NovelToon NovelToon
SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:66.8k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.

Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.

Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.

Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.

Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.

Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.

Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berdebat Dengan Ibu Mertua

Suasana di meja makan sempat hening beberapa saat setelah pembicaraan sebelumnya. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama, saat suara Bu Riana memecah keheningan di meja makan.

“Oh, ya, Raya. Bulan ini kamu sudah transfer uang ke Ibu, kan?”

‘Benar juga, bulan ini seharusnya aku kirim uang ke Ibu mertua.’

Sudut bibirnya terangkat.

“Sepertinya, Ibu minta Mas Zevan saja,” jawab Raya tenang.

Tampak kening Bu Riana mengernyitkan heran.

“Kenapa?”

Raya tidak langsung menjawab.

‘Sudah diperlakukan seperti ini, aku masih saja berusaha baik kepada Ibu, dan berharap suatu hari Ibu bisa menerimaku sebagai menantu.’

Senyum pahit terbit di sudut bibirnya.

‘Ternyata aku yang terlalu berharap.’

“Ya, karena aku harus berhemat, Bu,” jawab Raya akhirnya. “Lagipula, memberi uang kepada mertua bukan kewajiban menantu, tetapi kewajiban seorang anak. Iya, kan, Mas?”

Zevan terdiam sejenak.

Namun, sebelum pria itu menjawab, Bu Riana lebih dahulu menyela.

“Halah, cuma gaji dua puluh juta saja pelit banget.”

Raya tersenyum tipis.

“Ya harus pelit dong, Bu. Kalau nggak pelit nggak bisa nabung,” ucapnya dengan suaranya tetap tenang, tetapi tegas. “Intinya, mulai sekarang aku nggak akan transfer uang lagi kepada Ibu, kecuali mendesak.”

Bu Riana langsung menatapnya tajam.

“Masalahnya gaji kamu itu dua puluh juta, Raya! Kenapa kamu nggak mau kasih?”

Raya tidak mengalihkan pandangannya.

“Itu uangku, terserah mau aku kasih atau enggak. Kenapa ibu memaksa?”

Bu Riana terdengar dengusan.

“Inilah kalau punya menantu yang cuma lulusan SMA. IQ-nya rendah.”

Jemari Raya yang berada di atas pangkuannya perlahan meremas ujung dress. Ucapan itu tetap terasa menusuk.

“Sudah, Mbak Raya. Jangan didengarkan ucapan Ibu mertua,” ucap Rara lembut.

Raya menoleh ke arah Rara sekilas sebelum akhirnya ia kembali menatap ibu mertuanya yang tampak menatap Rara dengan bangga.

“Menantuku yang satu ini memang idaman banget.”

Raya hanya tersenyum tipis.

‘Nggak apa-apa. Mulai sekarang, aku nggak akan berusaha mendapatkan tempat di hati ibu mertua lagi.’

Tak lama kemudian, satu per satu hidangan mulai tertata di atas meja makan. Aroma masakan yang memenuhi ruangan seharusnya membuat Raya merasa lapar. Ia segera bangkit dari kursinya dan hendak mengambil nasi serta sayur.

Namun, baru saja sendok saji menyentuh sayur, tangan Riana lebih dahulu mengambilnya.

“Biar Ibu ambilkan, Ra. Kamu duduk saja.”

Bu Riana membawa sayur itu ke hadapan Rara dan meletakkannya di atas piring wanita itu.

“Makan yang banyak, ya, Ra,” ucap Bu Riana penuh perhatian.

Raya terdiam. Ia mencoba mengabaikannya. Pandangannya kemudian beralih kepada hidangan udang yang berada tidak jauh dari tempat duduknya.

Saat tangannya hendak mengambil beberapa ekor udang, lagi-lagi ibu mertuanya lebih dahulu mengambilnya.

“Nah, ini juga kamu makan, Ra.”

Udang itu kembali diletakkan di piring Rara.

Raya menahan napas. “Ibu ternyata nge-fans banget sama aku.”

“Tutup mulutmu, bilang saja kamu iri karena ibu perhatian sama madu kamu.”

Raya menggeleng, ia memilih tak mengatakan apapun. Tangannya yang semula terulur perlahan ia tarik, dan memilih kembali duduk, kemudian meraih tas yang berada di samping kursinya.

Ia mengambil ponsel, membuka aplikasi pemesanan makanan, lalu mencari makanan yang biasa ia sukai.

Jemarinya berhenti pada salah satu menu.

‘Oke kalau begitu.’

Raya menatap layar ponselnya beberapa saat.

Ia menekan tombol untuk memesan makanan tersebut, kemudian meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas.

Setelah ia memesan makanan, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia tidak merasa perlu memaksakan diri menikmati hidangan yang bahkan tidak memberinya kesempatan untuk mengambilnya.

Namun, suara Pak Rio terdengar dari seberang meja.

“Rin, jangan begini sama menantu pertama.”

Raya mengangkat pandangan mendengar nada tulus pria paruh baya itu.

Bu Riana segera menoleh kepada suaminya.

“Loh, memangnya apa yang salah?” bantahnya. “Aku hanya ingin perhatian kepada calon ibu dari cucu kita.”

Raya menarik napas pelan. “Nggak apa-apa, Ayah, biarkan saja. Sesuka ibu ingin melakukan apa, yang penting bahagia,” ujarnya tenang.

Pak Rio tampak masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi Raya hanya memberikan senyum kecil. Ia tidak ingin memperpanjang masalah.

“Kamu ini, Zevan. Belain istrimu.”

Zevan menatap meja makan sebelum menjawab singkat.

“Masih banyak makanan, Ayah,” jawab Zevan.

Raya terdiam.

Senyum tipis muncul di bibirnya, tetapi terasa begitu getir.

‘Bahkan ketika Ayah meminta Mas Zevan membelaku, dia masih memilih menganggap semuanya bukan masalah.’

Raya menundukkan pandangan. Jemarinya kembali meremas ujung dress.

‘Suamiku sendiri ternyata nggak pernah benar-benar peduli atau aku yang terlalu bodoh karena nggak sadar.’

Raya mengembuskan napas panjang. Ia mengangkat wajah kembali, lalu menatap meja makan dengan tatapan yang jauh lebih tenang.

Drrrttt...

Getaran ponsel di atas meja membuat perhatian Raya teralihkan. Ia segera meraih ponselnya dan mengangkat panggilan yang masuk.

“Dengan Ibu Raya?” suara seorang pria terdengar dari seberang. “Pesanan Ibu sudah tiba.”

“Iya, Mas. Tunggu sebentar, saya keluar.”

Raya memutuskan sambungan, kemudian meletakkan ponselnya ke dalam tas.

Tanpa mengatakan apa-apa kepada siapa pun, ia bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan ruang makan.

. . .

Sesampainya di depan rumah, Raya melihat seorang pengantar makanan berdiri sambil membawa pesanannya.

“Pesanan atas nama Raya, Mas?” tanyanya.

“Iya, Bu.”

Raya menerima kantong makanan tersebut.

“Terima kasih.”

“Sama-sama, Bu.”

Raya kembali masuk ke dalam rumah dan berjalan kembali ke meja makan. Begitu ia duduk, Zevan langsung melirik kantong makanan yang dibawanya.

“Kamu beli apa, Raya?” tanyanya.

Raya membuka kemasan makanannya dengan santai.

“Makanan lah, Mas. Memangnya apa lagi?”

Zevan mengernyitkan kening. “Cuma satu?”

Sebelum Raya menjawab, Bu Riana ikut menyela.

“Setidaknya belilah beberapa.”

Raya menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap ibu mertuanya dengan tenang.

“Kenapa harus beli beberapa, Bu?” tanyanya. “Bukankah Itu namanya paok, tahu kan, Bu?”

Bu Riana mengerutkan kening. “Paok?”

“Iya.” Raya mengangguk santai. “Artinya rakus.”

Suasana di meja makan seketika hening.

Raya tidak menghiraukan tatapan yang mengarah kepadanya. Ia justru mengambil sendok, kemudian mulai menyantap makanan yang baru saja dibelinya.

Ia tetap makan seolah tidak terjadi apa-apa.

Sesekali, pandangannya melirik ke arah Bu Riana yang duduk tidak jauh darinya. Ia kemudian mengalihkan tatapan kepada Rara yang berada di antara Bu Riana dan Zevan.

Jemarinya yang memegang sendok mengerat.

‘Lihat saja, setelah ini Ibu akan melakukan apa.’

Raya memasukkan satu suap makanan ke dalam mulutnya dengan tenang. Ia tidak merasa perlu menjaga perasaan siapa pun di meja makan itu.

DI SISI LAIN.

 Suasana kamar rumah sakit jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam sebelumnya.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Kansa yang duduk di sisi ranjang segera mengulurkan tangan ketika Syila mulai bergerak gelisah. Gadis kecil itu membuka mata, lalu memandang ke sekeliling kamar seolah mencari seseorang.

“Mamah...” panggil Syila lirih.

Kansa mengusap rambutnya dengan lembut.

“Kenapa, Sayang?”

Syila memeluk tubuh Kansa erat-erat.

“Mamak kemana, Pah. Syila mau sama Mamah,” Suaranya terdengar memelas. “Apa Mamah pergi lagi karena Syila nakal karena tidur seharian?”

Kansa terdiam sejenak. Ia mengeratkan pelukannya, kemudian mengusap punggung putrinya perlahan.

“Nggak. Syila anak baik.”

“Tapi Syila mau sama Mamah...”

“Mamah lagi istirahat di rumah, Sayang,” bujuk Kansa. “Besok Mamah datang ke sini buat nemenin Syila, oke?”

Syila masih memeluknya erat.

“Syila nggak kasihan kalau Mamah capek?”

Gadis kecil itu terdiam sebelum akhirnya mengangguk. “Kasihan.”

Kansa tersenyum tipis. “Nah, kalau begitu, malam ini Syila tidur dulu, ya.”

Pelukan Syila masih terasa erat di tubuhnya. Kansa membiarkannya beberapa saat sampai gadis kecil itu mulai tenang.

Pandangan Kansa kemudian tanpa sengaja tertuju pada meja kecil di samping ranjang. Sebuah buku dongeng tergeletak di sana.

Dengan satu tangan, Kansa meraihnya tanpa melepaskan pelukannya dari Syila.

“Syila mau Papah bacakan dongeng?”

Syila mengangkat wajah. Mata bulatnya menatap Kansa penuh harap.

“Apa Papah bisa?”

Kansa terdiam.

Pertanyaan itu membuatnya sedikit ragu. Selama ini, ia lebih terbiasa membaca laporan perusahaan daripada buku dongeng untuk anak-anak.

Namun, melihat tatapan Syila, Kansa akhirnya mengangguk.

“B-bisa.”

Ia membuka halaman pertama buku tersebut.

“Dengerin, ya...” Kansa berdeham kecil. “Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang putri dari Kerajaan Victoria bernama Putri Nilam...”

Cerita itu terus mengalir hingga beralih ke lembar berikutnya.

Namun suaranya berhenti saat mendengar dengkuran halus dari atas ranjang. Kansa menoleh dan mendapati Syila yang kini tengah tertidur pulas.

Kansa tersenyum tipis.

Ia meletakkan buku itu kembali di atas meja, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuh Syila dengan rapi.

“Selamat malam, Princess,” bisiknya.

Kansa hendak kembali duduk ketika suara notifikasi dari meja kecil terdengar.

Kling.

Pandangan Kansa langsung beralih ke arah ponselnya yang baru saja menyala.

Ia meraihnya. Lalu membuka kembali layar yang baru saja meredup.

Nama Raya pun seketika muncul menghiasi layar ponselnya.

Kansa pun membuka pesan tersebut tanpa berpikir panjang.

{Syila sudah tidur, Pak?}

Setelah membaca pesan itu, sudut bibirnya terangkat tipis. Ia kemudian mengangkat pandangan kepada Syila yang masih tertidur. Setelah itu, Kansa membuka kamera ponselnya dan mengarahkannya kepada gadis kecil tersebut.

Cekrek.

Sebuah foto Syila tersimpan.

Kansa kembali membuka percakapan dengan Raya dan mengirimkan foto itu.

{Sudah.}

Tidak sampai beberapa detik, pesan tersebut langsung tercentang biru.

Kansa menunggu.

Namun, tidak ada balasan yang masuk.

Ia menatap layar ponselnya beberapa saat, lalu mengembuskan napas perlahan.

‘Kenapa belum dibalas?’

Kansa akhirnya mengunci layar ponselnya dan meletakkannya kembali di atas meja.

Tatapannya kembali tertuju kepada Syila.

Kamar itu kembali sunyi.

Hanya suara alat medis dan napas teratur Syila yang terdengar di antara keheningan malam.

1
Herdian Arya
membesarkan anak ular.
sutiasih kasih
andai kansa & raya tau..
nyesel kalisn miara ank tak tau diri... yv justru sll mnyskiti ank kndung kalian....
Meee
tuhkan anak g tau diri dah fitnah buah g jatuh dari pohonnya,emaknya jahat ya anaknya juga g beda.
sutiasih kasih
udh tau kturunan dajjal.... knapa jga dipiara sih.....
mna kelakuan g ada baik"nya tuh ank dajjal....
bkal nyesel km raya & kansa.... merawat ank tak tau diri🙄🙄
sutiasih kasih
gila ya.... ank pungut tak tau diri🙄🙄
Yuni Ngsih
Authooor ceritramu bgs bangeeeet ku yg baca asyik ,membaca jln ceritra ,banyak fakta dlm kehidupan nyata Thor terutama Kaka mengurus adiknya ,Kakanya punya suami eh suaminya di embat ,....smg lanjutannya Raya bahagia sm Kansa selamanya ok ditunggu lanjutannya
Ma Em
Lagian Raya dan Kansa mau saja merawat anaknya Rara dan Zevan , apa bodoh atau gimana sih mereka berdua cuma bikin penyakit saja harusnya kalau Raya sdh lepas dgn Zevan Raya tdk usah pedulikan lagi dan mau saja mengurus anak Rara dan Zevan .
Elina thea
nanti kalo keluargamu hancur,salahkan dirimu sendiri,oke~~~
Elina thea
terserahmu raya~~~
stela aza
bibitnya y aja beda kelakuan tetep mengikuti ibu kandungnya walaupun dia udh di adopsi dari bayi ,,,🤦 loe j yg bodoh mau nampung bayinya orang yg udh pernah merusak rumah tangga kamu 🤦
sunaryati jarum
Anisa, berawal kau yang salah tapi kok dendam dengan Raya.Kau bekerja dengan tekun akan enak hidupmu
sunaryati jarum
Bebas umur berapa Zevan
sutiasih kasih
ambil saja zevan buat km ra... kekepe sana suami keru smpe km muntah"😅😅😅....
raya pasti ikhlas ngasih zevan buat km seorang.... tpj jgn mmpi km bisa kuasai rmh raya ya ra.....
sutiasih kasih
ya ampun.... keluarga.... suami.... mertua parasit kok ttp km prtahankan sih ray....🙄🙄
sutiasih kasih
bu riana matamu buta ya.... mna ada sejarahnya.... perempuan perebut laki orang... adalah perempuan baik"😂😂😂
sutiasih kasih
eeee dasar musang berbulu domba.... tdi kau bilang msak cm 2 porsi....
skrg bilang ke suamimu msak 3 porsi...
dasar gundik tak tau diri kau ra.... benalu... pelakor 🙄🙄
Meee
KLO bisa mah anak sirara g di urus sama raya dan Kanza,di taroh di panti asuhan ajalah,tkt jdi petaka buat anak raya nantinya.
sunaryati jarum
Jual diri dapat uang atau mati saja Rara 🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Anisa berani mengganggu bahkan menyakiti istri bosnya sendiri, tindakan konyol menggali lubang untuk kuburnya sendiri
sunaryati jarum
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!