Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.
Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.
Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.
“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”
Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Tatapan Penuh Muslihat Dan Provokasi Di Pesta Amal
Pintu ganda berlapis emas di pintu masuk Grand Ballroom Hotel Imperial terbuka lebar. Ketika Gabriel Blackwood dan Aira Anindita melangkah masuk, alunan musik orkestra klasik yang tadinya mengisi ruangan mendadak meredup, digantikan oleh bisik-bisik penasaran dari ratusan tamu undangan berdasi mewah dan gaun haute couture.
Lampu gantung kristal raksasa memantulkan kilau ribuan berlian Afrika yang menempel di gaun biru malam Aira, membuatnya tampak bagaikan ratu malam yang memancarkan pesona luar biasa. Di sampingnya, Gabriel berjalan dengan tatapan setajam elang, merangkul pinggang istrinya posesif seolah-olah mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa wanita di sisinya adalah milik mutlak seorang Dark Lord.
"Lihat itu... wanita yang berdiri di sebelah Gabriel," bisik seorang sosialita berkalung permata kepada rekannya di dekat meja prasmanan. "Aku dengar dia bukan dari kalangan mafia, tapi berhasil menaklukkan hati Ketua Blackwood yang terkenal kejam."
"Jangan tertipu oleh wajah cantiknya," sahut pria paruh baya di sebelahnya dengan nada sinis. "Di balik gaun bertabur berlian itu, darah dingin dinasti Blackwood mengalir deras. Sidang dewan tetua di Roma bulan lalu membuktikannya."
Aira mengabaikan bisik-bisik tersebut. Langkah kakinya tetap tenang, anggun, dan penuh percaya diri. Ia tahu betul, berada di tengah lingkaran para taipan dan penguasa dunia gelap berarti ia sedang berdiri di atas jaring laba-laba penuh racun.
Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya bergaun merah darah dengan riasan tebal dan senyuman angkuh berjalan mendekati mereka. Wanita itu ditemani oleh seorang pria muda berjas putih—Julian, utusan faksi Rosewood yang beberapa hari lalu mengantarkan undangan ke kantor mereka.
"Selamat malam, Tuan Gabriel," sapa wanita itu dengan suara melengking penuh kepalsuan. Ia adalah Lady Eleanor, salah satu tokoh senior dari faksi Rosewood Syndicate wilayah Eropa Barat. "Dan selamat malam kepada... hmm, Nyonya Aira, pendatang baru yang mendadak jadi buah bibir."
Gabriel menyipitkan matanya dingin. Aura membunuh langsung terpancar dari tubuh tegapnya. "Jaga nada bicaramu, Eleanor. Di hadapanmu berdiri Permaisuri Blackwood."
Lady Eleanor tersenyum miring, melirik Aira dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan. "Oh, aku tahu betul posisinya, Tuan Gabriel. Hanya saja... di dunia kita, gaun indah dan berlian pinjaman tidak cukup untuk membuktikan kelayakan seseorang. Kami hanya penasaran, apakah wanita yang dibesarkan di dunia korporasi biasa ini memiliki mental yang cukup kuat saat menghadapi tekanan yang sebenarnya?"
Suasana di sekitar mereka mendadak hening. Para tamu undangan lain mulai menghentikan percakapan mereka, memasang telinga lebar-lebar untuk menyaksikan drama kelas atas tersebut.
Julian di sebelah Eleanor menyunggingkan senyuman tipis, sengaja melempar provokasi. "Betul, Lady Eleanor. Bahkan malam ini, beberapa mitra bisnis kami dari faksi utara meragukan apakah Blackwood Corp masih layak memegang kendali jalur logistik internasional."
Amarah di dada Gabriel sudah mencapai ubun-ubun. Buku-buku jarinya berderit keras. Sebelum ia sempat mencabut pistol dari balik jasnya untuk meratakan kepala Eleanor dan Julian di tempat, sebuah tangan halus menyentuh lengan jasnya.
Aira menoleh ke arah Gabriel, memberikan isyarat tenang lewat tatapan matanya yang tajam dan dingin. Gabriel menarik napas dalam-dalam, menahan emosinya demi menghormati langkah yang ingin diambil istrinya.
Aira melangkah maju satu langkah, menatap Lady Eleanor lurus-lurus tanpa secuil pun rasa takut. Senyuman tipis tersungging di bibirnya—senyuman elegan yang justru membuat Eleanor bergidik ngeri sesaat.
"Lady Eleanor," suara Aira menggema tenang, jernih, dan penuh wibawa ke seluruh sudut ruangan. "Anda mempertanyakan mental dan kelayakan saya?"
Eleanor menegakkan dagunya arogan. "Tentu saja. Anda hanyalah orang luar yang..."
"Orang luar yang berhasil membereskan konflik krisis pelabuhan Laut Hitam dalam waktu empat menit, sementara para tetua dari faksi Anda gagal total selama lima tahun," potong Aira tajam, memotong kalimat Eleanor mentah-mentah.
Seketika, beberapa tamu undangan yang mendengarnya langsung menahan napas. Wajah Eleanor memerah padam karena malu dan geram.
Aira melangkah lebih dekat lagi, membuat Eleanor tanpa sadar mundur satu langkah. "Jika faksi Rosewood Anda merasa mampu memegang kendali logistik global, mengapa kalian masih menyembunyikan diri di balik pesta amal murahan ini dan melempar provokasi murahan seperti anak kecil?"
"Kamu—!" seru Eleanor murka, nyaris kehilangan kendali atas emosinya di depan umum.
Namun sebelum Eleanor sempat membalas, Gabriel merangsek maju, merengkuh pinggang Aira erat-erat, dan menatap seluruh tamu undangan dengan sorot mata iblis neraka.
"Dengar baik-baik, kalian semua," desis Gabriel dingin dengan suara bariton yang menggema ke seluruh ballroom. "Istriku bukan objek yang bisa kalian jadikan bahan uji coba. Siapa pun di ruangan ini yang berani menatapnya dengan sebelah mata lagi... pastikan kalian sudah menyiapkan peti mati sebelum matahari terbit besok!"
Ancaman mutlak dari Dark Lord itu membuat seisi ballroom mendadak membeku. Tidak ada seorang pun yang berani bernapas terlalu keras.
Aira menepuk pelan tangan Gabriel di pinggangnya, lalu tersenyum manis ke arah Lady Eleanor yang kini gemetar ketakutan. "Nikmati pesta malam Anda, Lady Eleanor. Pertunjukan yang sesungguhnya baru saja dimulai."
Aira dan Gabriel kemudian berbalik meninggalkan Eleanor dan Julian yang terduduk kaku menahan malu, melangkah menuju balkon VIP dengan kepala tegak.
📌 Pojok Penulis (Rey Nanda):
Mantap banget Aira! Mulut pedas berbalut senyuman anggun bener-bener bungkam mulut sombong Lady Eleanor! Dan Gabriel? Ah, bucin posesif garis keras yang siap pasang badan buat bela istrinya! 😭🔥