Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Mistis
Angka hijau di layar jam tangan taktis milik Hera berkedip pelan dalam kegelapan. 23.59.
Satu menit lagi menuju tengah malam.
Di dalam tenda yang sunyi, keheningan malam terasa begitu menekan dan pekat. Hera Grahansa berbaring diam di atas matras portabel tanpa melepas jaket gunung tebalnya.
Sepasang sepatu bot kulitnya pun masih terpasang rapi, membungkus kakinya dengan rapat.
Matanya menatap lurus ke langit-langit tenda, tajam, dingin, dan penuh dengan kalkulasi ilmiah yang rumit.
Di samping kanannya, Amara mendengkur halus dalam balutan sleeping bag hangat, sama sekali tidak menyadari badai rencana yang sedang berkecamuk di kepala atasannya.
Di tenda sebelah, Kevin kemungkinan besar sudah tidak berdaya karena kelelahan setelah seharian memelototi layar sensor digital.
Hera mengalihkan pandangannya ke arah pintu tenda yang tertutup rapat. Di luar, suasana juga sangat sepi. Hanya terdengar sesekali suara kayu terbakar yang meletup pelan dari sisa api unggun kamp mereka.
Baskara dan Yudha, dua pengawal terlatih yang disewa ayahnya, tampaknya sedang bergiliran menjaga perimeter luar. Mereka mengira sang profesor muda yang keras kepala itu sudah menyerah pada egonya dan memilih tidur.
Mereka salah besar. Bagi seorang Hera Grahansa, sains tidak pernah mengenal kata mundur atau tunduk pada takhayul kuno seperti pita merah desa.
Jika zat aktif dari tanaman itu bisa menyelamatkan nyawa ibunya, Soraya, maka tidak ada satu pun hukum manusia atau mitos hutan yang boleh menghalanginya.
Tit.
Jam digital di pergelangan tangan kiri Hera bergetar pelan, mengeluarkan bunyi tunggal yang sangat tipis. 00.00. Tepat tengah malam.
Hera langsung menegakkan tubuhnya dengan gerakan yang sangat terlatih. Dengan ketelitian seorang ilmuwan yang biasa beroperasi di laboratorium steril, dia merayap perlahan menuju pintu keluar tenda.
Tangannya yang dingin memegang kepala ritsleting besi. Dia menariknya inci demi inci, menahan napas agar gesekan kain parasut itu tidak menimbulkan suara yang bisa memicu insting tajam Baskara di luar.
Sret.
Celah tenda terbuka. Hera melesat keluar seperti bayangan hitam yang lincah. Udara luar Alas Purba langsung menyergap wajahnya, terasa luar biasa dingin hingga embus napas Hera membentuk kepulan uap putih yang tebal di udara.
Dia melirik cepat ke arah pusat kamp. Angin malam berembus lambat, meniup abu api unggun yang mulai sekarat. Baskara duduk membelakangi arah tendanya, fokus menatap kegelapan sektor barat, sementara Yudha tampaknya sedang memeriksa pasokan logistik di sisi jip yang terparkir jauh.
Ini adalah kesempatan emasnya. Kesempatan yang tidak akan datang dua kali.
Tanpa menyalakan senter taktis di genggamannya agar tidak memicu kecurigaan, Hera membalikkan badan. Dia menggunakan insting dan memori visualnya untuk menerobos kegelapan, berlari kecil dengan langkah seringan mungkin menuju koordinat dua pohon raksasa berpita merah.
Tanah merah yang gembur dan tertutup lumut tebal meredam suara hentakan sepatu botnya dengan sempurna.
Hanya butuh waktu kurang dari dua menit bagi Hera untuk sampai di batas vegetasi terlarang yang ditunjuk oleh Pak Danu sore tadi.
Begitu dia melompati sebuah akar pohon raksasa yang melintang di tanah seperti ular piton mati, langkah kaki Hera mendadak terkunci.
Tubuhnya membeku di tempat. Matanya melebar sempurna, merekam sebuah fenomena visual yang sanggup meruntuhkan seluruh dinding logika dunia modern yang selama ini dia agungkan di bangku universitas.
Tepat pada pukul dua belas malam, tanah di sekitar dua pohon raksasa itu seolah-olah hidup dan bernapas.
Bukan hanya sepuluh atau dua puluh bunga seperti yang dia lihat secara samar beberapa jam lalu.
Di depannya, hamparan tanah yang awalnya hanya berisi semak belukar gelap kini dipenuhi oleh ratusan kuncup tanaman mistis yang mekar secara serentak dalam fraksi detik yang sama.
Proses mekarnya ratusan bunga itu terjadi begitu anggun, seolah-olah digerakkan oleh konseptor gaib yang tidak kasat mata.
Kelopak-kelopak tipis yang berwarna ungu pekat—begitu pekat hingga hampir menyerupai warna hitam beludru—membuka perlahan, menyingkap tepian kelopak luar yang berwarna emas murni.
Yang membuat jantung Hera berdegup kencang hingga ke tenggorokan adalah pendarannya. Ratusan Dream Flower itu memancarkan cahaya bioluminesensi yang sangat terang dan hangat.
Area gelap di bawah dua pohon raksasa itu kini menjelma menjadi hamparan karpet cahaya ungu-emas yang sangat memukau.
Cahaya itu berpendar-pendar, menembus lapisan kabut malam yang mulai turun dan bergulung di atas permukaan tanah, menciptakan ilusi visual seolah-olah Hera sedang berdiri di atas gugusan galaksi yang jatuh ke bumi.
"Ini_,ini secara biologis tidak masuk akal," bisik Hera takjub, suaranya bergetar hebat di balik keheningan hutan. "Bagaimana bisa ratusan organisme mekar dalam milidetik yang sama tanpa rangsangan cahaya matahari? Struktur selnya pasti memiliki sistem transmisi energi yang instan!"
Bersamaan dengan mekarnya ratusan bunga ajaib tersebut, atmosfer udara di sekeliling Hera mendadak berubah secara drastis.
Aroma manis yang sangat pekat, mistis, dan pekat langsung menyeruak ke segala arah, menyelimuti indra penciumannya dalam sekejap.
Bau itu sangat asing, namun entah mengapa terasa begitu familier di dalam otaknya. Itu adalah perpaduan yang sempurna antara aroma madu hutan murni yang difermentasi, kayu cendana kuno yang dibakar di dalam kuil tua, dan kesegaran embun pegunungan yang belum pernah terkontaminasi oleh polusi kota besar.
Hera menghirup aroma mistis itu dalam-dalam tanpa sadar. Seketika, rasa dingin ekstrem yang sejak tadi menusuk kulit dan persendiannya lenyap tanpa bekas.
Tubuhnya mendadak diselimuti oleh rasa hangat yang menjalar dari dada hingga ke ujung jari-jarinya. Kepalanya terasa sedikit melayang, ada sensasi euforia ringan yang berputar di pelipisnya, namun anehnya, fokus matanya justru menjadi berkali-kali lipat lebih tajam.
Dia bisa melihat detail serat emas di tepi kelopak bunga dengan sangat jelas meskipun tanpa bantuan alat pembesar.
"Zat aktifnya, tingkat volatilitasnya sangat tinggi di udara," gumam Hera, otaknya yang dipenuhi teori-teori botani molekuler langsung bekerja keras melakukan analisis cepat.
"Senyawa ini tidak hanya memengaruhi sel fisik, tetapi aromanya langsung menembus penghalang darah-otak dan memengaruhi sistem saraf pusat dalam hitungan detik. Ini luar biasa! Jika zat ini bisa diekstraksi dengan benar, sel kanker otak Mama pasti bisa diisolasi dan dihancurkan!"
Rasa gembira yang luar biasa membakar dada Hera, menghapus semua sisa keraguan dan ketakutan yang sempat disuntikkan oleh kru penyelamatnya.
Dia meraba saku jaket gunungnya dengan cepat, memastikan kantung sampel steril berbahan aluminium foil dan pisau bedah kecilnya sudah berada di posisinya.
Semua peralatan riset daruratnya sudah siap.
Hera mengambil satu langkah maju lagi, memperpendek jarak dengan garis pembatas desa. Dia kini berdiri tepat satu jengkal di depan kain pita merah tebal yang terikat erat di antara dua batang pohon raksasa tersebut.
Tiba-tiba, angin malam bertiup dengan kencang secara mendadak dari arah dalam hutan. Embusan angin itu membuat pita kain merah di depannya berkibar-kibar liar dengan suara mendesing yang aneh, seolah-olah selembar kain itu bertransformasi menjadi garis barikade hidup yang sedang memperingatkannya untuk tidak melangkah lebih jauh.
Pohon raksasa di atas kepalanya juga mengeluarkan suara derit kayu yang berat dan dalam, gema suaranya merayap di antara kegelapan Alas Purba seperti suara bisikan purba yang tidak senang dengan kehadiran manusia kota.
Namun, Hera Grahansa bukanlah wanita yang mudah diintimidasi oleh alam, apalagi oleh mitos-mitos lokal yang tidak memiliki landasan jurnal ilmiah.
Dia menatap hamparan cahaya ungu-emas yang bergoyang anggun di balik pita merah, lalu membayangkan wajah pucat Soraya yang sedang sekarat di ranjang rumah sakit dengan kepala terbungkus turban sutra.
Waktu ibunya tidak banyak, dan obatnya ada di depan matanya.
"Maaf, Papa. Maaf, Pak Danu. Tapi bagi saya, sains tidak butuh batas takhayul," ucap Hera dengan nada dingin yang penuh dengan tekad mutlak.
Sifat keras kepalanya memenangkan pertempuran batin malam itu. Tanpa ragu sedikit pun, Hera mengangkat kaki kanan sepatu botnya yang berat, lalu melangkah lebar melewati garis pita merah yang memisahkan dunia manusia dengan misteri Alas Purba.
Tepat saat kaki Hera menyentuh tanah di balik pita merah, sebuah sensasi aneh seperti sengatan listrik statis yang halus merayap dari tanah, menembus sol sepatunya dan naik ke seluruh tubuhnya.
Di belakangnya, tanpa disadari oleh Hera, lapisan kabut tebal Alas Purba mendadak bergulung dengan cepat, menutup jalur setapak yang baru saja dilaluinya dari kamp. Hutan purba itu seolah-olah menggeser dinding-dinding gaibnya, mengunci jalan pulang, dan menyambut kedatangan sang profesor muda ke dalam wilayah terlarang yang sesungguhnya.
Hera tidak peduli. Dia langsung berlutut di atas hamparan karpet bunga yang menyala, tangannya yang memegang pisau bedah bergerak cepat dan antusias.
Dia mulai memetik bunga-bunga itu satu demi satu, terbuai oleh kilau emas dan aroma mistis tengah malam yang kian pekat mengurung kesadarannya.