Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Serangan Bandit 2
Kini hanya tersisa lima orang bandit termasuk sang pemimpin bandit.
Pemimpin mereka berdiri dengan wajah penuh amarah, tatapannya tertuju pada Isabella, sementara tubuh sepuluh anak buahnya telah tergeletak tak berdaya di tanah.
“Jangan biarkan perempuan itu hidup!” teriak sang pemimpin. “Serang dia bersama-sama!”
Empat orang bandit yang tersisa langsung bergerak, mereka mengepung Isabella dari berbagai arah, lalu menyerang secara bersamaan.
Tebasan pedang datang dari kanan, Isabella mengangkat pedangnya dan menahannya tepat waktu.
Trang!
Serangan lain menyusul dari belakang, Isabella memutar tubuh dan menangkisnya, lalu merendahkan tubuhnya ketika sebuah pedang melintas tepat di atas kepalanya.
Keempat bandit itu terus menyerang tanpa memberi kesempatan. Namun, Isabella tetap tenang, gerakannya cepat, presisi, dan penuh perhitungan.
Ketika salah satu bandit membuka celah, Isabella langsung memanfaatkannya. Dengan satu gerakan cepat, dia menerobos pertahanan lawannya dan menjatuhkannya. Sebelum bandit lain sempat membantu, Isabella sudah berbalik menghadapi penyerang berikutnya.
“Mustahil...” gumam salah seorang bandit.
Mereka mulai menyadari bahwa mereka bukan sedang menghadapi lawan biasa.
Isabella justru semakin agresif, setiap serangan yang datang ditangkis, kemudian dibalas dengan serangan yang jauh lebih kuat. Satu demi satu, keempat bandit itu akhirnya tumbang setelah tidak mampu lagi menghadapi kecepatannya.
Kini hanya tersisa satu orang, Isabella berdiri dengan napas sedikit berat, sementara keempat bandit terakhir telah dikalahkannya.
Tatapannya perlahan beralih kepada satu-satunya orang yang masih berdiri, sang pemimpin bandit.
Wajah pria itu yang sebelumnya penuh kesombongan kini berubah menjadi tegang, Isabella menggenggam pedangnya lebih erat.
“Sekarang,” ucapnya dingin, “tinggal kau.”
Sang pemimpin menatap anak buahnya yang telah dikalahkan Isabella. Untuk pertama kalinya, dia menyadari bahwa mungkin dialah yang akan menjadi korban terakhir.
Pemimpin bandit itu menggeram sambil mengatupkan giginya kuat-kuat. Tatapannya dipenuhi kebencian ketika menatap Isabella yang masih berdiri tenang di hadapannya.
Tanpa peringatan, dia langsung menerjang.
WUSSH!
Pedangnya menebas dari samping dengan kecepatan yang jauh berbeda dari anak buahnya.
CLANG!
Isabella menangkisnya tepat waktu, namun pemimpin bandit itu tidak berhenti. Dia segera mengubah arah serangannya, mengincar bahu Isabella, lalu berbalik dan menebas ke arah pinggangnya.
Isabella melompat mundur, ujung pedang hanya melewati beberapa sentimeter dari tubuhnya, Isabella kemudian tersenyum menyeringai.
"Jadi, kau jauh lebih kuat daripada mereka."
Akhirnya, Isabella merasa pertarungan ini cukup menarik.
Pemimpin bandit itu kembali menyerang, gerakannya jauh lebih presisi dan terarah. Setiap tebasan seolah telah diperhitungkan untuk menutup ruang gerak Isabella.
Namun Isabella selalu berhasil membaca gerakannya.
CLANG! CLANG! CLANG!
Pedang mereka beradu berkali-kali.
Pemimpin bandit itu tiba-tiba mengubah posisi dan menusukkan pedangnya lurus ke arah dada Isabella.
Isabella memiringkan tubuhnya.
SWISH!
Ujung pedang meleset dan hanya menyayat sedikit kain pakaiannya. Pemimpin bandit itu menggeram kesal, dia segera memutar tubuh dan kembali menebas namun Isabella justru merunduk, hingga pedang itu melintas tepat di atas kepalanya.
Isabella bangkit sambil tersenyum mengejek.
"Begitu saja?"
Wajah pemimpin bandit itu semakin merah.
"Kau!"
Isabella menggenggam pedangnya lebih erat.
"Kalau kau memang pemimpinnya, keluarkan semua kemampuanmu."
Tatapannya berubah tajam.
"Jangan sampai kau berakhir seperti anak buahmu hanya karena terlalu banyak menahan diri."
Provokasi itu berhasil.
Pemimpin bandit tersebut menggeram keras sebelum menyerang dengan brutal.
CLANG!
Isabella menangkis.
CLANG!
Serangan berikutnya datang dari arah berlawanan, Isabella kembali menahannya.
CLANG! CLANG! CLANG!
Dentingan pedang menggema di tengah hutan, daun-daun beterbangan setiap kali mereka bergerak. Tanah di bawah kaki mereka mulai dipenuhi bekas tebasan dan pijakan.
Pemimpin bandit itu terus menyerang tanpa memberikan Isabella kesempatan untuk beristirahat.
Namun semakin lama, ekspresi Isabella justru semakin santai.
Beberapa menit berlalu, Isabella mulai merasa bosan.
"Cukup."
Saat pemimpin bandit itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan bersiap memberikan tebasan terakhir, Isabella tidak menghindar, dia justru maju selangkah. Tangannya bergerak cepat menangkap pergelangan tangan sang bandit sebelum pedang itu sempat mencapai tubuhnya, pemimpin bandit itu terkejut.
"Apa—?!"
Isabella memutar tubuhnya dan memelintir lengannya dengan gerakan cepat.
KREK!
Terdengar bunyi keras dari persendian tangannya.
"AARRGH!"
Pedang terlepas dari genggamannya, dalam satu gerakan, Isabella menarik lengannnya dan membantingnya ke tanah.
BUKH!
"AKHHHH." Jerit Sang pemimpin bandit.
Tubuh pemimpin bandit itu menghantam tanah dengan keras. Sebelum dia sempat bangkit, Isabella sudah berdiri di atasnya.
Pemimpin bandit itu menatapnya dengan mata penuh ketakutan, Isabella mengangkat pedangnya.
"Pertarungan selesai."
Tanpa ragu, Isabella mengayunkan pedangnya.
SWISH!
Tebasan Isabella berhasil memutus kepala Sang pemimpin bandit, membuat darah terciprat dimana-mana. Setelah pemimpin bandit itu tewas, maka pertarungan itu pun berakhir.
Hutan kembali sunyi, hanya menyisakan suara angin yang berembus di antara pepohonan.
Bersambung