NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGHANCUR SINYAL

Suhu di dalam ruang server itu setidaknya berada di angka enam belas derajat celcius. Udara dingin yang disemburkan oleh mesin pendingin ruangan raksasa langsung menusuk kulit Elena yang hanya berbalut gaun malam tanpa lengan. Namun, ia sama sekali tidak memedulikan rasa dingin yang membuat bulu kuduknya meremang. Fokusnya sepenuhnya tersita oleh layar monitor di depannya.

Jemari lentik gadis itu menari liar di atas keyboard, mengetikkan barisan kode peretas dengan kecepatan yang nyaris tidak bisa diikuti oleh mata telanjang. Cahaya hijau dari terminal perintah terpantul di wajahnya, menyoroti sorot matanya yang tajam dan tak berkedip. Suara dengungan kipas pendingin dari belasan rak server di sekelilingnya terdengar seperti paduan suara lebah mekanik yang memekakkan telinga.

"Oke, Marco, mari kita lihat seberapa pintar anjing penjaga barumu ini," gumam Elena menyeringai tipis saat sebuah jendela *pop-up* muncul di layar, meminta kata sandi administrator tingkat satu.

Elena sudah menyiapkan skrip *brute-force* khusus yang ia rancang sendiri. Ia menekan tombol enter, dan dalam hitungan detik, ribuan kombinasi kata sandi ditembakkan ke dalam sistem keamanan kasino tersebut.

Di telinganya, earpiece kecil itu mendesis sebelum suara Leo terdengar, diiringi sayup-sayup denting koin dan musik jazz dari lantai atas.

"Manajer kebotakan ini mulai menanyakan asalku. Dia bahkan meminta pelayan membawakan sampanye gratis untuk menenangkanku. Berapa lama lagi?" bisik Leo terdengar tenang namun terselip nada mendesak. "Kalau aku terus berteriak dan memaki, keamanan pusat pasti akan turun tangan."

"Tahan dia sebentar lagi. Aku sedang menjebol dinding api lapis kedua mereka," balas Elena menggigit bibir bawahnya.

"Kau bilang kasino ini gampang diretas," sindir Leo mendengus pelan di ujung sana.

"Memang gampang, kalau Marco tidak menyewa teknisi baru untuk memperbarui protokol jaringannya pagi ini," sahut Elena memutar bola matanya kesal. "Orang baru ini lumayan pintar. Dia memisahkan jaringan kamera keamanan lorong bawah tanah dari server utama. Aku harus memutar rute sinyalnya lewat server kasir supaya tidak memicu alarm sentral. Beri aku waktu dua menit."

"Dua menit? Kalau aku melempar kursi ke arah dealer ini, mereka mungkin akan mengusirku dalam satu menit," gerutu Leo dari earpiece.

"Gunakan otakmu, Rafael Rossi. Menangis sajalah kalau perlu, asal jangan sampai ditendang keluar sebelum brankasnya terbuka," potong Elena tanpa ampun lalu kembali memusatkan perhatian pada layar.

Di lantai atas, Leo yang duduk di meja Baccarat VIP menarik napas panjang. Ia menatap manajer lantai yang berdiri di sampingnya dengan senyum profesional yang dipaksakan. Di atas meja, sisa cip ungu milik Leo tinggal setengah dari jumlah awalnya.

"Tuan Rossi, mungkin Anda ingin beristirahat sejenak di *lounge* kami? Kami menyediakan cerutu Kuba kualitas terbaik khusus untuk tamu kehormatan," tawar sang manajer dengan nada menjilat yang membuat perut Leo mual.

"Kau pikir aku kehabisan uang, hah?!" bentak Leo menggebrak meja dengan tangan kirinya, membuat tumpukan cipnya berjatuhan.

Beberapa pemain di meja sebelah langsung menoleh dengan ekspresi terganggu. Sang *dealer* yang berdiri di depan Leo hanya bisa menelan ludah, tidak berani menatap mata abu-abu pria arogan di depannya.

"Tentu saja tidak, Tuan. Kami hanya ingin Anda merasa nyaman—" bujuk manajer itu mencoba menenangkan.

"Kalian curang! Tidak mungkin mesin pembagi kartu ini mengeluarkan natural sembilan tiga kali berturut-turut untuk *banker*!" tuduh Leo menunjuk wajah manajer itu tepat di depan hidungnya. "Aku sudah bermain di Makau, Las Vegas, dan Monako. Tidak ada kasino yang berani menipuku seperti ini!"

"Tuan Rossi, saya pastikan permainan kami seratus persen bersih. Tolong kecilkan suara Anda, atau kami terpaksa meminta keamanan untuk menuntun Anda keluar," desak sang manajer dengan wajah yang mulai merah padam, kehilangan kesabarannya. Dua penjaga berbadan besar di sudut ruangan mulai melangkah maju.

"Kau mengancamku? Kau tahu siapa ayahku?!" teriak Leo sengaja menyenggol gelas kristal berisi wiski di atas mejanya. Gelas itu jatuh dan pecah berkeping-keping di atas karpet mahal, isinya tumpah membasahi sepatu kulit manajer tersebut.

Situasi di lantai VIP menjadi sangat tegang. Beberapa tamu memilih menyingkir. Pengawal kasino sudah bersiap meringkus Leo.

Sementara itu, di ruang server bawah tanah, keringat dingin mulai menetes di pelipis Elena. Jari-jarinya terasa kaku karena suhu ruangan, tapi ia tidak boleh berhenti. Ia telah berhasil masuk ke dalam inti sistem kontrol kamera CCTV untuk area ruang hitung bawah tanah.

"Dapat kau," desis Elena tersenyum puas saat denah lantai dasar muncul di layarnya. Terdapat tujuh titik kamera yang menyorot lorong menuju ruang brankas.

Tugas Elena sekarang bukan sekadar mematikan kamera tersebut. Kalau layar di ruang kontrol keamanan mendadak menjadi hitam, penjaga akan langsung tahu ada yang tidak beres dan membunyikan alarm darurat. Yang harus ia lakukan adalah memanipulasi sinyalnya. Penghancur sinyal sesungguhnya adalah kebohongan visual.

Elena membuka *file* rekaman CCTV lorong tersebut dari dua jam yang lalu, saat lorong itu sepenuhnya kosong tanpa ada satu pun orang yang lewat. Ia membuat skrip perulangan (*looping*) dari rekaman tersebut, menyisipkannya ke dalam arus data *real-time* yang dikirim ke ruang kontrol keamanan.

"Pengalihan sinyal video berhasil. Sinkronisasi stempel waktu... cocok," ucap Elena berbicara pada dirinya sendiri sambil menekan tombol enter.

Di ruang kontrol keamanan yang berada dua lantai di atas mereka, layar monitor yang menampilkan lorong brankas kini hanya menampilkan gambar kosong yang terus berulang dengan mulus, tanpa ada satu pun penjaga yang menyadarinya.

"Selanjutnya, sensor gerak dan alarm pintu," gumam Elena beralih ke jendela perintah yang lain.

Ia memutus aliran listrik pada sensor laser inframerah yang dipasang di sepanjang lorong, mengubah statusnya di sistem menjadi *'maintenance mode'* agar sistem tidak mengirimkan peringatan *error*. Namun, Elena tidak menyentuh kunci kombinasi mekanis ganda yang menjaga pintu baja utama. Kunci kuno buatan ayah Leo itu sama sekali tidak memiliki modul digital. Meretasnya dari komputer sama mustahilnya dengan mengajari batu berbicara. Itulah bagian yang harus diselesaikan oleh Leo secara manual.

"Lorong bawah tanah sudah bersih," lapor Elena melalui earpiece, nada suaranya terdengar lega. "Kamera memutar rekaman kosong, dan sensor gerak sudah mati. Kau punya waktu tepat lima belas menit sebelum sistem pemeliharaan otomatis kasino melakukan ping ulang dan menyadari ada data yang ganjil. Begitu itu terjadi, alarm akan berbunyi di seluruh gedung."

"Waktu yang lebih dari cukup. Beri aku sinyalnya," balas Leo dari earpiece, suaranya terdengar terengah-engah karena masih sibuk berdebat dengan manajer lantai.

Elena membuka tab kontrol sistem pencahayaan kasino. Ia mencari kode lampu gantung pintar yang berada tepat di atas meja Baccarat nomor tiga—meja tempat Leo sedang membuat kekacauan.

Gadis itu menekan satu tombol.

Di lantai VIP, lampu kristal besar di atas meja Leo tiba-tiba berkedip mati selama setengah detik, menyala, lalu berkedip mati sekali lagi sebelum menyala terang seperti biasa.

Manajer lantai dan sang *dealer* mendongak ke atas, tampak bingung dengan kedipan lampu tersebut.

"Persetan dengan lampu ini, persetan dengan kasino ini!" rutuk Leo langsung memanfaatkan momen kebingungan itu. Ia memegangi perutnya dan membuat ekspresi wajah seperti orang yang sedang mabuk berat dan menahan mual. "Ugh... aku mau muntah. Kalau kalian berani menyentuh uangku di meja ini, aku akan menuntut kalian sampai bangkrut!"

Leo membalikkan badannya secara kasar, menabrak salah satu penjaga yang berniat menahannya, lalu berjalan sempoyongan menuruni tangga karpet merah. Ia menutup mulutnya dengan tangan, berakting seolah isi perutnya akan tumpah kapan saja.

"Biarkan saja dia ke toilet," perintah manajer lantai menghentikan dua pengawal yang bersiap mengejar Leo. Pria botak itu menghela napas lelah sambil membersihkan tumpahan wiski di sepatunya. "Suruh petugas kebersihan membereskan meja ini. Dasar anak orang kaya tidak berguna."

Leo menuruni tangga dengan cepat. Begitu ia sampai di lantai dasar, ia berbelok ke arah deretan mesin slot yang riuh, menghindari tatapan langsung dari kamera utama yang ia tahu tidak diretas oleh Elena. Ia berjalan menuju lorong sepi yang terletak di sudut timur kasino, tempat petunjuk arah bertuliskan 'Toilet VIP' dan 'Staff Only' berada.

"Aku sudah di lorong staf. Di mana kau?" bisik Leo membetulkan posisi earpiece-nya. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada pengunjung atau pelayan yang melihatnya.

"Pintu besi abu-abu di ujung lorong, di sebelah kanan toilet," arah Elena dari ruang server. "Pintu itu dikunci dengan akses magnetik. Tempelkan kartu VIP-mu ke panel pemindainya. Aku sudah memberikan otorisasi administrator ke kartumu."

Leo melangkah cepat menuju pintu yang dimaksud. Ia mengeluarkan kartu logam hitamnya dan menempelkannya ke panel di samping pintu. Kunci itu berbunyi klik pelan, dan lampu indikator berubah hijau.

Ia mendorong pintu itu dan melangkah masuk ke dalam area yang terlarang bagi pengunjung. Udara di lorong ini terasa berbeda. Hening, suram, dan berbau beton lembap. Berbeda jauh dengan kemewahan palsu di luar sana.

"Terus jalan lurus. Lewati persimpangan pertama. Ruang brankas ada di ujung lorong," pandu Elena di telinganya. "Ingat, kau tidak terekam kamera saat ini, tapi kalau ada penjaga patroli yang lewat dan melihatmu, mereka punya izin untuk langsung menembak. Tetap waspada."

Leo mencabut pistol komposit kecil dari balik jasnya. Ia memegang senjata ringan itu dengan tangan kiri. Tangan kanannya masih belum bisa digunakan untuk menembak akibat luka kemarin, tapi untuk memutar kunci brankas, jemarinya masih sanggup.

Langkah sepatu kulitnya tidak menimbulkan suara di atas lantai beton. Ia bergerak layaknya bayangan yang menyelinap di dalam jantung pertahanan musuhnya. Saat Leo berbelok di persimpangan yang disebutkan Elena, ia melihat sebuah pintu baja masif yang tertanam di ujung lorong.

Pintu itu tidak dijaga oleh manusia sama sekali. Kepercayaan Marco pada sistem keamanan lapis limanya terlalu tinggi. Dan di sinilah celah fatal yang akan menguras habis harta bajingan itu.

"Aku sudah di depan brankasnya," lapor Leo berdiri menatap dua roda pemutar baja raksasa yang menempel di pintu tersebut. Jantungnya berdebar memompa adrenalin. Ini adalah warisan ayahnya, dan sekarang ia akan membongkarnya untuk menghancurkan si pengkhianat.

"Kerja bagus," suara Elena terdengar dari earpiece, disusul suara ketikan keyboard yang sibuk. "Sistem keamanannya masih stabil memutar rekaman palsu. Waktumu tinggal tiga belas menit. Buka pintunya, Pangeran. Buat mereka jatuh miskin."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!