NovelToon NovelToon
Zombie Cordyceps

Zombie Cordyceps

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Zombie / Hari Kiamat
Popularitas:491
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 - PELATIHAN SINGKAT

Sinar matahari sore yang hangat membiaskan warna keemasan di atas pelataran beton Bengkel Maju Jaya Motor. Bau oli mesin tua dan dentang perkakas besi buatan Onad yang masih mengulik bagian roda truk perlahan menyatu dengan hawa dingin yang berembus dari arah perbukitan Distrik Barat. Di dalam ruang kantor, Endru baru saja menutup buku catatan inventarisasi pasokan obat-obatan dengan helaan napas lega. Seluruh jenis antibiotik, cairan antiseptik, dan perban steril telah dikategorikan dengan rapi.

Namun, dorongan semangat dari percakapannya bersama Steve dan Nancy tadi siang masih bergetar di dalam dadanya. Pemuda berkacamata tebal itu meremas kedua telapak tangannya yang kurus. Ia sadar bahwa memiliki pengetahuan medis saja tidak cukup jika ia tidak bisa melindungi dirinya sendiri di saat kritis. Dengan bulat hati, Endru melangkah keluar dari kantor menuju pelataran tengah bengkel tempat Steve sedang melakukan pemanasan ringan.

"Steve," panggil Endru canggung seraya melangkah ragu mendekati pria tegap itu.

Steve menghentikan gerakan putaran lengannya, berbalik seraya menyapu peluh di leher menggunakan handuk kecil. "Ada apa, Ndru? Ada pasokan obat yang kurang?"

Endru menggelengkan kepalanya pelan, menatap luruh ke arah pipa besi tebal di samping kaki Steve sebelum akhirnya memberanikan diri menatap mata rekannya.

"Bisa... bisakah kamu mengajariku cara memegang dan mengayunkan senjata tumpul?" panggil Endru dengan vokal cemas namun tersirat keteguhan hati yang jujur.

Steve tertegun sejenak, namun sejurus kemudian sebuah senyuman bangga yang sangat lebar terkembang di wajah tegasnya. Pria kekar itu menepuk bahu Endru kencang hingga tubuh kurus pemuda itu agak terdorong ke depan.

"Ini baru brondong medis kebanggaan kita!" jerit Onad mendadak yang merangkak keluar dari kolong truk rakitannya seraya mengibaskan kain lap kotor di udara.

"Nah begitu dong, Ndru! Jangan cuma pegang botol alkohol terus, sekali-kali pegang besi biar otot lenganmu tidak lembek kayak tahu sumedang!" goda Onad seraya memanyunkan bibirnya jenaka.

Onad melangkah lincah menuju rak perkakas di dinding bengkel, merogoh sebuah batang pipa besi berongga sepanjang delapan puluh sentimeter yang dibungkus ikatan karet ban di bagian pegangannya. Pria eksentrik itu memutar-mutar batang besi tersebut di udara dengan gerakan gemulai sebelum menyerahkannya kepada Endru.

"Nih, pakai pipa besi punya Paman Eke dulu. Bahannya besi hollow ringan tapi tidak gampang bengkok. Pas banget buat lengan halusmu!" seru Onad seraya mengedipkan sebelah matanya centil.

Endru menerima pipa besi hollow tersebut dengan kedua tangannya. Bobotnya jauh lebih ringan dibandingkan pipa padat milik Steve, namun dinginnya permukaan besi itu tetap memberikan sengatan kenyataan bahwa benda ini adalah alat pencabut nyawa jika digunakan dalam pertempuran.

"Terima kasih, Onad," bisik Endru seraya menggenggam erat pegangan karet pipa tersebut.

"Sama-sama, Sayang! Awas jangan sampai kena jidat sendiri ya waktu mengayun!" gurau Onad seraya terkekeh riang sebelum kembali merangkak ke bawah kolong truk.

Steve tertawa kecil melihat tingkah Onad, lalu mengajak Endru melangkah ke area pelataran bengkel yang lebih terbuka. Pria tegap itu berdiri di samping sebuah tiang beton penopang atap yang dilapisi tumpukan ban mobil bekas.

"Pertama-tama, posisikan kakimu dengan benar, Ndru," kata Steve seraya membukakan kedua kakinya selebar bahu.

"Jangan berdiri terlalu kaku atau terlalu rapat. Tekuk sedikit lututmu agar tumpuan tubuhmu stabil waktu menahan benturan," instruksi Steve seraya membetulkan jarak pijakan kaki Endru menggunakan ujung sepatunya.

Endru mengikuti petunjuk tersebut, merenggangkan kedua kakinya dan menundukkan sedikit pinggulnya. Ia merasa posisi kuda-kuda itu agak aneh bagi tubuhnya yang tidak biasa berolahraga, namun stabilitas pijakannya memang terasa jauh lebih kokoh dari biasanya.

"Bagus. Sekarang genggaman tanganmu," lanjut Steve seraya memegang kedua pergelangan tangan Endru.

"Tangan dominanmu—tangan kanan—taruh di bagian atas pegangan. Tangan kiri memegang erat bagian bawahnya. Berikan jarak sekitar dua jari di antara kedua telapak tanganmu agar kamu punya daya ungkit saat mengayun," jelas Steve mendetail seraya menyesuaikan jemari Endru di atas balutan karet pipa.

Nancy yang baru saja keluar dari ruang kantor memiringkan kepalanya, bersandar di ambang pintu kayu seraya memperhatikan sesi latihan tersebut dengan binar mata penuh perhatian. Senyuman hangat dan dukungan yang terpancar dari raut wajah wanita berkacamata itu memberikan suntikan keberanian tambahan bagi Endru.

"Coba simulasikan ayunan pertamamu ke arah ban bekas di tiang itu, Ndru," pinta Steve seraya melangkah mundur dua langkah untuk memberikan ruang.

Endru mengangguk pelan, menyapu keringat dingin di pelipisnya. Ia memusatkan pandangannya pada tumpukan ban bekas di depan mata, mengangkat pipa besi hollow itu tinggi-tinggi di atas bahu kanannya, lalu mengayunkannya dengan seluruh tenaga lengan yang ia miliki.

BUGG!

Suara benturan tumpul bergema pelan. Namun, karena hanya mengandalkan tenaga lengan tanpa memperhitungkan keseimbangan, ayunan pipa besi Endru membalas memantul keras dari permukaan karet ban. Tubuh kurus pemuda itu terhuyung ke belakang akibat dorongan membalik, hampir saja kehilangan keseimbangan jika Steve tidak dengan cepat menahan punggungnya dari belakang.

"Aduh!" ringis Endru seraya memegangi pergelangan tangan kanannya yang terasa ngilu akibat hentakan keras.

"Tenang, jangan panik," tutur Steve lembut seraya menepuk pelan bahu Endru untuk menenangkannya.

"Kesalahan umum pemula adalah mengayun cuma pakai tenaga otot lengan. Kalau begitu caranya, tanganmu bakal cepat terkilir saat menghantam tengkorak zombie yang keras," jelas Steve membeberkan teknik dasarnya.

Steve meraih pipa besinya sendiri, berdiri di samping Endru untuk memberikan contoh pergerakan tubuh yang benar secara bertahap.

"Tenaga ayunan yang sebenarnya itu datang dari putaran pinggul dan dorongan bahu, Ndru," terang Steve seraya memutar pinggulnya perlahan ke kiri bersamaan dengan lintasan ayunan besinya.

"Saat kamu mengayun, putar pinggulmu, alirkan tenaganya ke bahu, lalu biarkan besinya meluncur mengikuti garis dorongan tubuhmu. Jangan ditahan saat membentur target, tapi salurkan tenaganya menembus target itu," tuntas Steve memberikan peragaan yang sangat jelas dan mudah dipahami.

Endru memperhatikan setiap lekuk pergerakan tubuh Steve dengan saksama. Sebagai seorang calon apoteker yang biasa menganalisis presisi dosis dan reaksi kimia, otak intuitif Endru perlahan memproses prinsip fisika sederhana di balik dorongan mekanis ayunan tersebut.

"Putar pinggul, dorong bahu, ikuti alur," gumam Endru mengulangi mantra petunjuk Steve di dalam hatinya.

Dari atas tangga mezanin berlantai dua, Luna melangkah turun perlahan. Mantan taruna itu berjalan mendekati pelataran, berdiri di samping Nancy seraya bersedekap dada mengamati proses latihan.

"Ayo coba sekali lagi, Endru. Bayangkan tiang itu adalah monster yang mau merebut ransel medismu," dorong Nancy lembut dengan vokal penuh semangat yang amat manis.

Endru menatap Nancy sejenak, mengangguk yakin seraya membetulkan kuda-kuda kakinya. Pemuda berkacamata itu menarik napas dalam-dalam melalui hidung, menghembuskannya perlahan untuk menenangkan denyut jantungnya yang berdebar kencang.

Ia mengangkat pipa besi hollow-nya sejajar dengan bahu kanan, memfokuskan pandangan matanya tepat pada titik tengah ban bekas. Tangan kanannya mencengkeram erat pegangan karet, sementara tangan kirinya menopang bagian dasar dengan presisi.

"Sekarang, Ndru!" seru Steve memberi instruksi eksekusi.

Endru memutar pinggul kirinya ke depan secara serentak, menyalurkan daya dorong dari paha menuju bahu, lalu mengayunkan pipa besinya dalam satu lintasan melengkung yang sangat bersih dan bertenaga.

BASHHH!

Suara benturan keras dan padat bergema nyaring di dalam ruangan bengkel. Pipa besi hollow itu menghantam tumpukan ban bekas tepat di titik tengah, menggerakkan susunan karet tebal itu hingga berguncang hebat tanpa ada pantulan balik yang menghentak pergelangan tangan Endru.

Pemuda itu berdiri tegap di akhir posisinya, napasnya sedikit memburu namun kedua kakinya tetap menancap kokoh di atas lantai semen tanpa terhuyung sedikit pun.

"Luar biasa!" puji Steve terbahak senang seraya menepuk punggung Endru dengan bangga.

"Daya dorong dan putaran pinggulmu pas sekali! Hantaman seperti tadi sudah lebih dari cukup untuk mematahkan leher atau memecahkan kerak jamur zombie biasa!" lanjut Steve memberikan apresiasi tulus.

Nancy bertepuk tangan riang dari ambang pintu, matanya berbinar cerah menatap keberhasilan Endru. "Kamu hebat sekali, Endru!"

Endru menatap kedua telapak tangannya yang masih memegang pipa besi, lalu menyunggingkan senyum lebar yang memancarkan rasa percaya diri yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa canggung dan perasaan tidak berguna yang sempat menghantuinya kini sirna berganti menjadi rasa kepemilikan atas perannya di dalam tim.

Luna melangkah mendekati Endru, mengamati postur berdiri pemuda itu dengan pandangan taktis yang hangat.

"Teknik dasarmu sudah bagus untuk perlindungan diri," kata Luna dengan vokal mantap dan jujur.

"Inget, Endru, tujuanmu latihan bukan untuk bertarung di barisan paling depan menyerbu zombie. Tugas utamamu tetap menjaga keselamatan tim dan mengobati luka. Latihan ini cuma supaya kamu bisa mempertahankan dirimu sendiri kalau ada ancaman mendadak yang menembus pertahanan kita," jelas Luna memberikan perspektif kepemimpinan yang bijak.

"Aku mengerti, Luna. Terima kasih banyak," jawab Endru mantap seraya membungkukkan badannya sedikit.

"Sama-sama. Sekarang bersihkan senjatamu dan istirahatlah," tutup Luna seraya menyunggingkan senyum tipis kepemimpinannya.

Di bawah naungan atap Bengkel Maju Jaya Motor, kelima penyintas kini makin padu dan solid. Pelatihan singkat tersebut tidak hanya membekali Endru dengan keterampilan fisik dasar, tetapi juga makin mempererat ikatan kekeluargaan dan rasa saling percaya di antara mereka semua, siap menghadapi segala rintangan yang menanti di dunia kiamat Cordyceps.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!