenang Adrian seperti biasa.
Melainkan… suara bergetar penuh ketakutan.
"Yura.." suara Adrian terdengar napasnya memburu. "Kau… kau harus dengar ini. Sekarang."
Yura menegang. "Adi? Kamu kenapa? Suaramu.."
"Yura, dengarkan aku!" potong Adrian cepat. "Aku baru saja… bertemu Arkan. Dan aku merekam semuanya. Aku kirim sekarang kau harus dengar rekaman ini. Jangan tunda. Dengar sekarang juga."
Yura merasakan dingin menjalar di punggungnya. "Adi… kamu… baik-baik saja?"
"Aku baik," jawab Adrian tapi nadanya tidak meyakinkan. "Tapi kau… kau harus tahu siapa sebenarnya pria itu. Kumohon, Yura. Dengarkan rekaman itu."
Lalu sambungan terputus.
Yura berdiri di sana ponsel masih di telinganya, jantungnya berdegup cepat.
Beberapa detik kemudian...
TING!
Notifikasi pesan masuk.
Dari Adrian.
1 File Audio - 3 menit 42 detik
Yura menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar.
Ia ragu.
Ia takut.
Tapi… ia harus tahu.
Ia masuk ke dalam mobil, menutup pintu, lalu menekan tombol play.
Rekaman Audio Suara Arkan yang Mengerikan
Suara Arkan terdengar jelas dari speaker ponsel tenang, dingin, tapi penuh ancaman tersembunyi:
"Inspektur Adrian… aku tahu kau… peduli pada Yura."
Suara Adrian menjawab dengan nada waspada:
"Itu bukan urusanmu."
Lalu suara Arkan lagi lebih rendah, lebih gelap:
"Sayangnya… itu sangat urusanku. Aku datang untuk memberi… peringatan. Jauhi Yura."
Yura menegang. Tangannya mencengkeram ponsel erat.
"Kau pikir kau bisa ancam aku? Aku polisi.."
"Kau benar. Aku terbiasa dapat semua yang aku mau. Dan kali ini… aku ingin Yura. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun termasuk kau menghalangi itu."
Yura menutup mulutnya dengan tangan matanya melebar.
"Yura bukan barang yang bisa kau miliki!"
"Aku tahu. Tapi aku juga tahu… kalau aku tidak bisa memilikinya, aku akan memastikan tidak ada orang lain yang bisa."
Napas Yura mulai pendek-pendek.
Dadanya sesak.
Dia… dia bilang apa?
Suara Arkan berlanjut semakin menakutkan:
"Inspektur Adrian… kau punya karir yang bagus. Kau punya masa depan yang cerah. Jangan… sia-siakan itu hanya karena kau ingin jadi pahlawan untuk wanita yang… tidak akan pernah menjadi milikmu."
Yura mendengar nada marah Adrian:
"Kau… mengancam karirku?"
Dan kemudian… suara Arkan yang paling mengerikan:
"Aku tidak mengancam. Aku hanya… mengingatkan. Karena kalau kau terus ikut campur… aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi pada karirmu. Atau… pada Yura."
Yura berhenti bernapas.
Dia… mengancam Adrian.
Dia… mengancam aku.
Suara Adrian bergetar:
"Kau… berani ancam Yura?"
Dan suara Arkan dingin, tanpa emosi: "Aku tidak akan menyakiti Yura. Tapi aku juga tidak akan membiarkan orang lain… menyentuhnya."
Lalu bagian terakhir yang paling menghancurkan:
"Jauhi Yura, Inspektur. Kalau kau peduli padanya… kalau kau benar-benar ingin dia aman… jauhi dia. Karena selama kau ada di dekatnya… aku tidak bisa mengendalikan diriku."
Rekaman berakhir.
Keheningan jatuh di dalam mobil.
Yura duduk di sana tangan gemetar, napas memburu, air mata mulai mengalir tanpa bisa ditahan. Dia… dia bukan pria yang bercerita tentang kesepiannya. Dia… bukan pria yang sedang belajar mencintai.
Dia… monster.
Yura menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu menangis ketakutan, kecewa, marah pada dirinya sendiri.
Kenapa aku hampir percaya padanya?
Kenapa aku hampir… melembut?
Ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar, lalu mengetik pesan untuk Adrian:
Yura:
Adi… aku… aku takut.
Balasan datang cepat.
Adrian:
Aku tahu. Tapi kamu harus tenang. Jangan pulang dulu. Tunggu aku. Aku akan ke sana sekarang.
Yura menatap layar ponselnya lalu menatap keluar jendela mobil.
Jalanan sepi. Gelap.
Dan tiba-tiba… ia merasa diawasi.
Ia menoleh ke kaca spion...
Dan jantungnya hampir berhenti.
Sebuah mobil hitam parkir di ujung jalan tidak terlalu dekat, tapi cukup jelas terlihat.
Yura menegang.
Itu mobil Arkan.
Ia yakin.
Tangannya gemetar saat ia meraih kunci mobil tapi sebelum ia sempat menyalakan mesin. Pintu mobil hitam itu terbuka.
Dan Arkan… turun. Perlahan. Menatap ke arahnya.
Yura membeku. Dia… ada di sini. Dia melihatku.
Dia… sudah mengikutiku sejak tadi?
Arkan tidak berjalan mendekat.
Ia hanya berdiri di sana menatap Yura dari kejauhan.
Tapi tatapannya…
Tatapannya gelap. Penuh obsesi. Penuh kepemilikan. Yura merasakan dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Tangannya gemetar saat ia mengunci pintu mobil dari dalam lalu dengan panik, ia menyalakan mesin.
Ia harus pergi.
Ia harus kabur.
Sekarang.
Di Ujung Jalan...
Arkan berdiri di samping mobilnya, menatap Yura yang panik di dalam mobil kecilnya.
Ia bisa melihatnya. Ketakutan di matanya. Cara tangannya gemetar saat menyalakan mesin. Cara ia mengunci pintu dengan panik.
Dan sesuatu di dalam dirinya… retak.
Bagas keluar dari mobil, berdiri di samping Arkan dengan ekspresi khawatir.
"Pak… Nona Yura… dia terlihat ketakutan."
Arkan tidak menjawab.
Ia hanya terus menatap.
"Pak… mungkin kita harus "
"Dia mendengar rekaman itu," potong Arkan pelan suaranya kosong.
Bagas terdiam. "Apa?"
Arkan tersenyum tipis pahit, hampa.
"Adrian… merekam percakapan kami tadi. Dan dia… mengirimnya ke Yura."
Bagas menatap bosnya dengan ekspresi tidak percaya. "Lalu… kenapa kita di sini, Pak? Kenapa kita tidak.."
"Karena aku ingin melihatnya," jawab Arkan pelan. "Aku ingin melihat… ekspresinya saat dia tahu siapa aku sebenarnya."
Ia menatap Yura yang masih panik di dalam mobil. "Dan sekarang aku tahu," lanjutnya suaranya bergetar. "Dia… takut padaku."
Bagas menatap bosnya dengan tatapan prihatin.
"Pak… kalau Nona Yura takut… kenapa kita tidak pergi? Kenapa kita masih di sini?"
Arkan menatap Bagas tatapannya gelap, penuh obsesi yang tidak bisa lagi disembunyikan.
"Karena aku tidak bisa," jawabnya jujur. "Aku tidak bisa menjauh darinya. Bahkan kalau dia… membenciku."
Lalu ia masuk kembali ke mobilnya meninggalkan Bagas yang berdiri di sana dengan ekspresi khawatir.
Mobil Yura akhirnya melaju dengan kecepatan penuh, meninggalkan tempat itu. Dan Arkan… hanya duduk di mobilnya, menatap lampu belakang mobil Yura yang menjauh.