💗🤗 Assalamualaikum semua! Ayo mampir baca pelan-pelan aja ya! jika suka jangan lupa tinggalkan jejak kalian!👇🤗😍
Di balik wajah cantiknya, Alana menyimpan identitas mematikan: seorang hacker genius sekaligus penembak jitu bayaran yang tak pernah meleset. Namun, ia terpaksa menggantung senapannya demi satu tujuan baru yang tak pernah ia rencanakan—menjadi ibu pengganti bagi keponakannya yang mendadak yatim piatu.
Di sisi lain kota, Sang Bos Mafia penguasa dunia bawah tanah sedang murka. Pembantaian brutal baru saja menewaskan tangan kanan kepercayaannya, dan sepasang anak kembar sang tangan kanan menghilang tanpa jejak.
Dalam perburuannya mencari anak-anak itu dan menuntut balas, sang Mafia juga memburu seorang hacker misterius yang terus-menerus meretas sistem keamanan kartelnya.
Takdir mempertemukan mereka dalam kejar-kejaran yang mematikan. Sang Bos Mafia tidak tahu bahwa wanita cantik yang mati-matian melindungi sepasang anak kembar di dekapannya adalah penembak jitu yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Kini tiba saatnya giliran Elvano untuk mempresentasikan profesinya di hadapan belasan anak sekolah dasar dan orang tua mereka tiba.
Pria itu berdiri tegak di depan maket kapal kargo raksasa, jas abunya membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Aura intimidasinya ditekan seminimal mungkin, meski gagal total karena cara berdirinya saja sudah memancarkan otoritas absolut.
"Jadi, Tuan Adhitama," seorang guru muda bertanya dengan suara sedikit bergetar, terpesona sekaligus gentar.
"Bisa jelaskan pada anak-anak, apa yang sebenarnya dilakukan oleh perusahaan logistik dan ekspor-impor Anda?"
Elvano memasukkan satu tangan ke saku celana, menatap anak-anak yang duduk bersila di karpet dengan wajah penasaran.
"Kami memindahkan barang dari Titik A ke Titik B," suara bariton Elvano mengalun tenang.
"Terkadang barang itu sangat berharga, dan banyak orang jahat yang mencoba mengambilnya di tengah jalan. Pekerjaanku adalah memastikan tidak ada satu pun dari 'orang jahat' itu yang berani menyentuh apa yang menjadi milik kami."
"Bagaimana kalau mereka tetap mengambilnya, Paman?" tanya seorang anak laki-laki gemuk dengan polos.
Mata Elvano menyipit, sebuah seringai tipis yang mematikan hampir saja lolos dari bibirnya.
"Maka kami melacak mereka sampai ke ujung bumi. Kami ambil kembali barang kami, dan kami pastikan mereka... kehilangan kemampuan untuk mengambil barang milik orang lain selamanya."
Beberapa orang tua murid seketika menelan ludah dengan keras. Hawa dingin tiba-tiba berhembus di aula tersebut.
Alana segera melangkah maju, memotong kecanggungan itu dengan senyum manis dan tepuk tangan pelan.
"Maksud Tuan adithama adalah, perusahaannya memiliki sistem keamanan dan asuransi yang sangat ketat! Itulah mengapa logistik mereka menjadi yang terbaik di Asia. Nah, ada yang ingin melihat bagaimana cara kerja firewall komputer?"
Anak-anak langsung bersorak dan beralih mengerumuni meja Alana, meninggalkan Elvano yang mendengus pelan namun menurut saat istrinya memberi isyarat mata agar ia mundur.
Alana menekan beberapa tombol pada laptopnya, memunculkan animasi grafis menarik yang menunjukkan bagaimana data dilindungi dari virus. Kael dan Kai bertugas membagikan stiker berbentuk gembok digital kepada teman-teman mereka.
Namun, di tengah keriuhan itu, Kael tiba-tiba berhenti membagikan stiker. Ia menatap layar laptop Alana dengan kening berkerut dalam.
"Mama," panggil Kael dengan suara sedatar permukaan es. Tangan kecilnya menarik ujung blazer Alana.
Alana menoleh, senyumnya masih terpasang untuk anak-anak, namun matanya menangkap perubahan mikro pada ekspresi putranya. "Ada apa, Sayang?"
"Ada anomali ping di background process sistem demonstrasi kita," bisik Kael, jarinya menunjuk cepat ke sudut layar yang tidak diperhatikan anak-anak lain.
"Seseorang sedang mencoba melakukan handshake dengan server pribadi Bunda melalui jaringan Wi-Fi sekolah. Enkripsinya bukan kelas amatir."
Senyum di wajah Alana lenyap dalam sepersekian detik. Insting peretasnya mengambil alih. Ia langsung mengetikkan pintasan keyboard untuk memisahkan jendela utama dari proses latar belakang.
Benar saja, sebuah malware pelacak tingkat tinggi sedang berusaha menyusup masuk, mencoba mengunduh riwayat IP rahasia milik Alana.
"El," panggil Alana tanpa menoleh, suaranya rendah namun bergetar oleh urgensi.
Dalam satu kedipan mata, Elvano sudah berada di sebelahnya. Pria itu tidak bertanya. Ia langsung menekan earpiece di telinga kirinya, beralih ke mode tempur.
"Jace. Kunci perimeter. Ada intrusi."
Di sudut aula, Jace dan dua agen Adhitama langsung bergerak tanpa menarik perhatian, mengamankan pintu keluar dan memindai setiap wajah di kerumunan.
"Kai," Elvano menunduk, memberi isyarat pada putranya.
"Bawa Lea dan teman-temanmu ke area melukis di ujung aula. Jauhi meja ini."
Kai mengangguk cepat. Tanpa menimbulkan kepanikan, ia menggiring Lea dan beberapa anak lain menjauh dengan alasan ada permainan baru di stan sebelah.
"Bisa kau lacak sumbernya, Sayang?" tanya Elvano, tubuh besarnya kini berdiri menutupi pandangan orang-orang dari layar laptop Alana.
"Sinyalnya dipantulkan melalui router sekolah, tapi aku bisa menangkap MAC address perangkat aslinya," jemari Alana menari brutal di atas keyboard. Matanya menyipit tajam.
"Sinyal ini memancar dari jarak yang sangat dekat. Tidak lebih dari lima puluh meter dari meja kita."
"Di dalam gedung ini," geram Elvano.
"Dapat!" seru Alana tertahan.
"Lantai dua. Ruang kontrol audio-visual di atas aula ini."
Elvano langsung menatap Kael. "Jaga Mama-mu. Jangan tinggalkan meja ini." Pria itu lalu melangkah pergi, membelah keramaian dengan langkah lebar dan mematikan. Jace segera menyusul dari arah sayap kanan, mengikuti bosnya menuju tangga ke lantai dua.
Alana tidak diam saja. Ia membalikkan serangan peretasan itu, mengunci perangkat si penyusup agar tidak bisa dimatikan atau dihapus datanya secara remote.
"Siapa pun kau, kau memilih lawan yang salah," desisnya.
____________
Di lantai dua, lorong sekolah terasa sepi, berbanding terbalik dengan keriuhan di bawah. Elvano dan Jace bergerak tanpa suara. Elvano mencabut pistol Glock dari sarung bahunya yang tersembunyi rapi di balik jas abu-abunya.
Mereka tiba di depan pintu ruang kontrol audio-visual. Kuncinya sudah dirusak paksa.
Elvano menendang pintu itu hingga menjeblak terbuka, langsung mengarahkan moncong senjatanya ke setiap sudut ruangan yang gelap.
Namun, ruangan itu kosong. Tidak ada penembak jitu, tidak ada agen musuh.
Hanya ada sebuah laptop tebal berwarna hitam matte yang dibiarkan menyala di atas meja operator, terhubung dengan kabel langsung ke sistem router sekolah.
Elvano menurunkan senjatanya perlahan, melangkah mendekat. Layar laptop itu menampilkan logo tengkorak Alana yang menandakan perangkat itu telah berhasil diretas balik dan dikunci oleh istrinya dari bawah.
Namun, ada selembar kertas putih yang dijepitkan di sudut layar.
Elvano menarik kertas itu. Tulisannya diketik dengan mesin tik kuno, sebuah metode pesan yang tak bisa dilacak secara digital.
Kalian membakar cabang kami yang paling bodoh di kota ini, Elvano. Sindikat Bayangan hanyalah anjing penjaga gerbang. Sekarang, kalian telah membangunkan tuannya. Kunci baik-baik pintu mansionmu, Tuan Adhitama. Harga kepala istrimu baru saja naik menjadi satu miliar dolar.
Salam dari The High Table.
Rahang Elvano mengeras hingga otot pelipisnya berkedut. Kertas di tangannya diremas hingga hancur. Ia tidak mempedulikan ancaman itu untuk dirinya sendiri, tetapi menyebut nama Alana sebagai target dengan nilai buronan yang tak masuk akal adalah deklarasi perang dunia baginya.
"Jace," suara Elvano menggeram rendah, sedingin es abadi.
"Bawa laptop ini ke Bastian. Perintahkan seluruh panglima distrik untuk berkumpul di mansion malam ini. Kita beralih ke Protokol Hitam."
Jace menunduk hormat, langsung mengambil perangkat tersebut.
"Baik, Tuan Muda."
Saat Elvano melangkah kembali turun ke aula yang masih dipenuhi tawa anak-anak, matanya langsung mencari sosok Alana. Wanita itu berdiri tegak di balik mejanya, merangkul Kael yang menatapnya dengan waspada. Ketika pandangan mereka bertemu, Alana tahu tanpa perlu bertanya bahwa kedamaian tiga bulan mereka baru saja berakhir.
Elvano menghampiri istrinya, mengabaikan tatapan penasaran beberapa orang tua murid. Ia meraih tangan kiri Alana, mengusap pelan cincin berlian yang melingkar di jarinya.
"Ada apa?" bisik Alana.
"Sindikat Bayangan hanyalah pion. Pemain utamanya baru saja masuk ke papan catur," jawab Elvano, matanya berkilat memancarkan aura predator yang siap membakar dunia.
Pria itu mencondongkan wajahnya, mencium punggung tangan Alana dengan janji perlindungan yang absolut.
"Siapkan server-mu, Ratu Hacker cantik. Sepertinya kita harus meruntuhkan seluruh dewan penguasa bawah tanah kali ini."
Sudut bibir Alana perlahan tertarik, membentuk seringai mematikan yang selalu membuat Elvano tergila-gila. Matanya menyala oleh tantangan.
"Satu miliar dolar, ya?" gumam Alana santai, sambil merapikan kerah jas suaminya.
Bersambung...
kata si KK ... El itu mafia-mafia an 🤦🤦🙈🙈🤔
bahayaaa nich 🤦🤦
smg Al TDK mengaktifkan Hp atau Flashdisk itu yaaa ,, biar TDK ketahuan sama Al 🤣🤣
biar gantian Al yg jengkel kalau GPS nya TDK aktif 🤣🤣🤣🤣
tp Al ttp mau melindungi kedua keponakan nya sndri