Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_
Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Bayang-Bayang Klan Hitam
Di saat kehangatan dan komedi konyol mulai merenda hari-hari Lentera dan Sean, di belahan lain kota besar itu, sebuah pergerakan rahasia sedang merayap.
Kegelapan dunia bawah mulai menggeliat. Di dalam sebuah ruang bawah tanah yang tersembunyi di balik barisan gudang kontainer pelabuhan tua, atmosfer terasa begitu mencekam. Udara lembap bercampur aroma karat menusuk hidung.
Beberapa pria dengan pakaian serba hitam dan tato simbol ular beludak yang melingkar di leher mereka sedang berkumpul mengelilingi sebuah meja besi bundar.
Cahaya lampu temaram di atas kepala mereka bergoyang perlahan, melemparkan bayangan-bayangan panjang yang mengerikan di dinding beton.
Mereka adalah para petinggi dari Klan Hitam Viper, salah satu sindikat kriminal dunia bawah terbesar yang selama puluhan tahun menjadi musuh bebuyutan dari dominasi dinasti keluarga Nugraha.
"Bagaimana dengan informasi dari mata-mata kita di Rumah Sakit Internasional Nugraha Perkasa?" tanya seorang pria paruh baya yang duduk di kursi utama. Wajahnya dipenuhi bekas luka bakar yang merusak jaringan kulitnya, membuat penampilannya malam itu tampak mengerikan. Suaranya serak, berat, dan dingin penuh intimidasi.
"Lapor, Ketua," salah seorang anak buahnya maju dengan langkah gemetar. Pria itu meletakkan sebuah laptop di atas meja besi, lalu menekan beberapa tombol.
"Target utama kita, Sean Eagle Nugraha, beberapa minggu lalu terkonfirmasi mengalami kecelakaan mobil hebat di jembatan luar kota akibat jebakan tim eksekutor kita. Mobilnya meledak total."
Ketua Klan Hitam Viper menyipitkan matanya. "Lalu? Mengapa ekspresimu seperti orang ketakutan?"
"Itu_ anu, Ketua_" Anak buah itu menelan ludah dengan susah payah sebelum memutar sebuah video. "Hari ini, pria itu justru memimpin rapat dewan direksi Nugraha Group dengan kondisi segar bugar. Tidak ada cacat, tidak ada perban, bahkan bekas luka gores pun tidak ada!"
BRAAKK!
Ketua Klan Hitam menghantam meja besi dengan tinjunya yang kuat hingga permukaan meja besi tebal itu langsung penyok ke dalam. Suara dentuman bergema keras di dalam ruang bawah tanah, membuat semua orang di sana langsung menundukkan kepala dalam-dalam.
"Bagaimana mungkin?!" bentak sang Ketua dengan napas memburu penuh amarah.
"Bukankah para tetua supranatural kita sudah memastikan bahwa energi internal tubuh Sean sedang mengalami cacat parah akibat kelainan dari kecil? Dia adalah anggota inti keluarga Nugraha yang paling lemah! Seharusnya benturan keras dan ledakan api itu sudah cukup untuk memicu gejolak energi di tubuhnya, menghancurkan organ dalamnya dari dalam! Dia seharusnya mati menderita!"
"Itu dia masalahnya, Ketua," jawab anak buahnya sambil menyeka keringat dingin di dahinya.
"Berdasarkan data rekam medis rahasia yang berhasil kami retas secara instan, kondisi fisik dan kekuatan supranatural Sean secara ajaib justru berevolusi menjadi sangat stabil dan sempurna pasca-kecelakaan tersebut. Dan dari hasil pemantauan agen lapangan kami, ada sebuah anomali baru di sekitar kehidupan Sean."
Jari anak buah itu mengetuk touchpad laptop. Layar kemudian berganti menampilkan beberapa foto jepretan lensa jarak jauh.
Foto-foto itu menangkap momen interaksi antara Sean dan seorang gadis di koridor rumah sakit, di depan minimarket malam, hingga momen ketika mereka sedang makan bersama.
"Gadis ini, dia adalah seorang dokter umum baru bernama Lentera," jelas anak buah itu, menunjuk wajah Tera yang tertawa lepas di layar. "Agen supranatural kami mendeteksi fenomena aneh. Setiap kali gadis ini berada dalam radius dekat atau melakukan kontak fisik dengan Sean, gejolak energi internal cacat milik Sean langsung jinak. Stabil seketika. Kami menduga kuat_, gadis inilah yang menjadi kunci penyeimbang atau obat penyembuh misterius bagi kekuatan supranatural Sean."
Sang Ketua Klan Hitam Viper menyipitkan sepasang matanya yang sedingin es. Sebuah senyuman kejam yang sangat mengerikan perlahan terukir di bibirnya yang hitam.
"Kunci kesembuhan, rupanya? Menarik," gumam sang Ketua, suaranya terdengar seperti bisikan ular. "Selama ini kita mengira Sean adalah target yang paling mudah dihancurkan karena kecacatan tubuhnya. Ternyata, tikus kecil itu berhasil menemukan sebuah jimat pelindung berjalan."
Pria paruh baya itu berdiri dari kursinya. Langkah kakinya terdengar berat saat berjalan mendekati dinding yang dipenuhi oleh bagan foto-foto anggota keluarga besar Nugraha. Jari telunjuknya yang dipenuhi cincin batu hitam besar melayang, lalu mengetuk tepat ke arah wajah tersenyum Lentera di foto.
"Susun rencana jebakan berskala besar di luar kota," perintah sang Ketua dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat akan niat membunuh.
"Gunakan umpan urusan medis luar daerah untuk memancing Sean keluar dari wilayah benteng rumah sakitnya. Dan pastikan_, bawa serta gadis bernama Lentera itu ke dalam jebakan kita. Jika kita berhasil merebut jimat pelindungnya dan menghancurkan gadis itu tepat di depan mata Sean, maka kekuatan supranatural Sean akan kembali kacau tak terkendali dan kita bisa menghabisinya dalam waktu satu malam!"
"Baik, Ketua! Perintah segera dilaksanakan!" seru seluruh anak buah klan hitam di ruangan itu dengan patuh, memulai persiapan rencana eksekusi berdarah yang akan segera mengguncang kedamaian hidup Lentera dalam waktu dekat.
Sementara itu, suasana di dalam restoran kaca yang elegan terasa jauh lebih hangat. Sean dan Lentera duduk berhadapan menikmati makan malam mereka dengan pemandangan taman berlampu hias.
Lentera sedang sibuk memotong daging steak di piringnya, namun matanya melirik tajam ke arah Sean yang sedang mengunyah makanan dengan gerakan yang sangat rapi dan berkelas. Aura wibawa seorang pewaris tunggal dinasti Nugraha tetap memancar kuat dari pria itu, bahkan dalam momen santai seperti ini.
"Sean, coba jujur padaku," kata Lentera tiba-tiba sambil mengacungkan garpunya ke arah pria itu. "Kecelakaan mobilmu beberapa minggu lalu itu horor banget, tahu. Mobilnya meledak sampai jadi rongsokan. Tapi kenapa sekarang kamu bisa makan steak dengan setenang ini? Seolah-olah kemarin kamu cuma kepentok pintu kamar mandi."
Sean meletakkan pisau dan garpunya perlahan tanpa menimbulkan suara dentingan sama sekali. Dia menyeka sudut bibirnya dengan saputangan kain secara elegan, lalu menatap Lentera datar dengan sepasang mata elangnya yang dingin.
"Dokter Tera," suara Sean terdengar berat dan tenang. "Kita sedang berada di ruang publik. Dan makanan di piringmu akan dingin jika kamu terus memikirkan rongsokan mobil."
"Ini namanya dedikasi profesi!" sahut Lentera, membela diri dengan menepuk dadanya bangga. "Secara teori kedokteran, benturan sekeras itu pasti menyisakan keluhan laten. Kamu benar-benar tidak merasakan ada yang aneh? Pusing-pusing abnormal? Atau dadamu mendadak nyeri saat melihat tagihan restoran bintang lima ini?"
Mendengar ocehan itu, sudut bibir Sean terangkat sangat tipis—sebuah senyuman minim yang nyaris tak terlihat namun sarat akan pesona karismatik. "Jika yang kamu maksud nyeri dada karena tagihan restoran, itu bukan domain medis, Dokter. Itu artinya kamu meragukan isi rekening saya."
Lentera mendengus geli, meski dalam hati dia selalu terpukau dengan gaya bicara Sean yang selalu tertata dan penuh wibawa.
"Ramuan jamu dari saya itu cuma buat nambah imun, Tuan Sean, bukan ramuan sihir komik fantasi yang bisa menyambung tulang patah dalam semalam! Pokoknya, kalau ada keluhan sekecil apa pun, langsung bilang. Jangan sok kuat di depanku."
Sean menatap Lentera lurus-lurus, matanya mengunci pandangan gadis itu dengan intensitas yang dalam. "Saya tidak pernah sok kuat. Saya hanya tahu cara mengendalikan tubuh saya sendiri. Namun, jika kamu sangat ingin memeriksa saya, lakukan secara resmi di rumah sakit."
"Ih, siapa juga yang mau periksa gratisan!" Lentera menggumam pelan sambil menusuk kentangnya dengan kesal, membuat suasana kaku Sean sedikit mencair oleh tingkah konyolnya.
Namun, ketenangan Sean runtuh dalam hitungan detik.
Ekspresi dingin dan berwibawa di wajah tampannya mendadak berubah menjadi ketegangan yang pekat. Sepasang mata elang Sean menajam, menembus dinding kaca restoran yang menghadap langsung ke taman luar yang gelap.
Bahunya mengeras kaku.
Di dalam aliran darah Sean, energi internal tersembunyi milik keluarga Nugraha mendadak mendidih. Dia merasakan sebuah getaran energi asing yang sangat tipis, dingin, dan menusuk—seperti racun ular yang merayap di udara.
'Ada yang mengintai dari kegelapan,' batin Sean. Tatapannya menjadi sangat dingin penuh kilat intimidasi.
Tanpa sepatah kata pun, Sean langsung berdiri dari kursi dengan gerakan yang begitu cepat namun tetap tenang. Dia melangkah lebar mendekati dinding kaca, menempelkan telapak tangannya di sana, dan memejamkan mata demi memfokuskan indra supranaturalnya.
Lentera yang baru saja mau menyuap makanan langsung melongo. Garpu di tangannya melayang di udara. Dia mengerutkan kening, menatap punggung tegap Sean dengan pandangan heran, sebelum akhirnya berubah menjadi rasa penasaran yang besar melihat aura Sean yang mendadak berubah menjadi sangat mengintimidasi.
"Sean? Kamu kenapa?" Lentera berbisik setengah berteriak, celingukan melihat sekeliling restoran yang untungnya sepi. "Kamu lihat musuh bisnismu di luar?"
Sean tidak menyahut. Pikirannya menyebar ke area taman luar, mencoba melacak riak energi dingin tadi. Namun, tepat ketika dia hampir mengunci koordinat posisi sang pengintai, aura itu mendadak menguap dan hilang tanpa jejak.
Musuh tahu cara menghapus eksistensi mereka dengan cepat.
Sean membuka matanya, mengembuskan napas pendek. Rahangnya mengeras. Sial, dia kehilangan jejaknya lagi. Meskipun kemampuannya hebat, musuh di luar sana sangat cerdik menyembunyikan diri.
"Sean, kamu membuatku takut," kata Lentera yang tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya, mendongak menatap wajah Sean yang kini dihiasi bulir keringat tipis di pelipisnya. "Kamu memeriksa kaca itu serius sekali, seperti detektif yang sedang mendeteksi ancaman."
Sean menoleh lambat ke arah Lentera. Begitu jarak di antara mereka mengikis hingga lengan mereka bersentuhan, gejolak energi internal di tubuh Sean yang tadi sempat bergolak liar langsung tenang seketika. Kehadiran Lentera terasa seperti penawar racun instan bagi energinya.
Sean menarik napas dalam-dalam, menekan sisa kekhawatirannya, lalu kembali memasang wajah dinginnya yang tenang. Sayangnya, sekuat apa pun dia mencoba, dia tetap tidak bisa mendeteksi dengan pasti siapa pemilik aura supranatural berbahaya itu.
"Kembali ke mejamu, Tera," kata Sean dengan suara rendah yang mutlak, penuh otoritas yang tidak bisa dibantah.
Lentera tertegun melihat perubahan drastis Sean yang kembali menjadi sosok bos besar yang dingin. Dia langsung memutar bola matanya dengan malas, mencoba mencairkan ketegangan yang dia rasakan. "Iya, Tuan Besar. Tidak usah pakai nada memerintah begitu."
Sean menuntun Lentera kembali ke meja mereka. Sebelum duduk, Sean menatap Lentera dengan sorot mata yang begitu tajam dan serius, membuat Lentera otomatis terdiam.
"Dengar baik-baik, Lentera," ucap Sean, menyebut nama lengkap gadis itu dengan nada dingin namun terselip proteksi yang kuat.
"Mulai besok, jangan pernah pergi ke area rumah sakit yang sepi sendirian setelah jam malam. Jika ada keperluan, kamu harus berada di bawah pengawasan atau didampingi staf keamanan. Ini perintah."
Lentera tertegun. Candaannya lenyap berganti rasa hangat sekaligus bingung di hatinya melihat ketegasan Sean. Dia akhirnya mengangguk pelan. "Iya, mengerti."