NovelToon NovelToon
THE PRIDE BETWEEN US

THE PRIDE BETWEEN US

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:166
Nilai: 5
Nama Author: Aravienne

Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.

Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.

Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Pagi itu Reyhan datang ke warung jam tujuh lewat lima, lebih awal dari biasanya, dan langsung menuju ruang kerja tanpa menyapa siapa pun.

Anindya, yang sedang menata rak gelas, mendengar langkah itu lewat dan secara refleks menoleh. Pintu ruang kerja sudah tertutup. Ia menunggu beberapa detik, setengah berharap pintu itu terbuka lagi, setengah berharap ia tidak sedang berharap apa-apa.

"Nin, jangan bengong," tegur Teh Lilis.

"Eh, iya, Teh."

Karena itu ia tidak tahu bahwa di balik pintu itu, Reyhan sedang duduk dengan ponsel di tangan, menatap sebuah pesan yang masuk jam lima pagi tadi, dari seorang pelanggan tetap yang sudah dua tahun makan di warung ini. Pesan itu sopan, hati-hati, dan menusuk seperti jarum yang dibungkus kain.

*Mas Reyhan, maaf kalau saya lancang. Saya dengar ada omongan tentang Mas dan salah satu karyawan. Saya nggak percaya, tapi dengar-dengar di lingkungan sini mulai ramai. Hati-hati ya, Mas. Nama baik itu mahal.*

Reyhan membacanya tiga kali. Kemudian ia meletakkan ponselnya di meja, menutup wajah dengan kedua tangan, dan duduk diam cukup lama.

Nama baik itu mahal. Ia tahu betul. Warung ini ia bangun dengan tabungan bertahun-tahun, dengan pinjaman yang baru lunas dua tahun lalu, dengan kepercayaan orang-orang yang bahkan tidak pernah ia temui. Ia masih ingat bagaimana ayahnya dulu hampir kehilangan warungnya sendiri karena sebuah fitnah. Ia masih ingat bagaimana laki-laki pendiam itu menunduk, bekerja lebih keras, dan tidak pernah membela diri. Reyhan berjanji pada dirinya sendiri, dulu sekali, bahwa ia tidak akan pernah membiarkan hal yang sama terjadi pada tempat ini.

Dan sekarang, ia membiarkan sepasang sarung tangan kuning dan semangkuk telur dadar gosong mengancamnya dari dalam.

Ia berdiri. Merapikan kemejanya. Mengenakan wajah yang sudah ia pakai selama bertahun-tahun, wajah datar, tenang, tanpa celah.

Dan ia memutuskan sesuatu yang akan ia sesali.

---

Jam sembilan lewat dua puluh, ketika piring-piring pertama mulai datang, Reyhan muncul di dapur dengan langkah yang terlalu cepat.

"Siapa yang pegang kunci gudang kemarin?"

Semua orang menoleh. Teh Lilis menjawab pelan, "Saya, Mas. Tapi udah saya kunci lagi."

"Ada tabung gas yang nggak diikat. Kalau jatuh, bahaya."

"Maaf, Mas, nanti saya..."

"Bukan itu." Reyhan memotong dengan nada yang jarang ia pakai di depan semua orang. "Ini bukan soal tabung gas. Ini soal ketelitian. Semua orang di sini harus lebih teliti."

Dapur membeku. Tidak ada yang pernah mendengar Reyhan berbicara sekeras itu, apalagi pada Teh Lilis, yang sudah bekerja dengannya lima tahun.

Lalu mata Reyhan jatuh ke bak cuci.

"Anin."

"Iya, Mas?"

"Gelas ini." Ia mengangkat sebuah gelas dari rak, memutarnya di bawah lampu. "Ada bekas sabun. Lagi."

Anindya menatap gelas itu. Ia yakin betul sudah membilasnya dua kali. Tapi ia tidak membantah. "Maaf, Mas. Saya ulang."

"Ini bukan pertama kali."

"Iya, Mas."

"Kalau kamu nggak bisa kerja dengan benar, bilang. Jangan bikin orang lain yang harus mengoreksi."

Hening. Di balik pintu dapur, Rafi dan Yoga berhenti bernapas. Dimas menatap wajannya tanpa berkedip. Jaka perlahan meletakkan sodetnya. Bayu, di dekat dispenser kopi, mengangkat kepalanya pelan-pelan, dan matanya menatap Reyhan lurus-lurus.

"Iya, Mas," jawab Anindya lagi, suaranya lebih pelan.

"Dan sarung tangan itu." Reyhan menunjuk dengan dagu. "Jangan dipakai terus. Kerja pakai tangan. Jangan manja."

Kata terakhir itu jatuh seperti batu ke dalam air tenang.

Anindya tidak menjawab. Ia hanya menunduk, melepas sarung tangan kuning itu pelan-pelan, dan menaruhnya di tepi bak cuci dengan hati-hati, seolah benda itu bisa pecah. Tangannya yang sudah mulai sembuh langsung bersentuhan dengan air panas, dan ia tidak bersuara sedikit pun.

"Bagus," kata Reyhan datar. "Lanjutkan."

Dan ia pergi.

Dapur tetap hening selama satu menit penuh setelah langkahnya hilang. Lalu Teh Lilis berbisik, nyaris tanpa suara, "Kok bisa..."

"Sstt," potong Mbak Sari, tapi matanya sendiri terpaku ke arah pintu tempat Reyhan menghilang, dengan ekspresi seseorang yang melihat sesuatu tidak sesuai dengan yang ia pikirkan.

---

Siang itu, Anindya mencuci piring dengan tangan telanjang.

Air panas menyentuh kulitnya yang baru saja sembuh, dan perih itu datang kembali seperti tamu lama yang tidak diundang. Ia menggigit bibir dan terus bekerja. Tidak ada yang bicara padanya, bukan karena tidak peduli, tapi karena semua orang tahu bahwa ada hal yang tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata.

*Jangan manja.*

Kata itu terus berputar di kepalanya. Dua kata yang sama persis dengan yang pernah ia dengar dari seorang laki-laki lain, di sebuah toko roti, ketika ia batuk-batuk di belakang etalase. *Jangan manja. Kerja aja.* Ia kira ia sudah meninggalkan kata-kata seperti itu jauh di belakang. Ternyata kata-kata seperti itu hanya menunggu di tikungan.

Jam dua, ketika dapur mulai sepi, ia menyelinap ke belakang dengan alasan mengambil lap. Di antara deretan loker, ia berdiri membelakangi pintu, menempelkan dahinya ke dinding dingin, dan akhirnya membiarkan sesuatu yang sudah ditahannya sejak pagi jatuh.

Bukan tangis keras. Hanya air mata yang turun satu per satu, diam-diam, seperti hujan yang tidak mau diketahui orang.

Ia tidak mengerti. Kemarin laki-laki itu bilang lidahnya bagus. Kemarin laki-laki itu berjanji akan bercerita. Kemarin, di antara bunyi sendok dan aroma sambal, ia sempat berpikir bahwa mungkin, hanya mungkin, ada sesuatu yang hangat di balik wajah datar itu.

Sekarang ia merasa seperti orang bodoh yang salah membaca. Dan yang paling menyakitkan bukan kata-kata itu, melainkan kenyataan bahwa ia sempat percaya kebaikan itu nyata.

"Nin."

Anindya cepat-cepat menyeka wajahnya dan berbalik. Bayu berdiri di ujung lorong dengan segelas teh hangat, wajahnya seperti biasa, tapi matanya tidak seperti biasa.

"Nih."

"Makasih, Bay."

"Jangan dimasukin hati." Bayu menyodorkan gelasnya. "Dia lagi ada masalah."

"Masalah apa?"

"Nggak tahu. Tapi dia nggak pernah gitu. Nggak pernah seaneh itu."

Anindya menatap teh di tangannya. "Mungkin dia emang gitu dari dulu. Cuma saya aja yang salah ngira."

"Nggak." Bayu menggeleng. "Aku udah tiga tahun di sini. Dia kalau marah, ya marah. Tapi dia nggak pernah bilang orang manja. Itu bukan dia."

"Terus kenapa dia..."

"Itu yang mau kutanyain."

Anindya menoleh, bingung. Tapi Bayu hanya mengangguk pelan, lalu melangkah pergi dengan langkah yang jauh lebih tegas dari biasanya, menuju ruang kerja di ujung koridor.

---

Pintu ruang kerja diketuk dua kali, sebelum terbuka tanpa menunggu jawaban.

"Mas."

Reyhan mengangkat kepala dari laptop yang layarnya tidak ia baca. "Bayu? Ada apa?"

Bayu menutup pintu di belakangnya. Ia berdiri tegak, kedua tangan di sisi tubuh, dan untuk pertama kalinya sejak tiga tahun bekerja di sana, ia tidak tampak seperti karyawan yang sedang menghadap bos.

"Saya cuma mau tanya satu hal, Mas."

"Silakan."

"Tadi pagi itu kenapa?"

Reyhan tidak menjawab.

"Mas nggak pernah ngomong sekeras itu ke Teh Lilis. Mas juga nggak pernah bilang orang manja." Bayu menatap lurus. "Dan sarung tangan itu..."

"Bayu."

"Saya cuma mau tahu, Mas. Itu beneran masalah ketelitian? Atau ada hal lain?"

Reyhan menatapnya. Rahangnya mengeras. Jarinya mengetuk meja, dua kali, lalu berhenti, seolah ia sadar sedang melakukan kebiasaan yang tidak boleh terlihat.

"Itu urusan saya."

"Iya, Mas." Bayu tidak bergerak. "Tapi orang yang kena itu bukan cuma Mas."

Hening. Detak jam dinding terdengar terlalu keras.

"Tolong keluar," kata Reyhan akhirnya, dengan suara yang jauh lebih pelan dari tadi pagi, dan jauh lebih lelah.

Bayu mengangguk, membuka pintu, tapi berhenti sebentar di ambangnya.

"Mas."

"Apa lagi?"

"Kalau Mas bohong ke orang lain, itu urusan Mas. Tapi jangan bohong ke diri sendiri."

Ia pergi.

Di ruang kerja yang sepi itu, Reyhan duduk menatap meja. Perlahan, ia membuka laci paling bawah, dan mengeluarkan sesuatu yang selama seminggu terakhir ia simpan di sana: sehelai kertas kecil yang kusut karena pernah diremas, dengan dua kata yang ditulis dengan tulisan tangan miring.

*Pakai ini.*

Ia menatap kertas itu cukup lama. Dan di kepalanya, terulang dengan jelas: wajah Anindya ketika melepas sarung tangan kuning itu, jari-jari yang gemetar, dan dua kata yang ia lontarkan seperti pisau, *jangan manja.* Ia menyuruh seseorang melepas satu-satunya benda yang ia berikan untuk melindunginya.

Ia meremas kertas itu lagi, lebih keras kali ini, dan melemparnya ke tempat sampah. Kertas itu memantul di tepi, jatuh di lantai, dan menggelinding perlahan ke bawah meja, tempat ia tidak akan terlihat sampai seseorang menunduk dan mencarinya.

Sama seperti semua hal lain yang ia sembunyikan.

Ia menutup matanya, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia ingin berlari keluar dari ruangan itu, menghampiri bak cuci, memungut sarung tangan kuning itu, dan memakaikannya sendiri di tangan yang telanjang itu.

Tapi ia tetap duduk di sana. Karena gengsi tidak pernah memberi izin untuk bergerak.

Bersambung ke Bab 9...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!