Selama 365 hari, Arga hanya memiliki satu tujuan: menceraikan Nisa.
Terjebak dalam perjodohan keluarga yang tak diinginkannya, Arga secara sepihak menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar "kontrak". Baginya, Nisa hanyalah penghalang yang merampas kebebasannya untuk bersama Adelia—satu-satunya wanita yang benar-benar ia cintai. Segala sikap dingin, pengabaian, hingga wacana perpisahan Arga lemparkan demi membuat Nisa menyerah.
Dan malam itu, doa Arga terkabul.
Sadar bahwa memperebutkan hati pria yang jelas-jelas dimiliki wanita lain adalah sebuah kesia-siaan, Nisa akhirnya berhenti berjuang. Tanpa air mata, tanpa perdebatan, dan tanpa drama, ia menandatangani surat cerai itu dan melangkah pergi membawa sisa harga dirinya.
Anehnya, saat keinginannya benar-benar terkabul, Arga justru menyadari satu hal. Dia tak bisa hidup tanpa Nisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Aku tidak bisa, Mas. Keputusanku sudah bulat."
Suara Nisa terdengar dingin, mengudara di antara celah meja bundar sebuah taman kota tempat mereka sepakat untuk bertemu. Tangan wanita itu bersedekap di depan dada, membentengi diri dari pria yang duduk di hadapannya dengan raut wajah memelas.
Awalnya, Nisa menolak keras ajakan bertemu ini. Pesan dan panggilan Arga ia abaikan hingga belasan kali. Namun, ketika pesan terakhir Arga menyebutkan nama Kakek, pertahanan Nisa goyah. Ia sangat menghormati dan menyayangi pria sepuh itu.
"Nis, kumohon," suara Arga merendah, nyaris terdengar seperti sebuah rintihan putus asa. "Kakek, Papi, dan Mami tiba-tiba datang ke rumah. Kakek terus mencarimu. Jantungnya melemah akhir-akhir ini. Kalau dia sampai tahu kita akan bercerai, Kakek bisa collapse. Tolong, pulanglah bersamaku, setidaknya untuk sementara waktu."
Nisa membuang muka, menatap deretan pepohonan yang bergoyang ditiup angin sore. "Lalu? Sampai kapan kita harus bersandiwara? Surat cerai itu sudah aku tandatangani. Kamu hanya tinggal menyerahkannya ke pengadilan."
Arga menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup tak karuan. Ia tidak berani menatap mata Nisa untuk mengatakan kebenarannya, bahwa map merah berisi dokumen perceraian itu masih tergeletak utuh di dalam laci meja kerjanya. Arga belum menyerahkannya ke pengacara. Dan seiring berjalannya waktu, ia semakin ragu. Apakah ia benar-benar sanggup menceraikan wanita ini?
"Proses pengadilan belum berjalan, Nis," bohong Arga, mencoba menjaga intonasi suaranya agar terdengar logis. "Secara hukum, kamu masih istriku. Jadi, tidak ada yang salah jika kamu kembali ke rumah. Aku berjanji tidak akan mengganggumu. Anggap saja... anggap saja kamu melakukan ini murni demi Kakek."
Hening merajai udara di antara mereka selama beberapa saat. Nisa memejamkan mata, menimbang-nimbang keputusan. Membayangkan wajah keriput Kakek yang selalu menyambutnya dengan senyum hangat membuat hati Nisa berdenyut nyeri. Ia tidak ingin menjadi penyebab pria baik itu masuk rumah sakit.
"Baiklah," ucap Nisa akhirnya, membuka mata dan menatap Arga dengan sorot tajam yang tak terbantahkan. "Tapi hanya beberapa hari. Hanya sampai Kakek dan orang tuamu kembali ke kota mereka. Setelah mobil mereka keluar dari pekarangan rumahmu, aku juga akan pergi."
Arga mengangguk cepat, menyembunyikan rasa lega sekaligus nyeri yang bercampur aduk di dadanya. "Iya, Nis. Hanya sampai mereka pulang. Terima kasih. Kita berangkat sekarang?"
"Aku harus mampir ke kontrakanku sebentar untuk mengambil beberapa pakaian ganti," sahut Nisa seraya berdiri dari kursi besi taman.
Arga segera menyusul langkah Nisa. Keduanya berkendara dalam diam menuju alamat yang Nisa berikan. Lima belas menit kemudian, SUV mewah Arga terpaksa diparkir agak jauh karena gang menuju kontrakan Nisa terlalu sempit untuk dilewati mobil.
Arga mengekor di belakang Nisa, melangkah menyusuri gang padat penduduk. Bau selokan yang menguap dan jemuran yang melintang di sepanjang jalan kecil itu membuat kening Arga berkerut. Hingga akhirnya, Nisa berhenti di depan sebuah pintu kayu bernomor tiga belas.
"Masuklah sebentar, pintunya agak susah ditutup dari luar kalau nggak ditarik kuat," ujar Nisa datar seraya mendorong pintu tersebut.
Begitu Arga melangkahkan kaki ke dalam, hawa panas dan pengap langsung menyergap kulitnya. Ruangan itu sangat sempit. Hanya ada kasur busa tipis, sebuah lemari plastik kecil, dan kipas angin usang di sudut ruangan. Tidak ada pendingin ruangan, apalagi perabotan mewah. Udara di dalam sana membuat napas Arga terasa sesak.
Mata Arga menatap nanar punggung Nisa yang kini berjongkok di depan lemari plastik, memasukkan beberapa potong baju ke dalam tas jinjingnya. Rasa prihatin yang luar biasa menohok ulu hati pria itu. Nisa, putri dari seorang pengusaha sukses yang dulu hidup bergelimang harta, kini harus tinggal di tempat sekumuh ini.
"Nisa... tempat ini terlalu sempit dan panas," tegur Arga tak tahan, melangkah mendekat. "Kamu nggak seharusnya tinggal di tempat seperti ini. Besok, aku akan mencarikan apartemen yang jauh lebih layak untuk kamu."
Nisa menghentikan gerakannya melipat kemeja. Ia tidak menoleh, hanya tertawa kecil. Tawa hambar yang sama sekali tidak menyejukkan hati.
"Tidak perlu repot-repot, Mas. Tempat ini sudah lebih dari cukup untukku," jawab Nisa tenang. Ia menutup ritsleting tasnya lalu berdiri menatap Arga. "Setidaknya, rumah ini adalah rumahku sendiri."
"Tapi rumah ini bahkan tidak lebih besar dari kamar mandi utama di rumah kita, Nis!" bantah Arga cepat.
"Ya. Tapi di sini, aku bisa bernapas lega," potong Nisa. Matanya menatap datar tepat ke dasar manik mata Arga. "Di tempat sempit ini, aku tak perlu berjalan berhati-hati layaknya seorang pencuri. Aku tidak perlu takut membuat orang lain marah besar hanya karena aku tidak sengaja menyenggol dan memecahkan sesuatu."
Udara di sekitar Arga seolah tersedot habis. Kalimat Nisa terdengar sangat sederhana, tanpa nada amarah yang meledak-ledak, namun berhasil menembus tulang rusuknya layaknya tombak tajam.
Arga mematung. Ingatan masa lalu berkelebat menghantam kepalanya dengan kejam.
Ia baru ingat. Nisa memang memiliki sifat bawaan yang sedikit ceroboh. Di bulan-bulan pertama pernikahan mereka, Nisa pernah tak sengaja menjatuhkan vas kristal di ruang tamu saat sedang membersihkan meja. Alih-alih menanyakan apakah istrinya terluka karena pecahan kaca, Arga justru membentaknya habis-habisan. Ia mengatai Nisa ceroboh, bodoh, dan tidak tahu cara merawat barang mahal. Kejadian itu terulang beberapa kali dengan barang yang berbeda, dan respons Arga selalu sama: memaki dan merendahkan.
Sejak saat itu, Arga menyadari sebuah perubahan besar. Nisa yang pada dasarnya memiliki langkah kaki yang cepat, ceria, dan lincah, perlahan berubah drastis. Wanita itu mulai berjalan sangat pelan di dalam rumah, menunduk, dan mengendap-endap seperti kucing yang ketakutan.
Nisa selalu memastikan tangannya tidak menyentuh barang-barang di sekitar Arga. Ia ketakutan. Istrinya hidup dalam ketakutan untuk membuat kesalahan sekecil apa pun di rumahnya sendiri.
Tenggorokan Arga tercekat. Matanya mendadak memanas menahan genangan air yang tiba-tiba mendesak keluar. Betapa hancurnya mental Nisa selama satu tahun hidup bersamanya.
"Nis..." suara Arga terdengar serak dan bergetar hebat. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. "Maafkan aku. Maaf... aku benar-benar suami yang brengsek."
Nisa menatap raut penyesalan Arga dengan wajah tanpa ekspresi. Ia meraih tas jinjingnya dan melangkah melewati Arga begitu saja.
"Tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi, Mas," ucap Nisa acuh tak acuh saat mencapai ambang pintu. "Semuanya sudah berlalu. Ayo pergi sebelum Kakek mencariku lagi."
Perjalanan kembali ke rumah mewah Arga diwarnai keheningan yang mencekam. Di dalam kabin mobil yang sejuk dan kedap suara, kecanggungan terasa sangat pekat. Arga sesekali melirik ke kursi penumpang di sebelah kirinya. Nisa menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap kosong pada deretan lampu jalanan yang mulai menyala di bawah langit senja.
Arga meremas setir kemudinya. Ia tidak tahan dengan keheningan ini. Ia merindukan suara Nisa yang dulu selalu berceloteh menceritakan resep masakan baru atau film yang baru saja ia tonton, meski saat itu Arga hanya membalasnya dengan deheman malas.
"Nis," panggil Arga pelan, mencoba memecah kebisuan. "Kakek tadi minta dibuatkan teh krisan buatanmu. Katanya, teh krisan milik pembantu kita rasanya aneh. Mami juga bilang—"
Nisa memejamkan matanya, memutar kepalanya sedikit agar posisinya semakin membelakangi Arga. Napasnya diatur sedemikian rupa, memanjang dan teratur.
Arga menghentikan kalimatnya di udara. Ia tahu Nisa belum tidur. Wanita itu hanya berpura-pura terlelap untuk membangun tembok tak kasatmata yang memblokir semua akses Arga menuju dirinya.
biar kedua orang tuanya thu kelakuannya selama mnjdi suami km nis😡
aku suka karya2 mu thoorrr
semangat berkarya terus ya thorrrr
asyik....
hajar Bu, Pak anakmu perlu dikasih pelajaran klu perlu usir dr rumah , sita semua aset si Arga