NovelToon NovelToon
An Affair Ashford

An Affair Ashford

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Roman-Angst Mafia
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.

Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.

Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.

Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#3

Pintu mobil Maybach hitam yang terparkir di sudut remang pelataran parkir bar itu tertutup rapat. Keheningan yang menindas mendadak mengambil alih seluruh kabin kendaraan mewah tersebut.

Di barisan kursi belakang, udara terasa berat dan dingin, kontras dengan hawa panas yang membakar benak Dominic.

Dominic menyandarkan punggungnya, menatap lurus wanita muda di sampingnya. Tangannya meremas kuat mantel tuxedo yang masih melingkupi bahu Ester.

"Apa yang kau lakukan di dalam sana dengan pakaian yang seperti itu?" suara Dominic memecah sunyi, bernada berat dan dingin seperti es.

Ester Alba tak langsung menatapnya.

Matanya tertuju lurus ke depan—ke arah kemudi di mana sang sopir pribadi keluarga Ashford duduk tegap, pura-pura tidak mendengar.

"Bukan urusanmu, Tuan," jawab Ester pelan namun tegas. Suaranya datar, mencoba menyembunyikan getar ketakutan yang menggerogoti dadanya.

Dominic melirik ke depan. Memahami situasi, ia mengetuk kaca pembatas dengan dingin. "Kau keluar. Tunggu di luar sampai kupanggil."

"Baik, Tuan Ashford," balas sang sopir patuh. Pria paruh baya itu segera keluar dari mobil, menutup pintu rapat-rapat, lalu berdiri cukup jauh di bawah pendar lampu jalanan New York yang remang.

Kini, hanya ada mereka berdua di dalam kabin kedap suara tersebut.

"Aku tahu betul soal dirimu, Ester," ujar Dominic kembali membuka suara.

Matanya menyipit, meneliti setiap senti ekspresi di wajah gadis di hadapannya. "Bertahun-tahun kau mengajari keponakanku. Kau gadis baik-baik... itulah kenapa kau diterima di kediaman kami."

Ester akhirnya menoleh, menatap mata Dominic yang tampak menggelap oleh pengaruh alkohol dan sisa-sisa kemarahan yang belum padam.

"Kontraknya tidak tertulis, Tuan," jawab Ester, membalas tatapan itu tanpa gentar. "Aku bebas melakukan pekerjaan apa saja di luar jam mengajar."

"Tapi bukan berarti di bar!" timpal Dominic cepat. Suaranya naik satu oktaf, menunjukkan kejengkelan yang amat sangat. "Bukan dengan pakaian minim seperti wanita murahan di tempat seperti itu!"

Ester menatap Dominic dalam-dalam.

Ada kilat kepedihan di matanya, namun dibendung oleh harga diri yang teramat tinggi.

"Kau tidak tahu apa-apa soal kehidupanku, Tuan Ashford," potong Ester dengan nada tajam yang terkontrol. "Yang terpenting, saat aku pergi mengajar ke mansion Ashford, aku berpakaian sangat sopan. Dan aku sama sekali tidak pernah menggoda keponakanmu yang baru berusia 13 tahun itu."

Deg.

Dominic mengepalkan tangannya di atas pangkuan.

Rasa jengkel menusuk dadanya mendengar jawaban telak dari wanita muda ini. Tidak ada rasa takut atau kepatuhan yang biasa diperlihatkan gadis-gadis lain di hadapan seorang Ashford.

Dominic tahu latar belakang Ester.

Pria itu menyewa tim investigator pribadi sebelum mempekerjakannya dua tahun lalu. Ester Alba adalah seorang gadis yatim yang hanya tinggal bersama ayahnya yang sakit-sakitan.

Dia adalah mahasiswi penerima beasiswa penuh di universitas elit kota New York—gadis cerdas yang berjuang sendirian.

Apakah dia sedang dalam kesulitan finansial yang amat sangat? batin Dominic sambil menatap tajam wajah pucat itu.

Mata Ester mulai berkaca-kaca, namun nada suaranya tetap berusaha dipasang setangguh mungkin. "Gaji guru privat tidak terlalu besar untuk menutup semua kebutuhan, Tuan... Dan itulah kenapa aku ada di sini malam ini," ucapnya datar, menahan tangis yang mengancam pecah.

Dominic menatap lurus manik mata cokelat jernih itu. Rasa iba mendadak menyusup di balik amarahnya.

"Kau membutuhkan banyak uang?" tanya Dominic perlahan. "Ayahmu... akan dioperasi, bukan? Kenapa kau tidak mengatakannya pada keluargaku?"

Ya, Dominic tahu semuanya. Laporan medis ayah Ester.

Ester mengalihkan pandangannya, menelan ludah yang terasa pahit. "Aku tidak suka menerima uang tanpa melakukan apa pun. Keluarga Ashford sudah cukup banyak membantuku dengan memberiku pekerjaan."

Dominic mengangguk-angguk pelan, namun tatapannya tak melembut. "Tapi bukan dengan cara melakukan pekerjaan murahan seperti itu, Ester! Seorang pria akan memperlakukanmu seperti barang tanpa harga di tempat seperti itu."

"Temanku yang merekomendasikannya," sahut Ester lurus, jemarinya meremas kain gaun maroon-nya di balik mantel Dominic. "Hanya untuk satu malam, Tuan... Tebusan obat dan biaya perawatan ayahku bisa lunas untuk dua minggu ke depan."

Dominic menatap mata yang berkaca-kaca itu. Selama dua tahun mengenal Ester, ia tahu betul gadis berusia 22 tahun ini memiliki gengsi dan harga diri yang sangat tinggi.

Bahkan saat Mommy-nya dulu menawarkan tempat tinggal gratis di salah satu paviliun mansion Ashford agar Ester tak perlu memikirkan sewa apartemen, gadis ini menolaknya dengan halus.

Dan tiba-tiba... sekelebat bayangan perkataan gila Joy dan Julian di bar tadi membumbung tinggi, memenuhi otak Dominic yang terdistorsi oleh alkohol dan kekecewaan.

'Mereka siap menuruti setiap permintaanmu... Terikat kontrak... Kau bisa bercinta sepuasnya tanpa perlu menyetor perasaan yang akhirnya ditumpahkan ke tong sampah...'

Sialan. Pikiran menjijikkan apa ini? batin Dominic merutuki dirinya sendiri.

Hatinya yang hancur karena penolakan Florence bertahun-tahun kini beradu dengan dorongan liar yang tak masuk akal.

Ester menghela napas panjang, mencoba mengakhiri pembicaraan yang terasa makin menghimpit ini. "Saya akan kembali ke dalam, Tuan. Dan saya harap... Tuan tidak melaporkan hal ini pada Nyonya Penny."

Nyonya Penny—kakak kembar Dominic sekaligus ibu dari anak yang diajarnya—adalah sosok yang sangat tegas.

Jika hal ini sampai ke telinganya, posisi Ester sebagai guru privat pasti berujung pemecatan.

Dominic membeku.

Pertanyaan Joy di bar kembali berputar seraya menyatu dengan rasa sakit hati akibat penolakan Florence malam ini. Rasa frustrasi, dendam pada takdir, dan rasa ingin menguasai mendadak membakar dadanya.

"Kau... akan melayani seseorang di dalam sana?" tanya Dominic dengan suara bergetar pelan.

Ester mengangguk pasrah. "Tujuan saya memang seperti itu. Hanya untuk malam ini... setelah itu saya akan mencari pekerjaan tambahan lain."

"Berapa yang bisa kau dapatkan dari melayani mereka dalam satu malam?" cecar Dominic.

Ester menggeleng pelan, matanya menatap ke bawah. "Saya tidak tahu pasti, Tuan. Tapi teman saya mengatakan... harga saya akan sedikit tinggi."

Dominic memajukan tubuhnya, menghimpit jarak di antara mereka.

"Kau... masih murni?"

Ester terkejut dengan pertanyaan terang-terangan itu.

Pipinya memerah padam antara malu dan tersinggung. Namun ia mengangguk cepat, menyiratkan kebenaran yang tak bisa ia bantah.

Tanpa membuang waktu, Ester memegang gagang pintu mobil, berniat membukanya dan melarikan diri dari atmosfer menekan ini.

Namun, gerakannya terhenti seketika saat suara berat Dominic menggema di dalam kabin, menghentikan seluruh detak dunianya.

"Tidur denganku saja."

Deg.

Ester membeku total. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menghantam tulang rusuknya. Ia menoleh perlahan, menatap wajah Dominic dengan mata membelalak tak percaya.

"J-Jangan mencari pria lain," tambah Dominic, suaranya dalam dan penuh penekanan.

"Tuan—"

Belum sempat Ester menyusun kata-kata untuk memprotes, tangan kekar Dominic sudah menangkup belakang kepalanya, menarik wajah gadis itu, dan melayangkan sebuah ciuman panas yang menuntut.

Mmph!

Ester melotot sempurna.

Seluruh saraf di tubuhnya seolah lumpuh mendadak.

Sensasi bibir hangat Dominic yang menekan bibirnya dengan dominasi penuh membuat kepalanya mendadak kosong. Suara degupan jantungnya sendiri bergema begitu nyaring di telinganya, beradu dengan aroma pekat whisky dan parfum maskulin yang menguar dari pria itu.

"Aku tidak suka penolakan!" bisik Dominic di sela-sela ciuman panasnya yang makin melumat tajam.

Ester berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.

Pikiran mahasiswanya yang biasanya kritis kini runtuh menjadi kepingan tak teratur.

Ini adalah ciuman pertamanya—ciuman yang tidak pernah ia bayangkan akan dicuri oleh pria terpandang seperti Dominic Ashford, paman dari-muridnya sendiri.

Namun, di tengah himpitan ciuman yang terasa memabukkan dan menuntut itu, Ester merasakan sesuatu yang basah menetes di pipinya.

Satu tetes air mata jatuh dari sudut mata Dominic yang tertutup rapat.

Di balik kelopak matanya yang terpejam, bayangan wajah Florence yang tersenyum dingin seraya meletakkan cincin lamaran kembali terlintas membelah benak Dominic.

Rasa sakit itu begitu nyata, menyiksa dadanya hingga tak tertahankan. Namun dengan cepat, Dominic menepis bayangan Florence jauh-jauh, menggantinya dengan kenyataan bahwa wanita muda di pelukannya saat ini adalah milik yang bisa ia kendalikan.

Dominic sedikit mengernyitkan dahinya di tengah ciuman.

Bibir Ester terasa kaku, tidak merespons, dan tubuh gadis itu sepenuhnya gemetar. Dominic mendadak menyadari satu hal: gadis berusia 22 tahun di hadapannya ini benar-benar tidak pandai berciuman.

Ester bahkan menahan napasnya hingga wajahnya memerah.

Dominic melepaskan tautan bibir mereka beberapa milimeter, menatap mata Ester yang sayu dan kebingungan.

"Bernapas, Ester!" bisik Dominic parau, suaranya dalam dan berat.

"Hah... Huh... T-Tuan..." desah Ester terbata-bata, meraup udara sebanyak-banyaknya dengan dada yang naik turun dengan cepat.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Ester untuk berpikir logis kembali, Dominic kembali menyambar bibir lembut itu.

Ciuman kali ini berlangsung lebih lama, lebih dalam, dan sarat akan hasrat serta keputusasaan yang melebur menjadi satu di dalam kabin mobil yang remang.

Ester yang awalnya menegang perlahan mulai melemas di bawah kendali pria dewasa yang begitu berpengalaman itu. Tangannya tanpa sadar meremas kemeja Dominic, menyerahkan kepasrahannya pada takdir gila malam ini.

Setelah beberapa menit yang terasa bagaikan keabadian, Dominic akhirnya melepaskan ciuman itu. Ia menatap Ester yang bersandar lelah pada kursi dengan bibir sedikit bengkak dan napas memburu.

Dominic membunyikan klakson sekali, memberi sinyal pada sang sopir di luar. Ketika sopirnya mendekat dan membuka pintu dengan canggung, Dominic menatapnya dingin.

"Panggil taksi dan pulanglah. Berikan kunci mobil padaku," perintah Dominic tanpa bantahan.

"B-Baik, Tuan Ashford," jawab sopir itu terburu-buru seraya menyerahkan kunci dan segera berlalu.

Dominic berpindah ke kursi kemudi, memutar kunci, dan menderum-kan mesin Maybach tersebut.

Tanpa mengucap sepatah kata lagi pada Ester yang membisu di belakang, ia menancap gas menyusuri jalanan New York yang lengang.

Tujuannya malam ini jelas bukan Penthouse Pribadinya, melainkan penthouse mewah pribadi milik saudarinya yang jarang ditempati di pusat kota—tempat di mana ia akan menyelesaikan transaksi gila yang baru saja ia mulai.

...----------------...

Florence Nightingale Berres

Ester Alba

1
Yusry Ajay
semangat berkarya Thor 💪🤗🤗
Yusry Ajay
makasih uda up bnyk Thor 🤗🤗
Yusry Ajay
ya ampun kasian Ester 🥺🥺
Yusry Ajay
masih pagi dom😁😁😁
Isma Nayla
semoga flo,dapat mengikhlaskan Dominic bersama Ester dan semoga flo dapat pengganti Dominic .
Rosdianah 🌷: Amiin🫶
total 1 replies
Isma Nayla
di episode sebelumnya di katakan Ester sudah meminumnya tanpa ketahuan Dominic kok sekarang bilang belum meminumnya Thor?
Isma Nayla
Ester juga egois tidak mikir perasaan Dominic.
sudah jelas Dominic akan melindungi tp kayak gak percaya.
Asriani Rini
Tenang ester yg penting dominic sudsh percaya sama kamu hidupmu akan trrus dilinfungi
Asriani Rini
Apa kunilang ester kalu ksu jujur pd dominic tentang mada lalu pasti dia akan melindungimu
Isma Nayla
apa mungkin nanti Ester pergi dari hidup Dominic ? dan mengandung bayi dom2 ?
deg-degan nunggu up selanjutnya Thor
Mei TResna Rahmatika
wahh klimaks nya nih,lanjut thor💪
Yusry Ajay
ester sangat trauma dgn masalalu nya🥺🥺🥺
Yusry Ajay
kasian Ester Thor 🥺🥺
Asriani Rini
Jgn kawatir ester yg penting kamu mencitai Dominic dgn tulus apapun masalalumu klan asford akan menrrimamu tapi satu saranku jujurlah sama dominic tentang masa lalumu
Rosdianah 🌷: kasih tau Ester kak🤣
total 1 replies
Isma Nayla
sungguh tragis kehidupan Ester 😭😭😭
jangan naruh bawang banyak2 Thor 😭😭😭😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🤭
total 1 replies
Isma Nayla
di tunggu kelanjutannya lagi ya Thor 🤭
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Isma Nayla
kasihan sebenarnya Tristan tapi lebih kasihan Ester karena ayah keluarga Ester satu2 telah pergi😭
makasih sudah up Thor 🙏
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentarnya kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat berkarya 💪💪💪
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak komentarnya 🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
makasih uda up bnyk Thor 🤗🤗🤗
Isma Nayla
kasihan Ester walaupun caranya salah dalam masuk kekeluarganya Dominic semoga bila Dominic mengetahuinya rencana Ester sebelumnya dom2 tidak meninggalkan Ester /Whimper//Sob/
Rosdianah 🌷: huhu😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!