"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 | PENGKHIANATAN DI BAWAH SATU ATAP
Pukul 00.15 dini hari. Waktu yang terlampau larut untuk bertamu, namun amarah dan rasa penasaran yang membakar dada Aleeza Wira membuatnya tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Setelah Austin mengantarnya pulang ke apartemen, Aleeza diam-diam kembali menyelinap keluar dan memesan taksi menuju vila Julian.
"Nona Aleeza " sapa pelayan malam itu dengan wajah pucat pasi saat membukakan gerbang.
"Julian sudah tidur?" tanya Aleeza dingin, melangkah masuk tanpa membuang waktu.
"T-tuan sedang " sang pelayan terbata-bata.
"Tidak usah dijawab jika itu hanya kebohongan," Potong Aleeza tajam. Matanya menyipit mengingat pesan-pesan Karina sebelumnya. "Satu hal lagi di kamar mana Karina tidur selama di sini?"
Pelayan itu menunduk ketakutan. "Nona Karina masih di sini, Nona Beliau tidur di kamar tamu yang terletak tepat di sebelah kamar Julian."
DEG!
Jantung Aleeza seolah berhenti berdetak. Vila itu memiliki puluhan kamar kosong, namun kenapa Karina harus memilih kamar yang bersebelahan langsung dengan kamar Julian?
Dengan langkah tergesa-gesa yang dibarengi debar ketakutan luar biasa, Aleeza mengabaikan seruan pelayan dan berlari menuju sayap barat vila. Ia mendorong pintu kaca kamar Julian yang tidak dikunci.
Dan dunia di sekitarnya hancur berkeping-keping dalam satu detik.
Di atas ranjang besar berbalut selimut, Karina sepupu kesayangan yang paling dipercayainya di dunia tengah berbaring di sana. Sementara Julian duduk di sisi ranjang dengan tatapan penuh kelembutan yang diarahkan pada Karina.
Begitu pintu terbuka lebar, Julian dan Karina terperanjat kaget.
"A-Aleeza...?" cicit Karina pucat pasi.
Aleeza mundur satu langkah, tawanya pecah sebuah tawa hambar, getir, dan sarat akan kepedihan yang teramat sangat. "Wah jadi ini alasanmu mencariku terus, Kar?" bisik Aleeza dengan air mata yang tumpah ruah membasahi pipinya. "Dari semua orang di dunia ini kenapa harus Karina?!"
"Aleeza, dengarkan dulu—!" Julian mencoba bangkit, berniat meraih tangan Aleeza.
"Lepas! Jangan sentuh aku dengan tangan kotor itu, bajingan!" bentak Aleeza menepis tangan Julian dengan kasar, air matanya berubah menjadi kilat kebencian yang membara. "Kau menipuku selama berbulan-bulan dengan kepura-puraan cacatmu! Dan seakan itu belum cukup, kau berselingkuh dengan sepupuku sendiri?!"
Julian menatap tajam, pertahanannya runtuh dan sifat aslinya yang arogan mulai keluar.
" Kau pikir kau lebih baik, Aleeza?! Jangan lupa kau juga berselingkuh dengan Austin Vanderbilt! Seluruh negeri tahu apa yang kau perbuat di belakangku!"
PLAK
Tamparan keras mendarat telak di pipi Julian. Napas Aleeza memburu, dadanya naik turun menahan sesak yang teramat hebat.
"Aku berselingkuh karena aku mengira kau buta dan menderita karenaku! Aku mengorbankan kewarasanku demi merawatmu!" jerit Aleeza histeris. "Tapi kalian berdua kalian mengkhianatiku di belakangku! Mulai detik ini, dan selamanya kita sudah berakhir, Julian! Jangan pernah temui aku lagi!"
Tanpa menunggu balasan apa pun, Aleeza berbalik dan berlari keluar kamar dengan isak tangis yang memilukan.
Begitu Aleeza melangkah keluar dari gerbang vila, sebuah tangan kekar tiba-tiba menarik tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam dekapan yang sangat ia kenal.
Aleeza terlonjak kaget. "Austin ?"
Pria itu tidak mengenakan jas rapinya; ia berdiri di sana mengenakan kaus hitam kasual, dengan aroma maskulin yang langsung menenangkan saraf Aleeza yang tegang. Di telinga kanan Austin, sebuah earpiece kecil tampak terpasang menandakan bahwa pria itu mendengarkan setiap detik pertengkaran di dalam vila lewat alat penyadap yang disembunyikannya.
Austin sama sekali tidak berkata apa-apa. Dengan gerakan lembut, jemari hangatnya terulur menghapus jejak air mata di pipi Aleeza.
"Terima kasih," bisik Austin parau, senyuman miring penuh kemenangan tersungging di bibirnya. "Karena dengan memutus hubunganmu secara mutlak dengan keparat itu artinya, tidak ada lagi alasan bagimu untuk menolak pertunangan kita minggu depan, Mi Amor."
Aleeza menatap Austin dengan mata membelalak tak percaya. "Kau mendengarkan semuanya?"
"Genius. Ya, aku memang genius," bisik Austin mengecup kening Aleeza penuh kepemilikan, menyatukan takdir mereka selamanya di bawah langit malam Madrid.
▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!