NovelToon NovelToon
Nasib Derita Istri Kuli Bangunan

Nasib Derita Istri Kuli Bangunan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: SulSya

Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Nasib Derita Istri Kuli bangunan

Aroma minyak tanah dan asap kayu bakar membubung kusam dari dapur rumah panggung beratap seng itu.

Anisa sedang berjongkok di depan tungku, meniup bara api menggunakan bambu kecil hingga matanya perih dan berair.

Hari baru saja berganti fajar, namun hawa dingin pegunungan kalah dingin dibanding tatapan tajam wanita tua yang berdiri di ambang pintu dapur.

Ibu Asnah, ibu mertua Anisa yang baru datang dari desa menuju ke dapur dengan bersedekap dada sambil memperhatikannya dengan pandangan menghina.

"Masak nasi saja jam segini belum matang, Nisa! Kamu itu berniat mengurus suami atau cuma mau makan tidur di rumah ini?" suara Ibu Asnah menyengat, memecah kesunyian pagi.

Anisa menyapu air mata yang menetes di pipinya akibat asap dapur, lalu mengusap keringat di dahinya dengan ujung jilbab kusam. Ia menengadah pelan.

"Maaf, Bu. Kayunya agak lembap karena hujan semalam. Ini sebentar lagi nasinya matang, kok. Lauknya juga sedang Nisa siapkan," tutur Anisa dengan suara lembut dan sopan, berusaha menjaga nadanya agar tetap tenang.

Ibu Asnah melangkah mendekat, melipat tangannya lebih ketat di dada. "Alasan melulu! Anakku, Burhan, itu kerja banting tulang dari pagi sampai malam cuma jadi buruh kasar di pabrik jadi kuli bangunan! Tenaganya diperas, hasilnya tak seberapa, tapi harus menanggung beban mulut ekstra seperti kamu!"

Anisa menundukkan kepala. Dada rasanya sesak, seolah terhimpit batu besar. "Nisa selalu berusaha hemat, Bu. Nisa tidak pernah minta yang aneh-aneh pada Kang Burhan."

"Tapi kehadiranmu itu sendiri sudah beban!" potong Ibu Asnah cepat, suaranya makin meninggi. "Kalau Burhan menikah dengan anak Pak RT seperti yang kurencanakan dulu, hidupnya tak akan melarat begini! Minimal dia dapat bantuan modal usaha, bukan dapat istri yang cuma bisa menghabiskan beras!"

Sebelum Anisa sempat menjawab, Burhan melangkah masuk ke dapur dengan pakaian kerjanya yang lusuh dan bau peluh yang khas. Wajahnya tampak lesu, matanya sembab karena kurang tidur.

"Ada apa ini pagi-pagi sudah ribut, Bu?" tanya Burhan seraya memandangi ibu dan istrinya bergantian.

"Ini, istri kesayanganmu!" tunjuk Ibu Asnah pada Anisa. "Jam segini sarapan belum siap! Kamu itu kerja berat pakai fisik, Burhan. Kalau tidak makan benar, bisa pingsan kamu di tempat kerja. Tapi Istrimu ini sepertinya tidak peduli!"

Burhan memandang Anisa. Ada rasa bersalah dan kelelahan yang terpancar mendalam dari manik matanya.

" sudah lah Bu pagi gak usah ribut gak enak di dengar tetangga" ucap Burhan kepada ibunya dengan nada membela istrinya

"Maafkan Nisa, Kang. Kayu bakarnya basah, jadi apinya sulit menyala," ucap Anisa seraya bangkit berdiri, menyajikan segelas teh hangat yang baru saja diseduhnya ke atas meja kayu. "Ini teh hangatnya diminum dulu, Kang."

Ibu Asnah mendengus keras. "Teh manis encer! Itu saja yang bisa kamu hidangkan! Anakku butuh energi, bukan air gula!"

"Sudahlah, Bu. Jangan dimarahi terus Nisa-nya," bela Burhan pelan seraya meraih gelas teh tersebut. "Nisa sudah berusaha semaksimal mungkin."

"Kamu itu terlalu membela dia, Burhan! Makanya dia tuman!" bentak Ibu Asnah sebelum akhirnya berbalik pergi meninggalkan dapur dengan langkah menghentak.

Anisa menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan Nisa ya, Kang. Karena Nisa, Ibu jadi marah-marah terus sama Akang."

Burhan memegang jemari Anisa yang kasar akibat terus-menerus terpapar air dan sabun cuci. Ia mengusapnya perlahan. "Bukan salahmu, Nisa. Jangan dimasukkan ke hati ucapan Ibu. Aku yang minta maaf karena belum bisa memberimu kehidupan yang layak."

Anisa menggeleng cepat, tersenyum tulus meski matanya berkaca-kaca. "Jangan bicara begitu, Kang. Bisa mendampingi Akang saja sudah cukup bagi Nisa. Nisa janji akan terus setia sama Akang, susah maupun senang."

1
DISTYA ANGGRA MELANI
Lho kmrin di bab yg seblm nya burhan kan gak koma kok di bab lnjt tan jdi gak sadar... Bukn nya uang berobat di tanggung perusahaan??? Mohon maaf ya kak klo komnt nya gk sopan
SulSya: Burhan saat musibah di proyek pingsan bukan koma saat dibawah ke RSUD dan sampai di RSUD sadar . biaya dari pt pemenang tender dapat konpen sasi dan dari PT sub con dapat konpen sasi juga , dari mandor ke dua PT membawa uang tunjangan juga , walaw dapat uang tunjangan belum tentu setelah selesai masa rawat nya Burhan dapat sehat dan bisa bekerja sedia kala apakah semua uang konpen sasi cukup untuk kelanjutan hidup nya kedepan , tunggu dan lanjutkan aja cerita novel nya , 🙏 terima kasih ya atas kritik dan saran nya
total 1 replies
SulSya
novel suamiku ma bantu dia like komen biar semangat
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: semoga lancar sukses. semangat 💪🏼💪🏼💪🏼
total 1 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
Less... ini kamu apa bukan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!