Dulu Queen cuma anak manja yang hidupnya aman di bawah sayap orangtuanya. Sampai malam itu, kedua orangtuanya dibunuh berdarah dingin oleh rival keluarga, Don King. Queen selamat, tapi dunianya hancur. 15 tahun kemudian dia kembali, bukan sebagai korban. Dengan taktik licik, pasukan setia, dan dendam yang membara, Queen merebut satu demi satu apa yang menjadi haknya dari musuhnya sampai seluruh dunia bawah berlutut di kakinya. Tapi dendam yang dia jalankan harus dia korban juga dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina1708, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aksi Queen
Happy Reading
❤❤❤❤❤❤❤
Pesta amal Tuan Ricardo di Hotel Grand Metro sangat mewah. Semua mafia besar hadir malam itu. Lampu kristal, anggur mahal, dan musik klasik. Tapi di balik senyum para tamu, semua orang saling waspada.
Queen datang dengan identitas biasa, Queen Allexa, keponakan dari tuan Herman, pengelola bisnis dari keluarga Allesandro. Gaun merah panjang, rambut di gelung, pistol kecil tersembunyi di garter paha nya.
Tugas nya malam ini cuma satu, masuk ke ruangan kerja tuan Ricardo dan mengambil harddisk berisi data jalur pelabuhan.
Dia berjalan melewati kerumunan dengan elegan. Tidak ada yang curiga. Sampai...
"Boleh aku ambilkan minuman untuk Nona muda Allesandro?" Tanya seseorang.
Suara itu. Suara yang sudah 5 tahun tidak dia dengar.Queen menoleh perlahan. Lucas Ricardo berdiri di depan nya.
Setelan jas hitam, rambut hitam rapi, senyum yang dulu selalu jadi pelindung nya waktu kecil. Sekarang senyum itu tajam, berbahaya, dan jauh lebih dewasa. Jantung Queen berdetak kencang. Tapi wajah nya tetap dingin.
" Tuan Muda Ricardo," kata Queen pelan. "Terakhir kita ketemu, aku masih pakai seragam SMP dan kau selalu membela ku dari kakak kelas yang selalu menindas ku." Lanjut Queen.
Lucas menyipitkan mata. Dia menatap Queen dari atas sampai bawah. "Matamu... mirip sekali dengan seseorang yang ku kenal," kata Lucas. "Tapi mustahil. Orang itu seharus nya sudah mati terbakar 5 tahun lalu di villa milik nya. " Lanjut Lucas yang memang tidak tahu keberadaan Queen sebenarnya karena tuan Herman menutupi semua nya agar semua aset keluarga Allesandro dia kuasai.
Queen tersenyum. Senyum palsu yang sempurna. " Kau salah orang, Tuan muda Lucas. Aku keponakan dari tuan Herman yang berasal dari kampung. Tidak kenal siapa pun yang mati," jawab Queen sambil mengambil gelas anggur dari tangan Lucas.
Jari mereka bersentuhan sesaat. Sentuhan itu membuat Lucas merinding.
' Ada yang aneh dari wanita ini, ' pikir Lucas.
Tepat saat itu, tuan Ricardo, ayah Lucas, keluar dari ruangan kerja dan memanggil Lucas lewat interkom.
"Lucas, ke ruanganku sekarang. Ada tamu penting." Titah nya.
Lucas mengangguk. Tapi sebelum pergi, dia berbisik ke telinga Queen."Jangan pergi dulu. Aku mau ngobrol lebih lama sama kau." Bisiknya.
Setelah Lucas pergi, Queen langsung bergerak cepat. Dia tahu ini kesempatan nya. Ruangan kerja Ricardo sedang kosong, pintu nya cuma di jaga satu bodyguard yang sedang ke toilet.
Queen masuk. Dia langsung mencari harddisk di meja kerja Ricardo. Di temukan nya. Harddisk hitam kecil di laci. Tapi saat dia berbalik untuk pergi...
"BRAK!"
Pintu di banting. Lucas berdiri di depan pintu, dengan pistol mengarah langsung ke kepala Queen.
"Wanita dari desa tidak akan tahu di mana laci rahasia ayah ku," kata Lucas dingin. "Siapa kau sebenarnya?" Tanya Lucas.
Queen terkejut. Dia tidak menyangka Lucas kembali secepat itu. Detik itu juga, Queen langsung menarik pistol dari garter nya dan mengarahkan nya ke kepala Lucas.
"Dan kau, Lucas Ricardo, putra tuan Ricardo, pembunuh keluarga Alessandro," kata Queen dengan suara bergetar menahan emosi. "Kau pikir aku akan takut sama pistol mu?" Lanjut Queen.
Mereka saling menodong. Jarak hanya 1 meter. Mata bertemu mata. Hening. Hanya suara musik klasik dari luar ruangan.
Lucas menatap wajah Queen lebih dekat. Air mata mulai berkaca di mata Queen, tapi dia menahan nya.
"Queen?" bisik Lucas tidak percaya.
Queen menggigit bibir nya. Identitas asli nya hampir terbongkar. Lucas menurunkan pistol nya perlahan.
"Aku... Aku tidak akan tembak kau," kata Lucas.
Queen terkejut. "Kenapa? Bukan nya kau seharus nya bunuh aku untuk ayah mu?" Tanya Queen heran.
Lucas melangkah mendekat. Pistol nya sudah masuk ke saku. "Karena sejak kecil, aku berjanji akan melindungi kau, Queen. Bukan membunuh kau. Apalagi sekarang aku tahu siapa yang sebenarnya membunuh orang tua mu." Jawab Lucas.
Queen mengerutkan kening. "Maksud mu?" Tanya Queen.
Lucas menatap pintu, memastikan tidak ada yang menguping. "Bukan aku. Dan bukan sepenuh nya ayah ku. Ada orang ketiga malam itu. Elena. Elena yang kasih info jalur lorong rahasia ke ayah ku. Tanpa Elena, ayah ku tidak akan bisa masuk ke vila," kata Lucas cepat.
Dada Queen sesak. Jadi dugaan nya benar. Elena memang pengkhianat, usia gadis itu sama seperti nya masih tujuh tahun tapi dia tega berkhianat. Tapi sebelum Queen bisa menjawab, alarm tiba-tiba berbunyi keras.
"PERINGATAN! PENYUSUP DI RUANGAN TUAN RICARDO!"
Marco di luar sudah ketahuan. Rencana Queen gagal. Lucas langsung menarik tangan Queen.
"Kau harus pergi sekarang lewat jendela belakang! Kalau ketahuan ayah ku, kau mati!" bisik Lucas cepat sambil membuka jendela.
Queen ragu. "Kenapa kau bantu aku? Aku anak dari musuh ayah mu!" Tanya Queen.
Lucas menatap nya dalam. "Karena aku masih Lucas yang sama. Yang dulu berjanji tidak akan biarkan kau menangis." Jawab Lucas.
Queen melompat keluar jendela ke balkon. Sebelum pergi, dia menoleh. "Lucas... kita sekarang berada di sisi yang berbeda. Lain kali kita ketemu, aku tidak akan ragu menembak mu," kata Queen dingin.
Lucas tersenyum getir. "Dan aku akan tetap tidak menembak mu, Queen." Jawab Lucas. Queen pergi menghilang di kegelapan malam.
Di dalam ruangan, tuan Ricardo masuk dan melihat Lucas berdiri sendirian dengan pistol di tangan.
"Lucas! Kau lihat penyusup nya?" tanya tuan Ricardo.
Lucas menatap ayah nya. Untuk pertama kali nya dalam hidup nya, Lucas berbohong kepada ayah nya.
"Tidak, Papa. Tidak ada siapa-siapa di sini." Jawab Lucas.
******
Klub malam "Velvet" di pusat kota adalah markas baru Elena.
Setelah beberapa tahun menghilang, Elena kini jadi wanita simpanan tuan Ricardo. Gaun nya mahal, perhiasan nya penuh, tapi mata nya kosong. Semua orang tahu, Elena bukan cinta tuan Ricardo. Elena cuma alat untuk tuan Ricardo sejak dulu.
Queen sudah mengawasi Elena selama 3 malam dari mobil hitam di seberang klub.
"Nona, jangan gegabah. Elena sekarang selalu di kawal 2 orang tuan Ricardo," bisik Marco lewat telepon.
Queen tidak menjawab. Tangan nya memegang foto lama, dia dan Elena kecil, pakai gaun pink, tersenyum di depan vila Allesandro.
"Dulu dia sahabat kecil ku. Sekarang dia yang kasih jalan nya lorong rahasia ke tuan Ricardo. Dia yang bikin mommy dan Daddy mati," gumam Queen.
"Aku harus dengar langsung dari mulut nya. Kenapa dia lakukan itu? " Gumam Queen lagi.
Jam 2 pagi, Elena keluar dari klub sendirian, mabuk. Kedua pengawal nya tertinggal di dalam karena sedang ribut dengan bartender. Itu kesempatan Queen.
Queen keluar dari mobil, berjalan cepat, dan langsung menarik tangan Elena ke gang sempit di samping klub.
"ELENA!" Sentak Queen.
Elena terkejut, mata nya membesar saat melihat wajah itu.
" Kau??" Ucap Elena sedikit ragu.
" Ini aku Quee." Ujar Queen datar.
" Queen? Ya Tuhan, kau masih hidup? Aku kira kau mati di kebakaran itu!" teriak Elena panik.
Queen menempelkan pistol ke perut Elena. "Jangan main drama, Elena. Aku tahu semua nya. Dari Lucas. Kaulah yang kasih info lorong rahasia ke tuan Ricardo malam itu. Kau yang buka jalan buat mereka bunuh daddy dan mommy ku!!" Ucap Queen.
Elena gemetar. Make up nya luntur karena air mata. "Bukan... Bukan seperti itu, Queen! Dengarkan aku dulu!" kata Elena sambil menangis.
"Ricardo ancam aku! Dia bilang kalau aku tidak kasih info, dia akan bunuh ibu ku yang sakit! Ibu ku waktu itu dirawat di rumah sakit dan tuan Ricardo yang bayar semua biaya nya! Dia bilang, kalau aku tidak bantu, dia cabut biaya itu dan ibu ku mati!" Jelas Elena.
Queen terdiam. Tangannya yang memegang pistol mulai bergetar.
******
Happy Reading Guys. 🤗🥰