Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Wajah Bi Marni seketika berubah pucat pasi, seperti mayat hidup yang kehabisan darah.
"A-apa? Saya tidak berani meminum jatah Tuan Muda, itu tidak sopan," gagap Bi Marni mencari alasan.
Raka bukanlah pria bodoh yang bisa ditipu dengan alasan murahan seperti itu.
Matanya yang sedingin es kini menatap tajam ke arah Kepala Pelayan yang sudah bekerja lama di rumahnya itu.
"Marni, minum susu itu sekarang juga."
Perintah Raka tidak keras, namun nadanya sangat mematikan dan tidak menerima bantahan apa pun.
"T-tapi Tuan, saya alergi susu sapi, nanti perut saya sakit," kilah Bi Marni dengan suara bergetar ketakutan.
"Minum, atau kemasi barangmu dan keluar dari mansion ini detik ini juga," ancam Raka tanpa ampun.
Dewi menyodorkan gelas itu semakin dekat ke bibir Bi Marni yang kini bergetar hebat.
"Ayo diminum Bi, jangan sia-siakan susu premium buatanmu sendiri," goda Dewi dengan nada ceria yang sangat kontras dengan suasana tegang itu.
Dengan tangan gemetar, Bi Marni terpaksa mengambil gelas kaca itu.
Dia menatap Raka yang memelototinya dengan pandangan membunuh.
Glek. Glek.
Bi Marni menelan dua tegukan susu itu dengan mata terpejam erat.
Pffft!
Detik berikutnya Bi Marni menyemburkan susu itu ke lantai dan terbatuk-batuk dengan sangat hebat.
"Uhuk, uhuk! Air, minta air!" teriak Bi Marni sambil memegangi tenggorokannya yang terasa sangat perih dan asin.
Wajahnya merah padam dan dia terlihat seperti orang yang mau muntah.
Raka melangkah maju mendekati Bi Marni dengan aura gelap yang sangat menakutkan.
"Apa yang kau masukkan ke dalam minuman anakku, Marni?" tanya Raka dengan suara berbisik yang mengancam nyawa.
Bi Marni langsung menjatuhkan dirinya ke lantai, bersujud tepat di depan kaki Raka.
"Maafkan saya Tuan! Saya mengaku salah!" ratap Bi Marni sambil menangis tersedu-sedu.
"Saya hanya memasukkan banyak garam, saya tidak bermaksud menyakiti Tuan Muda!"
"Saya cuma ingin Nona Dewi terlihat tidak becus mengurus anak agar Anda memecatnya!"
Bram yang berdiri di belakang Raka ikut mengepalkan tangannya menahan amarah mendengar pengakuan licik itu.
Dewi bersedekap dada sambil menatap sinis wanita tua yang sedang menangis di lantai itu.
"Kau bohong Bi, bukan cuma garam kan?" tembak Dewi telak.
"Tuan Raka, kau bisa membawa sisa susu itu ke laboratorium. Aku yakin ada campuran obat pencaharnya juga."
Bi Marni semakin gemetar mendengar tebakan Dewi yang seratus persen akurat.
"A-ampun Tuan, ampun! Saya khilaf!" jerit Bi Marni semakin histeris.
Raka menendang pelan bahu Bi Marni agar wanita itu menjauh dari sepatunya.
"Kau berani menggunakan anakku sebagai alat untuk permainan kotor di rumah ini?"
"Bram, hubungi pihak keamanan. Seret wanita ini ke pos satpam."
"Dan pastikan dia tidak mendapatkan uang pesangon sepeser pun karena mencoba meracuni anakku," perintah Raka dengan kejam.
"Baik, Tuan Raka," jawab Bram dengan sigap dan langsung menarik lengan Bi Marni secara paksa.
"Tuan Raka, tolong beri saya kesempatan kedua! Saya sudah bekerja di sini bertahun-tahun!" teriak Bi Marni saat diseret keluar ruangan.
Raka sama sekali tidak mempedulikan teriakan itu dan hanya menatap jijik ke arah genangan susu di karpet mahal miliknya.
Ding!
[Misi Harian Selesai!]
[Selamat! Tuan Putri berhasil menyingkirkan hama berbahaya dari mansion!]
[Hadiah ditransfer: Poin Kasih Sayang +20 dan Item Mata-Mata Tak Kasat Mata disimpan di Inventori!]
Dewi tersenyum puas dalam hati.
Satu musuh tumbang, langkahnya di rumah mewah ini akan semakin mudah ke depannya.
"Maafkan aku, Nona Dewi. Aku tidak menyangka pelayan lamaku akan bertindak sejauh itu."
Suara Raka memecah lamunan Dewi, dan anehnya, suara pria itu tidak sedingin biasanya.
Dewi menoleh dan melihat Raka sedang menatapnya dengan pandangan penuh rasa terima kasih yang disembunyikan.
"Tidak masalah Bos, aku sudah biasa menghadapi orang licik di jalanan," jawab Dewi santai.
"Untung saja aku punya penciuman yang tajam, jadi anakmu aman dari diare hari ini."
Raka berjalan mendekati karpet tempat Elvan bermain dan ikut berjongkok di sebelah Dewi.
Dia mengusap rambut Elvan dengan lembut, menyalurkan rasa lega yang luar biasa di dadanya.
"Sebagai permintaan maafku atas kelalaian pihak keamananku, kau boleh meminta satu hal dariku hari ini."
"Katakan apa saja, aku akan mengabulkannya," tawar Raka dengan nada serius.
Mata Dewi langsung berbinar cerah seperti lampu sorot stadion melihat peluang emas ini.
"Satu permintaan apa saja? Kau yakin Bos tidak akan menyesal?" tanya Dewi memastikan.
Raka mengangguk mantap tanpa keraguan sedikit pun di wajah angkuhnya.
"Aku adalah Raka Mahardika, aku tidak pernah menarik kembali kata-kataku."
Dewi menyeringai jahil dan menatap tepat ke manik mata Raka.
"Kalau begitu, naikkan gaji bulananku menjadi seratus lima puluh juta, bagaimana?"
Raka terdiam sejenak, wajahnya kembali datar tanpa ekspresi.
"Dasar wanita mata duitan yang tidak pernah puas," gumam Raka pelan sambil memutar bola matanya.
"Bram akan mengurus kontrak barumu nanti sore," lanjut Raka akhirnya sambil berdiri dan berjalan menuju ruang kerjanya.
Dewi melompat kegirangan dan memeluk Elvan dengan sangat erat.
"Yes! Kita kaya raya sayang! Mama bisa beli pabrik sepatu kalau begini terus!" teriak Dewi kegirangan.
Elvan ikut bertepuk tangan meniru kebahagiaan wanita yang kini menjadi dunia kecilnya itu.
Di dalam ruang kerjanya, Raka duduk bersandar mendengarkan tawa Dewi yang menggema sampai ke ruangannya.
Sebuah senyum tipis tanpa sadar terukir di bibir pria yang terkenal tidak punya perasaan itu.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭