Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Pagi-pagi sekali, ketika langit Jakarta masih diselimuti semburat keemasan dan udara dingin yang merengkuh sudut-sudut kota, Arumi sudah berdiri di tepi jalan dengan tas travel sedang di tangannya. Suasana terminal angkutan bus antarkota mulai geliat oleh riuhnya klakson dan langkah kaki para penumpang.
Di sampingnya, Ayu berdiri menyilangkan tangan, menatap sahabatnya dengan tatapan beratap haru dan sedih. Pagi itu, Ayu sengaja menyempatkan diri mengantar kepulangan Arumi sebelum shift kerjanya di salon dimulai.
"Weh... dua minggu enggak ada kamu di kontrakan rasanya bakal sepi banget ini, Rum," ujar Ayu mencoba mencairkan suasana, meski suaranya sedikit bergetar.
Ayu lalu mendekat dan memeluk Arumi dengan sangat erat. Ada rasa berat yang menjalar luas di dalam dadanya. Andaikan ia tidak terikat tanggung jawab pekerjaan, Ayu ingin sekali mengiringi langkah Arumi pulang ke kampung halamannya. Namun apa mau dikata, pekerjaan sebagai kapster salon saat ini adalah satu-satunya mata pencahariannya di kota metropolitan. Ia harus terus membanting tulang demi mengirimkan nafkah untuk putri kecilnya yang ditinggalkan di kampung, di kota Brebes bersama sang ibu, setelah mantan suaminya lepas tangan dan tak pernah lagi memberi nafkah sepeser pun.
Ayu melepaskan pelukannya perlahan, menatap kedua mata Arumi lekat-lekat dengan ukiran senyuman yang tulus.
"Tapi ya sudahlah... semoga keputusanmu untuk pulang dan menenangkan diri ini bisa membuatmu jauh lebih bahagia ya, Rum. Dan aku yakin, apa pun pilihanmu dan keluargamu nanti di kampung, itu adalah yang terbaik buat masa depanmu!" sambung Ayu penuh rasa hangat, menyuntikkan semangat untuk sahabat terbaiknya.
Arumi mengusap lembut punggung tangan Ayu, matanya berkaca-kaca menahan haru. "Terima kasih banyak ya, Mbak Yu... Terima kasih untuk semuanya. Untuk tumpangannya, perhatianmu, dan semua nasihatmu selama aku di sini. Kamu jaga diri baik-baik di Jakarta, jangan sampai kelelahan ya. Titip salam hangat juga buat si kecil di Brebes."
"Siap, Bu Guru!" jawab Ayu menyunggingkan senyum tegar, mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah. "Kabari aku kalau sudah sampai di kampung ya!"
Klakson bus antarkota jurusan Jawa Tengah meraung pelan, menandakan armada tersebut siap diberangkatkan. Arumi mengangguk mantap, melempar senyuman terakhir pada Ayu, lalu melangkah perlahan menaiki tangga bus. Dari balik kaca jendela bus yang bergerak pelan meninggalkan terminal, Arumi melambaikan tangannya, meninggalkan kerumunan kota Jakarta beserta seluruh kenangan dan luka mendalam yang melibatkannya dengan Zaky.
*
*
Kepergian Arumi ke kampung halamannya menyisakan kehampaan luar biasa di dalam hidupnya Zaky. Suasana hati pria itu benar-benar diselimuti rasa galau, hampa, dan frustrasi yang teramat dalam. Untuk melupakan rasa sakit dan sesak di dadanya, Zaky memilih untuk mengubur diri dalam pekerjaan. Ia lebih sering menginap di kantor dan jarang sekali pulang ke rumah. Namun, sebanyak apa pun berkas yang ia periksa, bayangan Arumi tak pernah terkikis sedikit pun. Zaky rupanya sudah cinta mati dengan wanita itu.
Arya, sang asisten pribadi, menatap prihatin ke arah pintu ruangan kerjanya. Wajah bosnya yang biasa tegas kini tampak pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata.
Keesokan paginya, Azzam dan Azzura yang cemas karena sang ayah tak kunjung pulang ke rumah, memutuskan untuk datang langsung menjenguk Zaky di kantor. Namun, begitu pintu ruang kerja diapit perlahan oleh Arya, betapa terkejutnya si kembar melihat kondisi ayah mereka. Zaky terbaring meringkuk di atas sofa panjang dengan kemeja kusut, brewok tipis yang tumbuh liar, dan raut wajah teramat lelah.
"Kak... apa gara-gara Papah kita larang menikah lagi jadi seperti ini? Kalaupun iya, kasihan juga Papah..." bisik Azzura iba, matanya berkaca-kaca menatap sosok ayahnya yang sangat berantakan.
Arya segera menempelkan telunjuk di bibirnya, memberi isyarat agar si kembar tidak bersuara keras. "Ssst... harap pelan-pelan ya, Tuan Muda, Nona. Sudah tiga hari ini Tuan Zaky tidak bisa tidur nyenyak, dan baru pagi ini beliau bisa tertidur lelap karena benar-benar kelelahan," bisik Arya lembut.
Azzam menarik napas panjang, lalu berbisik tepat di telinga adik kembarnya. "Aku... sebenarnya akan setuju kalau yang jadi calon ibu tiri kita itu Bu Arumi. Tapi kalau yang lain sih, no way!"
Azzura mengangguk cepat dengan mata berbinar pelan. "Wah, sama dong, Kak! Aku juga enggak mau punya ibu tiri... terkecuali kalau speknya penyayang seperti Bu Arumi!"
Tak ingin mengganggu istirahat sang ayah, si kembar akhirnya memutuskan untuk pulang dan berencana kembali besok. Di sisi lain, Nyonya Maya yang mendengar kabar tersebut justru bersikap santai. Bagi sang nenek, kondisi frustrasi putranya adalah hal biasa. Ia yakin lambat laun Zaky akan kembali dingin dan normal seperti semula, seperti saat Zaky meninggalkan Arumi dulu.
*
*
Menjelang malam, perlahan Zaky mengerjapkan matanya. Kepala pria itu terasa berat. Arya yang sudah bersiap di dalam ruangan segera menyodorkan secangkir teh chamomile hangat untuk sang bos. Zaky menerima cangkir itu dan langsung meneguknya perlahan untuk menenangkan sarafnya yang tegang.
"Oh iya, Tuan. Tadi siang Tuan Muda Azzam dan Nona Azzura sempat datang ke sini untuk menjenguk," ujar Arya memecah keheningan. "Tapi karena Tuan sedang tidur sangat pulas, mereka tidak tega membangunkan dan memilih pulang."
Mendengar perhatian kedua anaknya, Zaky menghembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya yang pegal pada sandaran sofa. "Begitu ya..." gumamnya lirih.
Arya berdehem sejenak, mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. "Oh iya Tuan... tadi sore saya sempat berpapasan dengan temannya Bu Arumi. Kalau tidak salah, Ayu namanya. Waktu itu saya sedang membeli kopi di salah satu mal dekat sini, dan sepertinya wanita bernama Ayu itu bekerja di salon ternama yang ada di mal tersebut."
Deg!
Mendengar nama Ayu diucapkan, mata Zaky yang semula redup seketika terbuka lebar. Pikirannya seolah tersengat aliran listrik.
'Ayu! Kenapa dari kemarin aku tidak berpikir untuk menanyakan langsung pada sahabat dekatnya itu?! Ayu pasti tahu alasan mendasar di balik perubahan drastis Arumi!' batinnya baru tersadar.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Zaky menyambar jas mewahnya yang tersampir di sofa dan berdiri tegap. Rasa kantuk dan lelahnya mendadak sirna digantikan oleh secercah harapan.
"Arya! Lacak nomor teleponnya sekarang juga dan hubungi wanita bernama Ayu itu! Atur pertemuan denganku di suatu tempat... tanpa sepengetahuan Arumi sedikit pun!" perintah Zaky dengan suara tegas yang telah kembali berwibawa.
"Baik, Tuan! Saya akan segera mencari nomor ponsel Mbak Ayu!" jawab Arya sigap seraya meraih tabletnya, siap menjalankan perintah sang CEO.
' Aku yakin Ayu bisa memberitahukan kepadaku soal apa yang telah terjadi dengan Arumi!' ucap Zaky dalam hati dengan penuh keyakinan.
Bersambung...
sekarang si tinggal terserah lu
masih mau ga berjuang
Arumi mah udah pasrah Ama takdir
toh...gw juga bisa kok selama ini tanpa lu
dasar nenek lampir
Arumi lawan jgn diam aj, cabein aj mulut kotor Bu Maya klu ga berani suruh othor yg maju duluan ntar aku bantuin doa dari jauh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣