NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 rencana keluarga Valen

Veronica berbaring malas di ranjangnya dengan wajah murung, menatap langit-langit seolah di sana tertulis jalan keluar dari semua kekacauan ini. Selimut tebal sudah tergulung di kakinya, dan sarapan yang ditinggalkan Erin tadi pagi masih tergeletak tak tersentuh di meja kecil. Ia mulai berpikir untuk kabur saja dari rumah ini. Toh ia hanya tawanan, dan tawanan tidak punya kewajiban untuk tinggal. Ia mungkin akan merindukan suasana rumah yang begitu menyenangkan, tawa para pelayan di dapur, dan masakan Erin yang selalu terasa hangat, tetapi gua tempat tinggalnya dulu selalu menunggu, tenang dan sunyi, tempat ia bisa menyendiri tanpa harus menjadi apa pun bagi siapa pun. Namun ia segera menghela napas panjang dan memejamkan mata, membiarkan keheningan kamar menekan dadanya. Kepergiannya pasti akan memicu masalah besar antara naga dan manusia, dan ia tidak ingin ayahnya menanggung akibat dari kelakuannya.

Pintu kamar terbuka dengan bunyi derit pelan, lalu Emma menyelinap masuk dan menutupnya rapat-rapat di belakang punggungnya. Wajah pelayan itu merah dan napasnya tersengal seperti baru berlari melintasi seluruh kediaman. Ia mendekat ke ranjang dan memandangi Veronica yang berbaring tak bertenaga, lalu tanpa basa-basi duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan majikannya. "Nyonya, saya harus menceritakan sesuatu. Saya tidak sengaja mendengar semuanya tadi, saat Nyonya Erin dan Tuan Altres membicarakan perjanjian pernikahan Anda. Tuan Altres bilang Grand Duke Floyen yang mengusulkan semua itu."

"Aku sudah tahu," sahut Veronica datar tanpa membuka mata, seakan berita itu tidak lebih penting dari cuaca di luar jendela. "Ayahku dan Grand Duke Floyen sudah bertemu untuk membuat perjanjian itu jauh sebelum aku sampai di sini. Aku hanya tidak tahu seluruh rinciannya, dan sejujurnya aku juga tidak ingin tahu lebih banyak lagi."

Emma menggigit bibir, jelas tidak puas dengan reaksi sedingin itu, lalu mencondongkan tubuh lebih dekat seakan sedang mengungkapkan rahasia penting. "Kalau begitu, apakah Nyonya tahu bagaimana perasaan Tuan Duke yang sebenarnya?"

Veronica akhirnya membuka mata dan tersenyum pahit sambil mengibaskan tangan. "Tentu saja aku tahu. Dia sangat membenciku, Emma. Dia pemilik pedang Carax, dan dia pasti akan membunuhku kalau aku berbuat onar sedikit saja. Makanya aku memutuskan rebahan saja seharian. Kalau aku tidak melakukan apa pun, aku tidak akan mati di tangan pria itu."

"Itu tidak benar!" Emma menggeleng keras sampai topinya miring, lalu menegakkan punggung dengan wajah serius. "Tuan Duke justru ingin hidup bersama Nyonya. Beliau sendiri yang bilang pada Nyonya Erin. Beliau bahkan takut sekali kalau Nyonya pergi, karena beliau tidak yakin bisa tetap waras. Beliau takut akan kehilangan akal sehatnya dan mengurung Nyonya supaya tidak bisa ke mana-mana."

Veronica mengangkat tubuhnya perlahan dan duduk bersandar di kepala ranjang, menatap Emma dengan mata melebar dan alis berkerut penasaran. Jantungnya berdetak lebih cepat tanpa ia sadari, dan hawa panas merambat naik ke pipinya, tetapi ia segera menekan perasaan itu dan menyipitkan mata curiga. "Kau yakin tidak salah dengar? Jangan-jangan maksudnya dia ingin mengurungku supaya aku tidak bisa melawan atau melakukan apa pun saat tiba waktunya aku dieksekusi."

"Nyonya!" Emma menepuk kasur dengan kesal, bibirnya mengerucut. "Anda ini naga paling cerdas yang pernah saya kenal, tapi kenapa soal Tuan Duke selalu berpikir paling buruk? Saya tidak salah dengar. Saya berdiri di depan pintu itu dan mendengar semuanya dengan sangat jelas, dari awal sampai akhir. Tuan Duke bilang akan melakukan apa saja asalkan Nyonya bahagia, bahkan kalau itu berarti berpisah dengan Nyonya."

"Dia bilang begitu?" tanya Veronica lirih, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri. "Altres bilang akan melepaskanku demi kebahagiaanku?"

"Suaranya bergetar, Nyonya," jawab Emma sambil mengangguk mantap, matanya berkaca-kaca. "Seumur hidup saya melayani keluarga ini, saya belum pernah mendengar Tuan Duke bicara selirih itu. Beliau tidak sedang berbohong, saya berani bersumpah."

Veronica terdiam, bibirnya terkatup rapat. Selimut di pangkuannya diremas pelan oleh jemarinya yang mendadak gelisah, dan ia menunduk agar Emma tidak melihat sudut matanya yang mulai basah. Padahal tadi pagi ia sudah bertekad mengakhiri perasaannya pada Altres, memadamkan harapan kecil yang diam-diam tumbuh di hatinya selama berbulan-bulan, tetapi kini tekad itu goyah hanya karena beberapa kalimat dari seorang pelayan. Ia teringat malam ketika Altres menyelimutinya diam-diam setelah ia tertidur di ruang baca, dan bagaimana pria itu pura-pura tidak peduli keesokan paginya. Ia mendapati dirinya ragu untuk membenci pria itu, dan lebih buruk lagi, ia mendapati dirinya kembali mengharapkan kehangatan yang pernah ia rasakan dari tatapan dan tangan Altres.

Sementara itu di ruang tamu, Erin duduk dengan punggung tegak di hadapan tamu yang baru datang, seorang pendeta bertubuh kurus dalam jubah putih yang tampak terlalu rapi untuk sebuah kunjungan biasa. Ia menuang teh dengan gerakan anggun, menawarkan kue kering dengan senyum yang sempurna, meski sorot matanya sudah menangkap bahwa tamunya membawa kabar yang tidak menyenangkan. Pendeta itu berdeham pelan, meletakkan cangkirnya dengan hati-hati, lalu menyampaikan pesan dari kuil agung dengan nada yang dibuat setenang mungkin. "Nyonya Erin, kuil agung ingin memastikan sesuatu menjelang pesta panen. Pada acara pemberkatan nanti, apakah benar Duchess Veronica yang akan memimpin penyerahan persembahan?"

"Tentu saja, dia Duchess keluarga Vanguard," jawab Erin sambil mengangkat alisnya heran. "Memangnya siapa lagi yang pantas?"

"Justru itu masalahnya." Pendeta itu menunduk sopan, tetapi nada suaranya tidak sedikit pun mengendur. "Kuil menilai itu bukan hal yang tepat, sebab beliau seorang naga. Karena itu kuil memohon agar Duke Altres mencari wanita lain untuk menggantikan istrinya, yang bukan manusia."

Cangkir di tangan Erin berhenti di udara, dan senyum sopannya mengeras menjadi garis tipis. "Itu mustahil. Gelar Duchess sudah diberikan kepada Veronica secara sah, dan siapa pun yang membawa persembahan, itu bukan masalah, walaupun ia bukan manusia."

Pendeta itu menegakkan punggungnya dan menggeleng tegas. "Kuil menghormati keluarga Vanguard, Nyonya, dan justru karena hormat itulah kami tidak ingin nama baik keluarga ini ternoda. Mohon maaf, tetapi kuil tidak bisa menerimanya. Tradisi kami tidak pernah membiarkan makhluk lain menyerahkan sesembahan. Saya bahkan bersedia membantu mencarikan wanita yang pantas menjadi perwakilannya." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan seolah baru terpikir, padahal jelas sudah dipersiapkan, "Menurut saya, Nona Rose Valen, putri Count Valen, adalah kandidat yang sangat cocok. Duke bisa menjadikan sang naga sebagai selir, lalu mengangkat Nona Rose sebagai Duchess yang baru."

Erin tidak langsung menjawab. Ia meletakkan cangkirnya dengan sangat pelan di atas tatakan, lalu tersenyum manis sambil menatap pendeta itu lurus-lurus. "Saran yang menarik. Saya akan memikirkannya baik-baik."

Pendeta itu tampak lega dan mengangguk puas, tak menyadari betapa dingin senyum yang ditujukan kepadanya. Setelah menyampaikan pesannya, ia pamit dengan membungkuk dalam-dalam dan meninggalkan kediaman Vanguard sambil membetulkan lipatan jubahnya.

Begitu pintu depan tertutup, senyum Erin lenyap seketika. Ia berdiri dan berjalan ke jendela, jemarinya mencengkeram tirai begitu kuat hingga kainnya kusut. Ia kesal pada dirinya sendiri karena nyaris saja dibodohi dengan kata-kata manis dan sopan santun yang dibungkus tradisi. Rose Valen dulu adalah kandidat terkuat untuk menjadi Duchess Vanguard, gadis anggun yang selalu hadir di setiap jamuan dengan senyum terlatih dan mata yang tidak pernah berhenti menghitung, dan jelas keluarga Valen belum menyerah mendapatkan posisi itu, bahkan kini lewat tangan kuil. Ia menghela napas panjang, memandangi halaman kediaman yang sedang disiapkan untuk pesta panen, lalu tersenyum tipis, kali ini senyum seseorang yang sudah menemukan jawaban. Ia tidak akan membiarkan menantunya dipermalukan di hadapan seluruh wilayah. Ia tahu persis apa yang harus dilakukan untuk menghadapi kuil yang tampaknya sedang bersekongkol dengan keluarga Valen, dan kali ini ia tidak akan bersikap selembut biasanya, apalagi setelah menyaksikan sendiri bagaimana Veronica terluka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!