Nasib istri kuli bangunan :menceritakan tentang bahwa hidup yang penuh perjuangan seorang laki- laki yang bertanggung jawab dan istri yang punya kesabaran. dan keteguhan yang hebat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Nasib Derita Istri Kuli bangunan
Aroma minyak tanah dan asap kayu bakar membubung kusam dari dapur rumah panggung beratap seng itu.
Anisa sedang berjongkok di depan tungku, meniup bara api menggunakan bambu kecil hingga matanya perih dan berair.
Hari baru saja berganti fajar, namun hawa dingin pegunungan kalah dingin dibanding tatapan tajam wanita tua yang berdiri di ambang pintu dapur.
Ibu Asnah, ibu mertua Anisa yang baru datang dari desa menuju ke dapur dengan bersedekap dada sambil memperhatikannya dengan pandangan menghina.
"Masak nasi saja jam segini belum matang, Nisa! Kamu itu berniat mengurus suami atau cuma mau makan tidur di rumah ini?" suara Ibu Asnah menyengat, memecah kesunyian pagi.
Anisa menyapu air mata yang menetes di pipinya akibat asap dapur, lalu mengusap keringat di dahinya dengan ujung jilbab kusam. Ia menengadah pelan.
"Maaf, Bu. Kayunya agak lembap karena hujan semalam. Ini sebentar lagi nasinya matang, kok. Lauknya juga sedang Nisa siapkan," tutur Anisa dengan suara lembut dan sopan, berusaha menjaga nadanya agar tetap tenang.
Ibu Asnah melangkah mendekat, melipat tangannya lebih ketat di dada. "Alasan melulu! Anakku, Burhan, itu kerja banting tulang dari pagi sampai malam cuma jadi buruh kasar di pabrik jadi kuli bangunan! Tenaganya diperas, hasilnya tak seberapa, tapi harus menanggung beban mulut ekstra seperti kamu!"
Anisa menundukkan kepala. Dada rasanya sesak, seolah terhimpit batu besar. "Nisa selalu berusaha hemat, Bu. Nisa tidak pernah minta yang aneh-aneh pada Kang Burhan."
"Tapi kehadiranmu itu sendiri sudah beban!" potong Ibu Asnah cepat, suaranya makin meninggi. "Kalau Burhan menikah dengan anak Pak RT seperti yang kurencanakan dulu, hidupnya tak akan melarat begini! Minimal dia dapat bantuan modal usaha, bukan dapat istri yang cuma bisa menghabiskan beras!"
Sebelum Anisa sempat menjawab, Burhan melangkah masuk ke dapur dengan pakaian kerjanya yang lusuh dan bau peluh yang khas. Wajahnya tampak lesu, matanya sembab karena kurang tidur.
"Ada apa ini pagi-pagi sudah ribut, Bu?" tanya Burhan seraya memandangi ibu dan istrinya bergantian.
"Ini, istri kesayanganmu!" tunjuk Ibu Asnah pada Anisa. "Jam segini sarapan belum siap! Kamu itu kerja berat pakai fisik, Burhan. Kalau tidak makan benar, bisa pingsan kamu di tempat kerja. Tapi Istrimu ini sepertinya tidak peduli!"
Burhan memandang Anisa. Ada rasa bersalah dan kelelahan yang terpancar mendalam dari manik matanya.
" sudah lah Bu pagi gak usah ribut gak enak di dengar tetangga" ucap Burhan kepada ibunya dengan nada membela istrinya
"Maafkan Nisa, Kang. Kayu bakarnya basah, jadi apinya sulit menyala," ucap Anisa seraya bangkit berdiri, menyajikan segelas teh hangat yang baru saja diseduhnya ke atas meja kayu. "Ini teh hangatnya diminum dulu, Kang."
Ibu Asnah mendengus keras. "Teh manis encer! Itu saja yang bisa kamu hidangkan! Anakku butuh energi, bukan air gula!"
"Sudahlah, Bu. Jangan dimarahi terus Nisa-nya," bela Burhan pelan seraya meraih gelas teh tersebut. "Nisa sudah berusaha semaksimal mungkin."
"Kamu itu terlalu membela dia, Burhan! Makanya dia tuman!" bentak Ibu Asnah sebelum akhirnya berbalik pergi meninggalkan dapur dengan langkah menghentak.
Anisa menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan Nisa ya, Kang. Karena Nisa, Ibu jadi marah-marah terus sama Akang."
Burhan memegang jemari Anisa yang kasar akibat terus-menerus terpapar air dan sabun cuci. Ia mengusapnya perlahan. "Bukan salahmu, Nisa. Jangan dimasukkan ke hati ucapan Ibu. Aku yang minta maaf karena belum bisa memberimu kehidupan yang layak."
Anisa menggeleng cepat, tersenyum tulus meski matanya berkaca-kaca. "Jangan bicara begitu, Kang. Bisa mendampingi Akang saja sudah cukup bagi Nisa. Nisa janji akan terus setia sama Akang, susah maupun senang."