-
Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.
Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
🍂🍂🍂🍂
Halaman rumah joglo megah milik Bagas yang amat luas kini bertransformasi menjadi panggung perayaan paling spektakuler sepanjang sejarah Desa Lemah Wungu. Pesta rakyat dan tasyakuran akbar digelar selama tiga hari tiga malam berturut-turut tanpa henti. Di sekeliling pelataran, berdiri belasan tenda kayu berukir yang menampung ratusan meja panjang. Ratusan nampan emas dan piring keramik menyajikan hidangan lezat—hasil dari penyembelihan belasan ekor sapi gemuk, kambing, serta aneka lauk-pauk khas perbukitan yang dibagikan secara cuma-cuma kepada seluruh warga desa tanpa terkecuali.
Dari panggung utama yang berdiri megah di tengah halaman, alunan merdu gamelan Kyai Semar bergema membahana, membiaskan nada-nada ketentraman yang membius jiwa. Pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang dibawakan oleh dalang kondang luar daerah terus menyedot perhatian ratusan warga yang berdesak-desakan riang gembira. Aroma harum bunga melati segar dan asap kayu cendana membumbung tinggi ke udara, membungkus seluruh sudut perayaan dengan atmosfer keagungan yang tiada tandingannya.
Di atas panggung pelaminan kayu jati ukir yang berlapis kain beludru, duduklah sepasang pengantin yang menjadi pusat perhatian seluruh jagat Lemah Wungu.
Bagas dan Candra Kirana tampil begitu anggun dan memesona dalam balutan busana pengantin Paes Ageng Jawa berwarna hijau zamrud. Benang-benang emas yang terukir rumit di kain sutra mereka berkilat memantulkan cahaya lampu minyak dan dekorasi bunga. Candra Kirana, yang kini telah sepenuhnya berwujud wanita manusia fana, memancarkan kecantikan murni yang tiada taranya. Riasan paes di dahi mulusnya, dipadu ronce bunga melati yang menjuntai di bahunya, membuat paras jelitanya bagaikan dewi yang turun dari alam khayangan. Di sampingnya, Bagas berdiri tegap dan berwibawa, mengenakan kuluk emas dan keris berhias ronce melati di pinggangnya—seorang pria sejati yang memancarkan aura pemimpin agung.
Di sebelah pelaminan, Mbok Sumi duduk di kursi ukir dengan air mata bahagia yang tak henti-hentinya menetes membasahi pipinya yang bergaris penuaan. Kebaya beludru merah maroon yang mengenakan perhiasan emas sederhana membuatnya tampak begitu bersahaja dan anggun.
Saat prosesi adat mencapai puncaknya, tiba saatnya bagi kedua mempelai untuk melakukan prosesi sungkeman. Bagas dan Candra Kirana perlahan turun dari pelaminan, berlutut penuh takzim di hadapan Mbok Sumi.
Bagas meraih kedua tangan keriput ibunya, menempelkan keningnya di atas pangkuan wanita tua yang telah melahirkannya itu.
"Ibu..." tutur Bagas dengan suara rendah yang bergetar penuh rasa haru. "Terimakasih atas segala doa, keringat, dan kasih sayang Ibu selama ini. Hari ini, anakmu telah mematuhi niatmu... Bagas memohon doa restu Ibu untuk membimbing Kirana dan memimpin keluarga ini."
Mbok Sumi menangkup kepala anak tunggalnya, memeluk bahu tegap Bagas seraya terisak pelan. "Le... Bagas, anakku yang berbakti... Ibu sudah memaafkan dan merestuimu lahir batin. Kamu adalah kebanggaan Ibu terhebat. Jadilah suami yang pelindung dan bijaksana untuk istri cantikmu ini."
Setelah Bagas tegak kembali, Candra Kirana bersimpuh menggeser posisinya. Wanita jelita itu meraih kedua tangan Mbok Sumi, mencium punggung tangan tua itu seraya bersujud pasrah di pangkuannya.
"Ibu..." bisik Candra Kirana dengan suara yang begitu halus dan merdu. "Terima kasih sudah mau menerima Kirana yang asing ini menjadi anakmu. Kirana berjanji akan mengabdi, merawat Ibu, dan melayani Mas Bagas seumur hidup Kirana."
Mbok Sumi tak sanggup lagi menahan gelombang keharuan di dadanya. Wanita tua itu merengkuh tubuh anggun Kirana rapat-rapat, menangis bahagia di atas pundak menantunya.
"Nduk... Kirana, anakku..." tangis Mbok Sumi pecah membahana, menyentuh batin setiap warga yang menyaksikan di bawah panggung. "Matur nuwun, Gusti... Ibu sangat bahagia, Nduk! Jangan pernah merasa asing di rumah ini. Kamu adalah putri kandung Ibu sendiri mulai hari ini. Semoga rumah tangga kalian dipenuhi keberkahan dan segera dikaruniai cucu-cucu yang berbakti!"
"Aamiin... Matur nuwun, Ibu..." balas Candra Kirana lembut dengan air mata bening yang menetes di pipinya yang merona.
Seluruh warga yang melihat prosesi sungkeman yang begitu hangat dan sakral itu meneteskan air mata haru, bertepuk tangan riuh mengagungkan keharmonisan keluarga di rumah joglo tersebut.
Tepat saat prosesi pernikahan selesai dilaksanakan, suasana di pelataran mendadak hening ketika sesosok pria berbeskap kusam melangkah naik ke atas panggung utama. Dialah Pak Kades lama. Langkah kakinya perlahan namun mantap, didampingi oleh beberapa tetua desa dan Camat setempat. Pria berkuasa yang dulu sangat sombong itu kini menundukkan kepalanya dalam-dalam, membawa sebuah gulungan kertas bermaterai, stempel desa, dan tongkat kayu jati berukir simbol kepemimpinan Desa Lemah Wungu.
Pak Kades lama berdiri di samping panggung, mengambil mikrofoni seraya berdehem berat menahan rasa malu dan gejolak batin di dadanya.
"Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, serta seluruh warga Desa Lemah Wungu yang saya hormati..." suara Pak Kades lama menggelegar memecah keheningan massa. "Di hari yang amat bahagia ini, selain merayakan pernikahan agung Bagas dan Kirana, ada sebuah keputusan besar yang harus saya sampaikan di hadapan panjenengan semua."
Seluruh warga menatap ke atas panggung dengan napas tertahan, mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari mulut pimpinan lama mereka.
"Selama bertahun-tahun," lanjut Pak Kades lama dengan suara yang mulai bergetar parau, "saya telah memimpin desa ini dengan keangkuhan dan kekhilafan. Kesalahan keluarga saya di masa lalu telah membuka mata saya... bahwa saya tak lagi pantas dan tak lagi memiliki moral untuk memangku jabatan yang mulia ini. Maka dari itu, di hadapan Gusti, Bapak Camat, dan seluruh rakyat Lemah Wungu, hari ini saya secara resmi menandatangani surat pengunduran diri saya sebagai Kepala Desa!"
GUSRRRK!
Suara gumaman dan kehebohan tipis meledak di antara kerumunan warga, namun dengan cepat ditenangkan oleh panitia acara. Pak Kades lama membubuhkan tanda tangannya di atas kertas bermaterai di atas meja ukir, disaksikan langsung oleh Camat kecamatan.
Setelah menandatangani berkas penyerahan jabatan, Pak Kades lama berjalan mendekati Bagas yang berdiri tegap di tengah panggung. Dengan kedua tangan gemetar, Pak Kades lama mengangkat stempel resmi desa dan tongkat kayu kepemimpinan jati, menyerahkannya seutuhnya ke dalam genggaman tangan besar Bagas.
"Bagas..." tutur Pak Kades lama dengan mata merah memerah sembab, menatap lurus ke dalam iris mata pemuda tegap di hadapannya. "Terimalah stempel dan tongkat kepemimpinan ini. Hanya kamu... hanya kamu satu-satunya orang di tanah Lemah Wungu ini yang memiliki kejujuran, kedermawanan, wibawa, dan kemampuan untuk melindungi serta memakmurkan seluruh warga kita."
Bagas menatap tongkat kepemimpinan dan stempel desa di tangannya dengan ketenangan yang mantap. Ia mengangguk pelan, menyunggingkan senyuman berwibawa.
"Saya menerima mandat dan amanah ini dari masyarakat, Pak Kades," tegas Bagas dengan suara rendah namun menggelegar lantang, terdengar jelas hingga ke ujung pelataran. "Saya berjanji akan menjadi pimpinan yang adil, jujur, dan mengayomi setiap warga tanpa membeda-bedakan."
Pak Kades lama tersenyum pasrah penuh lega, lalu secara mengejutkan merundukkan badannya secara dalam-dalam membungkuk hormat di hadapan Bagas dan Candra Kirana.
"Matur nuwun, Pak Kades Bagas... Selamat memimpin Desa Lemah Wungu," bisik Pak Kades lama penuh kepatuhan.
Seketika itu pula, Pak Camat melangkah maju memimpin pengangkatan resmi. "Dengan ini, saya nyatakan Saudara Bagas secara resmi menjabat sebagai Kepala Desa Lemah Wungu yang baru!"
DHOOOMMM! BARRR!
Sorak-sorai riuh rendah puluhan ribu warga seketika meledak membahana memenuhi udara perbukitan! Tepuk tangan, siulan gembira, dan seruan nama Bagas bersahut-sahutan di sekeliling pelataran.
"HIDUP PAK KADES BAGAS!"
"HIDUP DEN BAGAS DAN NYONYA KIRANA!"
"LEMAH WUNGU MAJU DAN SEJAHTERA!"
Para tetua desa, buruh tani, dan warga desa melambaikan tangan gembira, menyambut era baru di bawah naungan pimpinan yang dermawan dan berwibawa. Bagas berdiri tegap di atas panggung pelaminan, merangkul pinggang langsing Candra Kirana yang tersenyum penuh kebanggaan di sampingnya. Tangan kanan Bagas mengangkat tinggi-tinggi tongkat kepemimpinan desa, menyapa seluruh rakyatnya yang bersorak mengagungkan namanya.
Puncak keadilan dan kehormatan telah terwujud secara sempurna di dunia nyata. Bagas kini tidak hanya memenangkan cinta sejati Candra Kirana dan membahagiakan ibunya di rumah joglo, melainkan telah bertakhta sebagai penguasa tunggal yang dicintai dan dihormati di atas seluruh tanah Lemah Wungu.
Bersambung...