**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isteri Sah di Bawah Cahaya
"Iya."
Satu kata itu keluar pelan dari bibir perempuan bertubuh mungil itu. Pelan, tetapi tanpa keraguan sedikit pun.
Raka tidak bergerak. Lelaki berlesung pipi itu menatap Aina seolah takut kata itu hanya mimpi yang akan hilang jika matanya berkedip.
"Iya, Bayu," ulang Aina. Kali ini sambil tersenyum. "Tapi kali ini kita lakukan dengan benar. Tidak ada surat palsu. Tidak ada rahasia. Tidak ada yang bersembunyi di balik bayangan siapa pun."
Raka menunduk dan mencium punggung tangan Aina. Air matanya jatuh di atas selimut rumah sakit.
"Dengan benar," bisik lelaki beralis tebal itu. "Aku berjanji."
Di luar jendela, matahari pagi naik perlahan di atas atap-atap rumah di Praya. Cahaya keemasan masuk ke dalam kamar dan jatuh tepat di atas gelang perak kecil di tangan Raka.
Melakukan sesuatu dengan benar ternyata membutuhkan waktu.
Hamdan membantu mengurus semuanya satu per satu. Lelaki jangkung itu bolak-balik ke pengadilan, ke kantor kependudukan, dan ke kantor urusan agama. Data kelahiran Raka diperbaiki melalui putusan pengadilan. Nama ibu kandung di dokumen resminya kini tertulis Sumiati. Status perkawinan Raka tercatat sebagai cerai, sesuai putusan perceraiannya dengan Sekar.
Perkara pidana Lalu Mustiadi dan Lalu Zainuddin diputus beberapa bulan kemudian. Keduanya dinyatakan bersalah. Sekar hadir di persidangan dan memberikan kesaksian dengan suara tegas. Setelah sidang selesai, perempuan berwajah teduh itu memeluk ayahnya sebelum lelaki beruban itu dibawa kembali oleh petugas.
Lale Rukmini juga memberikan keterangan sebagai saksi. Perempuan bersanggul itu tidak lagi menundukkan kepala. Setiap pertanyaan dijawabnya dengan jujur, termasuk pertanyaan yang paling memalukan tentang dirinya sendiri.
Sementara itu, Aina kembali bekerja di Kantor Camat Pujut setelah masa cuti melahirkan selesai. Setiap pagi, perempuan berseragam cokelat itu menitipkan Fajar dan Mentari kepada Inaq Aina. Setiap sore, Raka menjemput mereka dan membawa kedua bayi itu ke Tanak Awu untuk bertemu nenek mereka.
Inaq Sumi tidak lagi menyusun daun tembakau sendirian. Kini perempuan berambut putih itu menyusunnya sambil mengayun dua buah ayunan kain di berugak barunya.
Satu tahun setelah Fajar dan Mentari lahir, pernikahan itu akhirnya dilangsungkan.
Aina memilih rumah Inaq Sumi di Tanak Awu sebagai tempat akad. Rumah bercat putih itu dihias sederhana dengan kain tenun dan janur kuning. Berugak jati di halaman depan menjadi tempat duduk penghulu dari KUA Kecamatan Pujut.
Kali ini, semua berkas diperiksa dengan teliti. Penghulu membaca setiap dokumen di depan semua tamu. Nama mempelai lelaki. Nama ayah dan ibu kandungnya. Status perkawinannya. Tidak ada satu kolom pun yang disembunyikan.
Amaq Saleh duduk di samping penghulu sebagai wali nikah. Lelaki tua itu mengenakan peci hitam dan kain songket, wajahnya tegang tetapi bangga. Hamdan dan Pak Mahsun duduk sebagai saksi.
Para tamu memenuhi halaman. Rini duduk di barisan depan dengan tisu di tangan, bersiap menangis. Amaq Sahnan datang dengan baju koko terbaiknya. Bidan Rohani duduk di kursi kayu yang sengaja dibawa dari rumahnya di Mertak, dengan Mentari tertidur di pangkuannya.
Sekar datang bersama Arsya. Perempuan berwajah teduh itu mengenakan kebaya hijau muda. Arsya, yang kini sudah duduk di bangku TK besar, menggendong Fajar dengan sangat hati-hati di bawah pengawasan ibunya.
"Adik, jangan menangis," bisik bocah bermata bulat itu kepada adiknya. "Ayah mau menikah."
Di barisan keluarga, Inaq Sumi dan Lale Rukmini duduk berdampingan. Perempuan berambut putih itu mengenakan kebaya putih pemberian Lale Rukmini. Perempuan bersanggul itu mengenakan kebaya sederhana tanpa perhiasan. Keduanya sesekali saling menggenggam tangan, seperti dua saudara yang baru belajar mengenal satu sama lain.
Raka duduk di depan penghulu dengan kemeja putih dan kain songket. Lelaki berlesung pipi itu terlihat gugup. Di pergelangan tangan kirinya, terpasang gelang perak kecil yang kini diikat dengan tali agar muat di tangan dewasanya.
Amaq Saleh menjabat tangan Raka. Suaranya bergetar ketika mengucapkan ijab.
Raka menjawab dengan suara lantang dan jelas. Nama lengkapnya. Nama ayahnya. Nama Aina. Mahar yang disebutkan. Satu tarikan napas, tanpa ragu.
"Sah?" tanya penghulu kepada para saksi.
"Sah," jawab Hamdan dan Pak Mahsun bersamaan.
"Sah!" seru para tamu.
Doa dipanjatkan. Rini menangis keras sampai Amaq Sahnan menyodorkan tisu tambahan.
Aina, yang menunggu di dalam rumah bersama Inaq Aina, mendengar seruan itu dari balik pintu. Perempuan bertubuh mungil itu memejamkan mata. Air mata mengalir pelan di pipinya.
Sepuluh tahun lalu, perempuan bermata sayu itu juga mendengar kata sah di sebuah ruangan kecil di KUA. Waktu itu, Aina mengira dirinya telah menjadi istri satu-satunya. Ternyata kata itu dibangun di atas selembar surat palsu.
Hari ini, kata yang sama terdengar berbeda. Lebih berat. Lebih jujur. Lebih terang.
Setelah akad selesai, Sekar menghampiri Aina di dalam rumah. Perempuan berwajah teduh itu memeluknya erat.
"Selamat," bisik Sekar. "Sekarang kamu benar-benar istri sah. Tidak ada lagi yang berdiri di balik bayangan siapa pun."
"Kamu juga tidak lagi berdiri di balik bayangan," jawab Aina. "Kita berdua."
Sekar tertawa kecil sambil menyeka mata. "Siapa sangka, ya. Dua perempuan yang menikahi lelaki yang sama, malah menjadi sahabat."
"Bukan menikahi lelaki yang sama," kata Aina sambil tersenyum. "Kamu menikahi Lalu Raka. Aku menikahi Bayu."
Kedua perempuan itu tertawa bersama sampai Inaq Aina ikut tersenyum di sudut ruangan.
Seminggu kemudian, Aina duduk di depan loket Kantor Camat Pujut. Namun, kali ini perempuan berseragam cokelat itu tidak duduk di balik meja. Aina duduk di kursi warga, menunggu giliran seperti orang lain.
Rini memanggil nomor antreannya sambil menahan senyum.
"Nomor dua belas. Silakan, Ibu Aina."
Aina menyerahkan berkas permohonan kartu keluarga baru. Perempuan berpipi bulat itu memprosesnya dengan teliti, lalu memutar layar komputer agar Aina bisa melihatnya.
Di layar itu, tertera tabel sederhana yang sangat dikenal Aina.
Kepala Keluarga: Lalu Raka.
Istri: Aina.
Anak: Lalu Fajar.
Anak: Baiq Mentari.
Aina menatap layar itu lama. Perempuan bermata sayu itu teringat pagi lebih dari dua tahun lalu, ketika duduk sendirian di meja yang sama dengan tangan gemetar. Pagi ketika membaca nama suaminya di layar dan menemukan bahwa dirinya tidak tercatat di mana pun.
Hari ini, namanya ada di sana. Tertulis jelas, di samping nama lelaki yang dicintainya, di atas nama dua anak yang lahir dari doa sepuluh tahun.
"Sudah benar, Bu?" tanya Rini.
"Sudah, Rin," jawab Aina. Suaranya bergetar. "Semuanya sudah benar."
Aina keluar dari kantor menjelang siang. Di halaman, Raka sudah menunggu di bawah pohon ketapang sambil menggendong Fajar dan Mentari, satu di setiap lengan. Daun-daun ketapang yang memerah berguguran pelan di sekitar mereka.
Matahari bersinar terang di atas Sengkol. Tidak ada awan. Tidak ada bayangan yang menutupi siapa pun.
Perempuan bertubuh mungil itu berjalan menghampiri keluarganya. Langkahnya ringan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aina berjalan di bawah cahaya sebagai seorang istri sah.
Namun, langkah Aina terhenti sebelum sampai di bawah pohon ketapang.
Sebuah mobil berwarna abu-abu berhenti di depan gerbang kantor camat. Pintunya terbuka. Seorang perempuan muda turun dari mobil itu. Usianya mungkin baru dua puluh lima tahun. Perempuan berkerudung hitam itu mengenakan gamis abu-abu dan memeluk sebuah map plastik merah di dadanya.
Perempuan berkerudung hitam itu menatap Raka lama. Lalu langkahnya bergerak ragu, mendekati lelaki berlesung pipi yang sedang menggendong dua bayi di bawah pohon ketapang.
"Maaf," ucapnya pelan. "Apakah Bapak yang bernama Lalu Raka? Anak Lalu Wiradana?"
Raka mengerutkan dahi. Lelaki beralis tebal itu menatap Aina sejenak, lalu kembali menatap perempuan asing itu. "Benar. Ada apa, Mbak?"
Perempuan berkerudung hitam itu menarik napas panjang. Tangannya yang memeluk map merah tampak gemetar.
"Nama saya Baiq Laila. Saya datang dari Sumbawa." Suaranya bergetar. "Saya juga anak Lalu Wiradana."
Dunia di sekitar Aina mendadak hening. Daun-daun ketapang berhenti terdengar gugur. Suara kendaraan di jalan seolah menjauh.
Raka membeku. Fajar menggeliat di lengan kanannya, sementara Mentari mulai merengek di lengan kirinya.
Baiq Laila membuka map merah di tangannya dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah menguning. Di sudutnya ada materai yang mulai pudar. Di bagian bawahnya ada tanda tangan yang sangat dikenal Raka. Tanda tangan yang sama dengan tanda tangan di surat untuk Bayu.
"Ayah saya meninggalkan surat wasiat untuk ibu saya," kata perempuan berkerudung hitam itu. "Surat wasiat ini ditulis tiga bulan setelah surat wasiat yang Bapak terima."
Perempuan muda itu mengangkat wajahnya dan menatap Raka lurus-lurus.
"Menurut surat ini, tanah di Tanak Awu, tempat ibu Bapak sekarang tinggal, diwariskan kepada saya."
Perempuan bertubuh mungil itu menatap kertas menguning di tangan Baiq Laila. Lalu menatap wajah suaminya yang perlahan memucat.
Cahaya siang masih terang di atas Sengkol. Namun, untuk pertama kalinya sejak pagi itu, Aina merasakan bayangan baru jatuh di atas keluarganya.
Bersambung