🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Selasa siang Dimas memilih tempat yang berbeda: ruang meeting kecil di gedung sewa di kawasan Kuningan, bukan kafe. Lebih tertutup, lebih formal, tapi tetap netral. Tidak ada logo Mahendra di dinding. Tidak ada logo siapa pun. Hanya meja kayu, empat kursi, dan jendela yang menghadap dinding gedung sebelah, bukan jalan.
Dimas datang lebih dulu. Ia naik dari lobi gedung sewa dengan kartu tamu harian yang tidak mencantumkan nama perusahaan. Di meja satpam ia menulis inisial saja, sesuai yang ia minta kepada Alina lewat pesan pagi: jangan menulis nama lengkap di buku tamu orang lain. Ruangan di lantai empat ia buka dengan kode yang dikirim pengelola. Ia memeriksa colokan, remote AC yang tidak perlu, dan sudut langit-langit. Tidak ada kamera yang terlihat. Ia tidak menganggap itu jaminan, hanya cukup untuk satu percakapan yang tidak boleh jadi rekaman internal. Laptopnya ia letakkan tertutup di kursi sudut. Buku catatan tidak ia buka. Hari ini ia bukan pencatat baris. Ia saksi.
Adrian sudah duduk ketika Alina tiba. Jasnya sama gelapnya dengan kemarin, dasi tetap tidak ada. Map kerja ada di meja, tertutup. Dimas duduk di sudut sebagai saksi, agak mundur dari garis pandang di antara mereka, supaya tidak terlihat seperti pihak ketiga yang ikut menawar.
Alina tidak langsung naik. Dimas menemuinya di lobi, di samping tanaman plastik yang tidak menjelaskan apa pun. Ia sudah pesan lewat pesan pagi supaya Alina tidak menulis nama lengkap di buku tamu gedung ini. Satpam hanya melihat dua orang yang sudah punya kartu.
"Lantai empat," kata Dimas di dalam lift. "Dia sudah duduk. Saya di sudut. Dinding sini tipis, jadi jangan naikkan suara kalau kalimatnya tidak cocok."
"Saya tidak datang untuk berteriak."
"Amplop tetap di tangan Anda sampai Anda sendiri yang meletakkan."
Lift berbau karpet yang baru digosok. Alina memegang amplop di antara dompet dan dada, bukan di dasar tas. Ketika pintu ruang meeting terbuka, Adrian tidak berdiri. Alina masuk tanpa mengetuk lama. Pintu gedung sewa memang tidak menuntut ketukan yang sopan. Di tangannya amplop cokelat dari Dago, tidak disembunyikan di dalam tas kedua. Ia meletakkan amplop itu di meja tanpa menunggu diminta.
"Ini fotokopi buku tabungan ayah saya. Bank Saka cabang Dago. Dari tahun sebelum skandal sampai beberapa bulan setelahnya. Tidak ada aliran dana sebesar yang dituduhkan masuk ke rekening pribadi."
Adrian tidak langsung menyentuhnya. Ia melihat nama di sudut halaman yang menyembul, lalu baru menarik amplop ke sisinya. Ia membuka amplop. Karetnya ia lepaskan dan letakkan di meja, supaya tidak hilang kalau ini harus dikembalikan dalam keadaan yang sama. Ia membolak-balik halaman dengan teliti. Kertas fotokopi agak tebal, dan di beberapa pinggir ada bayangan jari dari mesin salin yang tidak mengenai angka. Stempel bank ada, bulat, di halaman yang membuka rekening dan di halaman yang menutup periode. Mutasi terlihat biasa. Gaji masuk, lalu keluar lagi untuk hal-hal yang tidak bisa diceritakan sebagai skandal. Transfer rumah tangga. Pembayaran listrik. Ada bulan yang lebih rapat karena tagihan menumpuk, dan ada bulan yang longgar. Tidak ada satu baris yang meloncat jauh di atas yang lain. Ia membandingkan satu tanggal dengan tanggal di bawahnya, mencari lonjakan yang tidak ada. Ibu jarinya menandai halaman yang sudah ia lihat dengan lipatan kecil, lalu ia ratakan lagi karena lipatan pada fotokopi bisa dibaca orang lain sebagai tanda yang tidak ia maksud.
Ia tidak langsung percaya, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan. Halaman yang terlalu bersih bisa dibuat. Halaman yang biasa, dengan biaya administrasi dan listrik, lebih sulit ditertawakan tanpa dilihat lagi.
"Ini bisa dibuat," kata Adrian.
"Bisa." Alina tidak mengambil kembali amplop itu. "Tapi stempel dan formatnya bisa dicek ke bank. Saya tidak meminta Anda percaya hari ini. Saya meminta Anda tidak menutup pintu sebelum memeriksa."
"Bank tidak akan memberi saya buku tabungan orang lain hanya karena Anda meletakkannya di meja sewa."
"Mereka bisa menjawab apakah salinan dengan stempel ini sesuai format mereka. Saya tidak meminta saldo dikirim ke saya."
Dimas memperhatikan keduanya. Identitas sudah terbuka di pertemuan sebelumnya. Sekarang bukti rekening diletakkan di meja. Ia tidak menambahkan cara mengecek. Adrian sudah bilang ia bukan juru bicara. Di sudut, ia hanya memastikan tidak ada yang berdiri terlalu cepat.
Pertemuan hampir buyar ketika Adrian menutup amplop dan mendorongnya kembali. Amplop berhenti di tengah meja, tidak sampai ke tangan Alina. Alina meletakkan jari di tepi meja, bukan di kertas. Dimas menggeser kursinya sedikit, siap kalau salah satu dari mereka berjalan keluar sebelum kalimat selesai. Untuk satu tarikan napas, ruangan itu hanya berisi AC dan kertas yang baru saja ditolak.
Adrian tidak menyuruhnya pergi. Ia menatap nama yang tadi ia baca, lalu mengucapkannya seperti daftar, bukan seperti pengakuan.
"Anda anak Baskara. Anda masuk ke data room kami dua kali. Anda menemukan selisih yang memang ada. Dan sekarang Anda membawa rekening yang menunjukkan uang tidak masuk ke ayah Anda." Adrian menatapnya. "Kalau ini benar, siapa yang menerima uang itu?"
"Itu yang ingin saya ketahui. Dan itu yang membuat saya masuk."
"Bukan Kusuma."
"Saya sudah bilang saya tidak dikirim siapa-siapa. Kalau saya tahu siapa penerimanya, saya tidak perlu duduk di gedung sewa."
Adrian diam cukup lama. Jarinya ada di atas amplop, menahannya di tengah meja, tidak mendorong lagi, tidak menarik. Di luar, lift gedung sewa berbunyi dan terbuka untuk orang yang tidak masuk ke ruangan ini.
"Saya akan memeriksa ini," katanya. "Bukan karena saya percaya Anda. Karena kalau rekening ini benar, maka laporan resmi kami punya lubang yang lebih besar dari selisih enam setengah miliar."
Alina mengangguk. Angka itu ia biarkan di mulut Adrian. Ia tidak mengulang delapan belas koma sembilan dan dua belas koma empat di ruangan yang tidak punya layar. "Saya tidak akan masuk lagi tanpa izin. Tapi saya juga tidak akan berhenti."
"Berhenti dari apa?"
"Dari bertanya ke mana uang itu pergi, kalau tidak masuk ke rekening itu."
"Kita bertemu lagi setelah saya cek. Dimas yang atur."
"Sampai hasilnya keluar, saya tidak dianggap sudah selesai."
"Anda tidak selesai," kata Adrian. "Anda juga tidak punya pintu."
Pertemuan berakhir tanpa jabat tangan. Tidak ada yang mengulurkan tangan, jadi tidak ada yang harus menolaknya. Alina berdiri lebih dulu. Ia tidak mengambil amplop. Adrian tidak menyodorkannya. Untuk sesaat mata mereka bertemu di kertas yang sama, lalu Alina memutuskan kertas itu lebih berguna di tangan orang yang bisa menanyakan stempelnya ke bank daripada di tasnya di Tebet.
Alina keluar lebih dulu. Di lorong gedung sewa, karpetnya tipis dan lampu neonnya terlalu putih. Ia melewati pintu kaca ruang lain yang kosong, meja rapat yang belum dipakai siapa pun hari itu. Di lift ia berdiri sendirian. Cermin di dinding lift menunjukkan kemeja yang sama dengan di Menteng, dan ia membetulkan kerahnya bukan karena ada yang akan melihat, tapi karena tangannya butuh kerjaan selain menggenggam tas yang sekarang lebih ringan.
Di trotoar Kuningan panasnya menempel di lengan. Ia merasa lega sekaligus kosong. Nama sudah diucapkan sejak Minggu, dan hari ini bukti sudah diletakkan. Sekarang giliran angka yang berbicara, atau diam. Ia berjalan sampai perempatan sebelum membuka ponsel. Mei tidak ia telepon dari depan gedung. Pesan bisa menunggu sampai ia tidak lagi berdiri di tempat Adrian bisa keluar di belakangnya. Yang ia kirim hanya: "Sudah saya taruh. Saya pulang." Tidak ada angka. Tidak ada nama bank.
Adrian tinggal bersama Dimas. Pintu ruangan ia tutup dulu.
"Cek ke bank," kata Adrian. "Diam-diam. Jangan lewat jalur formal dulu."
"Lewat siapa?"
"Lewat orang yang bisa bilang apakah format dan stempel ini wajar, tanpa membuat memo. Kalau memo lahir, Oscar akan melihatnya sebelum saya selesai membaca."
"Baik. Saya tidak menjanjikan besok pagi."
"Saya tidak minta besok pagi. Saya minta tidak berisik."
Dimas mengangguk. Ia mengambil laptopnya. Foto 2019 tidak ia buka. Rencana menunjukkannya sudah ia coret kemarin, dan ruangan ini tidak membutuhkan wajah lama untuk mengizinkan sebuah amplop.
Adrian memasukkan amplop ke dalam map. Karetnya ia pasang lagi. Halaman tidak ia biarkan menyembul.
Di perjalanan kembali ke Menara, mobil bergerak pelan di Kuningan yang sedang tidak ramah. Yang ada di tas, di samping map yang baru ia isi dengan fotokopi bank, adalah map cokelat bertulisan tangan ayahnya. Map Koridor Timur itu masih di tasnya, belum dibuka penuh. Halaman depan sempat ia lihat Sabtu malam. Sisanya tidak. Nama Halim mungkin ada di dalamnya. Mungkin tidak. Ia tidak menarik map itu keluar untuk memeriksa. Mobil bukan tempat untuk kertas yang ayahnya minta jangan diarsipkan biasa.
Tapi hari ini cukup. Hari ini ia hanya membawa pulang satu fakta baru: anak Baskara Prameswari sudah duduk di mejanya, dan rekening pribadi ayahnya tidak menunjukkan dana yang dituduhkan.
Ia mengetuk map di pangkuannya sekali, lalu membiarkan tangannya diam sampai mobil masuk ke basement Menara.