✨ Sinopsis
Aluna adalah gadis cantik dan agak nakal yang tumbuh dalam kemewahan, namun yang paling berharga baginya bukan harta, melainkan dua sahabat yang selalu ada di sisinya sejak kecil: Orion — tampan, tenang, bijaksana, & pintar; serta Rexy — ganteng, tegas, sedikit tengil, namun berhati emas & menjadi pelindung setia keduanya. Ketiganya anak dari keluarga terpandang, tumbuh bersama, berjanji tak akan pernah terpisahkan.
Namun seiring berjalannya waktu, rasa persahabatan itu perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam. Baik Orion maupun Rexy sama-sama menyayangi Aluna lebih dari sekadar sahabat. Ketika hati Aluna akhirnya harus membuat pilihan sulit, ia menyadari bahwa memilih satu berarti menyakiti yang lain.
Di antara cinta & persahabatan, di antara kebersamaan & pengorbanan, ketiganya belajar: cinta sejati tidak harus memiliki, & persahabatan tulus adalah harta yang abadi selamanya. Sebuah kisah hangat tentang perjalanan hati, keikhlasan, & kebersamaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Milik Kita Bertiga
📖 Bab 2
Baru saja Aluna selesai merapikan rambutnya di depan cermin, terdengar suara klakson dari depan gerbang rumah. Bukan bunyi yang berisik banget, cuma dua kali pendek — kode yang sudah mereka pakai sejak SD. Aluna langsung senyum lebar, buru-buru ambil tas kecil di meja rias dan melirik cermin sekali lagi. Kaos putih simpel, celana jeans, dan sepatu kets kesayangannya. Sederhana, tapi nyaman banget.
"Aku berangkat ya, Bu! Yah!" teriaknya sambil melesat keluar kamar.
"Hati-hati, Nak! Pulang sebelum maghrib!" balas bu Amira dari ruang tengah.
"Iyaaa!"
Aluna berlari turun, langkahnya ringan banget sampai pelayan yang sedang lewat cuma geleng-geleng senyum melihat nona mudanya yang ceria itu. Begitu pintu utama terbuka, angin segar langsung menyambutnya, dan di sana, di depan gerbang yang sudah dibukakan satpam, terparkir mobil sedan hitam elegan. Jendela sebelah pengemudi terbuka, dan wajah tampan Orion muncul dengan senyum tenangnya yang khas. Di kursi penumpang depan, Rexy melambaikan tangan sambil menyeringai — tatapannya tajam tapi matanya bercahaya senang begitu melihat Aluna keluar.
Aluna langsung berlari kecil menuju mobil itu.
"Hai kalian!" serunya begitu masuk dan menutup pintu.
"Kamu lama banget, dikira udah pindah ke luar negeri nih kita nunggunya," kata Rexy sambil menoleh, nada bicaranya terdengar menyindir tapi matanya tak berbohong — dia senang banget Aluna datang.
Aluna mendengus, menaruh tas di pangkuannya. "Ih, mana lama! Aku tadi harus nunggu Ayah selesai ceramah dulu tahu nggak. Hampir aja aku dilarang keluar lagi gara-gara masalah bolos kemarin."
Orion menyalakan pelan-pelan mobilnya, suaranya tetap lembut dan tenang. "Kamu nggak apa-apa kan? Ayah kamu marah banget kemarin?"
"Cuma ngomel panjang lebar, biasa aja. Tapi Ibu yang bikin dia luluh. Untung ada kalian, kalau nggak, mungkin aku sekarang masih terkurung di kamar dikunci dari luar," canda Aluna sambil menyandarkan kepala ke sandaran kursi, merasa nyaman banget di antara dua orang yang paling dia percaya di dunia ini.
Rexy menoleh lebih jauh, menatapnya serius sebentar. "Kalau sampai dia berani ngunci kamu, kabur aja. Langsung telepon aku, aku jemput. Mau jam berapa pun, mau hujan badai, aku datang."
Aluna tertawa, menepuk bahu Rexy pelan. "Gaya banget kamu. Tapi makasih ya. Tau kok kalian selalu ada."
Orion tersenyum kecil sambil menyetir. "Rexy itu emang selalu siap siaga kayak satpam pribadi kamu, Lun. Tapi dia bener, kalau kamu butuh apa pun, bilang aja. Nggak perlu sungkan sama kita."
"Terus kamu gimana, Orion? Kemarin ujian Fisika susah nggak? Aku dengar kamu yang paling duluan keluar ruangan," tanya Aluna, mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih ringan.
" lumayanlah. Nggak terlalu susah, cuma butuh ketelitian aja. Nanti kalau kamu butuh bantuan, aku bantu belajar, oke? Biar Ayah kamu nggak makin khawatir soal nilai kamu," jawab Orion dengan nada yang menenangkan, sama sekali nggak menggurui.
"Iya deh, nanti aku minta ajarin kamu. Rexy juga ikut ya, biar nggak cuma aku yang disiksa rumus-rumus itu."
Rexy mendengus sok tidak peduli. "Aku sih nggak masalah. Asal kamu janji nggak ngeluh terus-terusan pas belajar. Kamu itu paling gampang bosan tahu."
"Hei, aku nggak seburuk itu!" protes Aluna sambil mencubit lengan Rexy pelan. Rexy tertawa, tangannya yang besar menutup punggung tangan Aluna sebentar — seolah ingin bilang tenang aja, aku bercanda kok.
Perjalanan ke perpustakaan kota terasa begitu singkat meski jaraknya lumayan jauh. Mereka ngobrolin apa saja — teman sekelas yang kelakuannya aneh, guru yang ngajarnya membosankan, rencana liburan keluarga masing-masing, sampai hal-hal receh yang sebenarnya nggak penting tapi jadi seru kalau dibarengi mereka berdua. Di dalam mobil itu, rasanya seolah dunia luar lenyap. Hanya ada mereka bertiga, dan segalanya terasa pas.
Sesampainya di sana, mereka masuk bersama-sama. Perpustakaan itu sepi, beraroma kertas tua dan ruangan ber-AC yang sejuk. Mereka duduk di sudut favorit — meja kayu besar dekat jendela yang menghadap ke taman kecil di luar.
Aluna langsung ambil buku cerita, Orion buka buku tebal tentang sains, sementara Rexy cuma duduk bersandar sambil melipat tangan di dada, matanya sesekali melirik ke arah Aluna seolah memastikan gadis itu baik-baik saja.
"Kamu nggak mau baca apa-apa, Rexy?" tanya Aluna berbisik setelah sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang nyaman.
"Nggak perlu. Lihat kalian baca aja udah cukup," jawab Rexy pelan, lalu tersenyum miring saat Aluna menatapnya tak percaya. "Bercanda. Aku cuma nungguin kalian, sekalian jaga biar nggak ada yang ganggu kamu di sini."
Aluna menggeleng sambil tersenyum. "Kamu ini, kadang serius banget, kadang nggak jelas."
Orion tanpa mengangkat wajah dari bukunya ikut berkomentar pelan, "Itu memang cara Rexy menunjukkan pedulinya. Dia nggak pandai pakai kata-kata manis, tapi tindakannya selalu bicara lebih keras."
Rexy melirik Orion tajam tapi tanpa amarah. "Kamu itu kayak buku pelajaran hidup banget ngomongnya, Ri. Coba dikit santai, jangan terlalu bijaksana terus."
"Kalau aku santai terus, siapa yang bakal nasihatin kamu kalau mulai berulah di sekolah?" balas Orion tenang, membuat Rexy mendengus tapi ujung bibirnya tersenyum tipis.
Aluna menatap mereka berdua bergantian. Rasanya aneh tapi menenangkan — dua kepribadian yang begitu berbeda, namun saling melengkapi dengan sempurna, dan keduanya begitu menyayanginya. Seolah-olah dia adalah pusat dunia kecil mereka bertiga.
"Eh, ngomong-ngomong," Aluna meletakkan bukunya di meja, menatap mereka berdua dengan serius, "Kalian ingat nggak waktu kita masih TK? Kita janji di bawah pohon mangga besar di halaman rumahku?"
Rexy menegakkan punggung sedikit, tatapannya melembut. "Ingat banget. Kita janji nggak akan pernah berpisah, apa pun yang terjadi."
"Iya. Kamu yang pegang tangan aku, Rexy, dan kamu yang bilang, 'Aku bakal lindungin Aluna sampai aku jadi orang dewasa yang kuat'. Lalu Orion tambahin, 'Dan aku akan selalu temani Aluna supaya dia nggak pernah merasa sendirian'," kenang Aluna, suaranya pelan tapi penuh perasaan.
"Dan kita masih pegang janji itu sampai sekarang, kan?" tanya Orion lembut, matanya menatap lurus ke mata Aluna.
"Tentu saja. Siapa pun yang berani pisahkan kita, harus hadapi aku duluan," ucap Rexy tegas, ada keyakinan yang begitu kuat di suaranya.
Aluna tersenyum hangat, meraih tangan kiri Rexy dan tangan kanan Orion di atas meja. "Terima kasih ya. Kalian tahu kan, kadang di rumah rasanya sesak banget. Ayah selalu tuntut ini-itu, seolah aku harus jadi sempurna. Tapi di depan kalian, aku nggak perlu jadi siapa-siapa. Cukup jadi Aluna yang kadang nakal, kadang manja, kadang cengeng. Dan kalian tetap menerima aku apa adanya."
Rexy mengepal pelan tangan Aluna di genggamannya. "Kamu itu nggak perlu jadi sempurna buat kami, Lun. Kamu cuma perlu jadi kamu. Kalau ada yang nggak suka sama kamu, urusan mereka, bukan urusan kamu. Dan kalau ada yang berani bikin kamu sedih, bilang aja. Aku yang urus."
"Rexy bener," tambah Orion lembut, "Nilai, status, harta… itu semua bisa didapatkan lagi. Tapi teman sejati yang tumbuh bersama dari kecil, itu nggak bisa diganti dengan apa pun. Kalian adalah bagian terpenting dalam hidupku, dan aku nggak mau kehilangan kalian berdua untuk apa pun di dunia ini."
Mereka bertiga diam sejenak, merasakan kehangatan yang mengalir di antara mereka. Di ruangan perpustakaan yang tenang itu, di atas meja kayu sederhana, ada tiga hati yang saling terhubung — murni, tulus, dan kuat. Dunia luar mungkin keras dan penuh ekspektasi, tapi di sini, di lingkaran kecil mereka, ada kebebasan untuk menjadi diri sendiri.
"Sekarang cukup sedih-sedihnya ya, ayo lanjut baca atau kita cari camilan dulu?" ajak Aluna akhirnya sambil melepaskan genggaman mereka dengan senyum cerah.
"Kamu mau apa, kami ikut," kata Orion serentak dengan Rexy yang juga mengangguk setuju.
"Kalau gitu… ayo cari es krim dulu! Aku butuh yang manis-manis hari ini!"
Mereka tertawa pelan, membereskan buku-buku, lalu berjalan keluar perpustakaan berdampingan — Aluna di tengah, Orion di sebelah kanannya, Rexy di sebelah kirinya. Langkah mereka selaras, seolah memang ditakdirkan untuk berjalan bersama menuju masa depan yang belum terlihat, tapi satu hal yang pasti: apa pun yang akan datang, mereka akan menghadapinya bersama. Karena bagi mereka bertiga, dunia bukanlah tempat yang luas dan menakutkan. Dunia itu cukup — selama mereka masih memilikinya bertiga