Sebuah pernikahan yang begitu megah, suatu hal yang selama ini diimpikan oleh Devina, tiba-tiba dihancur begitu saja oleh seseorang yang selama ini sangat dia benci.
Bukan hanya pernikahannya, tapi perusahaan keluarganya pun mengalami kehancuran.
"Aku sanggup membuat perusahaan ayahmu kembali berjalan, tapi dengan satu syarat, kamu harus menikah denganku!"
Itulah yang diucapkan oleh Abian Pratama, seorang CEO dingin dan kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Aku harus pergi!" ucap Devina. Dia sangat yakin pasti Abian yang telah menyebabkan kekacauan ini.
Dia harus menemui pria itu, menuntut penjelasan, dan meminta pertanggungjawaban atas semua yang telah terjadi.
"Devina, kamu mau kemana?" cegah Eliano.
Namun, Devina tak mendengarkan. Dia segera pergi meninggalkan gedung, lalu mengendarai mobilnya.
Mencari Mansion Pratama sangat mudah. Karena di kota ini itu adalah satu-satunya Mansion yang paling megah, seperti istana.
Devina segera menghentikan mobilnya di depan gerbang, saat mobilnya dihentikan oleh para petugas keamanan.
"Anda siapa? Ada keperluan apa Anda datang kesini?" tanya salah satu penjaga keamanan.
Devina membuka kaca jendela mobil, menatap tajam ke arah mereka. "Aku Devina Buana. Aku ingin bertemu dengan Abian. Suruh dia keluar sekarang juga!" jawabnya dengan nada kesal.
"Maaf, sepertinya Anda tidak memiliki janji pertemuan sebelumnya. Sesuai prosedur, silakan kembali lagi tiga hari lagi untuk mendaftarkan jadwal pertemuan."
Devina mendengus kesal. Hanya ingin bertemu dengan musuh bebuyutannya saja, seperti akan bertemu dengan Presiden. Sesulit itu.
"Aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengannya," tegas Devina.
Semua petugas kami saling memandang dengan penuh kebingungan. Apalagi saat melihat penampilan Devina yang mengenakan pakaian pengantin.
Apakah mungkin... gadis ini ingin meminta pertanggungjawaban dari sang tuan muda? Itulah yang ada dipikiran mereka.
Salah satu petugas keamanan segera masuk ke dalam mansion untuk melaporkan tentang kedatangan Devina. Tak lama kemudian dia kembali, lalu segera membuka pintu gerbang.
"Tuan bilang Anda boleh masuk!"
...***************...
Atas petunjuk dari seorang pelayan, Devina akhirnya berhasil menemui Abian di ruang kerja. Dia masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
Setelah sekian lama tak bertemu. Penampilan pria itu tak ada yang berubah. Masih sama seperti dulu. Pria itu sedang sibuk dengan laptopnya, seolah tak menganggap kehadiran Devina.
"Kita harus bicara!" ucap Devina.
"Silahkan! Aku beri waktu tiga menit," balas Abian tanpa menoleh ke arah Devina, masih sibuk berkutat dengan laptopnya.
Devina menggigit bibir bawahnya. Ingin rasanya dia menjambak rambut pria itu sampai kepalanya botak.
"Apa kamu yang menghancurkan pernikahanku?" tanya Devina, to the point.
Tanpa menoleh, Abian menjawab dengan enteng, "Iya."
Devina semakin kesal mendengar jawaban dari Abian, seolah apa yang dia lakukan sangat sepele.
"Apa mungkin kamu juga orang yang sudah membuat semua pemegang saham mencabut semua sahamnya di perusahaan ayahku?" tanya Devina lagi.
"Ya," jawab Abian sambil fokus dengan laptopnya.
"Kenapa kamu tega melakukannya? Apa kamu tahu, acara pernikahan ini adalah impian aku selama ini. Tapi kamu menghacurkan begitu saja. Bahkan kamu tega menghancurkan perusahaan ayahku," tanya Devina dengan nada menuntut.
Abian enggan menjawab. Dia hanya melirik sekilas jam di dinding, lalu berkata singkat. "Waktumu sudah habis. Kamu bisa keluar!"
Devina enggan pergi. "Aku tidak akan pergi sebelum kamu mempertanggungjawabkan semuanya."
Abian menatap tajam. "Jika kamu tidak pergi. Aku pastikan kamu tidak akan bisa keluar dari sini!"
Devina tidak takut dengan ancaman Abian. Dia terus berdiri memandangi Abian dengan tatapan dingin.
Abian mencoba kembali mengalihkan perhatiannya ke layar laptop, berusaha mengabaikan gadis itu. Tapi dia menjadi salah tingkah saat menyadari Devina masih saja terus memandangi dirinya.
Sepertinya Abian tidak sanggup terus ditatap oleh Devina, dia segera berdiri dari tempat duduknya. "Kamu pikir aku main-main dengan ucapanku? Jangan menyesali keputusanmu."
Devina segera melangkah mundur saat Abian berjalan mendekatinya. Dia menjadi gugup, dia rasa ucapannya pria itu tidak main-main.
"Ba-baiklah, aku akan pergi. Tapi urusan kita belum selesai!" ucap Devina dengan gugup. Dia segera berjalan untuk keluar dari sana.
Namun, begitu dia hendak keluar, Abian tiba-tiba menahan pintu, membuat Devina terkejut.
"Sudah aku bilang, kamu tidak akan bisa keluar dari sini. Kamu yang sudah memutuskan, Devina!"
Devina segera membalikkan badan, memandangi Abian yang jarak tubuhnya sangat dekat sekali, kedua tangannya sedang mengunci tubuhnya.
"Sebenarnya apa maumu..."
Devina berhenti bicara saat melihat tatapan pria itu sangat mengerikan. Seakan mau memakannya hidup-hidup, membuatnya menelan saliva sebanyak mungkin.
pasti elian cuma ngaku2 doang....😡