Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.
Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.
Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.
Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.
Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Kesempatan Kedua Untuk Cinta
.
Titan masih menggenggam tangan Mentari ketika perempuan itu mengangguk pelan. Senyum di wajahnya semakin lebar, seolah ia baru saja mendapatkan sesuatu yang sudah lama dinantikannya.
“Jadi, mulai sekarang kita resmi jadi pacaran kan?” tanyanya memastikan.
Mentari menundukkan kepalanya dengan wajah merah merona. ”Aku kan sudah menjawabnya tadi?”
“Mana ada? Tadi kamu cuma mengangguk,” ujar Titan. “Aku kan ingin mendengar suaramu?”
Mentari mendengus pelan. “Kamu ini ternyata menyebalkan juga, ya.”
Titan tertawa mendengarnya. Ia tidak merasa tersinggung sedikit pun. Setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya kini gadis yang ia cintai menjawab iya.
“Baiklah, Tuan Titan Danuarta. Aku bersedia menjalin hubungan denganmu. Puas?” ujar Mentari akhirnya, berusaha menyembunyikan rasa malunya.
“Sangat puas.” Titan mengangguk mantap.
Mentari menggeleng sambil tersenyum kecil. Baru kali ini ia melihat Titan begitu sulit menyembunyikan kebahagiaannya. Pria yang biasanya selalu terlihat tenang dan mampu mengendalikan diri itu kini justru tampak seperti seseorang yang baru saja memenangkan sesuatu yang sangat berharga.
Tanpa sadar, Mentari ikut tersenyum melihatnya. “Apa sebahagia itu?” tanyanya.
“Tentu saja.” Titan mengusap punggung tangan Mentari dengan ibu jarinya. “Aku sudah menunggu jawaban ini selama sejak dulu.”
Senyum di wajah Mentari perlahan memudar. Ia kembali teringat bagaimana selama ini dirinya memperlakukan Titan. Pria itu pernah datang bersama dengan kedua orang tuanya, tetapi ia justru menolaknya mentah-mentah hanya karena tidak ingin menikah berdasarkan perjodohan dan hubungan bisnis.
“Titan, aku minta maaf,” ucap Mentari tiba-tiba.
Titan mengernyit. “Untuk apa?”
“Karena dulu aku sudah menolakmu tanpa benar-benar memberimu kesempatan. Aku terlalu yakin dengan pilihanku sendiri sampai tidak pernah memikirkan perasaanmu.”
Titan terdiam sejenak, lalu melepaskan genggaman tangannya hanya untuk menggeser kursinya sedikit lebih dekat ke arah Mentari.
“Tatap aku,” ucapnya sambil meraih dagu Mentari hingga tatapan mata mereka berdua bertemu.
“Aku tidak ingin kamu meminta maaf untuk sesuatu yang sudah berlalu.” Titan menatapnya dengan tenang. “Dulu, kamu punya hak untuk menentukan siapa yang ingin kamu pilih. Aku tidak pernah menyalahkanmu karena itu. Lagi pula, kalau aku memang menginginkanmu hanya karena ingin memenangkan persaingan dengan pria lain, mungkin sejak dulu aku sudah menyerah.”
“Lalu kenapa kamu masih bertahan?” tanya Mentari pelan.
“Karena aku tidak sedang berlomba. Perasaanku kepadamu tulus dan tidak akan pernah berubah.” Titan tersenyum tipis. “Aku tidak ingin kamu memilihku hanya karena kamu kecewa kepada Bara. Aku ingin kamu mengenalku kembali, memberi kita kesempatan untuk memulai hubungan ini dengan baik. Kita tidak perlu terburu-buru.”
Mentari mengangguk. Hatinya merasa lega mendengar kata-kata Titan. Setidaknya, bersama Titan, ia tidak perlu berpura-pura menjadi perempuan yang selalu kuat atau merasa harus melakukan sesuatu demi mendapatkan perhatian pria itu.
“Aku akan berusaha,” jawabnya.
“Itu saja sudah cukup bagiku.”
Titan kembali menggenggam tangannya. Kali ini, Mentari tidak merasa canggung. Ia bahkan membalas genggaman tersebut, membuat senyum pria itu kembali mengembang.
Setelah beberapa saat, Titan melirik cangkir teh di hadapan Mentari sebelum kembali menatapnya.
“Sekarang, apa rencanamu selanjutnya?”
Mentari mengangkat alis. “Maksudmu?”
“Setelah semua yang terjadi dengan Bara.” Titan berhenti sejenak, memberi kesempatan kepada Mentari untuk memahami maksud pertanyaannya. “Kau tentu tidak berniat membiarkan semuanya berlalu begitu saja, bukan?”
Mentari terdiam. Nama Bara masih menyisakan banyak hal di dalam hatinya. Bukan lagi perasaan cinta seperti dulu, melainkan kekecewaan, kemarahan, dan penyesalan karena telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk seseorang yang ternyata tidak pernah benar-benar menghargainya.
Ia tidak ingin terus memikirkan pria itu. Namun, ada beberapa hal yang memang belum selesai, terutama menyangkut perusahaan yang selama ini ia bantu dengan uang dan tenaga miliknya sendiri.
“Tentu saja aku ingin mengambil kembali apa yang memang menjadi hakku. Aku akan mengembalikan pria itu ke tempatnya semula.”
Titan mengangguk, seolah sudah menduga jawaban itu. “Kalau begitu, lakukan apa yang menurutmu perlu dilakukan. Aku akan mendukungmu.”
Mentari menatapnya. “Apa pun yang kulakukan?”
“Ya, apa pun itu, selama kau sudah memikirkannya dengan matang.”
“Kamu tidak akan memandangku buruk karena aku menyimpan dendam?”
Titan tersenyum tipis. “Itu hakmu. Aku hanya berharap kau tidak mengambil keputusan yang justru merugikan dirimu sendiri karena terlalu memikirkan bagaimana cara membalasnya.”
Mentari menghela napas. “Aku tidak tahu apakah aku ingin membalasnya atau hanya ingin dia merasakan akibat dari perbuatannya sendiri. Yang jelas, pria itu harus mengembalikan semua yang pernah dia ambil dariku.”
“Dan aku akan berdiri di sampingmu.” Jawaban Titan terdengar begitu mantap hingga Mentari kembali terdiam.
Pria itu kemudian menyandarkan punggungnya, tetapi tatapannya tetap tertuju kepada Mentari. “Kalau kau mau, aku bahkan bisa membuat perusahaan Bara kehilangan pijakannya mulai hari ini. Aku punya cukup banyak koneksi dan sumber daya untuk membuatnya kesulitan mempertahankan bisnisnya.”
Mentari membelalakkan mata. “Kamu serius?”
“Sangat serius.”
“Titan, aku sangat berterima kasih atas kesungguhanmu. Tetapi ini adalah urusanku dengan Bara. Aku tidak ingin merepotkanmu, lagi pula aku bisa melakukannya sendiri.”
“Aku tahu kamu pasti bisa.” Titan tersenyum kecil. “Pria itu benar-benar buta, membuang berlian sepertimu dan menggantikannya dengan pecahan kaca. Mungkin dia pikir dia itu begitu hebat hingga bisa mendirikan perusahaan sendiri. Aku jadi ingin tahu apa yang akan terjadi padanya setelah kamu benar-benar menarik semuanya.”
Mentari merasa hatinya berdesir mendengar setiap kata dari Titan. Dulu, ketika bersama Bara, ia selalu berusaha menjadi orang yang paling bisa diandalkan. Ia mengurus banyak hal, menutupi kekurangan pria itu, bahkan mengorbankan kepentingannya sendiri demi memastikan Bara tidak mengalami kesulitan. Tetapi ia sama sekali tidak pernah mendengar pujian dari pria itu.
“Terima kasih,” ucapnya tulus. “Tapi aku ingin menyelesaikan urusanku sendiri terlebih dahulu.”
“Aku mengerti.” Titan tidak membantah. “Kalau begitu, kita lakukan sesuai keinginanmu. Aku tidak akan ikut campur sebelum kau memintanya.”
Mentari tersenyum lega. “Itu yang kuinginkan.”
“Baiklah. Sekarang, bolehkah aku mengajukan satu permintaan?”
Mentari menatapnya curiga. “Apa lagi?”
“Karena hari ini adalah hari pertama hubungan kita dimulai, aku ingin mengajakmu makan malam lagi. Kali ini, bukan untuk membicarakan bisnis atau perjodohan keluarga.”
Mentari tertawa kecil. “Bukankah kita baru saja makan?”
“Itu makan siang. Makan malam berbeda.”
“Kamu selalu punya alasan, ya?”
“Tentu saja. Aku sudah menunggu lama. Masa aku harus membuang waktu lebih lama lagi hanya untuk mengajakmu berkencan?”
Mentari menggeleng sambil tersenyum. Entah mengapa, mendengar Titan berbicara seperti itu membuat suasana hatinya terasa jauh lebih ringan.
“Baiklah. Aku akan mempertimbangkannya.”
“Mempertimbangkan?” Titan pura-pura terkejut. “Bukankah tadi kau sudah setuju menjalin hubungan denganku?”
“Setuju menjalin hubungan bukan berarti aku harus menuruti semua keinginanmu.”
“Benar juga.” Titan tertawa. “Kalau begitu, aku harus berusaha membuatmu mau.”
Mentari hanya menggeleng melihat tingkahnya.
Di luar restoran, matahari mulai bergerak turun, memantulkan cahaya keemasan pada gedung-gedung di seberang jalan. Pertemuan yang awalnya terasa canggung itu kini justru meninggalkan perasaan yang berbeda di hati Mentari.
Mentari belum tahu bagaimana hubungan mereka akan berjalan ke depannya. Namun, satu hal mulai diyakininya. Kali ini, ia ingin menjalani hidupnya untuk dirinya sendiri.
Sementara itu, Titan yang masih duduk di hadapannya, diam-diam menyimpan kebahagiaan yang sulit dijelaskan. Ia tidak tahu berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan untuk membuat Mentari benar-benar membuka hatinya, tetapi ia tidak keberatan.
Selama perempuan itu bersedia memberinya kesempatan, Titan akan menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Dan jika suatu hari Mentari membutuhkan seseorang untuk berdiri di sisinya ketika dunia terasa tidak bersahabat, ia ingin menjadi orang pertama yang dicari perempuan itu.
Mak boleh yx getok dikit anak ny ,, 🤭
SIM ny blum ad Bu ,, 🤭🤭🤣🤣