NovelToon NovelToon
Cuma Modal Cerita

Cuma Modal Cerita

Status: tamat
Genre:Teen / Solo Leveling / Menjadi NPC / Tamat
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: jiejie_IYAYA'S

Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.

Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.

"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.

(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)

Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarum Dan Teman

Bab 1: Jejak di Gerbang yang Sama

Langkah kakiku terasa sedikit ragu ketika menyusuri koridor gerbang SMK Negeri yang terhampar lapang.

Udara pagi masih menyimpan sisa dingin malam, bercampur dengan aroma khas cat tembok basah dan embun yang menguap pelan dari dedaunan pohon peneduh di sepanjang halaman utama.

Tempat ini sebenarnya tidak benar-benar asing bagi ingatan masa kecilku. Beberapa tahun lalu, ketika aku masih berseragam Sekolah Menengah Pertama, aku sering kali melintasi gerbang tinggi ini.

Tugas rutin sederhanaku saat itu adalah mengantarkan tas atau buku pelajaran milik kakakku yang tertinggal, atau sekadar duduk manis di bangku semen depan pos satpam, menunggunya menyelesaikan kegiatan ekstrakurikuler hingga garis jingga senja menghiasi langit.

Sekolah ini memang dikenal sangat hidup. Jejeran spanduk kegiatan siswa—mulai dari Pramuka, Paskibra, Palang Merah Remaja, hingga berbagai klub olahraga—terpajang megah membentangi dinding luar gedung aula.

Setiap sudutnya menyiratkan kebanggaan tersendiri dari para murid yang berlalu-lalang dengan seragam rapi mereka.

Namun, ada satu keunikan yang membedakan sekolah ini dari SMK kebanyakan di kota kami.

Jika sekolah menengah kejuruan lain bersaing menawarkan belasan spesialisasi teknis yang rumit, sekolah ini memilih untuk mempertahankan identitas dasarnya. Hanya ada tiga jurusan utama yang ditawarkan: Perkantoran, Pemasaran, dan Akuntansi.

Tiga lorong utama yang saling terhubung di gedung lantai dua seolah-olah menjadi pembatas takdir bagi ratusan siswa baru yang melangkah masuk setiap tahunnya.

Hal yang paling berkesan sekaligus membingungkan terjadi saat hari pertama pengumuman penerimaan murid baru ditempel di papan informasi utama.

Berbeda dengan tempat lain di mana siswa bertarung mendapatkan kuota jurusan yang mereka idam-idamkan sejak awal, di sekolah ini kami sama sekali tidak memegang kendali atas jalan mana yang akan kami tempuh.

Pihak panitia dan sistem internal sekolah yang memegang wewenang penuh untuk mendistribusikan para calon siswa ke dalam jurusan tertentu.

Tidak ada lembar formulir minat, tidak ada sesi wawancara khusus.

Saat aku berdiri di depan papan pengumuman dan mendapati namaku terpampang rapi di bawah kolom bertuliskan Otomatisasi Tata Kelola Perkantoran (OTKP), aku hanya bisa berdiri tertegun sejenak.

Aku tak pernah membayangkan akan mempelajari administrasi dokumen, tata kearsipan, atau surat-menyurat. Entah atas pertimbangan atau kriteria apa namaku diselipkan di sana oleh pihak sekolah, aku pun tak tahu pasti hingga hari ini.

Meski awalnya diwarnai rasa penasaran dan sedikit keraguan, perasaan canggung itu perlahan memudar seiring berjalannya minggu-minggu pertama pembelajaran.

Ternyata, berada di jurusan Perkantoran jauh lebih seru dan dinamis daripada sekadar duduk di balik meja menatap tumpukan kertas kusam. Kami diajarkan simulasi tata kelola dunia kerja secara nyata.

Salah satu momen yang paling mengasyikkan adalah ketika guru pembimbing memberi tugas kelompok untuk merancang dan mendirikan sebuah "perusahaan" buatan.

Kami diberi kebebasan penuh untuk menentukan nama perusahaan sesuai imajinasi kami, menyusun struktur organisasi, merancang logo, hingga menentukan bidang usaha yang dijalankan.

Di momen-momen seperti itulah aku menyadari bahwa keputusan sepihak dari sekolah ini ternyata menyimpan kejutannya sendiri yang menyenangkan.

Bab 2: Sudut Sepi di OTKP 3

Struktur rombongan belajar untuk jurusan Perkantoran terbagi menjadi tiga ruangan besar, dan aku ditempatkan di kelas OTKP 3. Ruangan kelas kami berada di ujung koridor lantai dua, berhadapan langsung dengan lapangan basket yang selalu bising oleh pantulan bola setiap kali jam pelajaran Olahraga berlangsung.

Dari sekian banyak dinamika dan keceriaan yang mulai terbangun di kelas baru ini, ada satu takdir kecil yang kembali harus kuterima tanpa pilihan: jumlah murid di OTKP 3 ternyata ganjil.

Karena jumlah siswa yang tidak genap tersebut, aku menjadi satu-satunya murid di kelas yang tidak memiliki teman sebangku. Meja dan kursiku terletak sendirian di barisan tengah menuju belakang, agak terpisah dari kerapatan formasi meja teman-teman yang lain.

Berada di posisi itu memberikan pengalaman emosional yang cukup unik bagiku. Di satu sisi, aku merasa jauh lebih santai dan leluasa. Aku tak perlu merasa canggung mengatur pembagian area meja, tak perlu bersusah payah merangkai kata-kata ramah setiap menit, dan yang terpenting, aku tak perlu berpura-pura menjadi orang lain hanya demi menyesuaikan diri.

Namun di sisi lain, jarak sosial itu terasa cukup nyata setiap kali bel istirahat berbunyi. Suara gelak tawa dan riuh obrolan teman-teman sekelas seketika membumbung memenuhi ruangan.

Mereka berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, antusias membahas topik-topik populer di media sosial, tren pakaian, hingga gosip hangat antar-kelas yang sama sekali asing di telingaku.

Beberapa kali aku mencoba menyimak obrolan mereka dari kejauhan, tetapi pada akhirnya aku sadar bahwa aku memang tidak bisa mengimbangi frekuensi pembicaraan mereka. Pola pikitku dan ketertarikanku berbeda.

Oleh karena itu, menikmati kesendirian di meja sudutku adalah sebuah pilihan kenyamanan yang paling masuk akal yang bisa kuambil.

Siang itu, suasana di dalam ruang OTKP 3 terasa lumayan menyengat. Hawa panas merayap masuk melalui celah-celah jendela kayu, sementara kipas angin di atap berputar lambat seolah enggan mengusir gerah.

Jam pelajaran terakhir sebelum istirahat terasa berjalan amat lambat. Dalam kondisi gerah itu, aku merasa ikatan hijab yang kukenakan sejak pagi mulai longgar.

Posisinya bergeser tidak simetris ke arah kiri, membuat lipatan di bagian dahi terasa janggal dan merusak kerapian tampilanku.

Rasa tidak nyaman itu akhirnya mendorongku untuk segera membenarkannya.

Selagi guru belum masuk ke kelas, aku menarik nafas pelan dan mulai merapikan kerudungku. Jemariku bergerak hati-hati melepas satu-satunya jarum pentul yang menancap tepat di bawah dagu.

Tanpa berpikir panjang, aku meletakkan jarum kecil itu secara sembarangan di atas permukaan meja kayu yang permukaannya licin dan agak miring.

Aku lalu menarik kedua ujung kain kerudungku, merapikan lipatan kain di samping pipi kanan dan kiri, lalu menegakkan bagian dahinya agar kembali simetris. Setelah merasa posisinya sudah pas, aku kembali menjulurkan tangan kanan ke atas meja untuk mengambil jarum pentul tadi.

Namun, jemariku hanya menyentuh permukaan kayu yang kosong. Jarum pentul itu tidak ada di sana.

Kepanikan kecil seketika merayap di dadaku. Aku menggeser tempat pensil dan bukuku, menduga benda itu terselip di bawahnya, tetapi hasilnya nihil. Aku menundukkan kepala, meraba-raba sela-sela lipatan seragam dan rokku, lalu akhirnya memberanikan diri berlutut di atas lantai semen untuk mencari di bawah kolong meja dan kursi.

Perasaanku semakin cemas karena jarum pentul kecil berwarna perak itu adalah satu-satunya penyangga hijab yang kubawa hari ini. Tanpa jarum tersebut, kain kerudungku akan terkulai lepas, berantakan, dan membuatku sangat risih serta canggung untuk beraktivitas sepanjang sisa hari. Aku menyapu pandanganku ke sekeliling lantai hingga ke bawah meja tetangga, tetapi benda kecil itu seolah-olah lenyap ditelan bumi.

Bab 3: Sebuah Jarum dan Senyum Ramah

"Kenapa?"

Sebuah suara lembut bernada bertanya terdengar tepat dari atas kepalaku. Aku yang saat itu masih dalam posisi menyapu lantai dengan pandangan panik seketika mendongak.

Di samping mejaku, berdiri dua orang siswi sekelas. Aku sering melihat wajah mereka di barisan depan, tetapi karena sifatku yang pendiam dan belum pernah berinteraksi langsung, aku bahkan belum mengetahui nama mereka masing-masing. Dalam kecanggungan yang membuncah, aku tak tahu harus memanggil mereka dengan nama apa.

"Ini... jarum pentulku hilang," jawabku dengan suara agak pelan dan terbata-bata. Tangan kananku masih menahan kedua ujung kain kerudung di bawah dagu agar tidak makin berantakan. "Aku tadi lagi membenarkan kerudungku yang miring, tapi jarumnya malah jatuh dan dicari-cari gak ketemu."

Kedua gadis itu saling berpandangan sejenak, lalu salah satu dari mereka tersenyum tipis seolah memahami situasi sulit yang sedang kualami. Tanpa ragu sedikit pun, ia merogoh saku dalam seragam putihnya. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah wadah plastik kecil transparan yang berisi beberapa

perlengkapan darurat wanita. Dengan gerakan yang sangat cekatan, ia mengambil sebatang jarum pentul baru berpucuk bening dari wadah tersebut.

"Ini, pakai aja dulu punyaku," ujarnya halus sambil mengulurkan jarum pentul itu tepat di depan wajahku.

Penguluran bantuan itu disertai dengan sebuah senyuman yang sangat ramah, hangat, dan tulus—jenis senyuman sederhana yang seketika mampu mencairkan seluruh kekakuan dan rasa asing di antara kami.

Aku menerima jarum pentul kecil itu dengan jemari yang sedikit gemetar. Rasa segan, haru, dan malu bercampur menjadi satu di dalam dada. Sungguh, aku tidak menyangka bahwa di saat aku merasa terisolasi di sudut kelas, ada tangan yang terulur tanpa diminta dari orang yang bahkan belum saling kenal.

"Terima kasih banyak ya... nanti pasti aku balikin kalau aku sudah beli yang baru di kopsis," ucapku malu-malu sambil berusaha membalas tatapan matanya dengan penuh rasa hormat.

Gadis itu justru terkekeh pelan, mengibaskan tangan kanannya di udara dengan gestur yang sangat santai seolah apa yang dilakukannya adalah hal yang sangat sepele.

"Gak papa, gak usah dibalikin juga. Yang penting kerudung kamu gak miring lagi dan nyaman dipakainya sekarang," sahutnya riang. Temannya yang berdiri di sampingnya ikut menyunggingkan senyum senada, mengangguk pelan menandakan bahwa hal itu sama sekali bukan masalah besar bagi mereka.

Tanpa menunggu balasan panjang atau ucapan terima kasih susulan dariku, mereka berdua segera berbalik arah dan berjalan santai meninggalkan ruang OTKP 3 menuju kantin untuk menikmati jam istirahat.

Langkah kaki mereka menghilang di balik pintu kelas, meninggalkan gaung kebaikan kecil yang tertinggal di ruangan.

Aku berdiri terpaku di samping meja kayuku, memandangi jarum pentul kecil yang kini berada aman di dalam genggaman tanganku. Secara materi, benda itu mungkin harganya tak seberapa, begitu kecil dan sering kali terabaikan.

Namun di saat yang tepat, keberadaan benda kecil beserta kerelaan pemiliknya telah menyelamatkan seluruh hariku dari rasa tidak percaya diri dan rasa canggung yang berkepanjangan. Dengan telaten, aku merapikan kembali kain kerudungku di depan pantulan kaca jendela kelas, menyematkan jarum itu dengan rapat di bawah daguku, dan menyunggingkan senyum kecil. Ada rasa hangat yang mendalam mengalir menyelimuti dadaku.

Pengalaman sederhana di kelas OTKP 3 hari itu menancapkan sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga dalam memoriku. Berterima kasihlah dengan tulus dan penuh kesadaran setiap kali kita menerima pertolongan dari siapa pun, bahkan dari orang-orang asing yang belum sempat kita ketahui namanya.

Sebab sekecil apa pun bentuk bantuan itu, kebaikan memiliki energi magisnya sendiri untuk menyentuh hati dan menghubungkan sesama manusia. Dan aku percaya penuh pada satu hal: kebaikan yang kita terima hari ini adalah benih yang harus kita simpan, karena cepat atau lambat, masa depan pasti akan memberikan kita kesempatan untuk membalas kebaikan itu kepada orang lain.

1
Araara
seru abis
Araara
semangat ya kakak jangan pantang menyerahnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!