NovelToon NovelToon
A Penliba

A Penliba

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Kacang Kulit

"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.

"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.

Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.

***

Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 - Galau

Pagi-pagi sekali Giselle sudah berada di kamar Libra. Bahkan pemiliknya sendiri masih berada di alam mimpi. Namun, gadis itu tidak peduli. Ia bersikap seolah ini benar-benar rumahnya sendiri. Tidak apa-apa, toh orang tua Libra tidak merasa keberatan sama sekali.

Giselle menyambar gitar yang terletak di pojok ruangan. Gitar yang sudah menjadi miliknya sejak kemarin.

Setelah membuka pintu balkon, Giselle berjalan ke arah sofa yang memang berada di luar kamar. Memetik gitarnya perlahan, mencari nada yang pas, sebelum akhirnya menyanyikan sebuah lagu yang terlintas di benaknya.

"Tak perlu khawatir, ku hanya terluka. Terbiasa 'tuk pura-pura tertawa. Namun bolehkah s'kali saja ku menangis? Sebelum kembali membohongi diri...."

Lagu berjudul Runtuh milik Febi Putri itu menjadi pilihan Giselle. Entahlah, ia hanya merasa lirik lagu itu sangat cocok dengan suasana hatinya saat ini.

Teringat kembali bagaimana kejadian semalam, selalu sukses membuatnya murung. Ingin menangis lagi, tetapi ia lelah. Lagi pula, semalam ia sudah menangis terlalu lama. Bahkan matanya masih bengkak sekarang.

"Kita hanyalah manusia yang terluka. Terbiasa 'tuk pura-pura tertawa. Namun bolehkah sekali saja ku menangis? Ku tak ingin lagi membohongi diri...."

Ah, ketika sampai pada lirik tersebut, Giselle akhirnya tetap saja meneteskan air matanya.

Tidur Libra terusik oleh suara nyanyian Giselle. Mengernyitkan dahi sejenak sebelum mengecek jam yang masih menunjukkan pukul tujuh pagi, Libra segera bangkit. Rencananya, hari Minggu ia ingin tidur seharian. Namun, sepertinya ia tidak bisa. Pemuda itu berdiri di ambang pintu balkon. Menatap gadis yang masih bernyanyi dengan mata terpejam.

Tumben sekali, pikir Libra. Ini masih terlalu pagi, tetapi Giselle sudah galau saja. Samar-samar, ia melihat pipi gadis itu yang basah. Mungkin saja karena terlalu menghayati nyanyiannya, sampai-sampai ia menangis.

Libra tidak ambil pusing. Pemuda itu lebih memilih pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Setelah merasa cukup, ia pun keluar dari kamarnya. Tenggorokannya kering, ia butuh minum. Sesampainya di dapur, Libra langsung memeluk wanita paruh baya yang sedang berkutat dengan bahan masakan.

"Pagi, Ma."

"Pagi," jawab Fara sembari tersenyum manis.

Libra melepaskan pelukannya. Ia berjalan menuju lemari es untuk mengambil air dingin.

"Giselle udah lama dateng, Ma?"

"Barusan kok. Kayaknya dia lagi ada masalah. Mama lihat matanya sembab," ujar Fara tanpa menoleh. Ia sedang sibuk memotong bawang putih.

"Hah? Yang bener?" Libra sedikit terkejut. Tadi, ia tidak terlalu memperhatikan wajah Giselle karena ia hanya melihat dari samping.

"Lah, kamu belum lihat? Kan dia di kamar kamu," ujar Fara dengan heran.

"Dia di balkon. Libra tadi langsung ke bawah," jelasnya.

"Yaudah, samperin gih."

Libra mengangguk. Setelah mengecup pipi Fara, pemuda itu berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Ketika memasuki pintu kamar, ia disuguhkan dengan suara merdu milik sahabatnya.

"Kau bisa patahkan kakiku. Tapi tidak mimpi-mimpiku. Kau bisa lumpuhkan tanganku. Tapi tidak mimpi-mimpiku...."

Libra menghela napas panjang, sepertinya ia tahu sahabatnya itu kenapa. Mendengar lagu-lagu yang ia nyanyikan, sudah pasti suasana hati gadis itu sedang tidak baik-baik saja.

Libra berjalan mendekati pintu balkon. Ia berdiri di ambang pintu sembari menatap Giselle dalam diam. Meski sudah sering mendengar sahabatnya bernyanyi, tetapi rasanya ia selalu jatuh cinta pada suara lembutnya.

"Kau bisa merebut senyumku. Tapi sungguh tak akan lama. Kau bisa merobek hatiku. Tapi aku tahu obatnya...."

Giselle tersenyum sembari memejamkan mata. Ya, ia tahu obatnya. Bernyanyi selalu menjadi obat yang menenangkan di saat hatinya sedang gundah. Tak peduli seberapa besar luka di hatinya, musik selalu bisa menjadi penangkalnya.

Senyum Giselle menular pada Libra. Pemuda itu berjalan mendekati gadis itu sembari menyambung lirik yang ia nyanyikan.

"Manusia-manusia kuat itu kita. Jiwa-jiwa yang kuat itu kita. Manusia-manusia kuat itu kita. Jiwa-jiwa yang kuat itu kita...."

Giselle menoleh kemudian tersenyum semakin lebar. Ia tetap memetik gitarnya, membiarkan Libra yang melanjutkan nyanyiannya sampai akhir. Bukan hanya Giselle yang pandai bernyanyi, tetapi Libra juga.

Beberapa saat kemudian, mereka selesai menyanyikan lagu Manusia Kuat milik Tulus.

"Lagi galau ya, Pen?" tanya Libra iseng.

"Iya, Ba." Giselle memilih menjawabnya dengan jujur. Toh, tidak ada gunanya juga berbohong. Libra adalah orang yang paling mengenalnya.

"Butuh pelukan, gak?"

"Ish, masih nanya. Ya butuh, lah." Giselle mengerucutkan bibirnya sembari meletakkan gitar di samping sofa. Kemudian, gadis itu menubruk tubuh Libra yang sudah merentangkan kedua tangannya.

Libra terkekeh sembari membalas pelukan Giselle. Ia tidak ingin bertanya lagi karena ia sudah tahu. Giselle dan ibunya.

Selalu seperti itu. Libra tidak bisa berbuat banyak selain memberikan sandaran pada Giselle. Meskipun masih ada Abram, tetapi hubungan mereka tidak terlalu dekat. Dulu waktu kecil, mereka masih sering bermain bersama. Beranjak remaja, Abram selalu disibukkan dengan kegiatan sekolah. Menjadi murid teladan yang selalu membanggakan orang tua. Sejak itu pula, semuanya berubah. Giselle selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya. Ia dituntut untuk menjadi seperti kakaknya.

Lama mereka hanya saling diam dengan posisi tidak berubah. Libra sama sekali tidak keberatan. Ia bahkan rela memberikan apapun agar gadis di pelukannya ini kembali ceria seperti biasa.

"Hari Minggu gak mau jalan-jalan, Pen?"

"Enggak, ah. Males."

"Yaudah kita nyanyi lagi aja," ujar Libra.

Kali ini, Giselle mengangguk dengan semangat. Libra segera mengambil alih gitarnya. Sebelum itu, ia sudah meletakkan ponselnya--yang menampilkan ikon kamera--di atas meja. Kamera itu menyorot mereka berdua.

"Kita rekam yuk. Terus upload di Ig. Siapa tahu jadi terkenal," ujar Libra sembari terkekeh geli.

"Ayok!" jawab Giselle dengan semangat.

Setelahnya, mereka benar-benar merekam setiap lagu yang dinyanyikan. Suara keduanya menjadi perpaduan yang sempurna. Menyatu dalam melodi indah yang akan membuat siapapun jatuh cinta ketika mendengarnya.

...***...

Libra.mahardika

Liked by Hanfarhan, Pipit23, and 82 others

Libra.mahardika Nyanyi bareng Pendek @Gisellamanda

add a comment...

@danubukanpanu Wih, keren banget kapal kita.

@pipit23 GIGI BISA NYANYI?!

@hanfarhan Keren bro, sis.

@gilang_pratama Uhuyy

@abraham.kr 👍

...***...

18 Januari 2026

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!