Clara Adelin Dewangga, seorang siswi SMA berusia 18 tahun yang ceria namun sering terlibat masalah, tidak pernah membayangkan bahwa kehidupan remajanya akan berubah drastis dalam semalam. Karena perjodohan keluarga yang terikat janji masa lalu, Clara terpaksa menikah muda di usianya yang masih duduk di bangku sekolah.
Pria yang dijodohkan dengannya adalah Arka Samudra, seorang dokter muda berparas tampan, cerdas, namun terkenal sangat dingin, kaku, dan penuh aturan. Di depan publik dan di rumah sakit, Arka adalah sosok dokter profesional yang disegani. Namun di rumah, ia menjadi sosok suami super protektif yang menyebalkan bagi Clara.
Kehidupan pernikahan rahasia mereka penuh dengan pertengkaran kecil yang menggelitik:
Clara sangat membenci Arka, karena dia menerima perjodohan tersebut, tanpa syarat.
Di balik sikap Arka yang dingin dan membuat kesal, perlahan terkuak perhatian-perhatian kecil yang membuat jantung Clara berdebar tak menentu. Hal itu yang membuat Clara tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Masa Lalu dan Utang Nyawa
Suasana malam di jalanan kota terasa lengang, memantulkan bias lampu-lampu jalan yang temaram di kaca jendela mobil. Nathan fokus mengemudikan Pajero hitam mewahnya, sementara di kursi penumpang depan, Seinara sang istri sesekali tersenyum kecil tanpa sadar. Bayangan wajah Clara, gadis muda yang baru saja mereka temui di rumah Hendra, terus berkelebat di kepalanya.
Nathan, yang sejak keluar dari rumah Hendra mengamati gerak-gerik istrinya lewat ekor mata, akhirnya tak kuasa menahan rasa penasarannya. Setir ia pegang dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bersandar santai di konsol tengah.
"Kamu ini kenapa sih, sayang? Mas perhatikan sejak kita keluar dari rumah Hendra tadi, kamu sering senyum-senyum sendiri. Ada apa, hm?" tanya Nathan lembut, namun menyiratkan rasa penasaran yang besar.
Seinara menoleh, tawanya kecil berderai pelan. "Nggak apa-apa kok, Mas. Hanya saja... melihat Clara tadi, aku jadi teringat waktu pertama kali kita dijodohkan dulu. Dulu aku juga bersikap sama persis seperti Clara menolak mentah-mentah permintaan Papa tanpa reserve."
Nathan terkekeh pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh nostalgia. "Oh iya, benar juga ya. Dulu kamu galaknya minta ampun, mati-matian nolak perjodohan kita. Terus, apa sekarang kamu menyesal sudah dijodohkan sama aku?" tanya Nathan dengan tatapan menggoda, sengaja ingin meledek sang istri.
Seinara mendengus pelan, meski matanya memancarkan kehangatan yang dalam. "Nggak. Baik dulu maupun sekarang, nggak ada sedikit pun penukaran atau penyesalan di hati aku. Cuma... nggak nyangka aja, sekarang aku malah jadi istri kesayangan seorang mafia bucin," balas Seinara dengan nada meledek yang manis.
Nathan spontan menoleh sesaat ke arah istrinya, keningnya mengernyit pura-pura protes. "Apa kamu bilang tadi? Mafia bucin? Eh, dengar ya, Nyonya Nathan... Mas ini bucin cuma sama kamu doang, tahu!"
Seinara tergelak, tawanya mencairkan ketegangan yang sempat tersisa dari obrolan mereka sebelumnya. Ia lantas menggeser duduknya sedikit, lalu meriah tangan kanan Nathan yang berada di konsol tengah, menggenggamnya erat-erat. Jari-jemari mereka saling bertaut.
"Iya, Mas... aku tahu kok. Dan aku percaya seratus persen sama kamu," ucap Seinara tulus, suaranya melembut. Ia menatap lurus ke depan, sebelum rasa penasaran lain yang lebih besar kembali mengusik benaknya. "Oh ya, Mas... Ngomong-ngomong soal perjodohan itu, sebenarnya apa sih alasan utama kamu bersikeras ingin menjodohkan Arka sama Clara? Rasanya terlalu tiba-tiba."
Wajah Nathan yang tadinya santai dan penuh canda perlahan berubah. Sorot matanya menajam, menatap jalanan di depan dengan tatapan menerawang. Genggaman tangannya di jemari Seinara mengerat.
"Itu semua karena Mas punya utang budi bahkan utang nyawa sama Hendra, Sayang," jawab Nathan dengan suara yang mendadak serius dan berat.
Seinara tertegun. Ia langsung menegakkan duduknya, menatap lekat-lekat profil sang suami. "Utang budi dan nyawa sama Hendra? Sejak kapan, Mas? Kenapa selama ini kamu nggak pernah cerita soal hal sebesar itu ke aku?" tanyanya beruntun, didorong oleh rasa cemas sekaligus penasaran yang membuncah.
Nathan menghela napas panjang. Udara di dalam kabin mobil mendadak terasa lebih berat.
"Huft..." Nathan mendesah lirih, seolah menarik kembali beban masa lalu yang bertahun-tahun terkubur rapat di lubuk hatinya. "Dulu... Mas, Kevin, Hendra, dan Lucky adalah empat sahabat karib sejak SMA sampai lulus kuliah. Kami bukan hanya teman nongkrong, tapi juga merintis bisnis pertama kami dari nol bersama-sama."
Nathan terdiam sejenak, membiarkan memori kelam itu berputar kembali di kepalanya.
"Waktu itu, usaha yang Mas pimpin berkembang sangat pesat, melesat tinggi dalam waktu singkat. Kesuksesan itu rupanya mengundang dengki, membuat banyak pesaing bisnis merasa terancam dan memusuhi kita. Apalagi, reputasi Mas di dunia bawah tanah saat itu... sedang diincar habis-habisan oleh para musuh yang ingin menjatuhkan kekaisaran bisnis kita."
Seinara menelan ludahnya susah payah. Ia tahu suaminya memiliki masa lalu yang keras sebagai pemimpin sebuah organisasi rahasia, tapi mendengar cerita langsung tentang bahaya maut yang pernah mengancam nyawa Nathan membuat dadanya bergemuruh.
"Terus apa yang terjadi, Mas?" bisik Seinara cemas.
"Musuh tidak main-main. Mereka mengincar nyawa Mas secara langsung. Dan ketiga sahabat setialah yang bertaruh nyawa melindungi Mas," suara Nathan mulai bergetar pelan. "Korban pertama adalah Lucky. Dia tewas seketika di tempat saat melompat melindungi Mas dari terjangan peluru musuh. Suasana saat itu sangat kacau balau, tembakan berdesing dari segala penjuru, dan mereka sama sekali tidak memberi kita waktu untuk bernapas."
Nathan mengepal, buku-buku jarinya memutih di atas kemudi. "Karena situasi mendesak dan musuh terus mendesak maju, Mas terpaksa memerintahkan Alex untuk segera mengamankan jasad Lucky dan memastikan pemakamannya dilakukan secara terhormat setelah situasi sedikit mereda."
Seinara menatap sang suami dengan mata berkaca-kaca. Ia merapatkan genggamannya, mencoba menyalurkan kekuatan lewat sentuhan tangan.
"Dua hari berselang, teror itu kembali datang," lanjut Nathan dengan rahang mengeras. "Musuh melacak persembunyian kami dan menghancurkan sebuah restoran kecil tempat biasa kami berteduh tempat di mana Hendra sering menghabiskan waktu luangnya. Saat itu, kami sedang berada di sana."
Nathan menoleh sekilas menatap Seinara, sorot matanya menyiratkan kepedihan masa lalu. "Tanpa pikir panjang, kami bertiga kembali berlari, mencoba menerobos kepungan untuk menyelamatkan diri. Tapi jumlah musuh terlalu banyak, kami benar-benar kewalahan."
"Dan puncak dari semuanya..." Nathan menarik napas dalam-dalam, "ketika salah satu sniper musuh mengunci pergerakan Mas, menjadikannya target utama peluru kematian. Tanpa ragu sedikit pun, Hendra melompat menerjang, mendorong Mas jatuh ke lantai, dan menggunakan tubuhnya sendiri untuk menghadang peluru-peluru itu."
Seinara menutup mulutnya dengan sebelah tangan, pekikan tertahan lolos dari bibirnya. Air mata hampir tumpah di pelupuk matanya.
"Hendra memberondong balik musuh-musuh itu seorang diri demi memberi kita waktu mundur, tapi harganya sangat mahal..." suara Nathan melemah. "Beberapa butir peluru bersarang telak di lengan kanan dan kedua kakinya. Sejak hari itu, Hendra harus merelakan masa mudanya menanggung cacat permanen, berjalan dengan pincang, dan melepaskan semua impian besarnya di dunia luar."
Mobil yang mereka kendarai melambat, berbelok memasuki gerbang perumahan mewah tempat tinggal mereka. Suasana di dalam kabin terdiam beberapa saat, menyisakan keheningan yang sarat akan emosi.
Setelah mobil terparkir sempurna di garasi dan mesin dimatikan, Nathan menoleh ke arah istrinya. Ia mendapati Seinara tengah menyeka sudut matanya yang basah.
"Sayang..." Nathan meraih wajah istrinya, menghapus sisa air mata dengan ibu jarinya. "Maaf ya, kalau cerita ini bikin kamu sedih. Tapi inilah alasan kenapa sampai detik ini, nyawa dan kebahagiaan keluarga Hendra adalah tanggung jawab mutlak Mas. Meminta Arka untuk menikah dengan Clara bukan sekadar perjodohan bisnis atau ego orang tua... ini adalah bentuk janji suci seorang sahabat, dan cara Mas membayar utang nyawa yang tidak akan pernah bisa lunas dengan uang seberapa pun."
Seinara menatap suaminya lekat-lekat. Ketulusan yang terpancar dari mata Nathan membuat rasa hormat dan cintanya semakin membuncah. Ia lantas merengkuh tubuh suaminya, memeluk leher Nathan erat-erat dan membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu.
"Aku ngerti sekarang, Mas... aku bangga sama kamu. Dan mulai sekarang, kita berdua yang akan pastikan kalau Clara bahagia bersama Arka," bisik Seinara lembut dalam dekapannya.
Nathan tersenyum, mengeratkan pelukannya pada sang istri di bawah temaram lampu garasi, menutup malam itu dengan kehangatan dan keteguhan janji yang terpatri di antara masa lalu dan masa depan anak-anak mereka.