NovelToon NovelToon
Ola, Tuan Mafia!

Ola, Tuan Mafia!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romansa Fantasi
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Pengantin Pengganti Untuk Mafia.

Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.

Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OTM — BAB 08

TIDAK BISA TENANG

Malam itu bukan malam pengantin seperti yang dibayangkan siapa pun. Di kejauhan, suara ombak menghantam dermaga pelabuhan berpadu dengan jeritan yang tertahan, menghilang di antara tumpukan peti dan bayangan kapal yang merapat.

“Tuan, sebagian berhasil melarikan diri.” kata Nico (30th) tangan kanannya.

Killian berdiri di lantai dermaga yang basah, kemeja hitamnya tertiup angin laut, pistol berlaras pendek digenggam erat di tangan kanannya. Di sebelahnya, seorang pria berambut gondrong dengan wajah babak belur bertekuk lutut, rambutnya dijambak kasar oleh tangan kiri pria itu, memaksanya mendongak menatap mata yang sedingin air laut di tengah musim dingin.

"Tolong... aku bicara jujur... kami hanya..." Pria itu terbata-bata, darah mengalir dari sudut bibirnya, suaranya pecah karena ketakutan.

Killian tak menanggapi. Ia mendekatkan moncong pistol itu ke bibir pria tersebut, lalu mendorongnya masuk perlahan hingga orang itu terdiam seketika, matanya melotot ketakutan.

"Katakan kata-kata terkahir mu," ucap Killian rendah, tanpa nada emosi sedikit pun. "Aku menunggu."

Pria itu hanya mengerang tertahan, tubuhnya gemetar hebat, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Detik berikutnya, terdengar letusan pendek — DARR!! Darah segar merembes dari sudut mulut yang terbuka itu, tubuh pria itu lemas seketika, pandangannya kosong dan tak bergerak lagi.

Killian menarik pistol itu perlahan, membersihkan sisa noda merah di ujungnya dengan kain yang disodorkan anak buahnya. Ia menatap tubuh yang tergeletak itu sejenak, lalu menoleh ke arah orang-orang yang berdiri berderet di belakangnya.

"Habisi sisanya," ucapnya datar, berbalik melangkah masuk ke dalam gudang yang remang-remang seakan tak ada apa-apa yang baru saja terjadi.

Tembakan-tembakan beruntun terdengar menyusul kepergiannya — singkat, tegas, dan mematikan. Tidak ada yang tersisa.

...***...

Di dalam kabin jet pribadi yang melesat tinggi menembus kegelapan malam, keheningan justru terasa jauh lebih mencekam tatkala Eleanor melipat tangannya di pangkuan, jemarinya saling meremas erat, menatap ke luar jendela yang gelap tanpa benar-benar melihat apa pun.

Terlihat wajahnya pucat, kerisauan tak mampu disembunyikan meski ia berusaha tampak tenang.

"Kieran..." panggilnya pelan, suaranya bergetar. "Bagaimana jika gadis itu... bagaimana jika Laura mengatakan yang sebenarnya kepada mereka? Jika dia membuka mulutnya, keluarga McManaman hancur. Kita tamat."

Kieran duduk tegak di sampingnya, tatapannya lurus ke depan, tajam dan tenang — ketenangan yang menutupi ketegangan yang jauh lebih dalam. Ia menoleh perlahan, menatap istrinya dengan pandangan yang tak terbantahkan.

"Laura tidak akan berbuat sebodoh itu," jawabnya tegas. "Dia tahu apa yang dipertaruhkan. Nyawa adiknya ada di tangan kita. Selama Lily masih di sana, Laura akan tetap diam. Dia tidak akan mempertaruhkan nyawa gadis remaja itu demi kebenaran yang tak akan menyelamatkannya."

Eleanor menunduk, napasnya masih terasa berat. "Tapi... bagaimana jika dia nekat?"

"Biarkan saja dia nekat," ucap Kieran dingin. "Selama yang mereka miliki hanyalah Laura, bukan Fiona, keluarga Marcano tidak akan pernah benar-benar menang. Putri kita berada di tempat yang tak akan pernah mereka temukan. Itu yang paling penting."

Ia kembali menatap ke depan, seakan menatap masa depan yang penuh pertarungan panjang.

“Kau benar.”

"Jangan khawatirkan hal yang belum terjadi," tambahnya pelan namun tegas. "Fokuslah pada apa yang kita kendalikan."

.

.

.

Beberapa jam berlalu, langit di atas kediaman Marcano perlahan berubah dari gelap pekat menjadi kebiruan samar, menandakan pagi akan tiba. Cahaya tipis menyelinap masuk dari balik tirai jendela, menyentuh permukaan lantai kamar yang sunyi.

Killian melangkah masuk tanpa suara, seakan bagian dari bayangan pagi itu sendiri. Ia berdiri di tepi ranjang, menatap sosok yang meringkuk di bawah selimut tebal. Laura tidur memeluk bantal, napasnya teratur meski alisnya sesekali berkerut, seakan mimpi buruk tak sepenuhnya meninggalkannya.

Gaun tidur berwarna krem yang ia kenakan terlihat sederhana, lengan bajunya melorot turun hingga memperlihatkan bahu dan lengan yang putih halus.

“Bajingan kecil yang mencoba meracuni ku.” gumam pelan pria itu menatap datar.

Tanpa sadar, tangan Killian terulur, hendak menarik kembali kain itu ke tempat semula.

Belum jari-jarinya menyentuh kain itu, Laura tersentak bangun. Matanya terbuka lebar, napasnya tertahan, dan seketika ia menarik tubuhnya menjauh hingga punggungnya menyentuh kepala ranjang, menatap pria itu dengan kewaspadaan penuh.

Wajahnya pucat, matanya masih berkabut sisa tidur, namun tatapannya tajam dan penuh kebencian yang tak lagi disembunyikan.

"Jangan mendekat," ucapnya pelan, namun tegas.

Killian berhenti di tempatnya, tak melangkah maju lagi. Ia hanya berdiri diam, membiarkan Laura melihat apa yang ada di hadapannya. Tangan kanannya — yang terlihat jelas di bawah cahaya pagi — berwarna kemerahan, bercak-bercak merah kering menempel di kulit dan di sela-sela jarinya. Bukan noda pucat seperti anggur tadi malam, melainkan warna yang pekat dan nyata. Darah.

Laura menatapnya, matanya perlahan melebar. Ia mundur sedikit lagi, meski tak ada tempat untuk lari.

"Jangan mendekat, kau bernoda..." suaranya bergetar, tak mampu menyelesaikan kalimatnya.

Killian seakan tak mendengar pertanyaan itu. Ia berbalik perlahan, berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan, menuangkan isi botol ke dalam gelas bening, lalu meneguknya sekaligus. Beer itu turun tanpa suara, seakan ia baru saja meneguk air biasa.

"Noda ini bisa hilang," ucapnya tiba-tiba, tanpa menoleh. "Dan santai saja. Ini bukan noda milik McManaman."

Laura menelan ludah, merinding menjalar dari tengkuk hingga ke tulang ekornya. "Lalu siapa..."

"Orang-orang yang mengira bisa melawan kami," jawabnya singkat, meletakkan gelas kosong itu di atas meja dengan bunyi denting yang nyaring. "Mereka yang berpikir dapat merampok, membunuh, dan melarikan diri seolah tidak ada hukum yang berlaku. Tadi malam aku memastikan mereka paham."

Ia berbalik menatapnya, kedua tangannya kini bertumpu pada tepi meja, memperlihatkan noda merah itu sepenuhnya.

"Kau tak perlu takut pada darah ini, Laura," ucapnya datar. "Setidaknya bukan untuk saat ini. Tangan ini belum menyentuh lehermu.... Dan leher keluarga mu."

Laura menatapnya lekat-lekat, dadanya naik turun. Ia menarik selimut lebih tinggi, menutupi separuh wajahnya, namun matanya tak berkedip sedikit pun.

"Suatu hari nanti..." ucapnya pelan, tak mampu menahan diri. "Suatu hari nanti tangan itu akan berbalik melawanmu sendiri."

Killian menyeringai tipis, senyum yang tak menyentuh matanya.

"Biarkan saja hari itu datang," jawabnya tenang. "Sampai saat itu tiba, ingatlah satu hal: di antara kita berdua, hanya satu yang memegang kendali. Dan itu bukan kau."

Ia melangkah maju selangkah, dan Laura secara refleks menarik kakinya mendekat, siap melarikan diri jika perlu. Killian melihatnya, lalu berhenti.

"Bersiaplah," perintahnya dingin. "Sarapan akan disajikan dalam tiga puluh menit. Jangan membuat semua orang menunggu."

Dengan itu, ia berbalik menuju kamar mandi, menutup pintu di belakangnya, meninggalkan Laura sendirian di ruangan yang tiba-tiba terasa jauh lebih sempit dan jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya.

Gadis itu menatap pintu yang tertutup itu, lalu menunduk menatap kedua tangannya sendiri — tangan yang bersih, namun terasa seakan ikut ternoda oleh semua kejahatan yang mengelilinginya.

“Menyebalkan.”

Ia tahu satu hal dengan pasti: ia tidak bisa terus diam. Tidak bisa hanya menunggu dan menjadi korban selamanya. Entah bagaimana, entah kapan, ia akan menemukan jalan keluar dari neraka ini.

1
Mia Camelia
Jolie siapa sih😂 jadi curiga klo dia ada hubungan nya sama Laura 🤭
Four.: gak kok, tapi hubungannya sama.... tu tuhh
total 1 replies
Tiara Bella
mungkin ada sebabnya killian gk makan dirmh itu.....
Four.: masakannya pelayan gak enak 😌
total 1 replies
vnablu
Cemunguut thorrr up nyaa😘
Four.: celalu uyyy/Scream/
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗
Four.: wokayyyy/Determined//Determined/
total 1 replies
vnablu
Okeeee thorr akuu ngikut ajaaa🤭🤭🤭... Semangat terus buatt up nyaa yaa 😄
Four.: wokayyyy/Scream//Determined/
total 1 replies
Tiara Bella
jangan² yg marganya vettel mantannya Laura 🤭
Tiara Bella: waduh....
total 2 replies
Kinara Widya
siap kak...🥰🥰🥰
Four.: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Mia Camelia
ehmm pasti ini ulah nya Muchus nyerang meraka😂
Four.: yakinnn
total 1 replies
Tiara Bella
cepat pergi dr sana Nico drpd nanti kena serangan....
Four.: ho, oh
total 1 replies
Eci Rahmayati
nahhh udah ada yg ngincer sebaiknyaa pindahh
Four.: cuman tukang tani kok
total 1 replies
Kinara Widya
Nico bawa pergi semuanya...tempat Lily sudah tidak aman.
Four.: harusnya yee
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗
Four.: wokayyy
total 1 replies
vnablu
kapann nih romantis nyaa kalian 😌
Four.: bentar lagi 😌
total 1 replies
vnablu
SEMANGAT terus thorrr up nyaaa😄😄
Four.: wokayyyyy
total 1 replies
Mia Camelia
kiliian dingin banget sih ke laura😔, kapan bisa romantis nya nih😂
Four.: kapan kapan 😁
total 1 replies
Tiara Bella
Laura km bertanya tanya.....aku pun sama😄🤭
Four.: aku pun juga
total 1 replies
Eci Rahmayati
apa mereka pernah bertemu seblm nya dalam keadannnn mabuk atau apalah ya.. 🤔
Four.: mungkin aja sihhh
total 1 replies
Tiara Bella
what happen ya....
Four.: sesuatu yang..... 😮
total 1 replies
Kinara Widya
ada apa dg masalalu Laura atau mungkin masalalu mereka
Four.: gak ada kokkk/Slight/
total 1 replies
Eci Rahmayati
musuhnya kiliannn
Four.: yap, benar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!