“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Keberanian di Ujung Malam
Puncak kemegahan malam grand launching proyek K-Sambal Fusion meninggalkan jejak kelelahan yang luar biasa, sekaligus lembaran kelegaan yang membentang lapang di dalam dada. Namun, sebelum malam perayaan itu benar-benar usai dan aku beranjak pulang bersama Dimas, ada satu kejadian tak terduga yang sempat menyergapku di sudut lorong VVIP hotel.
Di tengah riuhnya para tamu yang mulai membubarkan diri, langkahku terhenti saat sesosok pria berjas rapi tiba-tiba mencegat jalanku.
Juan.
Wajah pria itu tampak jauh lebih kuyu daripada terakhir kali kami bertemu di minimarket. Tidak ada lagi sorot mata arogan atau senyum sinis penuh kepongahan yang biasa ia pamerkan. Yang tertinggal hanyalah raut penyesalan yang mendalam dan pundak yang sedikit merosot jatuh.
"Mei... kumohon, beri aku waktu sebentar saja untuk bicara," suara Juan terdengar bergetar parau, memecah kesunyian koridor.
Aku menatapnya dengan pandangan dingin dan berjarak, melipat kedua tanganku di dada. "Mau bicara apa lagi, Juan? Semua urusan di antara kita sudah selesai sejak lama. Jangan membuat keributan di acara perusahaanku."
Juan menggeleng cepat, kedua tangannya terangkat sedikit tanda menyerah. "Bukannya mau mencari keributan, Mei... Aku ke sini bukan untuk mengganggumu. Aku cuma mau meminta maaf secara tulus sebelum semuanya terlambat."
Alis kiriku terangkat tipis. "Meminta maaf?"
Juan menundukkan kepalanya, menghela napas berat seolah menanggung beban yang amat besar di dadanya.
"Bulan depan... aku mau menikah, Mei," aku Juan dengan suara pelan yang hampir tak terdengar.
Ada keheningan sejenak yang menggantung di antara kami. Aku tidak terkejut, namun ada rasa hampa yang berkelebat cepat.
"Aku tahu... mungkin aku adalah laki-laki paling salah di matamu," lanjut Juan dengan suara serak, matanya mulai berkaca-kaca. "Dulu, aku hanya ingin menjadi lelaki sejati yang melakukan segala hal bersama orang yang aku cinta... tapi aku keliru. Pikirku malam itu di masa lalu hanyalah cinta satu malam yang biasa. Tapi ternyata... perempuan itu hamil, Mei."
Aku membelalakkan matanya tipis, menatap pria di hadapanku dengan rasa tak percaya.
"Dan sebagai laki-laki, aku akan bertanggung jawab atas semuanya," tegas Juan menatapku lurus dengan penuh kesungguhan. "Aku akan menjadi ayah dan suami yang baik bagi mereka. Aku menyadari betapa bodohnya aku dulu menyia-nyiakan perempuan berharga sepertimu demi nafsu sesaatku. Aku mohon, Mei... maafkan aku. Restui langkahku agar aku bisa memulai lembaran hidup yang bersih."
Mendengar pengakuan dan permohonan tulus dari mantan kekasih yang dulu begitu kusembunyikan lukanya, hatiku justru diliputi oleh keheningan yang aneh.
Tidak ada lagi rasa benci yang membara, tidak ada lagi dendam yang menusuk. Yang tersisa hanyalah kelegaan yang amat sangat. Dan di saat yang bersamaan, sebuah kesadaran besar menghantam batinku tanpa ampun.
Perkataan Juan membuat aku tersadar... kalau perasaannya begini, apa aku terlalu naif dalam memandang semua hal di dunia ini?
Selama ini, aku selalu memegang prinsipku mati-matian, mengira bahwa setiap orang di masa lalu digerakkan oleh niat jahat yang mutlak. Padahal, hidup ini jauh lebih kompleks. Manusia bisa khilaf, manusia bisa bertobat, dan waktu mengajarkan kedewasaan dengan cara yang terkadang begitu keras. Juan kini telah menemukan jalannya, menemukan tanggung jawabnya sebagai seorang lelaki yang akan menikah.
"Baiklah, Juan," ucapku akhirnya dengan nada suara yang tenang, lembut, dan tanpa beban. "Masa lalu kita sudah selesai sejak lama. Aku memaafkanmu. Dan aku mendoakan semoga pernikahanmu diberkahi, serta kamu bisa menjadi ayah yang bertanggung jawab."
Wajah Juan tampak begitu terkejut mendengar keikhlasan yang terpancar dari suaraku. Pria itu membungkuk hormat. "Terima kasih, Mei... Terima kasih banyak."
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku memutar tubuhku dan membiarkan Juan melangkah pergi membawa takdirnya sendiri.
*
*
Malam semakin larut. Jam digital di atas meja nakas kamarmu di apartemen Kuningan menunjukkan pukul satu dini hari.
Setelah membersihkan diri dan mengenakan piyama katun tidur yang nyaman, aku merebahkan diri sejenak di atas sofa ruang tengah sambil membaca ulang draf laporan penutupan proyek.
Tok... tok... tok.
Ketukan pelan namun mantap terdengar dari arah pintu depan unit apartemenku.
Aku tertegun di tempat. Siapa yang bertamu di jam satu pagi seperti ini? Apakah pihak manajemen gedung? Atau tetangga yang butuh bantuan?
Dengan hati-hati, aku berjalan mendekati pintu depan, mengintip melalui lubang intip (peephole) kecil di daun pintu.
Sesosok pria berpostur tegap berdiri di sana seorang diri. Lampu koridor apartemen memantulkan bayangan wajah Dimas yang tampak letih, namun di tangan kanannya, ia tampak membawa beberapa kantong kertas berlogo restoran cepat saji hangat.
Aku membuka kunci pintu dan membukanya perlahan.
Dimas berdiri di ambang pintu. Rambut hitamnya sedikit berantakan, kemeja kerjanya sudah dilonggarkan, dan sorot mata lelah terpancar jelas di wajah tampannya.
"Ada apa, Mas?" tanyaku heran, menatap kantong makanan di tangannya.
Dimas menghela napas pendek, menatapku dengan binar hangat. "Aku lihat kamu belum makan apa pun sejak di acara grand launching tadi. Kamu sibuk melayani tamu dan berdiri berjam-jam. Aku takut kamu kelaparan."
Dadaku mendadak berdesir hangat. Di tengah kelelahan malam yang pekat, pria ini masih menyempatkan diri memikirkan perutku.
"Terima kasih... Silakan duduklah dahulu," ucapku tulus, memperbolehkan Dimas melangkah masuk ke dalam unit apartemenku.
Dimas meletakkan kantong makanan di atas meja makan kecil, lalu berbalik menatapku. "Tadi... di lobi hotel sebelum acara bubar, aku sempat melihatmu berbicara berdua dengan Juan."
Aku tertegun sejenak, lalu tersenyum tipis. Aku berjalan ke arah dapur, mengambil dua cangkir air hangat, lalu kembali menghampiri Dimas di ruang tengah.
"Dia hanya meminta restuku," jawabku tenang, meletakkan cangkir air di atas meja.
Dimas menaikkan sebelah alisnya, raut wajahnya tampak siaga. "Meminta restu? Untuk apa?"
"Bulan depan Juan mau menikah," ceritaku jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi. "Dia datang untuk meminta maaf atas semua kesalahannya di masa lalu... Dia bilang, dulu dia ingin menjadi lelaki sejati yang melakukan segala hal bersama orang yang dicintainya, tapi dia keliru mengira itu cinta satu malam. Ternyata wanita itu hamil, dan dia mau bertanggung jawab penuh menjadi suami serta ayah yang baik."
Dimas terdiam mendengarkan penjelasanku. Pria jangkung itu menatap manik mataku dalam-dalam, membaca ketulusan dan kelegaan yang terpancar dari raut wajahku.
Aku menarik napas panjang, meresapi setiap detik keheningan malam itu sebelum melanjutkan kalimatku.
"Mas Dimas..." panggilku lirih, menatap lurus ke dalam manik mata hitamnya. "Dulu... selama setahun penuh aku berhubungan dengan Juan, dia tidak pernah mencium bibirku. Aku tidak pernah mau diajak tidur dengannya. Bukan karena aku tidak ada rasa padanya saat itu... hanya saja, jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu persis bahwa dia bukan orang yang tepat."
Dimas mendengarkan dengan penuh perhatian. Napasnya teratur, mendengarkan pengakuan paling jujur yang belum pernah kuungkapkan pada siapa pun.
"Tapi hari ini..." sambungku dengan suara yang mulai bergetar halus, menatap sosok pria di hadapanku yang berdiri tegap namun penuh kelembutan, "...aku ingin meyakinkan hatiku sendiri."
Tanpa berpikir panjang lagi, didorong oleh gelora perasaan yang selama ini kutahan di balik benteng dingin, aku berlari kecil ke arah Dimas.
Kaki ku berjinjit tinggi-tinggi untuk meraih tengkuk lehernya, merapatkan jarak di antara kami, dan mendaratkan sebuah kecupan manis, tulus, dan penuh penyerahan diri tepat di bibir Dimas.
Deg.
Dimas sempat mematung kaget selama sedetik. Namun, kesadaran cepat merasuk ke dalam dirinya. Tangan tegapnya dengan sigap melingkar erat di pinggang rampingku, mendekap tubuhku makin erat ke dadanya, lalu membalas kecupan itu dengan kelembutan yang luar biasa, sebuah ciuman yang sarat akan kerinduan, penghargaan, dan rasa cinta yang utuh.
Di bawah pendar lampu temaram ruang tengah apartemen Kuningan malam itu, seutas kata mutiara berkelebat lembut di dalam batinku.
"Sebab cinta yang sejati tidak menuntut untuk segera dimiliki, melainkan sabar menanti hingga jiwa siap menyerahkan seluruh hatinya tanpa rasa takut."
Saat kami melepaskan ciuman itu dengan napas yang sama-sama memburu, aku menyandarkan kepalaku di dadanya yang bidang, mendengarkan debar jantungnya yang bergemuruh tenang. Di pelukan Dimas Arjowibowo, aku akhirnya menemukan rumah yang sesungguhnya, tempat di mana prinsipku dihargai, dan hatiku berlabuh untuk selama-lamanya.