NovelToon NovelToon
Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi
Popularitas:67.3k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.

“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.

Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.

“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.

Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.

“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Pagi itu Kartika berdiri di depan cermin membantu Kalingga merapikan seragam barunya. Kemeja putih anak itu masih licin, sepatunya mengilap, das barunya bahkan masih terlihat sangat bagus.

Namun, wajah Kalingga justru murung sejak bangun tidur. Anak itu berdiri diam sambil menunduk.

“Kakak, masih sedih, ya?” Kartika jongkok di depannya sambil membenarkan dasi kecil putranya.

Kalingga mengangguk pelan. “Aku kangen sekolah lama, Ma.”

Suara Kalingga lirih, membuat hati Kartika terasa nyeri. Namun, ia tetap tersenyum lembut.

“Nanti juga akan terbiasa.”

“Tapi aku enggak kenal siapa-siapa di sana.”

Kartika mengusap rambut anaknya perlahan. “Mama juga dulu pernah jadi anak baru.”

“Mama, takut?”

“Banget.”

Kalingga akhirnya sedikit menoleh. “Tapi, kan Mama hebat.”

Kartika tertawa kecil. “Enggak juga.”

Kartika lalu mencubit pipi putranya gemas. “Yang penting Kakak tetap jadi anak baik.”

Tak lama kemudian mereka pun berangkat menuju sekolah baru Kalingga. Bangunan sekolah itu besar dan mewah, dengan halamannya yang luas. Mobil-mobil mahal berjajar di area depan.

Kalingga langsung memegangi tangan Kartika semakin erat. “Mama, ini sekolah beneran?” bisiknya pelan.

Kartika tersenyum geli. “Iya.”

“Kayak hotel.”

Kaivan yang duduk di belakang ikut nimbrung polos. “Adek mau cekolah cini juga!”

Rangga yang duduk di kursi pengemudi, langsung tertawa kecil. “Nanti kalau Kai susah gede, bisa sekolah di sini.”

Begitu turun dari mobil, beberapa orang tua langsung melirik ke arah mereka. Sebagian sibuk mengobrol sambil memegang ponsel mahal. Anak-anak kecil berlari sambil membawa tas bermerek.

Kalingga makin ciut. Dia merasa berada di dunia asing.

Kartika langsung menggenggam pundaknya pelan. “Kakak dengar Mama ya.”

Kalingga menoleh.

“Di sekolah nanti Kakak harus sopan sama semua orang.” Kartika berbicara lembut tetapi serius

Anak itu mengangguk kecil.

“Tapi jangan takut juga.” Kartika membungkuk sedikit agar sejajar dengan wajah putranya. “Kalau ada yang nakal, lapor guru. Kalau ada yang jahil, jangan balas dulu. Tapi kalau ada yang nyakitin Kakak ...,” suara Kartika sedikit berubah tegas, “Kakak harus berani bela diri.”

Kalingga tampak mendengarkan serius.

Kartika mengusap pipinya pelan. “Mama enggak mau Kakak jadi pembully. Tapi Mama juga enggak mau Kakak dibully.”

Kalingga akhirnya tersenyum tipis. “Iya, Ma.”

Kartika lalu mencium kening putranya lama. “Semangat, ya!”

Saat Kalingga mulai berjalan masuk ke gedung sekolah, anak itu sempat menoleh lagi. Tatapannya masih penuh ragu.

Kartika langsung mengangkat jempol sambil tersenyum menyemangati. Barulah Kalingga masuk ke dalam kelas. Begitu anak itu menghilang di balik pintu, senyum Kartika perlahan memudar. Ia mengembuskan napas panjang.

“Berat juga, ya,” gumam Kartika lirih.

Rangga yang berdiri di samping langsung tersenyum simpati. “Namanya juga seorang ibu.”

Kartika tertawa kecil walau matanya terlihat sendu.

Setelah mengantar Kalingga, Kartika langsung pergi menuju kantornya. Gedung perusahaan itu berdiri megah di pusat kota. Beberapa pegawai yang melihat kedatangannya langsung tampak terkejut sekaligus senang.

“Bu Kartika?”

“Ya ampun, akhirnya balik juga!”

Kartika tersenyum kecil sambil menggandeng Kaivan yang sibuk membawa mobil-mobilan kecil. Sudah bertahun-tahun ia meninggalkan pekerjaannya setelah menikah dengan Deva.

Namun, ternyata semuanya masih terasa familiar. Ruangan kerjanya masih sama. Meja kayu besar dekat jendela. Rak penuh map. Sofa kecil tempat dulu ia sering tertidur saat lembur.

Bedanya sekarang, ada Kaivan. Anak kecil itu langsung sibuk menjelajah ruangan.

“Mama kelja di cini?”

“Iya.”

“Cendilian?”

“Kan, sama Adek.” Kartika tertawa kecil.

Tak lama kemudian beberapa pegawai masuk membawa mainan dan karpet kecil. Rupanya Rangga sudah menyuruh mereka menyiapkan area bermain khusus untuk Kaivan. Satu sudut ruangan langsung berubah menjadi tempat bermain kecil.

Ada perosotan mini, robot-robotan, mobil-mobilan, peralatan menggambar, dan tenda kecil warna biru.

“Mamaa!” Kaivan langsung duduk anteng di sana sambil memainkan mobil.

Kartika sampai tersenyum haru melihatnya. Anak itu benar-benar tidak merepotkan.

Sesekali Kaivan menghampiri Kartika hanya untuk menunjukkan gambar atau meminta dibukakan snack. Sisanya ia bermain sendiri dengan tenang.

Beberapa pegawai perempuan bahkan diam-diam gemas melihat Kaivan.

“Lucu banget sih anaknya Bu Kartika.”

“Kalau ngomong bikin pengin cubit.”

Kartika hanya tertawa kecil. Namun di balik itu, hatinya kembali nyeri. Biasanya jam segini Deva sering video call untuk melihat Kaivan.

Dan hari ini tidak ada. Dia memang sengaja menonaktifkan nomor miliknya.

Sore harinya Kartika menjemput Kalingga. Namun baru saja anak itu masuk mobil, tasnya dilempar ke kursi belakang.

“Aku enggak mau sekolah di sini!”

Kartika langsung terkejut. “Kenapa, Kakak?”

Wajah Kalingga merah. Matanya berkaca-kaca. Tangis anak itu langsung pecah.

“Aku benci sekolahnya!”

Kartika buru-buru memeluk putranya. “Heh ... kenapa?”

Kalingga menangis sambil mengusap pipinya kasar. “Mereka jahat!”

Rangga yang duduk di depan langsung saling melirik menahan senyum. “Memangnya ada apa?” tanya Rangga hati-hati.

Kalingga langsung menunjuk pipinya sendiri dengan kesal. “Tadi ada anak perempuan nyium pipi aku!”

Hening beberapa detik. Lalu, Rangga langsung batuk keras menahan tawa. Dia buru-buru menutup mulut.

Sedangkan Kartika langsung melongo. “Hah, Kakak dicium?!”

Kalingga makin kesal melihat reaksi mereka. “Aku serius! Aku lagi duduk tiba-tiba dia datang terus bilang aku ganteng! Terus dia cium aku!”

Kaivan yang mendengar langsung ikut heboh.

“Kakak dicium, adek juga mau!”

“IIIIIH!”

“Terus, apa yang Kakak lakukan?” tanya Kartika penasaran.

Kalingga langsung merengut malu sekaligus marah. “Aku dorong dia!”

Kartika langsung membelalak. “Kakak dorong anak cewek?”

“Iya!” jawab Kalingga kesal. “Aku enggak suka! Terus dia nangis! Abis itu temen-temennya marahin aku!”

Tangis anak itu pecah lagi. “Mereka bilang aku jahat sama ratu sekolah!”

Kartika langsung menahan tawa mati-matian.

“Ratu sekolah?” ulang Rangga pelan.

Kalingga mengangguk kesal. “Katanya semua anak harus nurut sama dia!”

Rangga langsung tertawa keras kali ini sambil memegang perut. “Ya ampun, hari pertama sekolah langsung bikin masalah.”

“Aku enggak salah!” protes Kalingga sambil menangis.

Kartika buru-buru mengusap punggung anaknya. “Iya... iya... Kakak enggak salah. Tapi lain kali jangan dorong terlalu keras.”

Kalingga masih cemberut. “Aku kesel!”

“Siapa sih anak perempuan berani banget itu?” tanya Rangga penasaran.

Kalingga mendengus. “Namanya Aruna. Dia bilang dia paling cantik satu sekolah.”

Rangga jelas menahan tawa. Sedangkan Kartika mulai pusing sendiri. Baru hari pertama masuk sekolah anaknya sudah bermasalah.

Rangga akhirnya menoleh sambil tersenyum jahil. “Kalingga.”

“Apa, Om?”

“Mau enggak belajar bela diri?”

Mata Kalingga langsung berkedip bingung. “Buat apa?”

“Biar kalau ada yang kasar sama kamu, bisa kamu lawan.” Rangga menyeringai kecil.

Kartika langsung melotot. “Rangga!”

Rangga malah tertawa puas. “Bercanda.”

Diam-diam pria itu memang gemas. Anak sekecil Kalingga sudah dicium perempuan duluan.

“Aku jadi pengin lihat tuh anak.”

Kartika langsung menggeleng pasrah sambil memijat pelipisnya. Sedangkan Kalingga masih duduk manyun sambil memeluk tasnya erat. Di tengah kekesalannya, anak itu diam-diam masih mengusap pipinya sendiri dengan jijik.

1
Hary Nengsih
seneng bnget mo tlpn papa nya
Ita rahmawati
kok sedih ya🥺
Kar Genjreng
pada dasarnya kartika.masih cinta dan kalau sekarang menghubungi deva ya karena Deva sudah lepas daria orang tua nya dan adek adek,,, CERDAS jadi tidak jadi ATM. berjalan lagi kerja rodi anak istri terlantar orang tua dan adek nya bahagia,,, sekarang sudah bisa bernafas tinggal memperbaiki ,,, keluarga kecilnya hidup normal dan bahagia tidak harus terbebani banyak hal,,,coba begitu bercerita pura pura terkena musibah tidak ada yang niat baik dan menolong ,,,😮😮
carenina
kasian anak2 tdk tau apa2 terjebak diantara kebodohan papa nya dan keluarga lintah. biarkan anak2 hubungi papanya spy papanya lebih terpacu.
lanjut kakak
martiana. tya
bagus... sampai tamat ya kak😘😘
Mardiana
Kartika 🥰 dan Deva semoga rencananya berhasil dan kembali ke pelukan keluarga kecilmu🥰
Yuliana Tunru
mmg sdh waktu x tika kau tlp deva kasihan anj2mu jg deva dan smoga langkah besar deva bisa buat kalian bersama lagi walaupun pasti akan ada yg terasa beda 💪💪 deva
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
Oma Gavin
semoga yg membeli rumah deva suruhan kartika ngga rela banget rumah penuh kenangan kartika dan anak" nya jatuh ke tangan orang lain
Marlina
yeah akhirnya anak anak bisa denger suara bpknya😄😄😄
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
semoga Deva bisa bertemu dengan Kartika🥹 tapi keluarganya tidak ada yang tahu
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
anak² sangat merindukan papanya 😥😥😥
Nurlaela
masih kurang, lanjuuuttttt🤦🤭
Anonim
BUNUH DELISA BUNUH BOCIL ITU DAN BUAT IRIANA DAN IBU LO DEVA BUAT MAKAN DAGING TUH BOCIL
Ma Em
Bagus Deva kamu hrs tegas ambil keputusan yg tepat agar TDK dorong rong lagi sama keluargamu dan pindah yg jauh agar TDK diganggu sama adik adikmu Deva , lagian ibunya Deva juga serakah banget ga mikirin perasaan Deva setelah ditinggalkan anak dan istrinya yg ibu Deva dan adik adik nya pikirkan hanya uang saja , biar keluarga Deva sadar diri tanpa bantuan dari Deva hdp nya bagaimana nanti .
Rahma Inayah
yaa Kartika km GK boleh egois walau km marah dan kesel SMA Deva tp jgn anak2 diikut sertakan Krn mrk GK tau apa2 Maslah org dewasa blm mengerti .ajak aja Deva tgl bersama mu walau nnt Deva juga akan kecewa SMA kamu klu SDH bohongi dia klu km owner tempat dia bekerja tp km punya alasan Krn gak mau klu nnt sang suami minder ..klu km lbh kaya dr dia .semoga setlh drmaa Kel Deva .Deva BS memulai hidup barudgn Kel kecilnya bisa hidup bahagia
Dew666
👑👑👑
Wiwi Sukaesih
ajak Deva tnggal sama Kartika
tp kluarga Deva g ad yg blh tau
up LG Thor 😍
Noor hidayati
aku dukung tindakanmu kali ini deva
Anonim
Lanjut up thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!