NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA BELUM MATI

SUAMIKU TERNYATA BELUM MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:311
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Selama hampir empat tahun, Puspita Kusumah dikurung di panti perawatan setelah keluarganya merekayasa tuduhan terhadapnya. Dengan bantuan kuasa hukum independen, ia meminta pengadilan membatalkan penetapan yang membatasi kewenangannya mengurus kepentingan perdata dan memperoleh putusan yang memulihkan haknya. Setelah dokter menyatakan rawat inap tak lagi diperlukan, ia dipulangkan secara resmi dan dapat mengurus warisan suaminya, Arya, termasuk saham Keluarga Mahesa. Namun, ada sebuah rahasia. Suaminya yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat ternyata masih hidup dan menyamar sebagai dosen hukum yang dingin di kampus. Kini keluarga Kusumah dan Mahesa berusaha merebut hartanya, sementara orang yang paling ia rindukan berdiri di hadapannya tanpa sudi mengakuinya. Mengapa Arya memalsukan kematian, dan sampai kapan Puspita harus berpura-pura tidak mengenal suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3 - Puspita Hamil?

Wangi dupa masih menempel di dinding ruang duka ketika Puspita membisikkan kalimatnya ke arah gumpalan abu di dalam wadah porselen.

"Aku akan membawanya pulang." Suaranya pelan, nyaris tertelan oleh lilin-lilin yang berjejer di sepanjang ruangan, dan tidak seorang pun di antara rombongan Keluarga Mahesa yang mendengar kalimat itu selain dirinya sendiri.

Ruangan itu sendiri berupa aula panjang berlantai kayu yang dindingnya dipenuhi pernis gelap. Lilin-lilin putih berjejer di sepanjang lorong, dan asap dupa yang naik lurus membentuk garis-garis tipis yang tidak terganggu oleh angin mana pun.

Puspita duduk di dekat wadah abu itu tanpa bergerak selama hampir satu jam penuh. Ia tidak meminta kursi, tidak meminta selimut, dan tidak meminta siapa pun menemaninya.

Sore itu, sebelum wadah abu itu dibawa keluar dari ruang duka, Puspita masuk ke kamar mandi dan meneguk sebotol kecil ramuan herbal yang pahitnya membuat lidahnya kebas.

Ramuan itu sudah ia siapkan sejak pagi, dan efeknya muncul tepat ketika ia berdiri kembali di samping lilin-lilin itu. Perutnya melilit, wajahnya memucat, dan keringat dingin menempel di pelipisnya.

Dari cermin kamar mandi ia menatap wajahnya sendiri beberapa saat, lalu menyeka sisa cairan pahit di bibirnya dengan punggung tangan.

"Nona Kedua, Nona... apakah Nona sedang mengandung?" Suara Suroto terdengar hati-hati dari seberang ruangan.

Ekspresi Puspita tertegun sesaat, lalu air mata yang tadi tertahan mengalir makin deras.

Ingin saham? Silakan menunggu di kehidupan berikutnya.

Patriark Haryo Mahesa adalah pria yang romantis dan mudah mengumbar kasih sayang. Ia tidak hanya punya beberapa istri, tetapi juga banyak putra dan putri yang lahir dari mereka, dan semuanya sedang menunggu dengan sabar pembagian harta Keluarga Mahesa.

Di antara mereka, kakak tertua dan putra kedua sudah bertarung selama bertahun-tahun, dan kedudukan keduanya di keluarga jauh lebih tinggi daripada anak-anak lain.

Kini Arya sudah tiada. Walaupun ia menyerahkan seluruh warisan kepada Puspita, Laksana sama sekali tidak menaruh matanya pada janda muda ini.

Puspita tidak tahu bagaimana nasib saham ini kalau jatuh ke tangan orang lain, tetapi satu hal yang pasti. Tidak mungkin ia yang menyerahkannya dengan sukarela. Bagaimana dan siapa yang akan mati lebih dulu, sulit sekali ditebak.

Puspita memeluk wadah abu itu erat-erat dan bergumam pelan, seolah kalimat itu ditujukan pada dirinya sendiri dan pada seluruh ruangan sekaligus.

"Arya, jangan khawatir. Aku pasti mengurus anak ini dengan baik. Ayah dan kakak tertua memperlakukanku dengan baik, jadi tidak masalah kalau aku membesarkan anak ini sendiri."

Wajah Suroto berubah serius. Ia menoleh pada Yusuf dan bertanya dengan suara rendah, "Kau yakin Nona Kedua sedang mengandung?"

"Apa?" Yusuf berdiri dengan wajah yang sama sekali tidak tahu sedang berada di mana.

"Jaga baik-baik Nona Kedua. Aku akan melapor pada Tuan." Suroto memberi isyarat pada orang di sekitarnya untuk membantu Puspita berdiri. Janda muda itu masih memeluk wadah abu dengan enggan, lalu tiba-tiba ia membungkuk ke arah wadah itu sambil mual.

"Hek! Arya... huhu... nanti aku yang akan mengurus anak..."

"Nona Kedua, biarkan Tuan Kedua beristirahat dengan tenang." Suroto membawa wadah abu itu perlahan dan meminta agar semuanya dikuburkan kembali dengan rapi.

Tubuh Yusuf kaku seketika.

Lewat earphone yang masih terpasang di telinganya, ia mendengar suara benda berat yang menghantam sesuatu dengan keras sekali, dan ia hampir bisa membayangkan betapa murkanya pemilik keluarga di seberang sana.

Ia tidak berani bicara, dan tidak berani menutup panggilan itu.

Yusuf menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Baiklah. Langit begitu biru, dan rumput di pinggir sana begitu hijau.

Suroto pergi dengan terburu-buru karena urusan pelaporannya. Yusuf mengantar Puspita yang terlihat sangat sedih sampai hampir pingsan itu masuk ke dalam mobil, lalu ia kembali ke rumah tempat Arya dan Puspita biasa tinggal di kawasan privat ibu kota.

Sesampainya di rumah, Puspita membuka matanya, dan Yusuf segera memanggil dokter.

Yang datang adalah seorang dokter tua yang sudah mengabdi puluhan tahun di bidang pengobatan herbal. Dengan meraba nadi, ia bisa mengetahui dengan jelas apakah seorang perempuan sedang mengandung atau tidak.

Setelah pemeriksaan selesai, dokter tua itu menggeleng pelan, memberi isyarat bahwa Puspita tidak sedang mengandung.

"Sebentar dulu, Tuan." Puspita menahannya. Ia mengelap noda di tangannya dengan tisu basah, noda yang masih membawa aroma tanah makam dari sore tadi.

"Tuan, apakah saya sedang mengandung?"

"Tidak." Dokter tua itu menjawab dengan jujur.

"Kalau Nona mengalami gejala pusing dan mual, bisa jadi karena Nona terlalu larut berduka sampai tubuhnya lemah. Sebaiknya istirahatlah dulu di rumah."

"Sayang sekali." Puspita mendongak menatap dokter tua itu. Ia memang masih gadis muda, dan sepasang mata lonjong yang cantik itu seharusnya terlihat lembut, tetapi pupilnya dalam dan suram.

"Tuan, kami memiliki harta yang begitu banyak, tetapi tidak meninggalkan seorang anak pun untuk mewarisi. Menurut Tuan, sayang tidak?"

Dokter tua itu terkejut dan menatap Yusuf tanpa tahu harus berbuat apa.

Yusuf menebak apa yang dimaksud Puspita, lalu berkata sambil berpikir, "Rasanya Tuan Patriark akan mengirim dokter ke sini."

Artinya, berpura-pura mengandung tidak akan bisa dijalankan.

Bahkan kalau ia bisa bersekongkol dengan dokter ini, ia tidak akan bisa menyuap orang-orang yang dikirim langsung oleh Keluarga Mahesa.

"Aku punya caranya sendiri." Puspita menatap Yusuf sambil tersenyum.

"Tuan Yusuf, kau sudah bertahun-tahun mendampingi Tuan Kedua, dan kau juga tidak mau barang-barangnya jatuh ke tangan kakak tertua, kan?"

Walaupun ia tersenyum, senyum itu tidak pernah sampai ke matanya. Setiap kali Yusuf menatap sepasang mata yang gelap dan dalam itu, ia selalu merasakan geli yang tidak bisa dijelaskan.

"Lalu bagaimana sepuluh bulan kemudian? Tuan Kedua sudah tiada, bagaimana Nona bisa mengandung?"

"Sepuluh bulan kemudian masih ada jalan lain. Bisa digugurkan, dan bisa juga dilahirkan."

"Bagaimana Nona menghidupi anak itu sendiri?"

"Bagaimana kalau kau dan aku punya anak bersama?"

"..."

Yusuf tidak sadar tangannya menyentuh earphone nirkabel di telinganya. Untung saja yang sedang ia ajak bicara bukan Tuan Kedua, kalau tidak ia pasti merasa setengah kakinya sudah berada di dalam peti mati.

Mungkin janda kecil ini masih ingin mencari seorang pria, lalu menggantungkan anak itu di nama Arya Mahesa, dan mewarisi seluruh harta Arya Mahesa?

Biadab, sungguh biadab!

Kalau waktunya tiba, Tuan Kedua tidak hanya akan membunuh Puspita dan pria itu, tetapi juga dirinya sendiri!

"Biarpun begitu, biar kupikirkan dulu. Izinkan aku mengantar Tuan Dokter pergi dulu." Yusuf merasa ia harus bertanya dulu kepada Tuan Kedua tentang urusan ini, lalu ia mengantar dokter tua itu ke pintu dan berpesan, "Kalau nanti ada yang bertanya, jangan sampai ada yang tahu."

Dokter tua itu adalah orang kepercayaan Arya dan sudah mengetahui bahwa ia tidak benar-benar tiada, sehingga Yusuf tidak perlu menjelaskan apa pun lagi.

Setelah dokter tua pergi, Yusuf menelepon Arya dan menjelaskan dua hal. Puspita tidak sedang mengandung, dan ia berniat berpura-pura mengandung.

Suara Arya terdengar sangat datar sampai tidak ada satu pun emosi yang bisa dibaca dari situ.

"Biarkan dia mengandung. Sepuluh bulan lagi dia tidak akan melahirkan, dan akan kutagih perhitungannya."

Setelah menerima perintah itu, Yusuf dan orang-orang di sekitarnya tentu berusaha semampu mereka untuk bekerja sama dengan rencana Puspita. Bagaimanapun juga, tuan mereka tidak benar-benar tiada, dan mengandung palsu bukanlah rencana yang mustahil.

\=\=\=\=

Beberapa hari kemudian, dokter yang dikirim Tuan Patriark tiba.

Yang datang adalah dokter Indra, dokter pendamping Keluarga Mahesa, dan hal itu menunjukkan betapa seriusnya keluarga besar itu memandang urusan ini.

Begitu melangkah masuk, Yusuf sudah menyambutnya dengan sebuah kotak berisi uang tunai.

"Maaf merepotkan, Dokter Indra."

"Tuan Yusuf terlalu sopan. Ini sudah menjadi tugas saya."

Sikap dokter Indra yang tidak menunduk dan tidak menjulurkan tangan itu bisa dibilang sebuah penolakan halus, dan membuat Yusuf sedikit cemas.

Yusuf yakin bahwa penghalang dari rencana kehamilan palsu ini justru ada pada orang yang sedang berdiri di hadapannya.

"Nona Kedua."

Ketika dokter Indra menemui Puspita, matanya berhenti beberapa saat di wajah janda muda itu.

Puspita yang biasanya berbicara kasar tersenyum untuk pertama kalinya di hadapannya, alisnya melengkung, dan kemarahan di matanya berkurang cukup banyak.

"Dokter Indra, apakah saya sedang mengandung?"

Mendengar sapaan itu, tangan dokter Indra yang sedang meraba nadi bergetar sedikit, dan Yusuf yang berdiri di sebelahnya melebarkan mata.

Dokter Indra tidak langsung menjawab. Ia menutup pintu ruang pemeriksaan, lalu mengeluarkan dari tasnya sebuah map tipis berisi beberapa lembar berkas USG yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari, dan meletakkannya di meja samping tempat tidur.

Ia menepuk berkas itu dua kali dengan ujung jari sebagai isyarat, dan hanya setelah itu ia melanjutkan pemeriksaan nadi seperti sediakala.

Ada yang tidak beres. Ada yang tidak beres.

Kenapa Nona dan Dokter Indra ini tampak seperti saling mengenal?

Akhirnya Yusuf memahami alasan Puspita begitu percaya diri bisa berpura-pura mengandung. Bagaimana bisa ia bertemu dengan dokter Indra sebelumnya?

Dokter Indra menyunggingkan sudut mulutnya tipis.

"Mengandung. Nona tetap harus menjaga istirahat dalam waktu dekat ini."

"Tolong sampaikan hal ini pada pemilik keluarga."

"Baik."

Setelah dokter Indra pergi, Puspita menghapus seluruh senyumnya dan memberi perintah pada Yusuf.

"Pesan tiket untukku. Aku akan ke Kota Serimpi untuk memelihara kandungan."

Kediaman Kusumah tersembunyi di lereng bukit Kota Serimpi dengan pemandangan yang sangat menyenangkan. Bukankah tempat seperti itu adalah tempat yang paling pas untuk memelihara kandungan?

Puspita tidak hanya ingin pindah ke Kediaman Kusumah untuk memelihara kandungan, ia juga ingin Keluarga Kusumah mengundangnya kembali dengan penuh hormat.

Yusuf berdiri membeku di tempatnya, sedikit ragu untuk membuka mulut.

Di luar jendela, dua pelayan rumah sedang menurunkan koper ke dalam bagasi mobil, dan suara roda yang berputar di lantai marmer terdengar sangat jelas dari dalam ruangan.

Yang paling membuatnya penasaran sebenarnya adalah hubungan antara Puspita dan dokter Indra, tetapi itu adalah urusan pribadi Puspita, dan sepertinya ia tidak punya hak untuk bertanya.

Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia tidak bertanya apa pun dan pergi memesan tiket untuk Puspita.

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
singgah dimari nanti bacanya ya kaCan
☠ Novita ☘𝓡𝓳『⃟𝐉 zc❖ 🍒⃞⃟🦅
mampir kak, semangat yah
anonim
semangat kk ceritanya bagus , gak bisa komen cepet-cepet tapi tenang dibaca semua kok.
anonim
halo apa kabar , aku mampir lagi nih
anonim: udah..
total 13 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!