Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 09
Sekeras apapun dia berteriak, sang menantu tetap tidak mengindahkan. Berakhir Darti terengah-engah dengan wajah merah padam.
“Mas, gendong aku ke kamar mandi. Kebelet banget ini udahan,” seraya masih mengomel, Darti tidak lagi bisa menahan rasa menekan di bawah perut.
Doko menggerutu. Mulutnya bergerak-gerak. Kekesalannya menjadi dikarenakan harus mengurus istri cacat yang tidak bisa menjalankan tugas melayani diatas ranjang.
Pasca kecelakaan tiga tahun lalu, setiap kali pasangan paruh baya itu mencoba melakukan hubungan badan, Darti selalu menyerah dikarenakan tidak merasakan nikmat, ia seperti mati rasa. Entah apa penyebabnya, mereka enggan konsultasi dengan dokter.
Pria berperawakan kurus, tampak keberatan menggendong istrinya. Wajah Doko bak menahan sakit perut. Mulut terkatup rapat membuat kumis menutupi bibir atas.
Di kamar sebelah, Arjanti mendengar semuanya. Dari teriakan, ketukan berubah menjadi gedoran pintu. Sumpah serapah ibu mertua. Dia sengaja, enggan beranjak, dan hatinya pun tidak bergerak seperti biasa yang selalu merasa iba.
Janti mengambil bantal satu lagi, menutupi telinga. Posisi tidurnya miring ke kanan.
“Apapun yang terjadi, pikirkan besok,” ia memaksakan diri supaya terlelap.
***
Pagi hari.
Tok!
Tok!
Tok!
“Janti, bangun kamu! Dari tadi dipanggil, tapi gak nyaut-nyaut. Suara bu Darti sampai sampai serak!” Astuti mengetuk pintu kamar.
“Dia tidur apa mati?” gumamnya sambil mengetuk. “Gak biasanya telat bangun, mana matahari udah terbit lagi.”
Astuti kembali mau mengetuk pintu, tetapi urung saat mendengar suara kunci diputar.
Arjanti mengerjapkan mata, menguap lebar, dan menghembuskan napas keras. “Apa, Mbak?”
“Ih, bau napasmu!” Tangannya terayun seperti mengipasi udara di depan mulut. Dipandanginya penampilan kusut menantu pertama keluarga Doko.
“Bu Darti berisik banget dari tadi manggil kamu, sana buruan urus dia!” titahnya bak nyonya rumah.
Giliran Janti yang menelisik penampilan pembantu rumah tangga keluarga suaminya — kaos ketat mencetak bentuk buah dada besar, celana jeans selutut, lalu tatapannya turun ke jari-jari kaki berkutek merah pekat. Kemudian ia kembali memandang lekat tepat pada mata dihiasi bulu mata memakai maskara.
“Jangan cuma suaminya yang kamu layani sampai urusan memberi kepuasan pun dirimu handle. Sesekali rasakan juga merawat istri sah dari pria selingkuhanmu itu, Mbak,” dia tidak menyindir di belakang, namun langsung mengatakan tepat didepan orangnya.
“Kamu kenapa? Sakit atau gila karena ditinggal nikah?” Astuti tidak tampak takut, cuma terkejut akan mulut ketus wanita terkenal pendiam.
Sudah satu tahun ini Janti mengetahui hubungan gelapnya bersama Doko, dan dia biasa saja selagi pria tua itu berpihak kepadanya.
“Entah. Aku mau bebersih badan.” Hampir saja pintu tertutup rapat, kemudian dibuka sedikit lebar lagi. “Aku gak peduli tentang hubunganmu sama Doko. Namun mulai sekarang, kalau sampai mbak Astuti berjam-jam di pasar yang bukan cuma belanja tapi mampir entah kemana lagi, aku gak akan mau mengerjakan tugasmu!”
Brak!
“Astaga!” Badannya sampai melompat rendah, terkejut suara bantingan pintu.
“Gayanya ngancem, gitu kena omel si Darti gila itu, nyalinya langsung melempem (ciut),” Astuti tidak percaya, dia mengenal baik kepribadian Arjanti. Terlalu penurut, takut, suka gugup, membisu.
Dia menganggap ancaman Janti cuma angin lalu, kemudian dirinya melenggang pergi hendak ke pasar. Membiarkan rumah belum disapu, dipel, dan bak cuci piring penuh peralatan makan kotor yang semalam malas dibereskannya.
Ya, bukan cuma mertua dan suami saja yang semena-mena memanfaatkan tenaga Arjanti dengan berdalih demi bakti seorang istri. Pembantu rumah tangga juga sering melakukan hal sama.
Setengah jam kemudian, Janti keluar dari kamar tamu. Dia bukan saja menggosok gigi, namun juga sudah mandi dan untuk pertama kalinya setelah ibu mertua lumpuh, dia mengenakan dress longgar selutut. Rambut diikat tinggi.
Pakaian keseharian tak jauh-jauh dari kaos longgar, celana panjang, setelan baju yang aman disaat mengurus Darti.
Janti berjalan menuju ruang makan, ternyata disana sudah duduk kepala keluarga, istrinya dan sang besan yang sepertinya enggan pulang ke rumah sendiri.
Melihat sang menantu, amarah belum juga reda, kembali memuncak. “Kamu itu semalam tidur apa mati, hah?!”
“Pagi, Bu,” sapa Janti bersikap sopan, ekor matanya melirik peralatan masak, piring dan lainnya memenuhi area bak cuci piring.
“Gimana mau hamil, bangun saja malas apalagi olahraga. Contoh putriku Saila. Dia selalu lari pagi biar badan bugar, dan rahim tetap subur,” sindir wanita di sela mengunyah roti tawar diolesi selai coklat.
Hati Darti kian panas, ucapan besannya berhasil menambah emosi.
“Semalam kenapa kamu gak keluar kamar?” cecar Darti, sarapannya belum disentuh, lebih mengutamakan menceramahi menantu.
Janti berdiri di batas meja makan demi kitchen set. Menatap sekilas secara bergantian pada wajah menahan geram. “Aku kecapean, Bu.”
“Halla, alasan!” sembur Darti, melototi Janti. “Apanya yang capek, cuma masak buat 12 orang sudah mengeluh kamu. Dasarnya malas! Makanya rahim pun tandus dikarenakan fisik terlalu dimanja, lembek. Kerja keras sedikit langsung kelelahan.”
‘Sebenarnya aku kasihan sama Ibu — sudah lumpuh, diselingkuhi, tapi ucapanmu selalu menyakiti perasaanku,’ ia membatin seraya mengupayakan menghadirkan rasa sabar lebih luas lagi.
“Bu, aku mau pamit ke pasar besar,” Janti enggan membalas penghinaan itu.
“Eh, eh … sudah seperti nyonya saja kamu, ya? Bangun tidur langsung mau jalan-jalan. Lihat itu piring menumpuk, aku belum dibantu mandi, jangan tambah kurang ajar, Janti!” izin pun tidak sudi diberi.
Niat hati mau bersabar, menahan diri agar tidak menjawab berakhir menggores luka dihati orang lain terlebih ibu mertua yang umurnya jauh lebih tua, Arjanti terpaksa membalas.
“Bukankah aku memang termasuk nyonya, Bu? Aku menikah dengan anak si pemilik rumah ini, otomatis statusku juga sama ‘kan?” suaranya sarat menantang.
Sejenak Darti terdiam, tidak menyangka sang menantu lemah lembut berani menjawab tegas. “Jangan sombong kamu!”
“Bukan sombong, cuma mengingatkan,” balasnya tenang. “Piring kotor itu tugasnya pembantu!”
Doko menegang, menantunya berbicara seraya melirik tajam ke arahnya.
“Ya ampun Janti, jeng Darti itu gak jauh berbeda dari ibu kandungmu. Yang sopan lah!” tegur Tanira.
“Jangan ngajarin aku tentang adab, Bu, kalau diri sendiri pun gak bisa menerapkan. Ikut nimbrung tanpa dipinta, sementara Ibu orang luar di rumah ini,” balasnya telak.
“Tanira itu ibunya Saila, menantu di rumah ini. Dia bukan orang lain, jaga ucapanmu, Janti!” Doko membentak menantunya.
“Lantas, apa sopan ikut campur, mengomentari aku yang statusnya lebih tinggi dari putrinya itu?”
.
.
Bersambung.
aman kan hati dan pikiran biar tetap waras....
tebus kebebasanmu sendiri Janti, tak perlu menunggu herlan
memang mengerikan berhubungan dengan orang yang belum selesai masa lalunya....