menceritakan tentang perjodohan seorang ceo dingin dengan gadis cantik anak tunggal di keluarga kaya raya, yaitu sahabat papanya sendiri. mampukah mereka menyatuhkan cinta mereka meskipun memiliki sifat yang sangat berbeda dari keduanya??
ini karya pertama ku,, 😊😊
maaf typo bertebaran guys
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajra Ichi Ocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Tak terasa acara akad nikah telah selesai, dan akan di lanjutkan dengan makan malam keluarga pada malam harinya, selagi menunggu makan malam, mereka semua menuju ke kamar hotel yang telah di siapkan masing-masing untuk beristirahat sejenak karena makan malam keluarga akan di laksanakan di restoran hotel tempat mereka melakukan akad nikah tersebut.
Mahendra dan Rya terpaksa memasuki kamar hotel yang sama karena perintah dari orang tua mereka, dan mereka telah sekarang telah berada di kamar mereka dengan suasana hening tanpa ada yang memulai kata.
Ria merasa sudah tidak nyaman dengan baju yang ia kenakan ia pun berdiri hendak melangkah ke kamar mandi.
"Aku mau pakai kamar mandinya dulu, aku sudah tidak tahan dengan baju yang aku kenakan ini." ucap Rya yang ingin beranjak ke kamar mandi namun tak mendapat jawaban dari Mahendra
Mahendra hanya fokus pada ponselnya walaupun ia mendengar perkataan Rya, Mahendra sama sekali tidak peduli dengan keberadaan atau apa yang akan di lakukan gadis itu.
"Dengar tidak apa yang aku katakan?" Bentak Rya karena tidak mendapatkan jawaban dari Mahendra.
Mahendra yang mendapat bentakan langsung dari Rya tersulut emosi, karena ini pertama kalinya ia mendapat bentakan orang lain selain ayahnya yang memang mempunyai sifat yang tidak ingin di bantah.
Mahendra menarik tangan Rya dan langsung melemparkannya ke atas ranjang.
Rya langsung ketakutan dan menutup matanya karena sekarang Mahendra tengah naik dan menindih tubuhnya.
"Dengar baik-baik, jangan pernah membesarkan suaramu kepadaku, aku bukanlah anak kecil yang dengan seenaknya kau bisa bentak, aku sudah cukup sabar dengan semua ini, jadi jangan coba-coba untuk membuat ku emosi, jika sekali lagi kau membentak ku aku tidak akan segan-segan membuat dirimu menyesal seumur hidup." ucap Mahendra memberi peringatan
karena pada dasarnya Rya mempunyai sifat yang tidak ingin di tindas oleh seorang pun merasa bahwa sekarang Mahendra tengah mengancamnya dan menakut-nakutinya, dengan mengumpulkan keberanian ia membuka matanya dan menatap tajam pada Mahendra yang tengah berada di atasnya.
"Siapa suruh kau tidak menjawab, aku pikir kau telah medapatkan serangan tuli dadakan, jadi aku mengeraskan suara ku." jawab Rya dengan senyum sinisnya walaupun sebenarnya ia masih sedikit takut pada Mahendra
"Berani sekali kau menjawab ucapan ku, apa kau pikir aku sedang bernegosiasi dengan mu." ucap Mahendra yang masih emosi karena mendapat bantahan dari Rya
"Kau pikir aku takut dengan ancaman mu, aku bukanlah wanita yang bisa kau tindas dengan seenak jidat mu." jawab Rya dengan tak kalah sengit.
Mahendra semakin emosi dengan jawaban Rya, ia langsung membungkam mulut Rya dengan bibirnya, ia m*****t bibir Rya dengan sangat kasar, Rya yang tidak menyangka akan mendapat serangan dadakan itu langsung memberontak dan memukul dada Mahendra, namun Mahendra dengan sigap menarik kedua tangan Rya menaikan ke atas kepala Rya dan memeganngnya dengan satu tangannya.
karena tidak bisa melawan dengan tangan maupun dengan kaki yang sudah di buat tak berdaya oleh Mahendra Rya pun menggigit bibir mahendra, Mahendrablangsung melepas tautan mereka karena mesa sakit akan gigitan dari Rya.
Karena masih berada dalam kabut emosi Mahendra langsung beralih ke leher Rya dan membuat tanda kepemikikan disana dengan banyak dan melakukannya dengan sangat kasar hingga Rya meghentikan gerkannya karena semakin ia memberontak Mahendra semakin kasar terhadapnya.
Sungguh diluar dugaan Rya, Mahendra akan melakukan hal ini, ia sudah tak bertenaga dan mulai menangis karena merasa sudah tak bisa melawan lagi.
Mahendra yang merasa bahwa tak ada perlawanan dari Rya tidak melepaskannya begitu saja namun ia ingin melakukan lebih pada Rya, ia akui bahwa Rya adalah wanita yang sangat cantik, dan ia yakin bahwa dia adalah orang pertama yang mencium Rya karena tanpa sepengetahuan Rya ia telah menyelidiki latar belakang Rya dan mengetahui segala tentang Rya termaksud mantan pacar Rya yang telah berselingkuh.
ia sengaja menyuruh asisten pribadinya Defano untuk menyelidiki Rya dan segala masalah yang Rya hadapi.
Tadinya Mahendra hanya ingin memberi peringatan pada Rya untuk tidak melawannya, namun sekarang ia telah di tutupi oleh kabut gairah karena melihat tubuh Rya yang sudah pasrah dan tidak lagi berusaha menolak perbuatannya.
Ia langsung membuka 1 per 1 kancing kebaya yang di gunakan oleh Rya untuk melanjutkan aksinya.
"Kumohon jangan lakukan ini." ucap Rya dengan sungguh memohon pada Mahendra
Mahendra yang langsung tersadar saat mendengar permohonan dari Rya langsung melepaskan Rya dan berlari menuju kamar mandi untuk menenagkan juniornya yang telah bangun karena aksinya tadi.
"Huhh sial, hampir saja." ucap Mahendra setelah sampai di kamar mandi
karena melihat Mahendra yang telah masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan dirinya, rya langsung bernafas lega, dan langsung beranjak duduk dan mengambil selimut untuk menutupi diri dengan sisa-sisa air matanya.
Ingin sekali ia mengadu pada orang tuanya atas perbuatan Mahendra, namun ia tak ingin orang tuanya kecewa dan sedih atas keputusan mereka, sehingga ia mencoba menghadapi sendiri masalahnya sekarang.
setelah sekitar setengah jam lamanya akhirnya Mahendra dapat menuntaskan gairahnya sendiri. ia langsung keluar dari kamar mandi dan mendapati Rya yang tengah duduk di tepi ranjang.
"Kau boleh memakai kamar mandi sekarang." ucap Mahendra pada Rya.
"Baiklah." jawab singkat Rya lalu segera beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
Rya yang masuk ke kemar mandi, kini tengah menanggalkan satu per satu pakaian yang ia kenakan dan melihat pantulan dirinya dalam cermin, melihat bekas kepemilikan Mahendra di lehernya yang sangat banyak dan terasa begitu perih karena Mahendra sangat kasar melakukannya hanya bisa menangis kembali dan merutuki kebodohannya karena membuat Mahendra emosi, beruntung Mahendra masih mau mendengarkannya, kalau tidak mungkin bukan hanya ciuman pertamanya yang hilang, namun juga mahkota yang sangat ia jaga selama ini.
Rya pun memulai ritual mandinya walau dengan linangan air mata yang tertutupi oleh air yang keluar dari shower.
Setelah selesai mandi ia pun tersadar bahwa ia tak membawa baju ganti ke dalam kamar mandi, ia bingung harus bagaimana, tidak mungkin ia keluar hanya dengan lilitan handuk saja.
Ia lalu membuka pintu kamar mandi dan menyembulkan kepalanya melihat di mana keberadaan Mahendra
Ia tak melihat Mahendra dan kini ia yakin bahwa Mahendra sedang tak berada di kamar, ia pun langsung keluar dari dalam kamar mandi dan mengambil baju ganti dan langsung berlari masuk lagi ke dalam kamar mandi untuk ganti baju, ia takut berganti di kamar karena mungkin Mahendra akan tiba-tiba masuk.
Tanpa sepengetahuannya Mahendra telah melihat aksinya berlari-lari di kamar dengan hanya menggunakan handuk, Mahendra tengah duduk di balkon kamar hotel sambil tersenyum mengingat tingkah laku Rya.
sekian BAB kali ini... 😊😊😊
makasih readers. 😘😘😘